Bangga

..."Ayah..." Suara lembut terdengar dari mulut gadis yang memiliki paras cantik, berkulit putih, bola mata coklat dengan bulu mata lentik, bibir merah alami dengan rambut ikal sebahu berwarna hitam kecoklatan....

...Gadis itu segera turun dari gendongan Ayahnya, dengan perasaan takut. Teman teman Shasa yang ikut mengejar layangan pun berlarian karena takut kena marah orang tua Shasa....

...***...

"Shasa, kamu ini anak perempuan tapi kelakuan kamu seperti anak laki-laki, ngapain kamu naik ke atas pohon? kalau jatuh bagaimana?" Omel Ajeng menjewer kuping anaknya yang di panggil Shasa itu sembari menyeretnya untuk pulang.

"Ampun Bunda, sakit." Rengek Shasa.

Damar yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya.

"Udah berkali kali Bunda bilang kalau main itu harus ingat waktu, sekarang udah hampir maghrib kamu malah asik asikan di atas pohon, ketemu kuntilanak baru tahu rasa kamu." Omel Ajeng lagi saat sudah di depan rumah.

"Udah Bun, kasihan Shasa." Ucap Damar.

Ajeng pun melepaskan tangannya dari kuping Shasa. Dengan perasaan yang masih kesal.

"Shasa, sekarang kamu mandi ya, sebentar lagi maghrib, kita akan shalat berjamaah di masjid." Titah Damar.

"Iya ayah."Sahut Shasa segera berlari ke kamar mandi.

"Ayah kebiasaan manjain Shasa terus, anaknya jadi susah kalau di bilanginnya." Protes Ajeng.

"Namanya juga anak kecil Bunda, wajar kalau dia lagi senang main." Ucap Damar.

"Ayah, Shasa itu anak perempuan, tapi..."

"Iya Bunda, Ayah juga tau kalau Shasa itu perempuan, makanya Ayah ngga terlalu mengekang dia, tau sendiri anak perempuan kalau di kekang malah tambah membangkang, kita biarkan aja Shasa seperti itu, selagi masih hal yang wajar kita cukup mengawasinya saja, kalau sudah melewati batas baru kita akan bertindak tegas pada Shasa." Ucap Damar menyela ucapan Ajeng.

"Udah sekarang ngga usah berpikir yang macam macam, lebih baik Bunda juga siap siap, sebentar lagi adzan maghrib." Sambung Damar.

"Iya Mas." Sahut Ajeng kemudian segera mengambil mukena dan sajadahnya. Tak lupa Ajeng mengenakan hijabnya.

Sudah sebelas tahun Damar memutuskan untuk pindah ke Bandung dan tinggal di pelosok desa bersama dengan anak dan istrinya, setelah mengetahui ibunya sempat datang dan mengusir Ajeng dari kontrakannya yang menyebabkan Ajeng akhirnya mengingat kejadian kelam itu dan hampir membahayakan janin yang di kandung Ajeng, membuat Damar sangat marah.

Pak Adhi pun tak bisa lagi memaksa Damar untuk tetap bekerja di kantor nya saat itu, bahkan tanpa sepengetahuannya Damar pergi begitu saja, sampai saat ini Pak Adhi terus mencari keberadaan anak, menantu dan cucunya.

Sahabat sahabat Damar pun tak tau tempat tinggal Damar saat ini. Damar hanya berpamitan saat itu, namun Damar masih sesekali menghubungi sahabat sahabatnya, hanya saja tidak terlalu sering seperti dulu.

Damar, Ajeng dan juga Shasa berjalan menuju masjid saat adzan maghrib sudah berkumandang, Damar dan Ajeng menggandeng tangan Shasa yang ada di tengah tengah mereka.

"Shasa, sudah hafal surat Al Insyirah belum? Kan kemarin Ustadzah Hana minta anak anak untuk menghafal surat itu." Tanya Damar.

"Sudah dong Ayah." Jawab Shasa yakin.

"Coba mana, Ayah mau denger." Pinta Damar.

Shasa pun sepanjang jalan melantunkan surat Al Insyirah dengan suara merdunya, bahkan Shasa begitu Fasih dengan bacaan tajwid yang tepat.

"Subhanallah, merdu sekali Nak." Puji Ajeng mengusap lembut kepala Shasa yang tertutup hijab, lalu melirik ke arah suaminya yang sedang tersenyum.

Damar begitu bangga pada putrinya, dengan seribu kenakalannya yang terkadang membuatnya pusing, namun putrinya itu tidak pernah kesulitan untuk menghafal ayat ayat suci Al Qur'an.

Damar pun teringat pada masa kecilnya dulu, walau tanpa dampingan kedua orang tuanya yang super sibuk, tapi Bi Imas selaku ART di rumah orang tuanya sekaligus pengasuhnya selalu mengajarkannya mengaji dan Shalat.l

***

"Pah, sudah sebelas tahun Damar pergi, kenapa Papah belum menemukannya juga?" Tanya Bu Tania.

