Penyelamatan Sandera di Perbatasan

Di sisi lain, Misi Sean

Sean duduk di dalam helikopter yang melintas di atas perbatasan negara. Wajahnya serius, matanya menatap peta digital di tangannya. Tugas kali ini adalah menyelamatkan sekelompok diplomat yang diculik oleh kelompok separatis di wilayah terpencil. Misi ini adalah salah satu yang paling berbahaya, tapi Sean sudah terbiasa.

Namun, pikirannya tidak sepenuhnya fokus. Ada sesuatu yang mengganjal di hati. “El dan Al. Mereka baik-baik saja nggak ya di rumah? Netha benar-benar nggak bisa diandalkan. Anak-anak itu lebih sering ditinggal daripada diurus. Tapi aku harus percaya mereka kuat.”

Sean menghela napas panjang. Sebagai pemimpin regu, ia tidak boleh menunjukkan kelemahan. Misinya harus selesai dulu, baru ia bisa pulang dan memastikan semuanya baik-baik saja.

“Kolonel Sean,” panggil Kapten Erwin, bawahannya yang setia. “Kita akan sampai di zona pendaratan dalam lima menit.”

Sean mengangguk, memasukkan peta ke dalam saku. “Baik. Semua persiapan sudah dilakukan?”

“Sudah, Kolonel. Tim Alpha dan Bravo sudah siap dengan rencana infiltrasi.”

“Bagus. Berikan pengarahan terakhir sebelum kita turun.”

Pengarahan Sebelum Misi

Setelah helikopter mendarat di zona aman, Sean berdiri di depan pasukannya. Ia memandang wajah-wajah mereka dengan penuh percaya diri, meskipun dalam hati ia tahu bahaya yang mengintai.

“Dengar baik-baik!” seru Sean. “Misi kita adalah menyelamatkan sandera tanpa korban jiwa, baik dari pihak kita maupun warga sipil. Target utama adalah memastikan diplomat keluar hidup-hidup. Tim Alpha akan memimpin penyergapan di bagian depan, sedangkan Tim Bravo akan mengamankan jalur pelarian.”

Salah satu prajurit, Sersan Leo, bertanya, “Bagaimana jika ada perlawanan sengit, Kolonel?”

“Kita hanya bertindak jika diserang lebih dulu. Ingat, prioritas kita adalah menyelamatkan sandera, bukan menghancurkan musuh. Gunakan senjata hanya jika diperlukan,” jawab Sean tegas.

Dia melanjutkan, “Tidak ada ruang untuk kesalahan. Kita hanya punya satu kesempatan. Ingat, misi ini bukan hanya tentang kalian. Kita membawa nama negara.”

Infiltrasi ke Kamp Separatis

Tim mulai bergerak di malam hari, memanfaatkan gelap sebagai perlindungan. Sean memimpin Tim Alpha yang menyusup melalui hutan lebat. Mereka bergerak dalam senyap, hanya suara langkah kaki yang terdengar samar.

“Kolonel,” bisik Letnan Maya, tangan kanan Sean. “Dua penjaga terlihat di depan, pukul dua belas.”

Sean memberi isyarat untuk berhenti. Ia memeriksa melalui teropong. “Kita netralkan mereka tanpa suara. Maya, Leo, kalian tangani ini.”

Maya dan Leo bergerak dengan cepat. Dalam hitungan detik, dua penjaga itu dilumpuhkan tanpa ada suara sedikit pun. Tim kembali bergerak, mendekati kamp musuh.

Sesampainya di dekat kamp, Sean mengamati dengan detail. Ada sekitar dua puluh orang bersenjata, sebagian besar berjaga di luar. Di tengah kamp, ia melihat tenda besar yang kemungkinan tempat para sandera ditahan.

Sean memberi instruksi melalui radio, “Bravo, posisi kalian?”

“Siap di titik pelarian, Kolonel,” jawab suara Kapten Erwin.

“Bagus. Alpha, kita masuk sesuai rencana. Jangan ada suara, jangan ada kesalahan.”

Serangan Kilat

Tim Alpha bergerak seperti bayangan. Mereka melumpuhkan penjaga satu per satu, membuat jalan menuju tenda utama. Sean memimpin di depan, memastikan setiap langkahnya hati-hati.

Saat mencapai tenda, Sean memberi isyarat untuk berhenti. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum membuka kain pintu tenda dengan cepat. Di dalam, terlihat lima sandera duduk terikat, wajah mereka penuh ketakutan.

