Bercerita

Setelah semua selesai, Netha duduk di sofa ruang tamu sambil menggulir layar ponselnya. Ia memeriksa daftar belanja untuk memastikan tidak ada yang terlewat. Di sebelahnya, El dan Al sedang menonton film animasi kesukaan mereka di televisi.

Netha melirik sekilas, memperhatikan wajah ceria mereka saat tertawa kecil melihat adegan lucu di layar. Dalam hati, ia merasa lega melihat anak-anak itu tampak nyaman. Tapi ada satu hal yang terus mengganjal pikirannya sejak ia mulai tinggal di rumah ini: El dan Al tampak seperti tidak pernah berbicara tentang teman atau kehidupan sosial mereka.

“Hmm, kalian tidak punya teman?” tanya Netha tiba-tiba, memecah keheningan.

El dan Al menoleh ke arahnya hampir bersamaan. Mereka terdiam sejenak, lalu saling bertukar pandang.

“Kenapa kamu tanya itu?” Al menjawab lebih dulu.

“Yah, aku cuma penasaran,” kata Netha, menatap mereka dengan ekspresi lembut. “Biasanya anak-anak seusia kalian punya banyak teman, kan? Apalagi kalian tinggal di kompleks militer. Di sana pasti banyak anak-anak lain, bukan?”

El diam, tapi matanya mengerjap sedikit lebih cepat dari biasanya, pertanda ia tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Al, seperti biasa, mencoba menguasai situasi dengan bicara.

“Di sana baik-baik saja,” katanya dengan nada datar. “Tapi kita nggak butuh teman.”

Jawaban itu membuat Netha mengernyit. “Tidak butuh teman? Kenapa? Apa kalian tidak suka bermain dengan anak-anak lain?”

Al mengangkat bahu. “Anak-anak itu berisik. Suka nangis, suka rebutan. Kita lebih suka berdua.”

Netha tahu ada sesuatu yang tidak beres. Anak-anak ini terlalu muda untuk memutuskan tidak membutuhkan teman. Mereka pasti menyembunyikan sesuatu.

Netha dalam hati “Ada apa sebenarnya di kompleks militer itu? Kenapa mereka tidak punya teman? Apakah mereka pernah mengalami sesuatu yang buruk?”

Namun, ia memutuskan untuk tidak terlalu memaksa. “Oke, kalau kalian tidak mau cerita sekarang, tidak apa-apa,” katanya pelan. “Tapi kalian tahu, kan, kalau aku selalu di sini kalau kalian mau berbagi cerita, jadikan aku teman kalian. Ingat kan?”

El tetap diam, sementara Al hanya mengangguk kecil, tampak tidak benar-benar memikirkan ucapan Netha. Mereka fokus kembali ke layar televisi.

Setelah beberapa saat, Netha mencoba mendekati mereka dengan cara lain. Ia menatap mereka sambil tersenyum kecil. “Apa kalian mau sekolah? Belajar di sana mungkin bisa seru.”

“Sekolah?” Al tertawa kecil, meskipun nadanya terdengar sinis. “Buat apa sekolah? Anak-anak di sekolah pasti selalu nangis-nangis, selalu ribut, bikin pusing.”

El hanya diam, tapi kali ini ia tidak menonton televisi. Pandangannya mengarah ke lantai, seolah-olah sedang berpikir keras.

“Kalian sudah bisa membaca dan menulis?” tanya Netha hati-hati.

Al menggeleng santai. “Nggak bisa.”

“Kalian tidak bisa membaca atau menulis?” tanya Netha, mencoba menahan keterkejutan di suaranya.

“Kalian tak pernah belajar?” Netha mengulang kata-kata itu, seakan tidak percaya.

“Kita nggak pernah belajar itu,” jawab Al dengan santai. “Papa nggak pernah ngajarin. Dia cuma ngajarin cara bertarung.”

Netha tertegun. “Cara bertarung?”

“Iya,” lanjut Al, kali ini terdengar lebih bersemangat. “Papa ngajarin kita cara bertarung dan cara bertahan kalau ada yang mau nyakitin kita. Kadang kita ikut bawahan papa di kamp militer. Main-main di sana, lihat mereka latihan.”

El mengangguk kecil, membenarkan ucapan kembarannya.

