Perubahan Besar

Sebulan setengah berlalu sejak Sean meninggalkan mereka untuk menjalankan misinya. Selama waktu itu, banyak hal berubah di kediaman Netha. Hubungan antara Netha, El, dan Al kini jauh lebih dekat dibandingkan sebelumnya. Awalnya, Netha hanya berusaha menjalankan tanggung jawabnya, namun perlahan ia mulai merasa nyaman dengan kehadiran dua anak kembar tersebut.

Penampilan Netha juga mengalami transformasi yang luar biasa. Berat badannya kini sudah ideal, tubuhnya proporsional dengan lekuk yang memikat. Kulitnya bening, wajahnya bercahaya, bahkan tanpa makeup sekalipun. Rambut panjangnya kini lebih lembut dan terawat, membuatnya terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya. Ia tidak lagi terlihat seperti sosok yang dihindari, melainkan seperti wanita berkelas yang penuh percaya diri.

El dan Al pun ikut berubah. Tubuh mereka yang sebelumnya tampak kurus kini mulai berisi dan terlihat lebih sehat. Semua ini berkat perhatian penuh Netha dalam menjaga pola makan mereka. Ia selalu memastikan anak-anak itu makan makanan bergizi secara teratur dan tidak pernah melewatkan olahraga bersama. Setiap pagi, mereka bertiga berlari keliling komplek dengan penuh semangat.

Kebiasaan ini membuat para penghuni komplek mulai memperhatikan mereka. Banyak yang terkejut melihat perubahan drastis dalam keluarga ini. Netha yang sebelumnya dikenal gemuk dan tampak malas, kini menjadi wanita cantik yang kompak dengan dua anak laki-laki tampan. Tidak jarang para tetangga melontarkan pujian atau sekadar berbincang ramah, meski beberapa masih merasa bingung dengan dinamika keluarga mereka.

El dan Al kini sudah lancar membaca dan menulis. Mereka belajar dengan sabar setiap malam bersama Netha. Wanita itu selalu mengajarkan mereka dengan telaten, tanpa pernah kehilangan kesabaran. Meskipun Al sering bertingkah manja dan El lebih pendiam, Netha tetap memperlakukan keduanya dengan kasih sayang yang tulus.

Namun, ada satu hal yang belum berubah—El dan Al masih belum memanggil Netha dengan sebutan “Mama.” Mereka hanya memanggilnya “kamu” atau kadang-kadang “Netha.” Walau begitu, keduanya mulai merasa bahwa mereka tidak bisa jauh dari wanita ini. Al, terutama, kerap mencari perhatian dengan tingkah manjanya. Sedangkan El, meski terlihat lebih tenang, sering menunjukkan rasa pedulinya melalui tindakan kecil seperti membantu Netha memasak atau membereskan rumah.

Di sisi lain, Netha sendiri terkadang teringat bahwa hubungan hangat ini mungkin tidak akan bertahan lama. Ketika Sean kembali, ia akan melanjutkan rencana perceraian mereka. Keputusan itu sudah bulat sejak awal. Netha tidak memiliki ikatan emosional dengan Sean. Baginya, pria itu hanyalah seseorang yang tiba-tiba muncul dan mengubah hidupnya. Ia tidak memiliki alasan untuk tetap bertahan dalam pernikahan yang tidak pernah ia inginkan sejak awal.

“Sean memang tampan, dan gagah, perutnya pasti banyak kotaknya. Hehehe,” gumamnya dalam hati suatu malam, “tapi itu tidak cukup. Aku bahkan tidak mengenalnya. Hanya pagi itu saja bertemu, itu saja. Tidak ada cinta, tidak ada alasan untuk bertahan.”

Meski begitu, ada keraguan yang perlahan mulai menghampiri. Setelah hidup bersama El dan Al selama lebih dari sebulan, Netha merasa berat membayangkan perpisahan dengan mereka. Anak-anak itu telah mengisi hari-harinya dengan tawa, tantangan, dan kebahagiaan kecil yang tak pernah ia duga. Namun, ia tetap meyakinkan dirinya bahwa bercerai adalah pilihan terbaik.

Aku sudah memutuskan, pikirnya tegas. Setelah semua ini selesai, aku akan menerima uang lima miliar dan rumah ini. Lalu, aku bisa pergi ke luar negeri, bersenang-senang, dan menjalani hidupku tanpa beban.

