4. Sementara

John membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat ke kamar tempat Nadira beristirahat. Saat ia masuk, ia melihat gadis itu mulai membuka matanya dan mengamati ruangan dengan pandangan lemah.

“Kau sudah sadar?” tanya John lembut, lalu meletakkan bubur di atas nakas di samping tempat tidur. Nadira perlahan menoleh ke arah John, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan pandangannya.

“Om…” panggil Nadira dengan suara pelan dan lemah, nyaris seperti bisikan.

John menghela napas panjang, menyadari betapa rapuh gadis ini tampak. Ia membuka tutup bubur dengan tenang dan menyodorkannya ke arah Nadira. “Makanlah. Kau butuh tenaga,” katanya tegas, namun nada bicaranya menunjukkan perhatian yang dalam.

Nadira hanya menurut, membuka mulut ketika John menyuapinya perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca, dan ia tak dapat menahan rasa haru yang muncul di hatinya. John mungkin tampak dingin, tapi perhatian yang diberikan pria ini adalah sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Dia mungkin tak mengerti, tapi bagiku ini lebih dari cukup," pikir Nadira dalam hati, menahan air mata.

Setelah Nadira selesai makan, John meletakkan mangkuk kosong di nakas dan menatapnya serius. “Kenapa kau duduk menungguku di depan pintu seperti tadi?” tanyanya dengan nada datar, meskipun jauh di dalam hatinya ia merasa tak nyaman dengan keadaan ini.

Nadira menundukkan kepala, wajahnya murung. Ia tampak ragu, tapi akhirnya ia membuka mulutnya, suaranya gemetar. “Aku…,”

John mengerutkan kening, meskipun dalam benaknya ia sudah menduga jawabannya. "Apa ini karena… dia merasa dirinya sudah tak perawan lagi?"

Namun Nadira melanjutkan, suaranya penuh ketakutan. “Semalam, ada yang menjebakku, ingin aku... dinikmati Om-om botak berperut buncit.” Air mata mulai mengalir dari matanya, membasahi pipinya. “Aku… aku tak pernah menyusahkan, apalagi mencari masalah dengan orang lain. Tapi kenapa ... mereka tega ....”

John menatap gadis di hadapannya, hatinya terasa berat. Jadi ini alasan kenapa semalam dia berada dalam pengaruh obat? Ia menghela napas panjang, merasa prihatin pada apa yang baru saja ia dengar.

“Jadi, siapa yang menyerahkanmu pada pria tua itu?” tanya John, suaranya terdengar geram tanpa ia sadari.

Nadira menunduk, bahunya bergetar. “Mereka yang telah membuat ibuku menderita dan meninggal. Mereka belum puas menyakiti aku dan ingin menghancurkan hidupku.”

John mengepalkan tangannya di sampingnya, merasakan kemarahan yang tumbuh di dalam dirinya. Tapi ia berusaha menahan diri. Ia meraih tangan Nadira dan menggenggamnya dengan lembut. “Kau tak perlu kembali ke tempat yang dikelilingi orang-orang seperti itu jika kau tak mau. Di sini, kau aman.”

Nadira mengangguk, lalu menangis terisak-isak. Di tengah kesedihannya, ia mendengar suara John yang terdengar menenangkan, meskipun biasanya dingin. “Mulai sekarang, aku yang akan melindungimu,” bisik John, hampir tanpa ia sadari. "Entah bagaimana, aku tak akan biarkan gadis ini terluka lagi…" batin John.

John menutup pintu kamar dengan pelan, meninggalkan Nadira untuk beristirahat. Begitu berada di luar kamar, ia menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar, frustrasi dengan kata-katanya sendiri.

"Di sini kau aman. Mulai sekarang, aku yang akan melindungimu," gumamnya dalam hati, mengulangi kalimat yang baru saja ia ucapkan. "Sial! Kenapa aku berkata seperti itu?" batinnya, menyadari implikasi dari kata-katanya. "Bukankah itu berarti aku baru saja menawarinya untuk tinggal di sini?"

John menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Selama ini, ia selalu menjaga jarak dari para wanita, menolak untuk terlibat lebih jauh dalam hubungan apa pun. Trauma masa lalu membuatnya enggan untuk membuka hati, bahkan sekadar peduli pun ia menghindar. Tapi kini, tanpa sadar, ia justru memberi celah pada Nadira, seorang gadis muda yang rapuh, membutuhkan perlindungan, dan mungkin... berharap lebih.

"Apa yang kupikirkan?" John merutuki dirinya. "Aku hanya berniat membantunya, memberikan perlindungan sementara. Tapi sekarang, apa aku bisa menarik kata-kataku begitu saja?"