“Tapi papa nggak pernah ngajarin kita baca atau nulis,” tambah Al, nadanya kembali datar. “Kamu juga nggak pernah ngajarin.”

Netha merasa jantungnya mencelos. “Astaga, Netha asli benar-benar meninggalkan tanggung jawabnya sebagai ibu. Anak-anak ini bahkan tidak pernah belajar hal-hal dasar. Bagaimana mereka bisa hidup di dunia luar tanpa kemampuan membaca atau menulis?”

Dia menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. “Kalian tahu, membaca dan menulis itu penting,” katanya pelan. “Kalau kalian tidak bisa, bagaimana kalian akan belajar hal-hal lain?”

“Kita nggak perlu itu,” jawab Al cepat. “Kalau kita nggak bisa, papa yang baca buat kita. Lagian, kita kan anak-anak militer. Nggak butuh belajar banyak.”

“Kalian nggak butuh?” Netha menggeleng pelan. “Dengar, membaca dan menulis itu penting. Kalau nggak bisa, bagaimana kalian mau belajar hal-hal lain?”

“Al...” suara Netha melembut, tapi matanya menatap tajam ke arah anak itu. “Apa kalian tidak ingin sekolah? Bertemu anak-anak lain, belajar bersama? Aku yakin kalian bisa.”

El tiba-tiba angkat bicara, meskipun suaranya pelan. “Aku ingin sekolah,” katanya, membuat Al menoleh dengan kaget.

Ucapan itu membuat Al menoleh tajam ke arah kembarannya. “Kamu mau sekolah?” tanyanya, tampak terkejut.

El mengangguk lagi, kali ini lebih yakin. “Aku ingin belajar baca dan nulis. Tapi aku nggak mau sekolah, malas kalau harus denger anak-anak nangis di kelas.”

Al mendesah keras. “Makanya aku bilang malas sekolah. Anak-anak itu menyebalkan.”

Netha tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan kelegaannya. Setidaknya ada harapan untuk El dan mungkin, dengan sedikit usaha, untuk Al juga.

Netha tersenyum kecil. “Kalau begitu, aku bisa ajari kalian di rumah. Bagaimana?”

“Kamu?” tanya Al, alisnya terangkat. “Apa kamu bisa ngajarin kita? Kamu aja selama ini nggak pernah peduli.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan di wajah Netha. Tapi dia tidak marah. Dia tahu anak ini hanya mengatakan apa yang dirasakannya.

“Aku memang salah selama ini,” katanya jujur. “Tapi aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin membantu kalian belajar. Kalau kalian mau, kita bisa mulai besok.”

Al diam, tampaknya mempertimbangkan tawaran itu. El menatap Netha dengan ekspresi yang sulit diartikan, tapi ada secercah harapan di matanya.

“Kalau kamu benar-benar mau ngajarin, aku mau coba,” kata El akhirnya.

“Al?” Netha menatap anak yang lebih cerewet itu.

Al mengangkat bahu. “Aku ikut aja. Tapi kalau bosan, aku nggak mau terusin.”

Netha tertawa kecil. “Deal. Kita coba dulu. Kalau nggak suka, kita cari cara lain. Kita mulai besok.”

Setelah percakapan itu, Netha mencoba mencari tahu lebih banyak tentang kehidupan mereka di kompleks militer. “Sekarang, bagaimana kalau kalian cerita lebih banyak tentang apa yang kalian lakukan di kompleks militer? Bukankah jika ada papa kalian, kalian selalu ikut bersama nya ke rumah dinas militer?”

El dan Al kembali saling melirik. Kali ini, Al yang memulai.

“Kita biasanya ikut papa olahraga pagi atau sore,” katanya. “Kadang kita diajak keliling kompleks, lihat-lihat tentara latihan.”

“Kalian suka itu?” tanya Netha.

Al mengangguk. “Suka. Kita sering main juga di sana.”

“Tapi kalian nggak pernah cerita banyak,” Netha menatap mereka curiga. “Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?”

El dan Al saling pandang lagi, lalu Al tertawa kecil. “Nggak ada apa-apa. Semuanya baik-baik aja.”

Netha tidak puas dengan jawaban itu, tetapi ia memutuskan untuk tidak memaksa. Ia hanya ingin mereka merasa nyaman berbicara dengannya, tanpa tekanan.