"Mah, Papah sudah berusaha mencari hampir ke seluruh indonesia, bahkan Papah sudah mengerahkan seluruh anak buah Papah untuk mencari mereka, tapi hasilnya tetap sama Mah. Mereka sangat sulit untuk ditemukan." Jawab Pak Adhi.

"Apa papah sudah coba menanyakan pada teman teman Damar pah? Mungkin mereka ada yang tau keberadaan Damar." Tanya Bu Tania.

"Sudah Mah, Papah sudah tanya Kevin, Riko dan Rama. Mereka tidak ada yang tau tempat tinggal Damar saat ini." Jawab Pak Adhi.

"Kemana Damar Pah. Gara gara wanita itu Damar meninggalkan kita Pah." Gerutu Bu Tania.

"Cukup Mah, Damar pergi bukan karena Ajeng, tapi karena keegoisan kamu yang tidak bisa menerima Ajeng, Damar mencintai Ajeng Mah, kenapa Mamah tidak bisa menerima itu. Andai mamah bisa menerima Ajeng, Damar pasti ada disini bersama kita." Ucap Pak Adhi dengan nada sedikit meninggi karena kesal istrinya selalu menyalahkan Ajeng.

"Papah kenapa malah nyalahin mamah sih, bukannya Papah juga ngga setuju kalau Damar sama Ajeng." Ucap Bu Tania

"Awalnya Iya, tapi setelah Damar pergi dari rumah demi Ajeng, Papah sadar cinta memang tidak bisa di paksakan Mah." Timpal Pak Adhi.

"Papah kenapa sih malah belain wanita miskin itu, dia udah bikin hidup Damar menderita Pah. Pasti saat ini Damar sedang kesusahan Pah." Protes Bu Tania karena suaminya terus membela wanita yang sangat dia benci saat ini.

"Percuma Papah nyari Damar sampai ketemu juga kalau mamah tetep ngga bisa menerima Ajeng, Damar ngga mungkin mau pulang Mah." Ucap Pak Adhi.

"Damar pernah bilang sama Papah, Dia akan pulang ke rumah kalau Mamah sudah bisa menerima Ajeng dan anaknya Mah." Sambungnya.

"Pah, tapi anak itu bukan anak Damar, bagaimana mungkin mamah bisa menerimanya." Hardik Bu Tania

"Mah, kamu kenapa keras kepala sekali sih, kalau kamu terus seperti ini selamanya Damar ngga akan pulang." Ucap Pak Adhi lalu pergi begitu saja.

"Pah.. Papah... Mamah belum selesai bicara Pah. Papah." Teriak Bu Tania namun tak di gubris oleh Pak Adhi.

"Kenapa sih semua orang malah membela wanita sialan itu." Umpat Bu Tania.

***

"Yah, besok di sekolah ada acara perlombaan, Shasa udah daftar lomba cerdas cermat dan melukis yah." Ucap Shasa pada sang Ayah saat sang Ayah duduk di teras rumah. Sementara dirinya baru selesai mengerjakan PR di bawahnya dengan beralaskan tikar dan meja belajar lihat.

"Loh, kok Shasa baru bilang sekarang sih sama Ayah? Ayah besok ngga bisa dateng deh lihat Shasa lomba. Soalnya besok Ayah harus kerja. Coba aja Shasa bilangnya jauh jauh hari, Ayah kan bisa Izin." Protes Damar sembari menarik tangan putrinya agar duduk di pangkuannya.

"Ngga apa apa yah, cuma lomba antar kelas aja, nanti kalau Shasa menang baru di lomba lagi tingkat kecamatan, kalau Shasa menang lagi nanti ke tingkat kabupaten, nah kalau menang lagi tingkat provinsi deh yah." Ucap Shasa yang

"Waahhhh kalau gitu Shasa harus menang, oke? Shasa harus belajar yang rajin, kalau Shasa menang nanti Ayah belikan boneka Barbie yang gede, yang Shasa mau itu loh." Ucap Damar mencoba memberi semangat.

"Beneran Yah?" Tanya Shasa.

"Iya beneran, makanya Shasa harus bekerja keras biar menang, oke?" Jawab Damar.

"Oke Ayah. muachhhhhh." Ucap Shasa lalu mencium pipi Ayahnya kemudian masuk ke dalam rumah.

"Kamu tumbuh begitu cepat Nak, rasanya baru kemarin Ayah menggendong kamu saat masih bayi, sekarang udah sebelas tahun aja. Ayah akan memberikan yang terbaik untuk kamu Nak." Batin Damar sembari menatap punggung anaknya yang berlari masuk ke rumah.

