Positif

...Ajeng hendak masuk ke dalam kamar, namun matanya tak sengaja melihat kalender, Ajeng pun berjalan mendekati kalender itu dan mengingat kembali kapan Ia terakhir haid. Ajeng baru sadar kalau dirinya sudah telat haid 4 hari....

..."Apa jangan jangan aku..."...

...***...

"Ngga ngga, aku ngga mungkin hamil, ini pasti cuma masuk angin saja." Gumam Ajeng menepis dugaannya lalu segera masuk dan kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Ajeng berusaha memejamkan matanya kembali, namun bayangan dirinya hamil membuatnya tak bisa tidur kembali.

"Kalau aku beneran hamil gimana." Ucapnya.

"Apa aku coba test saja ya, sepertinya aku masih menyimpan testpack dari teman temannya Mas Damar sebagai kado pernikahan kami waktu itu." sambungnya lalu mencari testpack yang sempat Ia simpan di lemari, Ia menaruhnya di sebuah kotak berwarna coklat.

"Nah ini dia, kalau ngga salah aku menyimpannya disini." Gumannya sembari membuka kotak tersebut yang memang berisi beberapa testpack yang masih terdapat ucapan dari sahabat Mas Damar.

"Happy Wedding Damar dan Istri, semoga secepatnya dapat momongan ya, kalau sudah ada tanda tanda langsung pakai ini ya. From Shadow light" Ajeng membaca isi surat dari sahabat suaminya sembari senyum senyum.

"Memang Absurd banget mereka." Ucap Ajeng segera mengambil satu testpack lalu menyimpan kembali kotak yang masih berisi beberapa testpack ke tempat semula.

"Apa aku coba test aja kali ya." Gumam Ajeng sembari menatap testpack di tangannya.

Ajeng menghela napas sebelum akhirnya memutuskan untuk mencoba melakukan pemeriksaan urine menggunakan testpack tersebut.

Masuk kedalam kamar mandi, lalu menampung urine kedalam wadah kecil, Ajeng segera mencelupkan testpack tersebut kedalam urine untuk beberapa menit.

Jantungnya berdegup begitu kencang dan tangannya bergetar hebat saat mengambil testpack tersebut. Ajeng menutup mata dan menghela napasnya mengumpulkan kekuatan untuk memberanikan diri melihat testpack tersebut.

Untuk saat ini Ajeng berharap hasilnya negatif, karena dia takut jika hamil sekarang ada kemungkinan anak yang Ia kandung bukanlah anak suaminya, melainkan anak dari para laki laki bejat itu.

"Bismillah" Ucap Ajeng perlahan membuka matanya dan melihat testpack yang ada di tangannya.

***

"Hei kawan, kau kenapa sih? kok kaya ngga semangat gitu kerjanya, lagi mikirin apa?" Tanya Kevin menghampiri Damar yang terlihat sedikit murung saat mengawasi para barista dan Chef yang sedang menyiapkan makanan dan minuman untuk hidangan acara.

"Iya nih Vin, aku lagi mikirin istriku, tadi pagi dia muntah muntah, aku jadi khawatir kalau dia sakit." Jawab Damar lalu duduk di kursi yang ada di dapur.

"Muntah muntah?" Tanya kevin nampak kaget.

"Iya Vin, aku ngga tau kenapa tiba tiba Ajeng muntah muntah." Jawab Damar.

"Damar, jangan jangan istrimu hamil." Tebak Kevin dengan senyum di bibirnya, kevin yang tidak tau kejadian saat itu merasa bahagia jika benar sahabatnya akan memiliki sorang anak.

"Hah Hamil? Masa sih?" Tanya Damar tak percaya.

"Iya mana aku tau, coba kamu periksakan istrimu, kali aja dia beneran hamil kan." Jawab Kevin lalu meminta Damar untuk membawa Ajeng periksa.

Pikiran Damar menerawang entah kemana, jika memang istrinya hamil, dia tidak tau harus bahagia atau sebaliknya, dan dia tidak tau apakah anak itu anaknya atau justru...

"Hei, malah melamun." Tegur Kevin menepuk pundak Damar.

"Astagfirullah." Kaget Damar tersadar dari lamunannya.

"Kenapa sih? malah melamun gitu?" Tanya Kevin.

"Ngga apa apa Vin, hanya kepikiran istriku saja." Jawab Damar.

"Ya sudah nanti jam istirahat kamu pulang saja, segera periksakan istrimu, sekarang kamu fokus ke pekerjaan dulu, karena acaranya akan segera di mulai." Ucap Kevin kemudian berlalu membiarkan Damar melanjutkan pekerjaannya mengawasi para karyawan di sana dan membantu apapun yang bisa dibantu olehnya.

Kevin menatap sekeliling para tamu yang sudah mulai berdatangan, acara akan segera di mulai, dilihatnya seseorang sedang memotret keluarga yang mengadakan acara ulang tahun.

Kevin mengerutkan keningnya saat menyadari seseorang yang menjadi fotografer di acara itu adalah sahabatnya. Namun untuk menghampirinya dia tidak enak karena takut mengganggu pekerjaannya.

