Di usir

Hari-hari berlalu begitu cepat, Damar dan Ajeng menjalani hidupnya dengan penuh kebahagiaan, Damar yang bekerja sebagai manager di caffe milik sahabatnya sekaligus CEO di perusahaan milik Ayahnya, namun tetap bisa menjaga Ajeng yang tengah hamil dengan baik.

"Sayang, aku berangkat ke kantor dulu ya, ada meeting soalnya." Ucap Damar yang sudah bersiap untuk berangkat bekerja.

"Sarapan sudah Mas siapkan, Mas juga sudah buatkan susu untuk kamu, jangan lupa makan dan di minum ya susunya." Sambungnya.

"Iya Mas." Sahut Ajeng yang berusaha bangun dari duduknya, perut Ajeng yang mulai membesar karena usia kehamilan yang sudah menginjak delapan bulan, membuatnya sedikit kesulitan untuk bangun.

Setelah Ajeng berdiri, Damar segera berjongkok dan mengusap perut Ajeng, lalu menciumnya sembari berkata, "Ayah berangkat kerja dulu ya Nak, bantu Ayah jaga Bunda ya, kamu jangan nakal." Ucapnya lalu kembali berdiri dan mencium kening Ajeng.

"Oke, Mas harus berangkat sekarang, kamu baik baik dirumah ya sayang, Bi Dijah mungkin sebentar lagi akan datang, Jadi kamu jangan kerjakan apapun, biar Bi Dijah aja yang mengerjakan pekerjaan rumah." Ucap Damar, Ajeng segera mencium tangan Damar.

"Iya Mas." Sahut Ajeng lagi.

"Assalamualaikum sayang." Ucap Damar.

"Wa'alaikumsalam. Hati hati Mas." Ucap Ajeng menatap kepergian suaminya.

Ajeng berjalan menuju teras lalu melambaikan tangan pada Damar yang sudah mengendarai mobilnya.

Ya, setelah kembali bekerja di perusahaan, Damar kembali mendapat Fasilitas mobil, namun bukan mobil miliknya melainkan mobil dari perusahaan, karena Damar menolak saat Pak Adhi menyuruhnya membawa mobil yang memang di beli untuk Damar.

Setelah mobil yang di kendarai sang suami sudah jauh, Ajeng segera masuk ke dalam rumah untuk sarapan dan juga minum susunya.

Membuka tudung saji, wajah Ajeng begitu bahagia saat melihat makanan yang sangat di sukainya ada di atas meja.

"Mas Damar masak sendiri atau beli ya, tapi kalau beli memang ada yang jual pagi pagi begini." Gumam Ajeng namun tak begitu ia hiraukan, dia langsung melahap nasi goreng seafood kesukaannya.

"MashaAllah, ini enak sekali, ini beneran Mas Damar yang masak ngga sih, kok enak banget." Batin Ajeng yang begitu lahap makan nasi gorengnya.

Setelah selesai, Ajeng segara mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya.

"Hallo Mas." Sapa Ajeng saat panggilan terhubung.

"Iya sayang, ada apa?" Tanya Damar.

"Mas, Ini mas yang masak nasi gorengnya?" Tanya Ajeng

"Iya sayang? kenapa? ngga enak ya? kalau ngga enak ngga udah di makan sayang, nanti suruh bi Dijah aja beli makanan di luar." Ucap Damar.

"Mas, justru ini enak banget Nasi gorengnya, udah habis aku makan tadi Mas."

"Oh syukurlah sayang. Kapan kapan aku masakin lagi kalau kamu suka." Ucap Damar.

"Mau Mas." sahut Ajeng dengan nada manjanya.

"Iya sayang, nanti aku masakin lagi ya." Ucap Damar.

"Terimakasih Ya Mas." ucap Ajeng.

"Iya sayang, Mas sekarang mau ke ruang Meeting dulu ya, kamu baik baik disana, jangan capek capek ya." Ucap Damar.

"Iya Mas, maaf ya kalau aku ganggu Mas kerja."

"Ngga kok sayang."

"Assalamualaikum Mas."

"Wa'alaikumsalam sayang." Jawab Damar lalu panggilan pun berakhir.

Ajeng menyimpan ponselnya di atas meja, lalu meminum susu khusus ibu hamil yang sudah di buat oleh suaminya.

Saat sedang menikmati menyeruput segelas susu, tiba tiba saja ada yang menggedor pintunya dengan kasar.

Brak Brak Brak

Ajeng cukup terkejut, perlahan Ajeng mendekat ke arah pintu, dilihatnya lebih dulu siapa yang datang dari jendela, karena Ajeng sangat takut jika kejadian 8 bulan yang lalu terulang kembali.

"I.. itu kan, Mamahnya Mas Damar." Ucap Ajeng terkejut dengan kedatangan mamah mertuanya.

"Ajeng... Ajeng... Keluar kamu." Teriak Bu Tania yang merupakan Mamah dari Damar.