Ia menekan pelipisnya, merasa pusing oleh situasi ini. Nadira jelas menganggapnya sebagai tempat berlindung, dan ia sudah telanjur membangun harapan itu di hati gadis itu. Menyuruhnya pergi sekarang akan tampak kejam, terutama setelah ia berjanji untuk melindunginya.

"Mengapa aku terlalu baik tadi? Kenapa tidak menjaga jarak?" pikirnya, merasakan penyesalan yang mulai tumbuh. Di sisi lain, jauh di dalam hatinya, ia tahu ada sesuatu pada Nadira yang membuatnya berbeda. Gadis itu datang padanya bukan karena ketertarikan fisik atau demi kepentingan pribadi, tapi karena ia benar-benar membutuhkan pertolongan.

John mendesah panjang dan menatap pintu kamar yang ditempati Nadira. "Mungkin... hanya kali ini. Hanya sampai dia bisa berdiri sendiri. Setelah itu, aku bisa kembali seperti semula"

Namun, dalam hatinya, ia bertanya-tanya, apakah ia benar-benar bisa menjaga jarak seperti yang ia niatkan.

Di dalam kamar, Nadira perlahan mulai menyadari sesuatu. Tubuhnya terasa segar, dan pakaiannya... sudah berganti. Bahkan pakaian dalamnya pun tak lagi sama seperti yang ia kenakan semalam. Matanya melebar sedikit, membayangkan kemungkinan bahwa John-lah yang membantunya berganti pakaian. Ia menyentuh kain lembut di tubuhnya dan tersenyum samar, senyum yang perlahan semakin melebar.

"Om John yang mengganti pakaianku..." pikirnya, pipinya memerah membayangkan kebaikan dan perhatian John. Rasa hangat membuncah di dadanya saat ia mengingat kata-kata John, "Di sini kau aman." Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya, membawa perasaan nyaman yang sulit ia ungkapkan. Tanpa sadar, senyum kecil muncul di bibirnya. "Jadi... Om John benar-benar mengizinkanku tinggal di sini?" gumamnya penuh kebahagiaan.

Sejak pertama kali bertemu John, Nadira sudah merasa ada sesuatu yang berbeda. Saat itu, John menolongnya dari situasi yang membuatnya takut dan tak berdaya, saat ia hampir dilecehkan beberapa orang pria. Nadira yang terbiasa hidup dalam tekanan dan ancaman, seolah menemukan secercah harapan saat John hadir. Sosok pria dewasa yang tenang dan kuat itu membuat hatinya kagum, bahkan sejak pertemuan pertama.

Dan di pertemuan kedua, meski dalam keadaan linglung karena pengaruh obat, Nadira tak sedikit pun meragukan keputusannya untuk menyerahkan hal paling berharga dalam hidupnya pada John. Baginya, John adalah satu-satunya orang yang pernah ia temui yang terlihat tulus. Tak ada keraguan di hatinya karena sejak awal, John adalah seseorang yang ia kagumi dan percayai.

Dengan wajah yang perlahan memerah, Nadira memeluk bantal di sebelahnya, membayangkan hidup di samping John. "Jika aku bisa tinggal di sini... mungkin semuanya akan baik-baik saja," batinnya penuh harap, seolah semua ketakutan dan kekhawatirannya hilang dalam sekejap.

***

Keesokan harinya, John memutuskan untuk berbicara dengan Nadira secara langsung. Ia mengetuk pintu kamar dan membuka pintu itu ketika Nadira mempersilakan. John berdiri di depan pintu kamar, melihat Nadira yang duduk di tepi ranjang dengan wajah lelah namun penuh harapan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. “Nadira, aku melihat kondisimu, aku mempertimbangkan kamu boleh tinggal di sini… tetapi ini hanya sampai kamu merasa lebih baik dan sudah tahu apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya.”

Nadira menatap John dengan ekspresi bingung. “Maksud Om, aku… aku hanya diizinkan tinggal sementara?”

...🍁💦🍁...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Anitha Ramto

Anitha Ramto

John kenapa kamu bicara seperti itu siih..kan kasian Nadira,hanya kamu yang bisa melindunginya,jgn di PHP...semoga saja Nadira hamil selama tinggal di Apartementnya John,trs si John pengennya nempel trs sm Nadira..dan akhirnya mereka nikah

2024-11-18

5

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

dimana nadira bertemu jhon pertama kali?

