20. Tantangan

Air mata menggenang di sudut mata Nadira, tetapi ia menahannya agar tidak jatuh. "Aku sadar, tindakan ini tak patut ditiru. Aku melanggar nilai-nilai yang seharusnya menjadi prinsip hidupku. Tapi bagaimana bisa aku berhenti? Hati ini terlalu lemah untuk melepaskannya. Aku berharap... suatu hari dia mau menikahiku. Tapi, apa aku hanya berkhayal? Apa yang aku lakukan ini tidak akan berakhir dengan kehancuran bagiku sendiri?"

John bergerak sedikit, membuat Nadira tersentak. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. "Untuk sekarang, biarlah aku menikmati momen ini. Meski aku tahu, aku mungkin akan membayar mahal untuk pilihan ini nanti."

Dengan hati yang penuh kebimbangan, Nadira kembali memejamkan matanya, memohon kepada Tuhan agar ada jalan yang membuat segalanya lebih baik.

John merasa pelukan Nadira dari belakang terasa begitu erat, bahkan sedikit menekan dadanya. Napas gadis itu terdengar tenang, tetapi kehangatan tubuhnya yang menempel erat membuat John merasa ada yang salah. Pelukan ini bukan hanya tentang kenyamanan, itu terasa seperti ketakutan, seperti seseorang yang tidak ingin kehilangan sesuatu yang berharga.

Alis John berkerut. "Apa ini hanya perasaanku, atau dia sedang menyembunyikan sesuatu?" pikirnya. Ia mencoba bergerak sedikit, tetapi pelukan Nadira justru semakin erat, seolah-olah ia takut John akan pergi.

"Nadira," bisik John pelan, memastikan tidak membuatnya kaget.

"Hm?" gumam Nadira yang belum tidur.

John menghela napas dan memutuskan untuk bertanya, meski ada sedikit keraguan. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya lirih. Suaranya terdengar lebih lembut dari yang ia maksudkan, dan itu membuatnya kesal pada dirinya sendiri. "Kenapa aku terdengar seperti peduli? Bukannya aku harus menjaga jarak?"

Nadira tidak langsung menjawab. Perlahan, ia membuka matanya, tetapi tidak melepaskan pelukannya. "Aku baik-baik saja, Om," jawabnya dengan suara pelan, hampir seperti bisikan. "Kenapa nanya begitu?"

John terdiam sejenak, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, ia menahan diri untuk tidak mendesak. "Nggak... cuma... kamu memelukku terlalu erat," katanya pada akhirnya, mencoba menyamarkan perhatian yang terlanjur ia tunjukkan.

Nadira hanya tersenyum kecil, meski John tidak bisa melihatnya. "Aku hanya... ingin memastikan Om tidak pergi ke mana-mana," gumamnya.

Kata-kata itu membuat dada John terasa semakin berat. Ia ingin membalas sesuatu, tetapi menahan diri. Ia tahu jika ia terus merespons seperti ini, tembok yang dengan susah payah ia bangun akan runtuh. "Kenapa aku harus merasa seperti ini? Aku tahu hubungan ini salah. Tapi kenapa... aku tidak bisa benar-benar menjauhinya?" batinnya.

John merutuki dirinya sendiri. Pertanyaan yang ia ajukan tadi terasa seperti pengkhianatan terhadap batas yang ia ciptakan sendiri. "Apa yang sedang kulakukan? Aku tidak boleh terlihat peduli... aku tidak boleh memberi harapan." pikirnya, mencoba meredam gejolak di hatinya.

Ia menutup matanya kembali, berusaha mengabaikan kenyataan bahwa di balik semua batasan yang ia bangun, Nadira sudah mulai mengetuk sesuatu yang ia coba kunci rapat-rapat: hatinya.

Merasa John seolah memahami kegelisahan yang ia coba sembunyikan, Nadira akhirnya memberanikan diri untuk bicara, meski suara hatinya penuh keraguan. Dengan suara pelan dan hati-hati, ia berkata, "Om... kalau Om benar-benar memikirkan soal adat dan budaya negara ini, kenapa Om nggak menikahi aku saja?"

Kata-kata itu keluar begitu saja, meski Nadira tahu betul dampaknya. Ia menatap punggung John dengan cemas, menunggu reaksi pria itu, sementara hatinya berdebar-debar.

Lagi dan lagi, John dibuat tak berdaya oleh perkataan Nadira. Ingin sekali ia menegaskan batas, tapi tak bisa disangkal bahwa kehadiran gadis ini sudah membuat hidupnya terasa berbeda. Nadira mengurus semuanya di apartemen tanpa ia minta, dari kebersihan, makanan, hingga menyiapkan pakaiannya. Tanpa sadar, John merasa semua yang Nadira lakukan sudah seperti layaknya seorang istri. Namun, John meneguhkan diri dan berusaha berkata sejujur mungkin, "Nadira, aku nggak bisa memenuhi harapanmu untuk menikah. Lebih baik kamu cari pria lain yang siap berkomitmen hidup dalam ikatan suci."