Namun, di balik semua itu, ada sebersit rasa khawatir yang tidak bisa ia abaikan. Bagaimana jika El dan Al kesulitan menerima perpisahan ini? Bagaimana jika mereka membenci Netha karena memilih pergi? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui, meski ia mencoba menepisnya dengan keyakinan bahwa ini adalah keputusan yang tepat.

Hingga malam itu, sambil menatap langit-langit kamarnya, Netha merenung. Kenapa aku harus berada di tubuh ini? Kenapa aku harus menjalani kehidupan seperti ini? Apa sebenarnya yang Tuhan rencanakan? Pertanyaan-pertanyaan itu menggema di benaknya, namun tak satu pun yang menemukan jawaban.

Untuk saat ini, Netha hanya bisa menjalani hari-harinya seperti biasa, mencoba menjaga hubungan yang baik dengan El dan Al, meskipun ia tahu waktu mereka bersama mungkin tidak akan lama lagi.

 

Pagi itu udara terasa segar. Netha keluar dari kamar dengan pakaian olahraga yang pas di tubuhnya. Dia kini merasa lebih percaya diri setiap kali bercermin. Tubuhnya yang sudah ideal dan kulitnya yang mulus membuat perubahan besar dalam penampilannya. Ia melirik ke arah El dan Al yang sudah menunggu di ruang tamu.

“Kalian sudah siap?” tanya Netha sambil mengikat rambut panjangnya menjadi kuncir kuda.

“Dari tadi, kamu aja yang lama,” balas Al dengan nada menggoda.

“El, awasin Al biar nggak bikin ulah di jalan,” ujar Netha sambil mengambil botol air minumnya. El hanya mengangguk santai

Setelah memastikan semuanya siap, mereka bertiga keluar dari rumah. Beberapa tetangga yang sedang menyiram bunga di depan rumah menyapa mereka.

“Netha! Wah, semakin cantik saja sekarang. Dan anak-anak makin ganteng!” seru Bu Santi, tetangga sebelah.

“Ah, terima kasih, Bu. Ini semua berkat olahraga rutin,” jawab Netha sambil tersenyum ramah.

Al menoleh ke arah Netha. “Kamu sekarang jadi pusat perhatian, ya?” bisiknya.

Netha menahan tawa. “Bisa jadi. Tapi kalian juga, lho. Lihat tuh, Ibu-ibu tadi sampai senyum-senyum lihat kalian.”

El hanya menggeleng pelan, mencoba menutupi senyum kecil di wajahnya.

Saat berjalan menuju taman, beberapa anak kecil yang sedang bermain di jalan melambaikan tangan. “Halo, Kak El, Kak Al!” seru mereka.

Al membalas dengan lambaian tangan sambil tertawa kecil. “Kita terkenal banget, ya, El?”

“Terkenal atau cuma nggak bisa dihindari?” jawab El, datar namun mengundang tawa kecil dari Netha.

Setibanya di taman, mereka mulai berlari memutari taman bunga. Taman itu cukup ramai pagi ini. Beberapa orang yang mengenal Netha dan si kembar menyapa dengan antusias.

“Netha, kamu luar biasa! Bisa berubah sebanyak ini dalam waktu singkat,” ujar seorang pria yang sering berolahraga di taman.

“Hidup sehat itu penting, Mas. Kalau nggak, gimana saya mau mengimbangi anak-anak ini?” balas Netha sambil melirik El dan Al yang berlari mendahuluinya.

Setelah beberapa putaran, mereka duduk di kursi taman untuk beristirahat. El dan Al tampak sedikit kelelahan, tapi senyuman masih menghiasi wajah mereka.

“Kalian makin kuat, ya,” goda Netha sambil mengeluarkan botol minum dari tasnya.

“Kamu aja yang dulu lemot,” jawab Al sambil menyeka keringat di dahinya.

El hanya menatap keduanya, kemudian berkata pelan, “Lumayan juga pagi ini.”

Netha tertawa kecil mendengar komentar El. Ia menyandarkan tubuhnya sambil menikmati angin pagi. Mungkin beginilah rasanya punya anak. Menyenangkan, meski kadang melelahkan, pikirnya.

Setelah beristirahat beberapa menit, mereka melangkah menuju kios bubur yang ada di dekat taman. Penjual bubur itu, seorang pria paruh baya, menyambut mereka dengan senyum ramah.

