Rencana ke Jakarta

Tiga bulan kemudian...

Shasa yang baru saja pulang dari sekolah berlari masuk ke dalam rumahnya dengan senyum bahagia sembari membawa piala dan Piagam penghargaan di tangannya.

"Ayah... Bunda..." Teriaknya.

Damar dan Ajeng saat ini sedang duduk berdua di teras belakang rumah sembari menikmati minuman mereka yaitu Teh manis untuk Damar, dan susu ibu hamil untuk Ajeng dengan di temani sepiring pisang goreng buatan Ajeng.

"Ayah... Bunda..." Teriak Shasa lagi saat tak kunjung ada sahutan dari Ayah Bunda nya.

"Mas, itu sepertinya Shasa udah pulang." Ucap Ajeng berusaha berdiri namun sedikit kesulitan karena perutnya yang sudah membesar.

Kehamilan Ajeng saat ini menginjak usia enam bulan, namun berat badan Ajeng sudah naik lebih dari 10 kg, membuat badan Ajeng makin berisi.

"Iya sayang, sebentar Mas lihat dulu." Ucap Damar membantu Ajeng untuk berdiri terlebih dahulu lalu masuk ke dalam rumah dan menemui putrinya.

"Ada apa sayang? kok teriak teriak?" Tanya Damar menghampiri putrinya.

"Ayah lihat, Shasa menang lomba cerdas cermat Yah, Shasa dapat piala dan juga piagam penghargaan." Ucap Shasa girang mengangkat kedua tangannya yang memegang piala dan piagam di depan Damar.

"MashaAllah, anak Ayah hebat sekali." Ucap Damar segera memeluk Shasa dan menciuminya.

"Ada apa sayang?" Tanya Ajeng yang baru saja masuk.

"Ini loh Bunda, Shasa menang lomba, dia dapat piala dan juga piagam penghargaan, putri kita hebat ya Bun." Jawab Damar memuji putrinya dengan rasa bangga sembari menatap Ajeng.

"Wahhh mana coba Bunda lihat." Ucap Ajeng, Shasa pun berlari mendekati Ajeng.

"Ini Bunda." Shasa memperlihatkan piala dan Piagam pada Bunda nya.

"Wahhh, Kakak Shasa pinter banget sih." Puji Ajeng.

"Sini peluk Bunda Kak." Ucap Ajeng yang berusaha berjongkok di depan Shasa agar Shasa bisa memeluknya.

Shasa pun memeluk Bunda nya, sesekali Ajeng mencium Shasa.

"Oh ya, minggu depan Shasa akan mengikuti lomba tingkat provinsi di Jakarta. Ayah dan Bunda bisa ikut kan? Soalnya orang tua di perbolehkan ikut." Ucap Shasa.

"Hmmm pasti dong sayang, Ayah dan Bunda akan menemani Shasa ke Jakarta, Iya kan Bun?" Ucap Damar menoleh ke arah Ajeng.

"Iya Ayah, kita akan sama sama ke Jakarta." Jawab Ajeng.

"Horeeee, terimakasih Ayah, Bunda, Shasa sayang Ayah dan Bunda." Ucap Shasa memeluk kedua orang tuanya.

"Ya sudah, sekarang Shasa ganti baju dulu, Sebentar lagi masuk waktu Ashar, kita siap siap untuk Sholat berjamaah. Oke?" Ucap Damar.

"Oke Ayah." Sahut Shasa mengangkat kedua jempolnya. Kemudian segera berlari ke kamarnya.

"Mas yakin mau ke Jakarta?" Tanya Ajeng setelah Shasa masuk ke kamarnya.

"Iya sayang, kita semua akan ke Jakarta, Kasihan Shasa kalau kita ngga ikut, Mas akan memberi dukungan untuk Shasa." Jawab Damar.

"Iya sudah Mas, Aku sih ikut apa kata Mas aja" Sahut Ajeng.

***

Drettt Drettt Drettt

"Damar." Lirih Kevin saat membaca nama kontak yang menghubunginya.

"Hallo, Assalamu'alaikum." Sapanya.

"Wa'alaikumsalam. Apa kabar Vin?" Tanya Damar.