“Kami dari militer. Kami akan membawa kalian keluar,” bisik Sean sambil melepaskan ikatan mereka.

Namun, suara langkah kaki terdengar mendekat. Sean segera memberi isyarat kepada timnya untuk berlindung. Beberapa detik kemudian, dua anggota separatis masuk ke dalam tenda.

Sean tidak menunggu lama. Dengan gerakan cepat, ia melumpuhkan mereka sebelum sempat berteriak. “Cepat keluar, bawa sandera ke titik pelarian!” perintahnya.

Sandera digiring keluar dengan hati-hati. Namun, salah satu penjaga melihat pergerakan mereka dan membunyikan alarm. Seketika, kamp musuh berubah menjadi medan perang.

“Bravo, kita terdeteksi! Siapkan jalur pelarian!” teriak Sean melalui radio.

Tim Alpha dan Bravo bekerja sama menahan serangan musuh sambil melindungi para sandera. Sean memimpin dengan tenang, memberikan perintah yang jelas meskipun situasi semakin kacau.

Pulang dengan Selamat

Setelah pertempuran singkat namun intens, tim berhasil mencapai zona aman. Helikopter sudah menunggu untuk membawa mereka kembali ke markas. Sean memastikan semua sandera dan anggotanya naik terlebih dahulu sebelum ia sendiri masuk.

Di dalam helikopter, Sean memeriksa timnya. “Ada yang terluka?”

“Tidak ada, Kolonel,” jawab Leo.

Sean menghela napas lega. “Bagus. Kalian semua melakukan pekerjaan yang luar biasa.”

Namun, pikirannya kembali ke rumah. “Aku berhasil menyelamatkan orang-orang ini, tapi bagaimana dengan El dan Al? Apa mereka juga aman di tangan Netha?”

Dia menepis kekhawatiran itu. “Aku harus percaya pada anak-anak itu. Mereka kuat, lebih kuat daripada yang terlihat.”

Helikopter melaju membawa mereka pulang. Sean menatap ke luar jendela, berharap segera sampai dan memastikan keluarganya dalam keadaan baik-baik saja.