Kevin pun memilih untuk kembali ke ruang kerjanya, namun baru beberapa langkah seseorang memanggilnya.

"Kevin."

Kevin segera menoleh ke belakang, sembari tersenyum kevin melambaikan tangannya pada sahabatnya itu.

"Hai Ram." Sapa kevin menghampiri sahabatnya.

"Apa kabar Vin?" Tanya Rama mengulurkan tangannya, Kevin pun menjabat tangan sahabatnya itu.

"Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana?" Jawab Kevin lalu bertanya balik.

"Alhamdulillah aku juga baik Vin." Jawab Rama melepas jabatan tangannya.

"Oh ya, Damar mana?" Tanyanya kemudian celingukan mencari keberadaan sahabatnya yang lain.

"Ada di belakang, biasa lagi mengawasi yang di dapur, mau aku panggil?" Ucap Kevin.

"Ah ngga usah, nanti malah mengganggu, dia kan lagi kerja." Ucap Rama.

"Nanti saja selesai acara kita kumpul disini." Sambungnya.

"Oke lah, aku tinggal dulu ya." Ucap Kevin kemudian pergi ke ruangannya setelah mendapat anggukan dari Rama.

***

Mata Ajeng terbelalak, membulat sempurna saat melihat ada dua garis merah pada testpack tersebut.

"A.. apa ini benar? A.. apa aku tidak salah lihat?" Suara ajeng bergetar saat mengucapkan itu, lalu Ajeng melempar testpack itu.

Airmata Ajeng pun luruh membasahi pipinya, Tanpa sengaja tangan Ajeng memegang perutnya yang masih rata.

"Apa.. apa Benar kamu ada di rahim ku." Ucap Ajeng lalu terisak.

Andai kejadian itu tidak pernah terjadi sudah pasti dia akan sangat merasa bahagia dengan kehamilannya, namun sekarang kehamilannya membuat Ajeng justru semakin tertekan, memikirkan siapa Ayah dari anak yang Ia kandungnya, andai anak ini anak suaminya mungkin dia akan bahagia, namun jika anak ini ternyata bukan anak suaminya lalu apa mungkin suaminya akan menerimanya.

Ajeng menghentikan tangisnya, namun pandangannya menatap kosong ke arah depan, begitu banyak hal yang Ia pikirkan. Ajeng saat ini masih terduduk di kamar mandi dengan kran air yang masih menyala. Hingga air itu meluap dan karena saluran air yang sedikit mampet membuat air itu meleber ke luar kamar mandi.

***

Saat jam istirahat, Damar memutuskan pulang lebih dulu untuk melihat istrinya, namun Damar begitu terkejut saat membuka pintu justru melihat banyaknya air di kontrakannya.

"Astagfirullah, kenapa jadi banjir, Ajeng kemana?" Tanya Damar pada diri sendiri sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah, lalu samar samar dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.

Damar dengan penuh hati hati melangkah menuju dapur, lantai yang sedikit licin membuat Damar hampir terpleset, untung saja dia segera berpegangan pada meja yang ada di dapur. Lalu Damar melihat air yang membanjiri rumahnya berasal dari kamar mandi.

Brak... Brak... Brak

"Sayang... Sayang..." Panggil Damar sembari menggedor pintu kamar mandi yang terkunci.

Namun berkali kali Damar menggedor pintu tersebut tak kunjung ada sahutan dari dalam, membuat Damar semakin merasa khawatir.

Akhirnya Damar mendobrak pintu itu, dan melihat Ajeng yang sedang duduk di lantai dengan baju yang sudah basah kuyup.

"Sayang kamu kenapa?" Tanya Damar panik menatap mata Ajeng namun Ajeng sama sekali tidak merespon kedatangannya, tatapan mata Ajeng kosong.

"Apa yang terjadi sama kamu sayang?" Tanya Damar lagi saat tak mendapat jawaban dari Ajeng.

Damar segera mematikan kran air yang masih menyala lalu menelisik sekeliling kamar mandi, dan matanya menangkap testpack yang baru saja di lempar oleh Ajeng, Damar pun langsung mengambil testpack itu dan terkejut melihat ada dua garis merah di testpack tersebut.

Damar ikut terduduk di samping Ajeng, sejenak Damar berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang, mengusap kasar rambutnya lalu kembali menatap Ajeng, hati Damar kembali merasakan sakit saat melihat kondisi wanitanya yang nampak Syok, Damar pun memeluk Ajeng.

"Sayang, kamu jangan seperti ini, harusnya kamu senang kita akan memiliki seorang anak sayang." Ucap Damar berusaha menenangkan sang istri, namun bukannya tenang Ajeng justru menangis begitu kencang.

"Hiksss Hiksss,, kenapa Mas, kenapa harus seperti ini, kenapa semua ini terjadi Mas, kenapa aku harus hamil Mas, kenapa? Aku tidak tau anak yang ada di dalam kandungan aku ini anak kamu atau anak..."