"Alhamdulillah Baik, kamu gimana kabarnya?" Jawab Kevin kemudian balik bertanya.

"Alhamdulillah sehat." Jawab Damar.

"Oh ya, minggu depan aku akan ke Jakarta, InshaAllah aku akan mampir ke caffe." Ucap Damar.

"Oh ya, tumben mau ke Jakarta? biasanya kalau di minta main ke Jakarta selalu bilang ngga bisa. Padahal kita semua udah kangen banget sama kamu." Tanya Kevin.

"Iya maaf vin, aku kan dulu memang sibuk kerja disini, sehari ngga kerja ya gimana anak dan istri aku makan. Lagian dulu aku mana punya ongkos buat ke Jakarta," Jawab Damar.

"Lah terus minggu depan mau ke Jakarta, emang ada ongkosnya?" Tanya Kevin.

"Untuk kali ini aku pasti usahakan, karena Shasa akan ikut lomba disana. Lagian kendaraan sudah di sediakan dari sekolahan." Jawab Damar.

"Ohhh begitu, Ya sudah aku tunggu kedatangan kalian disini. Aku juga akan kasih tau yang lainnya biar kita bisa kumpul disini." Ucap Kevin.

"Oke, Ya sudah aku tutup dulu ya, Assa..."

"Tunggu Dam." Sela Kevin.

"Ada apa Vin?" Tanya Damar.

"Kemarin Om Adhi datang ke Caffe dan meminta alamat rumah kamu, tapi aku jawab ngga tau karena aku memang ngga tau tempat tingal kamu sekarang." Jawab Kevin.

"Oh, ya memang lebih baik seperti ini Vin." Ucap Damar.

"Tapi Dam, apa kamu ngga kasihan sama Papah kamu, dia terus mencari kamu, dan aku lihat sepertinya kesehatan papah kamu sedang tidak baik kemarin." Ucap Kevin yang merasa iba pada Pak Adhi.

"Aku tidak tahu Vin, mungkin aku akan coba menemuinya nanti pas aku ke Jakarta." Jawab Damar.

"Iya memang lebih baik seperti itu Dam, walau bagaimana pun dia tetap orang tua kamu, kamu tidak boleh mengabaikannya." Ucap Kevin.

"Iya Vin, terimakasih ya, aku tutup dulu, Assalamualaikum." Ucap Damar.

"Wa'alaikumsalam." Jawab Kevin lalu panggilan pun terputus.

Selesai melakukan panggilan, Damar sedikit merenungi perkataan Kevin yang mengatakan untuk tidak mengabaikan orang tuanya.

"Apa sebaiknya aku menghubungi papah ya?" Pikirnya.

"Sepertinya tidak ada salahnya kalau aku sesekali menghubungi papah untuk menanyakan kabar Papah dan juga Mamah." Ucap Damar kemudian segera mencari kontak papahnya.

"Ayah." Panggil Shasa yang tiba tiba masuk kamar orang tuanya saat Damar baru saja memencet tombol hijau untuk menghubungi papahnya.

"Putri Ayah, ada apa sayang?" Tanya Damar yang segera memeluk sang putri.

"Ayah, Sepatu Shasa bolong, Ayah bisa ngga beliin Shasa sepatu baru?" Ucap Shasa yang meminta di belikan sepatu baru.

"Oke, InshaAllah besok pulang kerja Ayah akan belikan sepatu baru untuk Shasa." Jawab Damar.

"Beneran Yah?" Tanya Shasa

"Iya sayang." Sahut Damar.

"Horeee, terimakasih Ayah. Muacchhh" Ucap Shasa girang lalu mencium kedua Pipi Ayahnya.

Tanpa Damar sadari, ponselnya telah terhubung dengan papahnya dan Pak Adhi bisa mendengar percakapan antara ayah dan anaknya.

"Damar, itukah kamu nak. Dan anak kecil itu, apa dia cucu Papah Nak." Lirih Pak Adhi.

Pak Adhi segera mematikan sambungan telponnya lalu menghubungi nomor itu kembali.

"Papah." Lirih Damar melirik ponselnya yang bergetar dan ternyata Pak Adhi menghubunginya melalui Video Call.

"Sayang, Shasa mau ngga ngobrol sama Kakek?" Tanya Damar sebelum menerima panggilan dari Papahnya.

