Proyek Besar Netha

Netha berdiri di balkon kamar dengan tatapan kosong mengarah ke langit yang mulai memerah. Angin sore berhembus lembut, menyibakkan beberapa helai rambutnya yang tak sengaja terlepas dari ikatan messy bun.

Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat pekarangan depan rumah yang luas namun tak terurus. Rumput liar tumbuh di sana-sini, dan beberapa bagian halaman bahkan terlihat kusam.

“Ya ampun...” gumamnya sambil menggelengkan kepala.

“Netha yang satu ini benar-benar keterlaluan. Rumah segede ini ditelantarkan. Jika dibersihkan pasti rumah ini akan indah.”

Ia mengembuskan napas panjang, memegangi kepalanya. Ingatan Netha asli, pemilik tubuh ini, perlahan mulai berdatangan, tentang kehidupan yang berantakan, sikap malas, dan hubungan buruk dengan suami serta anak-anaknya.

Netha Putri yang sebenarnya hanya bisa mengelus dada. Bagaimana mungkin seorang istri bisa sedemikian tak pedulinya?

Ia melangkah masuk ke kamar dan berdiri di depan cermin besar yang terpasang di pintu lemari. Pandangannya menelusuri refleksinya.

Tubuhnya gemuk, jelas tak seperti dirinya sebelumnya, yang selalu ramping dan terawat. Namun, ada satu hal yang membuatnya bersyukur.

“Setidaknya wajah ini masih mulus. Nggak ada jerawat, kulit putih bersih…” Netha memiringkan kepalanya, mengamati wajahnya lebih seksama.

“Kalau gendutnya hilang, aku pasti akan kelihatan lebih cantik. Tapi sepertinya aku akan jadi montok meskipun nanti tubuh gemuk ini hilang. Pasti akan sexy bukan?”

Ia tersenyum tipis. “Baiklah, mulai besok pagi aku harus diet! Berat badan ini harus turun. Semangat menurunkan berat badan.”

Netha berbalik, berjalan menuju lemari pakaian. Ia membuka pintu lemari, lalu mendesah panjang. “Astaga… kenapa aku harus melihat pemandangan menyilaukan ini lagi?”

Semua pakaian di sana berwarna cerah dengan motif bunga-bunga, garis, dan corak aneh lainnya. Ada juga beberapa baju tidur dengan warna neon menyilaukan.

“Ini sih norak banget…” Netha menggerutu sambil memilah-milah pakaian.

Setelah lama mencari, akhirnya ia menemukan satu kaos abu-abu polos dan rok panjang yang sedikit kebesaran namun tidak terlalu mencolok.

“Sementara ini aja, deh. Besok aku harus beli pakaian baru.”

Netha keluar dari kamarnya, lalu beranjak ingin berkeliling rumah. Sayangnya ia baru sadar ternyata rumah yang ia tinggali sangat tak layak huni, hampir sama dengan kamar nya sebelumnya.

Lantai penuh dengan remah-remah serta sisa makanan yang mengering.

“Gila, ini rumah atau kandang ayam? Kenapa aku tak menyadarinya dari tadi.” Netha bergumam sambil memegangi hidung.

“Aku harus bersihin semuanya. Rumah ini mau jadi milikku, kan? Jadi aku harus pastikan nyaman ditinggali.”

Dengan tekad bulat, Netha mulai bergerak. Ia menggulung lengan kaosnya hingga siku.

“Nggak nyangka hidup di tubuh ini baru sehari datang, sudah kerja rodi saja,” ucapnya.

Setelahnya ia mulai membersihkan meja makan, mengelap setiap permukaannya hingga mengkilap. Lalu ia menyapu lantai dapur, mengepel hingga benar-benar bersih, bahkan membersihkan bagian bawah lemari dapur yang berdebu.

“Hah, capek sekali.. Tapi lumayan. Sekalian buang kalori, Ayo semangat, setidaknya bisa mengurangi 1 ons berat badanku.” katanya menyemangati diri sendiri.