“Kalau ada yang mengganggu kalian, janji akan cerita, ya?” katanya akhirnya.

El mengangguk pelan, sementara Al berkata, “Kita nggak perlu cerita. Kalau ada masalah, kita bisa selesaikan sendiri.”

“Kadang lebih baik bilang,” Netha mencoba meyakinkan mereka. “Aku di sini untuk membantu kalian.”

Kedua anak itu tidak menjawab, tapi dalam hati Netha bertekad. “Aku harus pelan-pelan mendekati mereka. Anak-anak ini sudah terlalu lama dibiarkan sendiri. Mereka butuh dukungan, dan aku akan memastikan mereka mendapatkannya.”

El tiba-tiba angkat bicara lagi. “Kata papa, kita harus kuat.”

Netha terdiam. Dalam hati, ia merasa marah sekaligus sedih. “Sean, apa yang kamu pikirkan? Anak-anak ini butuh perlindungan, bukan hanya latihan militer.”

Dia menarik napas panjang. “Mulai sekarang, kalau ada yang mengganggu kalian, kalian harus cerita padaku, ya? Aku akan selalu ada untuk kalian.”

El dan Al tidak menjawab, tapi dari cara mereka menunduk, Netha tahu kata-katanya telah menyentuh hati mereka.

Netha dalam hati “Mungkin ini akan sulit, tapi aku harus membuat mereka percaya padaku. Aku harus menjadi ibu yang pantas untuk mereka.”

To be continued…

Terpopuler

Comments

Alif

Alif

rumah kotor makan pake telur goreng gosong, lha trus ngapain uang bnyak tp gk sewa pembantu, tp kt liat authornya nulis apa selanjutnya

2025-02-16

1

Edah J

Edah J

kasian kamu twins 😢
tapi setelah Netha ada disamping kalian semoga hidup kalian menyenangkan

2025-03-22

0

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

Anak kecil tdk sekolah...aneh, pdhl ortunya berpendidikan...itu di negara mana to....