Nadira terdiam sejenak, raut wajahnya berubah serius. "Kalau begitu, Om, beri aku waktu tiga bulan," tantangnya dengan nada yang tak biasa. "Izinkan aku tinggal di kamar ini, di sini, bersama Om selama tiga bulan. Kalau dalam waktu itu Om masih belum mau menikahiku, aku akan menyerah untuk mendapatkan hati Om dan kembali ke kamarku sendiri, bersikap seperti pembantu Om. Aku akan mulai mencari pria lain yang mau berkomitmen denganku."

John terkejut mendengar tantangan itu. Ia sempat ragu, tapi suara Nadira terdengar penuh tekad yang kuat. Akhirnya, setelah beberapa saat berpikir, John mengangguk, "Baiklah, aku terima tantanganmu," jawabnya masih dalam posisi berbaring membelakangi Nadira.

Wajah Nadira langsung cerah. "Deal! Selama tiga bulan ini, Om nggak boleh protes dengan apapun yang aku lakukan. Dan harus memenuhi apapun permintaanku," ucapnya sambil tersenyum penuh arti menatap John yang masih setia memunggunginya.

John mengangguk, meski merasa semakin bimbang dengan keputusannya. Dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya, apakah ia benar-benar bisa melihat Nadira bersama pria lain setelah semua ini?Namun, saat ia masih terjebak dalam pikirannya sendiri, Nadira tiba-tiba menepuk pundaknya.

"Om, ayo berbalik. Aku mau dipeluk," pintanya manja.

"Nadira --" John hendak protes. Namun Nadira langsung memotong kata-katanya dan mengingatkannya.

"Tadi Om sudah janji nggak akan protes."

Terdiam, John menarik napas dalam-dalam, merasa terjebak oleh kata-katanya sendiri. Perlahan, ia berbalik dan membiarkan Nadira mendekapnya erat. Meski hatinya bergejolak, ia hanya bisa memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau, sambil menahan perasaan yang terus tumbuh di hatinya.

***

Pagi itu, Nadira bangun lebih dulu. Ia memandangi wajah John yang tampak damai dalam tidur, begitu tampan dan memancarkan ketenangan. Senyum cerah merekah di wajahnya, perasaan bahagia melingkupi hatinya saat terbangun di samping pria yang begitu diinginkannya. Dalam hati, ia berharap bisa terus menjalani pagi seperti ini selamanya. "Ah, Om Bule bikin aku malas bangun," gumamnya lirih.

Setelah puas memandangi John, Nadira perlahan turun dari ranjang, berhati-hati agar tidak membangunkannya, lalu beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Dengan hati berbunga-bunga, ia menyiapkan makanan, membayangkan bagaimana rasanya jika ia bisa melakukannya setiap pagi. Setelah selesai, Nadira kembali ke kamar untuk mengecek apakah John sudah bangun. "Ternyata Om Bule masih tidur," gumamnya tertawa kecil. Ia kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka, dan John mulai terbangun. Ia mengerjapkan mata, lalu menoleh ke arah pintu kamar mandi, yang kini memunculkan pemandangan yang membuat jantungnya berdetak cepat. Di sana, Nadira baru saja keluar hanya dengan handuk melilit tubuhnya, rambutnya masih basah, dan ia sedang menggosok-gosokkan handuk kecil ke rambutnya, tanpa menyadari bahwa John telah bangun.

"Sial!" umpat John dalam hati, menelan ludah gelisah. Sesuatu di bawah sana mulai memberontak akibat pemandangan yang tersaji di depan matanya.

...🍁💦🍁...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Anitha Ramto

Anitha Ramto

John kamu itu terlalu egois...
selalu membuat benteng yg kokoh..tp hatimu mungkin berkata lain...
coba aj Nadira cari Pria lain biar si John merasa kehilangan kamu yg sdh terbiasa dekat dgnmu...coba aj fikiran km berubah jg jd bersikap acuh dan cuek sm si John yg tdk mau bertanggung jawab

2024-11-26

4

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

Perlahan2 tembok yg dibangun om john runtuh jg nadira berusaha menaklukan hatinya om john dan bersikap layaknya istri om john selama 3bulan akan membuat jatuh cinta...

Om john melihat nadira abis mandi adiknya bereaksi,..

2024-11-27

2

Danang sulistyo

Danang sulistyo

jhon sok jual mahal ntar nyesel klo udh diambil org...
kesempatan g datang 2x lo.
..