Netha melangkah ke semua ruangan. Ia menurunkan semua gorden tebal yang terlihat kusam dan berdebu. Begitu diguncangkan, debu berhamburan membuatnya terbatuk-batuk.

HUK!!! HUK!!!

“Ya ampun, wanita ini benar-benar menjijikkan, ini sudah berapa lama nggak dicuci?”

Dengan penuh tenaga, ia menurunkan semua tirai jendela. Tak hanya itu, taplak meja yang penuh noda minuman dan makanan, juga ia copot dan langsung ditaruh di keranjang cucian.

Ia menyapu setiap sudut ruangan, membersihkan karpet, mengelap perabotan, hingga mengepel lantai dua kali.

Peluh mulai membasahi dahinya, namun ia tak berhenti. Ia bergerak ke kamar mandi, mengecek setiap sudut, lalu berjongkok membersihkan lantai keramik, menyikatnya hingga mengkilap. Rumah yang tadinya berantakan, perlahan berubah lebih rapi.

“Sekarang ini baru bisa disebut rumah,” katanya puas sambil menatap sekeliling. Ia berjalan ke dapur, membuka lemari pendingin untuk mencari minum. Namun begitu melihat isinya, Netha hanya bisa mendesah.

“Isi kulkas ini cuma angin sama sisa makanan basi. Nggak ada apa-apa…” Ia menutup pintu kulkas dengan keras, lalu mengambil air dingin dari dispenser dan menuangkannya ke dalam gelas.

Ia berjalan ke sofa di ruang tamu dan duduk dengan lunglai.

“Capeknya…sungguh lelah, tubuh ini sungguh berat.” keluhnya sambil meneguk air dingin. Kesegaran air itu sedikit menghapus rasa lelahnya.

Ia mengipas ngipaskan dirinya dengan buku yang berada di bawah meja.

Setelah beberapa saat duduk dan menenangkan napasnya, Netha mengeluarkan ponsel, yang untungnya masih ada di saku rok, dan mulai mencatat apa saja yang dibutuhkan untuk mendekor ulang rumah ini.

“Pertama, gorden baru, taplak meja… terus apa lagi ya?” Ia bergumam pelan sambil mengetik cepat di aplikasi catatan.

“Oh, perabotan masak baru. Dapur ini butuh banyak peralatan. Lalu persediaan makanan buat isi kulkas.”

Ia melanjutkan daftarnya dengan antusias, baju baru, skincare, makeup, perlengkapan mandi, kebutuhan pribadi, dekorasi rumah, dan barang-barang kecil lainnya.

“Wah, ini sih bakal jadi proyek besar. Untung ada kartu Sean. Pin-nya tadi… 112211, ya? Senang sekali, rumah ku akan menjadi indah tanpa mengeluarkan uang ku hasil perceraian nanti, kau sungguh cerdas, Netha.” Netha tersenyum kecil, puas dengan rencananya.

Setelah beberapa menit beristirahat, Netha memutuskan untuk mandi.

“Aku harus bersih-bersih lagi. Badan ini lengket banget,” katanya sambil berjalan ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, ia membersihkan diri dengan teliti. Air dingin membuat tubuhnya lebih segar, meskipun dalam hati ia masih merenung. “Bagaimana bisa aku terjebak di kehidupan seperti ini? Kemana jiwa Netha asli ini pergi?”

Saat selesai mandi dan melilitkan handuk di tubuhnya, Netha berjalan menuju lemari pakaian dengan harapan tipis akan menemukan pakaian yang sedikit lebih layak. Namun saat lemari terbuka, ia kembali mendesah.

“Ya Tuhan, bajunya ini-ini lagi…” Netha menyisir lemari dengan mata malas. Akhirnya, ia mengambil satu kaos yang agak longgar dan celana panjang kain berwarna cokelat. “Ini lebih mending dibandingkan baju-baju mencolok itu.”