Episodes
1 Pernikahan
2 Tragedi
3 Memulai penyelidikan
4 Mual muntah
5 Positif
6 Benih siapa
7 kedatangan Ayah mertua
8 Itu cucu Papah
9 Penangkapan
10 Di usir
11 Aku benci anak ini
12 Persalinan
13 Alesha Almahyra Azzahra
14 Bangga
15 Ajeng tak sadarkan diri
16 Rencana ke Jakarta
17 Laki laki terhebat
18 Transferan dari papah mertua
19 Keluarga yang enak di lihat
20 Ruang ICU
21 Siapa dia?
22 Coffe shop Kevin
23 Cemburu
24 Bicara berdua
25 Anakku
26 Bukan cinta tapi obsesi
27 Penyejuk hati
28 Belum ketemu jodoh
29 Merindukan
30 Hanya masa lalu
31 Curiga
32 Demi sebuah rencana
33 Impian Damar
34 Menjelaskan
35 Mengurusi
36 Mencari Ajeng
37 Rekaman CCTV
38 Ajeng pendarahan
39 Harus segera di lahirkan
40 Ruang perinatologi
41 Zeandra Davi Adhitama
42 Introgasi
43 ASI untuk Zean
44 Adik bayi Shasa
45 Alasan Pak Adhi ingin bercerai
46 Menjenguk Zean
47 Sudah Tau
48 Kebahagiaan Ajeng
49 Pernikahan Riko
50 Bertemu Jihan
51 kebahagiaan Kevin
52 Belanja keperluan Zean
53 Kamar Zean
54 Rama melamar Freya
55 Takut Zean Hilang
56 Bertemu orang tua Rama
57 Bulan depan
58 Gercep
59 Kenapa kamu kembali?
60 Tuduhan
61 Sah
62 Merasa tidak pantas
63 Mendadak punya istri
64 Freya tak sadarkan diri
65 Panik
66 Eps 66
67 Eps 67
68 Eps 68
69 Keras kepala
70 Eps 70
71 Eps 71
72 Eps 72
73 Eps 73
74 Eps 74
75 Eps 75
76 Eps 76
77 Eps 77
78 Eps 78
79 Eps 79
80 Eps 80
81 81
82 Eps 82
83 Eps 83
84 Eps 84
85 Eps 85
86 Eps 86
87 Eps 87
88 Eps 88
89 Eps 89
90 Eps 90
91 Eps 91
92 Eps 92
93 Eps 93
94 Eps 94
95 Eps 95
96 Eps 96
97 Eps 97
98 Eps 98
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Pernikahan
2
Tragedi
3
Memulai penyelidikan
4
Mual muntah
5
Positif
6
Benih siapa
7
kedatangan Ayah mertua
8
Itu cucu Papah
9
Penangkapan
10
Di usir
11
Aku benci anak ini
12
Persalinan
13
Alesha Almahyra Azzahra
14
Bangga
15
Ajeng tak sadarkan diri
16
Rencana ke Jakarta
17
Laki laki terhebat
18
Transferan dari papah mertua
19
Keluarga yang enak di lihat
20
Ruang ICU
21
Siapa dia?
22
Coffe shop Kevin
23
Cemburu
24
Bicara berdua
25
Anakku
26
Bukan cinta tapi obsesi
27
Penyejuk hati
28
Belum ketemu jodoh
29
Merindukan
30
Hanya masa lalu
31
Curiga
32
Demi sebuah rencana
33
Impian Damar
34
Menjelaskan
35
Mengurusi
36
Mencari Ajeng
37
Rekaman CCTV
38
Ajeng pendarahan
39
Harus segera di lahirkan
40
Ruang perinatologi
41
Zeandra Davi Adhitama
42
Introgasi
43
ASI untuk Zean
44
Adik bayi Shasa
45
Alasan Pak Adhi ingin bercerai
46
Menjenguk Zean
47
Sudah Tau
48
Kebahagiaan Ajeng
49
Pernikahan Riko
50
Bertemu Jihan
51
kebahagiaan Kevin
52
Belanja keperluan Zean
53
Kamar Zean
54
Rama melamar Freya
55
Takut Zean Hilang
56
Bertemu orang tua Rama
57
Bulan depan
58
Gercep
59
Kenapa kamu kembali?
60
Tuduhan
61
Sah
62
Merasa tidak pantas
63
Mendadak punya istri
64
Freya tak sadarkan diri
65
Panik
66
Eps 66
67
Eps 67
68
Eps 68
69
Keras kepala
70
Eps 70
71
Eps 71
72
Eps 72
73
Eps 73
74
Eps 74
75
Eps 75
76
Eps 76
77
Eps 77
78
Eps 78
79
Eps 79
80
Eps 80
81
81
82
Eps 82
83
Eps 83
84
Eps 84
85
Eps 85
86
Eps 86
87
Eps 87
88
Eps 88
89
Eps 89
90
Eps 90
91
Eps 91
92
Eps 92
93
Eps 93
94
Eps 94
95
Eps 95
96
Eps 96
97
Eps 97
98
Eps 98

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!