“Wah, keluarga kompak datang lagi. Mau bubur seperti biasa?” tanyanya.

“Iya, Pak. Tiga porsi ya, tapi porsi saya lebih sedikit,” jawab Netha sambil menatap menu.

“Kok lebih sedikit? Kamu kan harus makan setelah olahraga,” celetuk Al.

“Biar badan tetap bagus, tahu,” balas Netha sambil tertawa kecil.

El hanya menggeleng pelan sambil menerima mangkuk buburnya. “Kamu selalu punya alasan untuk makan sedikit.”

Mereka menikmati bubur dengan lahap. Netha memandangi El dan Al yang makan dengan semangat. Anak-anak ini benar-benar berubah. Dulu mereka kelihatan lemah, sekarang lebih kuat dan sehat. Aku bangga juga dengan diri sendiri, pikirnya sambil tersenyum kecil.

Setelah selesai, Netha membayar bubur mereka dan mengucapkan terima kasih kepada penjual. “Terima kasih, Pak. Buburnya enak banget seperti biasa.”

“Terima kasih kembali. Saya senang melihat kalian sehat dan bahagia,” jawab si penjual.

Mereka kemudian pulang dengan perasaan puas setelah pagi yang ceria itu. Sepanjang perjalanan, mereka masih bercanda dan menggoda satu sama lain. Meskipun Netha kadang merasa berat hati memikirkan bahwa kebersamaan ini mungkin tidak akan berlangsung lama, ia memilih untuk menikmati setiap momen kecil yang membuat hidupnya lebih berarti.

Terpopuler

Comments

Edah J

Edah J

Sikap ibunya twins itu belum Nerima apa yg terjadi makanya bersikap seperti itu tp lambat laun kasih sayang akan tercurah kok

2025-03-23

0

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

repot juga..
krn jiwanya bukan Netha yg sesungguhnya ..klo kembali ke tubuh semula..gimana dong nasib si kembar dan rmh tangga mereka?

2025-01-31

0

Patrish

Patrish

aduh Neta... cuma uang 5 M yang kamu pikirkan... sekali kali rasakan perasaan kamu dengan anak anak...