Setelah berpakaian, Netha berdiri di depan cermin sekali lagi. Meskipun baju itu tidak terlalu mencolok, ia merasa masih terlihat kurang percaya diri. “Nanti aku harus belanja banyak baju. Mulai sekarang, penampilan harus nomor satu!”

Netha menarik napas dalam, menatap refleksinya sambil berbisik, “Aku bisa melalui semua ini. Kalau memang aku harus hidup di tubuh ini, aku akan membuatnya lebih baik. Aku akan jadi lebih cantik, lebih sehat, dan lebih bahagia. Mulai besok, rencana diet dan perubahanku dimulai.”

Dengan semangat baru, Netha melangkah keluar kamar. Meskipun rumah ini sunyi, ada sesuatu dalam dirinya yang mulai bangkit, sebuah harapan untuk kehidupan baru yang lebih baik, meski dimulai dengan penuh kebingungan.

Terpopuler

Comments

aphrodite

aphrodite

sebenernya Sean menikahi wanita seperti apa? di jodohkan atau saling cinta? atau kena jebakan ?

2025-01-24

0

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

kenapa rmh enggak ter urus kan bisa bayar pembokat...iiyyuuuhh ngebayangin rumah corok kyk gitu

2025-01-10

0

Edah J

Edah J

Pak komandan pulang pagi g deh suasana rumahnya😉

2025-03-22

0

lihat semua
Episodes
1 Pindah Raga? Reinkarnasi!
2 Masa Lalu dan Masa Kini
3 Proyek Besar Netha
4 Menurunkan Berat Badan
5 Perhatian Netha Untuk si Kembar
6 Supermarket
7 Mulai Merasa Nyaman
8 Bercerita
9 Olahraga Bersama
10 Hari Yang Panjang
11 Renungan Malam
12 Perubahan Besar
13 Penyelamatan Sandera di Perbatasan
14 Suasana Hangat
15 Keseruan Bermain
16 Adegan Tak Terduga
17 Sean Pulang
18 Kebahagiaan Di Mini Zoo
19 Kejutan
20 Berkumpul Berlima
21 Bimbang
22 Sean Mulai Aneh
23 Suasana Yang Berbeda
24 Berjalan Di Kamp Militer
25 Me Time
26 Merasa Bersalah
27 Terlalu Banyak Fikiran
28 Banyak Pikiran
29 Menuju Kamp Militer
30 Amarah Anetha
31 Pantai
32 Manis
33 Pagi Yang Menjengkelkan
34 Pulang
35 Diskusi Si Kembar
36 Berdiskusi Dengan Sean
37 Sean Ikut Merajuk
38 Sean Nyaman Bersama Netha
39 Maling
40 Kegiatan Bersama
41 Proyek Membuat Kue
42 Rebutan Kue
43 Perjalanan Mansion Harison
44 Kehangatan Keluarga Harison
45 Foto Terlucu
46 Effort Sean
47 Masak Bersama
48 Senangnya Kedua Orang Tua Sean
49 Kehebohan
50 Hari Yang Dinanti
51 Kenangan Indah
52 Ungkapan Cinta Sean
53 Bermain Di Taman Mansion
54 Pesta Teh
55 Pengakuan Yang Mengejutkan
56 Memilah Foto
57 Netha Yang Luar Biasa
58 Malam Panas
59 Serangga nya Ketemu
60 Kembali Pulang
61 Penjaga Gawang
62 Chef Cilik
63 Kejutan Untuk Netha
64 Gosip-Gosip
65 Macan Tutul
66 Sean Bersiap Pergi Tugas
67 Cek Dekorasi Restoran dan Toko Kue
68 Jatuh Cinta Lagi
69 Kegiatan Netha dan Si Kembar
70 Harmony Haven & Sweet Echoes
71 Penutupan Acara
72 Pindah Kediaman