Sontak Ajeng langsung meraih gagang pintu dan menekannya, pintu pun terbuka. Ajeng segera menghampiri mamah mertuanya.

"Ma.. mamah." Sapa Ajeng namun justru mendapat tatapan tajam dari Mamah mertuanya.

Ajeng memberanikan diri hendak mencium tangan Bu Tania, namun belum sampai menyentuh tangan mamah mertuanya, Bu Tania sudah lebih dulu menepis tangan Ajeng.

"Jangan coba coba sentuh tanganku." Bentaknya.

"Ma.. maaf Mah." Ucap Ajeng mengurungkan Niatnya untuk mencium tangan mertuanya.

"Aku sudah tau apa yang terjadi pada kamu sehari setelah pernikahan kalian." Ucapnya dengan nada sinis.

"Aku yakin, apa yang terjadi padamu adalah hukuman karena kamu berani membuat anakku kabur hanya untuk menikahi kamu, Bahkan anakku menjadi anak durhaka karena kamu." Tuduh nya membuat Ajeng semakin menundukan kepalanya.

Merasa apa yang diucapkan oleh mamah mertuanya benar dan inilah hukuman yang harus Ia terima karena tetap menikah dengan Damar, padahal jelas jelas keluarga Damar menentangnya.

"Sebagai sesama perempuan aku kasihan padamu, tapi sebagai seorang ibu aku ingin kamu pergi dari kehidupan putra ku, kamu itu sama sekali tidak pantas untuk Damar." Hardik nya.

"Jangan gunakan kehamilan mu sebagai alasan agar Damar tetap bertahan denganmu karena anak yang ada di dalam kandungan kamu sama sekali bukan anak Damar, Dia anak salah satu dari laki laki suruhan Kayla." Sambungnya

Deg

"A.. apa Mah? Ja.. jadi me.. mereka orang suruhan Kayla?" Kaget Ajeng yang memang belum tau bahwa dalang di balik kejadian dulu adalah Kayla.

"Apa Damar tidak mengatakan padamu Ajeng, Bahkan Damar sendiri yang menjebloskan Kayla ke penjara." Ucap Bu Tania, Ajeng hanya menggelengkan kepalanya.

"Sudahlah itu tidak penting, yang terpenting sekarang saya minta kamu pergi jauh dari kehidupan Damar." Pinta Bu Tania

"Ini uang dua ratus juta untuk kamu." Ucap Bu Tania memberikan amplop berwarna coklat di tangan Ajeng.

"Sekarang juga kamu pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi." Usir Bu Tania sembari mendorong pelan tubuh Ajeng agar pergi.

"Ingat Ajeng, anak yang kamu kandung bukan anak Damar, dia anak para bajing*n itu." Teriak Bu Tania membuat hati Ajeng kembali terasa sakit.

Bayang bayang kejadian itupun terus berputar kembali di otak Ajeng, Berjalan terus ke depan dengan tatapan kosong dan airmata yang terus mengalir deras.

"Ajeng." Panggil kevin saat tanpa sengaja melihat Ajeng berjalan di depan Caffe nya, namun Ajeng sama sekali tak menoleh ke arahnya, bahkan Ajeng terus berjalan tanpa henti.

Kevin yang merasa ada sesuatu dengan Ajeng segera mengejarnya.

"Hey Ajeng, kamu mau kemana?" Tanya kevin setengah berteriak sembari berlari mengejar Ajeng.

Ajeng tetap tak merespon panggilan kevin, Ajeng terus berjalan dengan tatapan lurus kedepan. Membuat kevin merasa khawatir.

Berdiri di depan Ajeng, kevin megang kedua bahu Ajeng untuk menahan agar Ajeng berhenti, dan tiba tiba hujan turun begitu lebatnya.

"Kamu kenapa Ajeng?" Tanya kevin, namun Ajeng tetap terdiam dengan pandangan kosong.

"Astagfirullah, ada apa dengan Ajeng." Batin Kevin.

"Aku harus hubungi Damar." Gumamnya lalu segera membawa Ajeng ke tempat untuk berteduh.

Setelahnya Kevin segera menghubungi Damar, namun berkali kali di hubungi, Damar tak kunjung menjawabnya.

"Damar angkat dong, istrimu membuat aku panik Damar." Ucap Kevin sembari mondar mandir di depan Ajeng yang sedang duduk.

"Arrrggghhhh, sakit."Tiba Tiba Ajeng merintih kesakitan sembari memegangi perutnya.

Seketika kevin panik, terlebih saat kevin melihat cairan bening mengalir di kaki Ajeng, ya tiba tiba saja air ketuban Ajeng pecah, tanpa pikir panjang kevin segera mengambil mobilnya dan membawa Ajeng ke rumah sakit.