2024-11-27

2

lihat semua
Episodes
1 1. Yang Pertama
2 2. Menunggu
3 3. Kebohongan
4 4. Sementara
5 5. Kepedulian Dibalik Sikap Dingin
6 6. Heran
7 7. Perasaan yang Terusik
8 8. Menahan Rasa
9 9. Tak Pernah Tega
10 10. Pria Misterius
11 11. Dibenci
12 12. Pengakuan
13 13. Terulang Lagi
14 14. Rasa Penasaran
15 15. Warna Baru
16 16. Sebuah Ancaman
17 17. Nekat
18 18. Benar-benar Cemburu
19 19. Gejolak Hati Dibalik Pelukan
20 20. Tantangan
21 21. Menemani
22 22. Membalikkan Keadaan
23 23. Gara-gara Baju Kotor
24 24. Ocehan Angga
25 25. Rencana Licik
26 26. Perasaan Campur Aduk
27 27. Sesuatu yang Membuat Penasaran
28 28. Aku Kalah
29 29. Dimanjakan
30 30. Pembuat Masalah
31 31. Semakin Iri
32 32. Gagal
33 33. Menjengkelkan Tapi Menyenangkan
34 34. Kejujuran John
35 35. Saran Sahabat
36 36. Lamaran
37 37. Tak Ingin Memaksa
38 38. Enggan Pulang
39 39. Sekadar Memberitahu
40 40. Sejak Semalam
41 41. Para Sahabat John
42 42. Kepribadian Rian yang Kontras
43 43. Manggil Apa?
44 44.Ingin Mengacau
45 45. Mengajukan Cuti
46 46. Staf administrasi
47 47. Momen Bahagia
48 48. Pesta Spesial
49 49. Menonton
50 50. Malam Setelah Janji Suci
51 51.Memasang Umpan
52 52. Kejutan
53 53. Tak Percaya
54 54. Sasha Akan Beraksi
55 55. Celah
56 56. Sebuah Kebetulan
57 57. Curiga
58 58. Diskusi
59 59. Menyembunyikan
60 60. Nadira ke Kantor John
61 61. Hadiah
62 62. Nadira Tahu
63 63. Tanpa Solusi
64 64. Nadira Pulang
65 65. Tak Mampu Berkata
66 66. Rahasia yang Terkuak
67 67. Rencana John dan Para Sahabatnya
68 68. Ingin Mengambil Kembali
69 69. Perang Strategi
70 70. Ditangkap
71 71. Kesempatan
72 Dosa yang Kucintai
Episodes

Updated 72 Episodes

1
1. Yang Pertama
2
2. Menunggu
3
3. Kebohongan
4
4. Sementara
5
5. Kepedulian Dibalik Sikap Dingin
6
6. Heran
7
7. Perasaan yang Terusik
8
8. Menahan Rasa
9
9. Tak Pernah Tega
10
10. Pria Misterius
11
11. Dibenci
12
12. Pengakuan
13
13. Terulang Lagi
14
14. Rasa Penasaran
15
15. Warna Baru
16
16. Sebuah Ancaman
17
17. Nekat
18
18. Benar-benar Cemburu
19
19. Gejolak Hati Dibalik Pelukan
20
20. Tantangan
21
21. Menemani
22
22. Membalikkan Keadaan
23
23. Gara-gara Baju Kotor
24
24. Ocehan Angga
25
25. Rencana Licik
26
26. Perasaan Campur Aduk
27
27. Sesuatu yang Membuat Penasaran
28
28. Aku Kalah
29
29. Dimanjakan
30
30. Pembuat Masalah
31
31. Semakin Iri
32
32. Gagal
33
33. Menjengkelkan Tapi Menyenangkan
34
34. Kejujuran John
35
35. Saran Sahabat
36
36. Lamaran
37
37. Tak Ingin Memaksa
38
38. Enggan Pulang
39
39. Sekadar Memberitahu
40
40. Sejak Semalam
41
41. Para Sahabat John
42
42. Kepribadian Rian yang Kontras
43
43. Manggil Apa?
44
44.Ingin Mengacau
45
45. Mengajukan Cuti
46
46. Staf administrasi
47
47. Momen Bahagia
48
48. Pesta Spesial
49
49. Menonton
50
50. Malam Setelah Janji Suci
51
51.Memasang Umpan
52
52. Kejutan
53
53. Tak Percaya
54
54. Sasha Akan Beraksi
55
55. Celah
56
56. Sebuah Kebetulan
57
57. Curiga
58
58. Diskusi
59
59. Menyembunyikan
60
60. Nadira ke Kantor John
61
61. Hadiah
62
62. Nadira Tahu
63
63. Tanpa Solusi
64
64. Nadira Pulang
65
65. Tak Mampu Berkata
66
66. Rahasia yang Terkuak
67
67. Rencana John dan Para Sahabatnya
68
68. Ingin Mengambil Kembali
69
69. Perang Strategi
70
70. Ditangkap
71
71. Kesempatan
72
Dosa yang Kucintai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!