"Shasa punya kakek Yah?" Tanya Shasa.

"Punya dong sayang, ini Kakek mau ngobrol sama Shasa katanya." Jawab Damar.

"Shasa mau kan?" Tanyanya kemudian.

"Mau yah." Jawab Shasa sembari menganggukan kepalanya.

"Oke." Sahut Damar lalu memencet tombol hijau untuk menerima panggilan dari Papahnya.

"Assalamualaikum Pah." Salam Damar

"Wa'alaikumsalam." Jawab Pak Adhi.

"Damar ini beneran kamu Nak?" Tanya Pak Adhi yang masih tak menyangka bisa melihat Damar lagi walau pun hanya lewat ponsel.

"Iya Pah, ini Damar." Jawab Damar.

"Damar kamu kemana saja Nak, Papah mencari kamu kemana mana tapi kenapa sulit sekali untuk menemui kamu Nak?" Tanya Pak Adhi yang tanpa sadar meneteskan air matanya.

"Maafkan Damar Pah." Ucap Damar yang juga tak bisa membendung air matanya.

"Ayah, kenapa Ayah menangis?" Tanya Shasa yang menyadari Ayahnya mengeluarkan airmata.

"Ngga sayang, Ayah ngga nangis kok, Ayah cuma merindukan kakek kamu." Jawab Damar menghapus airmatanya.

"Damar, itu cucu Papah Nak?" Tanya Pak Adhi saat melihat Shasa yang juga ikut menghapus airmata Damar.

"Iya Pah, ini Shasa cucu Papah." Ucap Damar lalu mengarahkan ponselnya pada Shasa agar Papahnya bisa melihat Shasa dengan jelas.

"Hallo cantik, ini Opa sayang." Sapa Pak Adhi sembari melambaikan tangannya pada Shasa.

"Hai Opa, aku Shasa." Sapa Shasa yang juga melambaikan tangannya.

"Opa kenapa ngga pernah main kesini?" Tanya Shasa.

"Maaf ya Sayang, disini Opa banyak pekerjaan jadi belum sempat menemui Shasa, tapi Opa janji secepatnya Opa akan menemui Shasa, Oke?" Ucap Pak Adhi.

"Oke Opa." Sahut Shasa.

"Oh ya Opa, sebentar lagi Shasa mau punya Adek loh Opa, Shasa akan jadi kakak." Sambung Shasa.

"Oh ya, Beneran sayang?" Tanya Pak Adhi.

"Iya Bener Opa, perut Bunda udah gede banget Opa, kata Bunda di perut Bunda ada adek Bayi." Jawab Shasa.

"Alhamdulillah, berarti Shasa sebentar lagi jadi kakak, mulai sekarang Opa akan panggil Shasa dengan sebutan kakak, Oke?" Ucap Pak Adhi.

"Oke Opa." Sahut Shasa.

"Pinter, Kakak sekarang udah kelas berapa sekolahnya?" Tanya Pak Adhi.

"Kelas 5 Opa, sebentar lagi mau naik kelas 6." Jawab Shasa.

"Opa, minggu depan kakak ada lomba di Jakarta, rencananya Ayah dan Bunda juga ikut, Opa bisa ngga dateng temui Kakak disana?" Tanya Shasa yang berharap bisa bertemu Opa nya di Jakarta nanti.