Episodes
1 Pernikahan
2 Tragedi
3 Memulai penyelidikan
4 Mual muntah
5 Positif
6 Benih siapa
7 kedatangan Ayah mertua
8 Itu cucu Papah
9 Penangkapan
10 Di usir
11 Aku benci anak ini
12 Persalinan
13 Alesha Almahyra Azzahra
14 Bangga
15 Ajeng tak sadarkan diri
16 Rencana ke Jakarta
17 Laki laki terhebat
18 Transferan dari papah mertua
19 Keluarga yang enak di lihat
20 Ruang ICU
21 Siapa dia?
22 Coffe shop Kevin
23 Cemburu
24 Bicara berdua
25 Anakku
26 Bukan cinta tapi obsesi
27 Penyejuk hati
28 Belum ketemu jodoh
29 Merindukan
30 Hanya masa lalu
31 Curiga
32 Demi sebuah rencana
33 Impian Damar
34 Menjelaskan
35 Mengurusi
36 Mencari Ajeng
37 Rekaman CCTV
38 Ajeng pendarahan
39 Harus segera di lahirkan
40 Ruang perinatologi
41 Zeandra Davi Adhitama
42 Introgasi
43 ASI untuk Zean
44 Adik bayi Shasa
45 Alasan Pak Adhi ingin bercerai
46 Menjenguk Zean
47 Sudah Tau
48 Kebahagiaan Ajeng
49 Pernikahan Riko
50 Bertemu Jihan
51 kebahagiaan Kevin
52 Belanja keperluan Zean
53 Kamar Zean
54 Rama melamar Freya
55 Takut Zean Hilang
56 Bertemu orang tua Rama
57 Bulan depan
58 Gercep
59 Kenapa kamu kembali?
60 Tuduhan
61 Sah
62 Merasa tidak pantas
63 Mendadak punya istri
64 Freya tak sadarkan diri
65 Panik
66 Eps 66
67 Eps 67
68 Eps 68
69 Keras kepala
70 Eps 70
71 Eps 71
72 Eps 72
73 Eps 73
74 Eps 74
75 Eps 75
76 Eps 76
77 Eps 77
78 Eps 78
79 Eps 79
80 Eps 80
81 81
82 Eps 82
83 Eps 83
84 Eps 84
85 Eps 85
86 Eps 86
87 Eps 87
88 Eps 88
89 Eps 89
90 Eps 90
91 Eps 91
92 Eps 92
93 Eps 93
94 Eps 94
95 Eps 95
96 Eps 96
97 Eps 97
98 Eps 98
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Pernikahan
2
Tragedi
3
Memulai penyelidikan
4
Mual muntah
5
Positif
6
Benih siapa
7
kedatangan Ayah mertua
8
Itu cucu Papah
9
Penangkapan
10
Di usir
11
Aku benci anak ini
12
Persalinan
13
Alesha Almahyra Azzahra
14
Bangga
15
Ajeng tak sadarkan diri
16
Rencana ke Jakarta
17
Laki laki terhebat
18
Transferan dari papah mertua
19
Keluarga yang enak di lihat
20
Ruang ICU
21
Siapa dia?
22
Coffe shop Kevin
23
Cemburu
24
Bicara berdua
25
Anakku
26
Bukan cinta tapi obsesi
27
Penyejuk hati
28
Belum ketemu jodoh
29
Merindukan
30
Hanya masa lalu
31
Curiga
32
Demi sebuah rencana
33
Impian Damar
34
Menjelaskan
35
Mengurusi
36
Mencari Ajeng
37
Rekaman CCTV
38
Ajeng pendarahan
39
Harus segera di lahirkan
40
Ruang perinatologi
41
Zeandra Davi Adhitama
42
Introgasi
43
ASI untuk Zean
44
Adik bayi Shasa
45
Alasan Pak Adhi ingin bercerai
46
Menjenguk Zean
47
Sudah Tau
48
Kebahagiaan Ajeng
49
Pernikahan Riko
50
Bertemu Jihan
51
kebahagiaan Kevin
52
Belanja keperluan Zean
53
Kamar Zean
54
Rama melamar Freya
55
Takut Zean Hilang
56
Bertemu orang tua Rama
57
Bulan depan
58
Gercep
59
Kenapa kamu kembali?
60
Tuduhan
61
Sah
62
Merasa tidak pantas
63
Mendadak punya istri
64
Freya tak sadarkan diri
65
Panik
66
Eps 66
67
Eps 67
68
Eps 68
69
Keras kepala
70
Eps 70
71
Eps 71
72
Eps 72
73
Eps 73
74
Eps 74
75
Eps 75
76
Eps 76
77
Eps 77
78
Eps 78
79
Eps 79
80
Eps 80
81
81
82
Eps 82
83
Eps 83
84
Eps 84
85
Eps 85
86
Eps 86
87
Eps 87
88
Eps 88
89
Eps 89
90
Eps 90
91
Eps 91
92
Eps 92
93
Eps 93
94
Eps 94
95
Eps 95
96
Eps 96
97
Eps 97
98
Eps 98

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!