Episodes
1 Pernikahan
2 Tragedi
3 Memulai penyelidikan
4 Mual muntah
5 Positif
6 Benih siapa
7 kedatangan Ayah mertua
8 Itu cucu Papah
9 Penangkapan
10 Di usir
11 Aku benci anak ini
12 Persalinan
13 Alesha Almahyra Azzahra
14 Bangga
15 Ajeng tak sadarkan diri
16 Rencana ke Jakarta
17 Laki laki terhebat
18 Transferan dari papah mertua
19 Keluarga yang enak di lihat
20 Ruang ICU
21 Siapa dia?
22 Coffe shop Kevin
23 Cemburu
24 Bicara berdua
25 Anakku
26 Bukan cinta tapi obsesi
27 Penyejuk hati
28 Belum ketemu jodoh
29 Merindukan
30 Hanya masa lalu
31 Curiga
32 Demi sebuah rencana
33 Impian Damar
34 Menjelaskan
35 Mengurusi
36 Mencari Ajeng
37 Rekaman CCTV
38 Ajeng pendarahan
39 Harus segera di lahirkan
40 Ruang perinatologi
41 Zeandra Davi Adhitama
42 Introgasi
43 ASI untuk Zean
44 Adik bayi Shasa
45 Alasan Pak Adhi ingin bercerai
46 Menjenguk Zean
47 Sudah Tau
48 Kebahagiaan Ajeng
49 Pernikahan Riko
50 Bertemu Jihan
51 kebahagiaan Kevin
52 Belanja keperluan Zean
53 Kamar Zean
54 Rama melamar Freya
55 Takut Zean Hilang
56 Bertemu orang tua Rama
57 Bulan depan
58 Gercep
59 Kenapa kamu kembali?
60 Tuduhan
61 Sah
62 Merasa tidak pantas
63 Mendadak punya istri
64 Freya tak sadarkan diri
65 Panik
66 Eps 66
67 Eps 67
68 Eps 68
69 Keras kepala
70 Eps 70
71 Eps 71
72 Eps 72
73 Eps 73
74 Eps 74
75 Eps 75
76 Eps 76
77 Eps 77
78 Eps 78
79 Eps 79
80 Eps 80
81 81
82 Eps 82
83 Eps 83
84 Eps 84
85 Eps 85
86 Eps 86
87 Eps 87
88 Eps 88
89 Eps 89
90 Eps 90
91 Eps 91
92 Eps 92
93 Eps 93
94 Eps 94
95 Eps 95
96 Eps 96
97 Eps 97
98 Eps 98
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Pernikahan
2
Tragedi
3
Memulai penyelidikan
4
Mual muntah
5
Positif
6
Benih siapa
7
kedatangan Ayah mertua
8
Itu cucu Papah
9
Penangkapan
10
Di usir
11
Aku benci anak ini
12
Persalinan
13
Alesha Almahyra Azzahra
14
Bangga
15
Ajeng tak sadarkan diri
16
Rencana ke Jakarta
17
Laki laki terhebat
18
Transferan dari papah mertua
19
Keluarga yang enak di lihat
20
Ruang ICU
21
Siapa dia?
22
Coffe shop Kevin
23
Cemburu
24
Bicara berdua
25
Anakku
26
Bukan cinta tapi obsesi
27
Penyejuk hati
28
Belum ketemu jodoh
29
Merindukan
30
Hanya masa lalu
31
Curiga
32
Demi sebuah rencana
33
Impian Damar
34
Menjelaskan
35
Mengurusi
36
Mencari Ajeng
37
Rekaman CCTV
38
Ajeng pendarahan
39
Harus segera di lahirkan
40
Ruang perinatologi
41
Zeandra Davi Adhitama
42
Introgasi
43
ASI untuk Zean
44
Adik bayi Shasa
45
Alasan Pak Adhi ingin bercerai
46
Menjenguk Zean
47
Sudah Tau
48
Kebahagiaan Ajeng
49
Pernikahan Riko
50
Bertemu Jihan
51
kebahagiaan Kevin
52
Belanja keperluan Zean
53
Kamar Zean
54
Rama melamar Freya
55
Takut Zean Hilang
56
Bertemu orang tua Rama
57
Bulan depan
58
Gercep
59
Kenapa kamu kembali?
60
Tuduhan
61
Sah
62
Merasa tidak pantas
63
Mendadak punya istri
64
Freya tak sadarkan diri
65
Panik
66
Eps 66
67
Eps 67
68
Eps 68
69
Keras kepala
70
Eps 70
71
Eps 71
72
Eps 72
73
Eps 73
74
Eps 74
75
Eps 75
76
Eps 76
77
Eps 77
78
Eps 78
79
Eps 79
80
Eps 80
81
81
82
Eps 82
83
Eps 83
84
Eps 84
85
Eps 85
86
Eps 86
87
Eps 87
88
Eps 88
89
Eps 89
90
Eps 90
91
Eps 91
92
Eps 92
93
Eps 93
94
Eps 94
95
Eps 95
96
Eps 96
97
Eps 97
98
Eps 98

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!