2025-03-21

0

lihat semua
Episodes
1 Pindah Raga? Reinkarnasi!
2 Masa Lalu dan Masa Kini
3 Proyek Besar Netha
4 Menurunkan Berat Badan
5 Perhatian Netha Untuk si Kembar
6 Supermarket
7 Mulai Merasa Nyaman
8 Bercerita
9 Olahraga Bersama
10 Hari Yang Panjang
11 Renungan Malam
12 Perubahan Besar
13 Penyelamatan Sandera di Perbatasan
14 Suasana Hangat
15 Keseruan Bermain
16 Adegan Tak Terduga
17 Sean Pulang
18 Kebahagiaan Di Mini Zoo
19 Kejutan
20 Berkumpul Berlima
21 Bimbang
22 Sean Mulai Aneh
23 Suasana Yang Berbeda
24 Berjalan Di Kamp Militer
25 Me Time
26 Merasa Bersalah
27 Terlalu Banyak Fikiran
28 Banyak Pikiran
29 Menuju Kamp Militer
30 Amarah Anetha
31 Pantai
32 Manis
33 Pagi Yang Menjengkelkan
34 Pulang
35 Diskusi Si Kembar
36 Berdiskusi Dengan Sean
37 Sean Ikut Merajuk
38 Sean Nyaman Bersama Netha
39 Maling
40 Kegiatan Bersama
41 Proyek Membuat Kue
42 Rebutan Kue
43 Perjalanan Mansion Harison
44 Kehangatan Keluarga Harison
45 Foto Terlucu
46 Effort Sean
47 Masak Bersama
48 Senangnya Kedua Orang Tua Sean
49 Kehebohan
50 Hari Yang Dinanti
51 Kenangan Indah
52 Ungkapan Cinta Sean
53 Bermain Di Taman Mansion
54 Pesta Teh
55 Pengakuan Yang Mengejutkan
56 Memilah Foto
57 Netha Yang Luar Biasa
58 Malam Panas
59 Serangga nya Ketemu
60 Kembali Pulang
61 Penjaga Gawang
62 Chef Cilik
63 Kejutan Untuk Netha
64 Gosip-Gosip
65 Macan Tutul
66 Sean Bersiap Pergi Tugas
67 Cek Dekorasi Restoran dan Toko Kue
68 Jatuh Cinta Lagi
69 Kegiatan Netha dan Si Kembar
70 Harmony Haven & Sweet Echoes
71 Penutupan Acara
72 Pindah Kediaman
73 Kue Perkenalan
74 Menyapa Tetangga dan Rekan
75 Bertemu Ibu-Ibu Komplek Julit
76 Rencana Sekolah
77 Perang Mulut Dengan Mlijo
78 Menunjukkan Pesona Netha
79 Bercanda nya Suami Istri
80 Mengatur Hidup Netha
81 Sekolah Si Kembar
82 Berpartisipasi Kegiatan Persit
83 Berita Baik
84 Gejolak Emosi
85 Kegembiraan Sesaat
86 Menemukan Jati Diri
87 Dilema
88 Mencoba Berubah
89 Masih Berusaha
90 Sudah Kembali
91 Perjalanan yang Belum Selesai
92 Momen Berharga
93 End
94 Pesan Untuk Pembaca Setia
95 Reinkarnasi Duchess Pemberani
96 Promo
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Pindah Raga? Reinkarnasi!
2
Masa Lalu dan Masa Kini
3
Proyek Besar Netha
4
Menurunkan Berat Badan
5
Perhatian Netha Untuk si Kembar
6
Supermarket
7
Mulai Merasa Nyaman
8
Bercerita
9
Olahraga Bersama
10
Hari Yang Panjang
11
Renungan Malam
12
Perubahan Besar
13
Penyelamatan Sandera di Perbatasan
14
Suasana Hangat
15
Keseruan Bermain
16
Adegan Tak Terduga
17
Sean Pulang
18
Kebahagiaan Di Mini Zoo
19
Kejutan
20
Berkumpul Berlima
21
Bimbang
22
Sean Mulai Aneh
23
Suasana Yang Berbeda
24
Berjalan Di Kamp Militer
25
Me Time
26
Merasa Bersalah
27
Terlalu Banyak Fikiran
28
Banyak Pikiran
29
Menuju Kamp Militer
30
Amarah Anetha
31
Pantai
32
Manis
33
Pagi Yang Menjengkelkan
34
Pulang
35
Diskusi Si Kembar
36
Berdiskusi Dengan Sean
37
Sean Ikut Merajuk
38
Sean Nyaman Bersama Netha
39
Maling
40
Kegiatan Bersama
41
Proyek Membuat Kue
42
Rebutan Kue
43
Perjalanan Mansion Harison
44
Kehangatan Keluarga Harison
45
Foto Terlucu
46
Effort Sean
47
Masak Bersama
48
Senangnya Kedua Orang Tua Sean
49
Kehebohan
50
Hari Yang Dinanti
51
Kenangan Indah
52
Ungkapan Cinta Sean
53
Bermain Di Taman Mansion
54
Pesta Teh
55
Pengakuan Yang Mengejutkan
56
Memilah Foto
57
Netha Yang Luar Biasa
58
Malam Panas
59
Serangga nya Ketemu
60
Kembali Pulang
61
Penjaga Gawang
62
Chef Cilik
63
Kejutan Untuk Netha
64
Gosip-Gosip
65
Macan Tutul
66
Sean Bersiap Pergi Tugas
67
Cek Dekorasi Restoran dan Toko Kue
68
Jatuh Cinta Lagi
69
Kegiatan Netha dan Si Kembar
70
Harmony Haven & Sweet Echoes
71
Penutupan Acara
72
Pindah Kediaman
73
Kue Perkenalan
74
Menyapa Tetangga dan Rekan
75
Bertemu Ibu-Ibu Komplek Julit
76
Rencana Sekolah
77
Perang Mulut Dengan Mlijo
78
Menunjukkan Pesona Netha
79
Bercanda nya Suami Istri
80
Mengatur Hidup Netha
81
Sekolah Si Kembar
82
Berpartisipasi Kegiatan Persit
83
Berita Baik
84
Gejolak Emosi
85
Kegembiraan Sesaat
86
Menemukan Jati Diri
87
Dilema
88
Mencoba Berubah
89
Masih Berusaha
90
Sudah Kembali
91
Perjalanan yang Belum Selesai
92
Momen Berharga
93
End
94
Pesan Untuk Pembaca Setia
95
Reinkarnasi Duchess Pemberani
96
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!