Terpopuler

Comments

Ida Rohani

Ida Rohani

ga sabar liat sean kaget liat anaknya yg berubah jadi gemoy /Casual/

2024-12-19

1

Karina Putrie

Karina Putrie

mereka aman mas..
yang kaga aman atm dan kartu kredit yg kamu kasih.. hahaha

2025-01-18

0

panty sari

panty sari

sampe rumah kaget dah Sean lihat ada bidadari

2024-12-29

1

lihat semua
Episodes
1 Pindah Raga? Reinkarnasi!
2 Masa Lalu dan Masa Kini
3 Proyek Besar Netha
4 Menurunkan Berat Badan
5 Perhatian Netha Untuk si Kembar
6 Supermarket
7 Mulai Merasa Nyaman
8 Bercerita
9 Olahraga Bersama
10 Hari Yang Panjang
11 Renungan Malam
12 Perubahan Besar
13 Penyelamatan Sandera di Perbatasan
14 Suasana Hangat
15 Keseruan Bermain
16 Adegan Tak Terduga
17 Sean Pulang
18 Kebahagiaan Di Mini Zoo
19 Kejutan
20 Berkumpul Berlima
21 Bimbang
22 Sean Mulai Aneh
23 Suasana Yang Berbeda
24 Berjalan Di Kamp Militer
25 Me Time
26 Merasa Bersalah
27 Terlalu Banyak Fikiran
28 Banyak Pikiran
29 Menuju Kamp Militer
30 Amarah Anetha
31 Pantai
32 Manis
33 Pagi Yang Menjengkelkan
34 Pulang
35 Diskusi Si Kembar
36 Berdiskusi Dengan Sean
37 Sean Ikut Merajuk
38 Sean Nyaman Bersama Netha
39 Maling
40 Kegiatan Bersama
41 Proyek Membuat Kue
42 Rebutan Kue
43 Perjalanan Mansion Harison
44 Kehangatan Keluarga Harison
45 Foto Terlucu
46 Effort Sean
47 Masak Bersama
48 Senangnya Kedua Orang Tua Sean
49 Kehebohan
50 Hari Yang Dinanti
51 Kenangan Indah
52 Ungkapan Cinta Sean
53 Bermain Di Taman Mansion
54 Pesta Teh
55 Pengakuan Yang Mengejutkan
56 Memilah Foto
57 Netha Yang Luar Biasa
58 Malam Panas
59 Serangga nya Ketemu
60 Kembali Pulang
61 Penjaga Gawang
62 Chef Cilik
63 Kejutan Untuk Netha
64 Gosip-Gosip
65 Macan Tutul
66 Sean Bersiap Pergi Tugas
67 Cek Dekorasi Restoran dan Toko Kue
68 Jatuh Cinta Lagi
69 Kegiatan Netha dan Si Kembar
70 Harmony Haven & Sweet Echoes
71 Penutupan Acara
72 Pindah Kediaman
73 Kue Perkenalan
74 Menyapa Tetangga dan Rekan
75 Bertemu Ibu-Ibu Komplek Julit
76 Rencana Sekolah
77 Perang Mulut Dengan Mlijo
78 Menunjukkan Pesona Netha
79 Bercanda nya Suami Istri
80 Mengatur Hidup Netha
81 Sekolah Si Kembar
82 Berpartisipasi Kegiatan Persit
83 Berita Baik
84 Gejolak Emosi
85 Kegembiraan Sesaat
86 Menemukan Jati Diri
87 Dilema
88 Mencoba Berubah
89 Masih Berusaha
90 Sudah Kembali
91 Perjalanan yang Belum Selesai
92 Momen Berharga
93 End
94 Pesan Untuk Pembaca Setia
95 Reinkarnasi Duchess Pemberani
96 Promo
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Pindah Raga? Reinkarnasi!
2
Masa Lalu dan Masa Kini
3
Proyek Besar Netha
4
Menurunkan Berat Badan
5
Perhatian Netha Untuk si Kembar
6
Supermarket
7
Mulai Merasa Nyaman
8
Bercerita
9
Olahraga Bersama
10
Hari Yang Panjang
11
Renungan Malam
12
Perubahan Besar
13
Penyelamatan Sandera di Perbatasan
14
Suasana Hangat
15
Keseruan Bermain
16
Adegan Tak Terduga
17
Sean Pulang
18
Kebahagiaan Di Mini Zoo
19
Kejutan
20
Berkumpul Berlima
21
Bimbang
22
Sean Mulai Aneh
23
Suasana Yang Berbeda
24
Berjalan Di Kamp Militer
25
Me Time
26
Merasa Bersalah
27
Terlalu Banyak Fikiran
28
Banyak Pikiran
29
Menuju Kamp Militer
30
Amarah Anetha
31
Pantai
32
Manis
33
Pagi Yang Menjengkelkan
34
Pulang
35
Diskusi Si Kembar
36
Berdiskusi Dengan Sean
37
Sean Ikut Merajuk
38
Sean Nyaman Bersama Netha
39
Maling
40
Kegiatan Bersama
41
Proyek Membuat Kue
42
Rebutan Kue
43
Perjalanan Mansion Harison
44
Kehangatan Keluarga Harison
45
Foto Terlucu
46
Effort Sean
47
Masak Bersama
48
Senangnya Kedua Orang Tua Sean
49
Kehebohan
50
Hari Yang Dinanti
51
Kenangan Indah
52
Ungkapan Cinta Sean
53
Bermain Di Taman Mansion
54
Pesta Teh
55
Pengakuan Yang Mengejutkan
56
Memilah Foto
57
Netha Yang Luar Biasa
58
Malam Panas
59
Serangga nya Ketemu
60
Kembali Pulang
61
Penjaga Gawang
62
Chef Cilik
63
Kejutan Untuk Netha
64
Gosip-Gosip
65
Macan Tutul
66
Sean Bersiap Pergi Tugas
67
Cek Dekorasi Restoran dan Toko Kue
68
Jatuh Cinta Lagi
69
Kegiatan Netha dan Si Kembar
70
Harmony Haven & Sweet Echoes
71
Penutupan Acara
72
Pindah Kediaman
73
Kue Perkenalan
74
Menyapa Tetangga dan Rekan
75
Bertemu Ibu-Ibu Komplek Julit
76
Rencana Sekolah
77
Perang Mulut Dengan Mlijo
78
Menunjukkan Pesona Netha
79
Bercanda nya Suami Istri
80
Mengatur Hidup Netha
81
Sekolah Si Kembar
82
Berpartisipasi Kegiatan Persit
83
Berita Baik
84
Gejolak Emosi
85
Kegembiraan Sesaat
86
Menemukan Jati Diri
87
Dilema
88
Mencoba Berubah
89
Masih Berusaha
90
Sudah Kembali
91
Perjalanan yang Belum Selesai
92
Momen Berharga
93
End
94
Pesan Untuk Pembaca Setia
95
Reinkarnasi Duchess Pemberani
96
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!