2025-01-31

0

lihat semua
Episodes
1 Pindah Raga? Reinkarnasi!
2 Masa Lalu dan Masa Kini
3 Proyek Besar Netha
4 Menurunkan Berat Badan
5 Perhatian Netha Untuk si Kembar
6 Supermarket
7 Mulai Merasa Nyaman
8 Bercerita
9 Olahraga Bersama
10 Hari Yang Panjang
11 Renungan Malam
12 Perubahan Besar
13 Penyelamatan Sandera di Perbatasan
14 Suasana Hangat
15 Keseruan Bermain
16 Adegan Tak Terduga
17 Sean Pulang
18 Kebahagiaan Di Mini Zoo
19 Kejutan
20 Berkumpul Berlima
21 Bimbang
22 Sean Mulai Aneh
23 Suasana Yang Berbeda
24 Berjalan Di Kamp Militer
25 Me Time
26 Merasa Bersalah
27 Terlalu Banyak Fikiran
28 Banyak Pikiran
29 Menuju Kamp Militer
30 Amarah Anetha
31 Pantai
32 Manis
33 Pagi Yang Menjengkelkan
34 Pulang
35 Diskusi Si Kembar
36 Berdiskusi Dengan Sean
37 Sean Ikut Merajuk
38 Sean Nyaman Bersama Netha
39 Maling
40 Kegiatan Bersama
41 Proyek Membuat Kue
42 Rebutan Kue
43 Perjalanan Mansion Harison
44 Kehangatan Keluarga Harison
45 Foto Terlucu
46 Effort Sean
47 Masak Bersama
48 Senangnya Kedua Orang Tua Sean
49 Kehebohan
50 Hari Yang Dinanti
51 Kenangan Indah
52 Ungkapan Cinta Sean
53 Bermain Di Taman Mansion
54 Pesta Teh
55 Pengakuan Yang Mengejutkan
56 Memilah Foto
57 Netha Yang Luar Biasa
58 Malam Panas
59 Serangga nya Ketemu
60 Kembali Pulang
61 Penjaga Gawang
62 Chef Cilik
63 Kejutan Untuk Netha
64 Gosip-Gosip
65 Macan Tutul
66 Sean Bersiap Pergi Tugas
67 Cek Dekorasi Restoran dan Toko Kue
68 Jatuh Cinta Lagi
69 Kegiatan Netha dan Si Kembar
70 Harmony Haven & Sweet Echoes
71 Penutupan Acara
72 Pindah Kediaman
73 Kue Perkenalan
74 Menyapa Tetangga dan Rekan
75 Bertemu Ibu-Ibu Komplek Julit
76 Rencana Sekolah
77 Perang Mulut Dengan Mlijo
78 Menunjukkan Pesona Netha
79 Bercanda nya Suami Istri
80 Mengatur Hidup Netha
81 Sekolah Si Kembar
82 Berpartisipasi Kegiatan Persit
83 Berita Baik
84 Gejolak Emosi
85 Kegembiraan Sesaat
86 Menemukan Jati Diri
87 Dilema
88 Mencoba Berubah
89 Masih Berusaha
90 Sudah Kembali
91 Perjalanan yang Belum Selesai
92 Momen Berharga
93 End
94 Pesan Untuk Pembaca Setia
95 Reinkarnasi Duchess Pemberani
96 Promo
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Pindah Raga? Reinkarnasi!
2
Masa Lalu dan Masa Kini
3
Proyek Besar Netha
4
Menurunkan Berat Badan
5
Perhatian Netha Untuk si Kembar
6
Supermarket
7
Mulai Merasa Nyaman
8
Bercerita
9
Olahraga Bersama
10
Hari Yang Panjang
11
Renungan Malam
12
Perubahan Besar
13
Penyelamatan Sandera di Perbatasan
14
Suasana Hangat
15
Keseruan Bermain
16
Adegan Tak Terduga
17
Sean Pulang
18
Kebahagiaan Di Mini Zoo
19
Kejutan
20
Berkumpul Berlima
21
Bimbang
22
Sean Mulai Aneh
23
Suasana Yang Berbeda
24
Berjalan Di Kamp Militer
25
Me Time
26
Merasa Bersalah
27
Terlalu Banyak Fikiran
28
Banyak Pikiran
29
Menuju Kamp Militer
30
Amarah Anetha
31
Pantai
32
Manis
33
Pagi Yang Menjengkelkan
34
Pulang
35
Diskusi Si Kembar
36
Berdiskusi Dengan Sean
37
Sean Ikut Merajuk
38
Sean Nyaman Bersama Netha
39
Maling
40
Kegiatan Bersama
41
Proyek Membuat Kue
42
Rebutan Kue
43
Perjalanan Mansion Harison
44
Kehangatan Keluarga Harison
45
Foto Terlucu
46
Effort Sean
47
Masak Bersama
48
Senangnya Kedua Orang Tua Sean
49
Kehebohan
50
Hari Yang Dinanti
51
Kenangan Indah
52
Ungkapan Cinta Sean
53
Bermain Di Taman Mansion
54
Pesta Teh
55
Pengakuan Yang Mengejutkan
56
Memilah Foto
57
Netha Yang Luar Biasa
58
Malam Panas
59
Serangga nya Ketemu
60
Kembali Pulang
61
Penjaga Gawang
62
Chef Cilik
63
Kejutan Untuk Netha
64
Gosip-Gosip
65
Macan Tutul
66
Sean Bersiap Pergi Tugas
67
Cek Dekorasi Restoran dan Toko Kue
68
Jatuh Cinta Lagi
69
Kegiatan Netha dan Si Kembar
70
Harmony Haven & Sweet Echoes
71
Penutupan Acara
72
Pindah Kediaman
73
Kue Perkenalan
74
Menyapa Tetangga dan Rekan
75
Bertemu Ibu-Ibu Komplek Julit
76
Rencana Sekolah
77
Perang Mulut Dengan Mlijo
78
Menunjukkan Pesona Netha
79
Bercanda nya Suami Istri
80
Mengatur Hidup Netha
81
Sekolah Si Kembar
82
Berpartisipasi Kegiatan Persit
83
Berita Baik
84
Gejolak Emosi
85
Kegembiraan Sesaat
86
Menemukan Jati Diri
87
Dilema
88
Mencoba Berubah
89
Masih Berusaha
90
Sudah Kembali
91
Perjalanan yang Belum Selesai
92
Momen Berharga
93
End
94
Pesan Untuk Pembaca Setia
95
Reinkarnasi Duchess Pemberani
96
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!