Episodes
1 Pernikahan
2 Tragedi
3 Memulai penyelidikan
4 Mual muntah
5 Positif
6 Benih siapa
7 kedatangan Ayah mertua
8 Itu cucu Papah
9 Penangkapan
10 Di usir
11 Aku benci anak ini
12 Persalinan
13 Alesha Almahyra Azzahra
14 Bangga
15 Ajeng tak sadarkan diri
16 Rencana ke Jakarta
17 Laki laki terhebat
18 Transferan dari papah mertua
19 Keluarga yang enak di lihat
20 Ruang ICU
21 Siapa dia?
22 Coffe shop Kevin
23 Cemburu
24 Bicara berdua
25 Anakku
26 Bukan cinta tapi obsesi
27 Penyejuk hati
28 Belum ketemu jodoh
29 Merindukan
30 Hanya masa lalu
31 Curiga
32 Demi sebuah rencana
33 Impian Damar
34 Menjelaskan
35 Mengurusi
36 Mencari Ajeng
37 Rekaman CCTV
38 Ajeng pendarahan
39 Harus segera di lahirkan
40 Ruang perinatologi
41 Zeandra Davi Adhitama
42 Introgasi
43 ASI untuk Zean
44 Adik bayi Shasa
45 Alasan Pak Adhi ingin bercerai
46 Menjenguk Zean
47 Sudah Tau
48 Kebahagiaan Ajeng
49 Pernikahan Riko
50 Bertemu Jihan
51 kebahagiaan Kevin
52 Belanja keperluan Zean
53 Kamar Zean
54 Rama melamar Freya
55 Takut Zean Hilang
56 Bertemu orang tua Rama
57 Bulan depan
58 Gercep
59 Kenapa kamu kembali?
60 Tuduhan
61 Sah
62 Merasa tidak pantas
63 Mendadak punya istri
64 Freya tak sadarkan diri
65 Panik
66 Eps 66
67 Eps 67
68 Eps 68
69 Keras kepala
70 Eps 70
71 Eps 71
72 Eps 72
73 Eps 73
74 Eps 74
75 Eps 75
76 Eps 76
77 Eps 77
78 Eps 78
79 Eps 79
80 Eps 80
81 81
82 Eps 82
83 Eps 83
84 Eps 84
85 Eps 85
86 Eps 86
87 Eps 87
88 Eps 88
89 Eps 89
90 Eps 90
91 Eps 91
92 Eps 92
93 Eps 93
94 Eps 94
95 Eps 95
96 Eps 96
97 Eps 97
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Pernikahan
2
Tragedi
3
Memulai penyelidikan
4
Mual muntah
5
Positif
6
Benih siapa
7
kedatangan Ayah mertua
8
Itu cucu Papah
9
Penangkapan
10
Di usir
11
Aku benci anak ini
12
Persalinan
13
Alesha Almahyra Azzahra
14
Bangga
15
Ajeng tak sadarkan diri
16
Rencana ke Jakarta
17
Laki laki terhebat
18
Transferan dari papah mertua
19
Keluarga yang enak di lihat
20
Ruang ICU
21
Siapa dia?
22
Coffe shop Kevin
23
Cemburu
24
Bicara berdua
25
Anakku
26
Bukan cinta tapi obsesi
27
Penyejuk hati
28
Belum ketemu jodoh
29
Merindukan
30
Hanya masa lalu
31
Curiga
32
Demi sebuah rencana
33
Impian Damar
34
Menjelaskan
35
Mengurusi
36
Mencari Ajeng
37
Rekaman CCTV
38
Ajeng pendarahan
39
Harus segera di lahirkan
40
Ruang perinatologi
41
Zeandra Davi Adhitama
42
Introgasi
43
ASI untuk Zean
44
Adik bayi Shasa
45
Alasan Pak Adhi ingin bercerai
46
Menjenguk Zean
47
Sudah Tau
48
Kebahagiaan Ajeng
49
Pernikahan Riko
50
Bertemu Jihan
51
kebahagiaan Kevin
52
Belanja keperluan Zean
53
Kamar Zean
54
Rama melamar Freya
55
Takut Zean Hilang
56
Bertemu orang tua Rama
57
Bulan depan
58
Gercep
59
Kenapa kamu kembali?
60
Tuduhan
61
Sah
62
Merasa tidak pantas
63
Mendadak punya istri
64
Freya tak sadarkan diri
65
Panik
66
Eps 66
67
Eps 67
68
Eps 68
69
Keras kepala
70
Eps 70
71
Eps 71
72
Eps 72
73
Eps 73
74
Eps 74
75
Eps 75
76
Eps 76
77
Eps 77
78
Eps 78
79
Eps 79
80
Eps 80
81
81
82
Eps 82
83
Eps 83
84
Eps 84
85
Eps 85
86
Eps 86
87
Eps 87
88
Eps 88
89
Eps 89
90
Eps 90
91
Eps 91
92
Eps 92
93
Eps 93
94
Eps 94
95
Eps 95
96
Eps 96
97
Eps 97

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!