73 Kue Perkenalan
74 Menyapa Tetangga dan Rekan
75 Bertemu Ibu-Ibu Komplek Julit
76 Rencana Sekolah
77 Perang Mulut Dengan Mlijo
78 Menunjukkan Pesona Netha
79 Bercanda nya Suami Istri
80 Mengatur Hidup Netha
81 Sekolah Si Kembar
82 Berpartisipasi Kegiatan Persit
83 Berita Baik
84 Gejolak Emosi
85 Kegembiraan Sesaat
86 Menemukan Jati Diri
87 Dilema
88 Mencoba Berubah
89 Masih Berusaha
90 Sudah Kembali
91 Perjalanan yang Belum Selesai
92 Momen Berharga
93 End
94 Pesan Untuk Pembaca Setia
95 Reinkarnasi Duchess Pemberani
96 Promo
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Pindah Raga? Reinkarnasi!
2
Masa Lalu dan Masa Kini
3
Proyek Besar Netha
4
Menurunkan Berat Badan
5
Perhatian Netha Untuk si Kembar
6
Supermarket
7
Mulai Merasa Nyaman
8
Bercerita
9
Olahraga Bersama
10
Hari Yang Panjang
11
Renungan Malam
12
Perubahan Besar
13
Penyelamatan Sandera di Perbatasan
14
Suasana Hangat
15
Keseruan Bermain
16
Adegan Tak Terduga
17
Sean Pulang
18
Kebahagiaan Di Mini Zoo
19
Kejutan
20
Berkumpul Berlima
21
Bimbang
22
Sean Mulai Aneh
23
Suasana Yang Berbeda
24
Berjalan Di Kamp Militer
25
Me Time
26
Merasa Bersalah
27
Terlalu Banyak Fikiran
28
Banyak Pikiran
29
Menuju Kamp Militer
30
Amarah Anetha
31
Pantai
32
Manis
33
Pagi Yang Menjengkelkan
34
Pulang
35
Diskusi Si Kembar
36
Berdiskusi Dengan Sean
37
Sean Ikut Merajuk
38
Sean Nyaman Bersama Netha
39
Maling
40
Kegiatan Bersama
41
Proyek Membuat Kue
42
Rebutan Kue
43
Perjalanan Mansion Harison
44
Kehangatan Keluarga Harison
45
Foto Terlucu
46
Effort Sean
47
Masak Bersama
48
Senangnya Kedua Orang Tua Sean
49
Kehebohan
50
Hari Yang Dinanti
51
Kenangan Indah
52
Ungkapan Cinta Sean
53
Bermain Di Taman Mansion
54
Pesta Teh
55
Pengakuan Yang Mengejutkan
56
Memilah Foto
57
Netha Yang Luar Biasa
58
Malam Panas
59
Serangga nya Ketemu
60
Kembali Pulang
61
Penjaga Gawang
62
Chef Cilik
63
Kejutan Untuk Netha
64
Gosip-Gosip
65
Macan Tutul
66
Sean Bersiap Pergi Tugas
67
Cek Dekorasi Restoran dan Toko Kue
68
Jatuh Cinta Lagi
69
Kegiatan Netha dan Si Kembar
70
Harmony Haven & Sweet Echoes
71
Penutupan Acara
72
Pindah Kediaman
73
Kue Perkenalan
74
Menyapa Tetangga dan Rekan
75
Bertemu Ibu-Ibu Komplek Julit
76
Rencana Sekolah
77
Perang Mulut Dengan Mlijo
78
Menunjukkan Pesona Netha
79
Bercanda nya Suami Istri
80
Mengatur Hidup Netha
81
Sekolah Si Kembar
82
Berpartisipasi Kegiatan Persit
83
Berita Baik
84
Gejolak Emosi
85
Kegembiraan Sesaat
86
Menemukan Jati Diri
87
Dilema
88
Mencoba Berubah
89
Masih Berusaha
90
Sudah Kembali
91
Perjalanan yang Belum Selesai
92
Momen Berharga
93
End
94
Pesan Untuk Pembaca Setia
95
Reinkarnasi Duchess Pemberani
96
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!