2024-11-19

3

Erny Manangkari

Erny Manangkari

jhon kenapa kamu berbicara begitu menghancurkan hati nadira

2024-12-01

2

lihat semua
Episodes
1 1. Yang Pertama
2 2. Menunggu
3 3. Kebohongan
4 4. Sementara
5 5. Kepedulian Dibalik Sikap Dingin
6 6. Heran
7 7. Perasaan yang Terusik
8 8. Menahan Rasa
9 9. Tak Pernah Tega
10 10. Pria Misterius
11 11. Dibenci
12 12. Pengakuan
13 13. Terulang Lagi
14 14. Rasa Penasaran
15 15. Warna Baru
16 16. Sebuah Ancaman
17 17. Nekat
18 18. Benar-benar Cemburu
19 19. Gejolak Hati Dibalik Pelukan
20 20. Tantangan
21 21. Menemani
22 22. Membalikkan Keadaan
23 23. Gara-gara Baju Kotor
24 24. Ocehan Angga
25 25. Rencana Licik
26 26. Perasaan Campur Aduk
27 27. Sesuatu yang Membuat Penasaran
28 28. Aku Kalah
29 29. Dimanjakan
30 30. Pembuat Masalah
31 31. Semakin Iri
32 32. Gagal
33 33. Menjengkelkan Tapi Menyenangkan
34 34. Kejujuran John
35 35. Saran Sahabat
36 36. Lamaran
37 37. Tak Ingin Memaksa
38 38. Enggan Pulang
39 39. Sekadar Memberitahu
40 40. Sejak Semalam
41 41. Para Sahabat John
42 42. Kepribadian Rian yang Kontras
43 43. Manggil Apa?
44 44.Ingin Mengacau
45 45. Mengajukan Cuti
46 46. Staf administrasi
47 47. Momen Bahagia
48 48. Pesta Spesial
49 49. Menonton
50 50. Malam Setelah Janji Suci
51 51.Memasang Umpan
52 52. Kejutan
53 53. Tak Percaya
54 54. Sasha Akan Beraksi
55 55. Celah
56 56. Sebuah Kebetulan
57 57. Curiga
58 58. Diskusi
59 59. Menyembunyikan
60 60. Nadira ke Kantor John
61 61. Hadiah
62 62. Nadira Tahu
63 63. Tanpa Solusi
64 64. Nadira Pulang
65 65. Tak Mampu Berkata
66 66. Rahasia yang Terkuak
67 67. Rencana John dan Para Sahabatnya
68 68. Ingin Mengambil Kembali
69 69. Perang Strategi
70 70. Ditangkap
71 71. Kesempatan
72 Dosa yang Kucintai
Episodes

Updated 72 Episodes

1
1. Yang Pertama
2
2. Menunggu
3
3. Kebohongan
4
4. Sementara
5
5. Kepedulian Dibalik Sikap Dingin
6
6. Heran
7
7. Perasaan yang Terusik
8
8. Menahan Rasa
9
9. Tak Pernah Tega
10
10. Pria Misterius
11
11. Dibenci
12
12. Pengakuan
13
13. Terulang Lagi
14
14. Rasa Penasaran
15
15. Warna Baru
16
16. Sebuah Ancaman
17
17. Nekat
18
18. Benar-benar Cemburu
19
19. Gejolak Hati Dibalik Pelukan
20
20. Tantangan
21
21. Menemani
22
22. Membalikkan Keadaan
23
23. Gara-gara Baju Kotor
24
24. Ocehan Angga
25
25. Rencana Licik
26
26. Perasaan Campur Aduk
27
27. Sesuatu yang Membuat Penasaran
28
28. Aku Kalah
29
29. Dimanjakan
30
30. Pembuat Masalah
31
31. Semakin Iri
32
32. Gagal
33
33. Menjengkelkan Tapi Menyenangkan
34
34. Kejujuran John
35
35. Saran Sahabat
36
36. Lamaran
37
37. Tak Ingin Memaksa
38
38. Enggan Pulang
39
39. Sekadar Memberitahu
40
40. Sejak Semalam
41
41. Para Sahabat John
42
42. Kepribadian Rian yang Kontras
43
43. Manggil Apa?
44
44.Ingin Mengacau
45
45. Mengajukan Cuti
46
46. Staf administrasi
47
47. Momen Bahagia
48
48. Pesta Spesial
49
49. Menonton
50
50. Malam Setelah Janji Suci
51
51.Memasang Umpan
52
52. Kejutan
53
53. Tak Percaya
54
54. Sasha Akan Beraksi
55
55. Celah
56
56. Sebuah Kebetulan
57
57. Curiga
58
58. Diskusi
59
59. Menyembunyikan
60
60. Nadira ke Kantor John
61
61. Hadiah
62
62. Nadira Tahu
63
63. Tanpa Solusi
64
64. Nadira Pulang
65
65. Tak Mampu Berkata
66
66. Rahasia yang Terkuak
67
67. Rencana John dan Para Sahabatnya
68
68. Ingin Mengambil Kembali
69
69. Perang Strategi
70
70. Ditangkap
71
71. Kesempatan
72
Dosa yang Kucintai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!