Kembali pada saat ini...
Suara John yang tenang dan penuh keyakinan masih terngiang jelas di telinganya, “Kau baik-baik saja? Jangan takut, kau sudah aman. Sudah, sudah... Aku di sini sekarang. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi,” Kata-kata itu terucap dengan tulus, seperti angin sejuk yang menenangkan jiwa yang terluka.
John yang memeluknya, memberi rasa aman yang seumur hidup belum pernah ia rasakan. Saat Nadira menatap mata John, ada sesuatu di sana, keteduhan, perlindungan, dan mungkin, rasa kasih sayang yang membuatnya merasa lebih baik.
"Apa karena itu aku menyukainya?" batinnya, bingung dan terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Nadira menunduk sambil tersenyum tipis, tersadar bahwa mungkin itulah alasannya, atau mungkin juga ada sesuatu yang lebih dalam yang membuatnya tak bisa jauh dari pria itu.
Usia sarapan, John menatap Nadira, lalu berkata, “Nadira, aku sudah mencari tempat aman untukmu. Ada beberapa pilihan, seperti rumah singgah atau apartemen sementara yang bisa kamu tinggali. Aku bisa membantu biaya sewa sampai kamu punya rencana.”
Nadira tampak terkejut, ia menggigit bibirnya dan melihat John dengan tatapan kecewa. “Om… kenapa tidak boleh di sini saja?"
John menghela napas, berusaha bersikap sabar namun tetap tegas. “Nadira, tempatku ini bukan tempat yang tepat buat kamu tinggal untuk jangka panjang. Aku hanya ingin kamu bisa berdiri di atas kakimu sendiri.”
Nadira menatap John dengan tatapan memelas mengundang iba. “Aku hanya merasa lebih tenang di sini, Om… Please, izinkan aku tetap tinggal di sini, ya?”
John terdiam, dalam hati berkata, "Aku tak boleh lemah karena wajahnya yang memelas. Kalau aku biarkan dia di sini, lama-lama aku akan terlalu terikat… aku tak bisa membiarkan itu terjadi" Ia menghela napas panjang. “Dengar, Nadira. Ini yang terbaik untukmu… dan juga untukku. Aku harap kamu bisa mengerti.”
“Om, aku ingin selamanya bersamamu...” gumam Nadira dengan suara kecil dan nada penuh harap, hampir seperti bisikan. Matanya mengarah pada sosok pria di depannya, yang meski menampilkan ekspresi datar, tetap memberi kesan hangat dan aman yang selama ini tak pernah ia rasakan dari keluarganya. Ia meremas jemarinya sendiri, menahan debar di dadanya, seolah takut permintaan itu akan segera ditolak.
Sejenak, John terdiam mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Nadira. Rasa kaget dan bingung berbaur, namun wajahnya tetap mempertahankan ekspresi tenang. Dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang aneh, sebuah dorongan untuk menghibur Nadira, tetapi ia tidak ingin memberikan harapan yang mungkin akan ia sesali.
“Nadira…” John akhirnya menjawab, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. “Kau tahu, hidup tidak selalu seperti yang kita harapkan.”
Nadira menatapnya, sepasang mata penuh harap itu mulai berkaca-kaca. “Tapi… aku merasa aman di sini, Om. Lebih aman daripada di mana pun.”
John menarik napas panjang, mencoba menahan perasaan yang terus berkecamuk dalam dirinya. Ia menyadari betapa rapuh gadis itu, betapa ia sangat mendambakan tempat di mana ia bisa merasa diinginkan dan terlindungi. Tapi John tahu, menjaga jarak adalah pilihan terbaik, terutama bagi Nadira.
“Kau butuh waktu untuk sembuh, Nadira. Untuk merasakan apa itu kemandirian,” katanya akhirnya, berusaha terdengar bijaksana. “Dan mungkin… akan ada tempat yang lebih baik untukmu daripada di sini.”
Mendengar itu, Nadira menunduk, berusaha menyembunyikan kekecewaan yang terpancar dari matanya. Meski tak bisa menahan rasa sedih, ia mengangguk perlahan, berusaha menerima kata-kata John meski hatinya masih berbisik sebaliknya.
***
Di ruang keluarga rumah besar itu, Beno, ayah Nadira, tampak gelisah, duduk dengan raut wajah tegang sambil mengetukkan jari-jarinya di sandaran kursi. Tatapannya tajam, penuh amarah yang tertahan, mengarah pada salah seorang pelayan yang berdiri di hadapannya dengan gugup.
“Di mana Nadira?” tanyanya dengan nada dingin namun menekan, seolah setiap kata bisa memicu ledakan emosi yang tak tertahan.
Pelayan itu menggigit bibir, tampak ragu untuk menjawab. “Maaf, Tuan, saya tidak melihat Nona Nadira sejak kemarin malam. Nona… dia tidak kembali ke kamarnya.”
Beno mendengus kasar, matanya menyipit penuh amarah. Di sampingnya, seorang perempuan anggun namun berwajah sinis, ibu tiri Nadira, Sandra, menyeringai tipis sambil melipat tangan di dadanya.
“Sia-sia saja kita membesarkan anak itu,” desisnya tajam. “Jika dia bahkan tidak bisa memberi manfaat untuk keluarga ini. Kalau begini, untuk apa dia ada di sini?”
Tak jauh dari mereka, Sasha, kakak tiri Nadira, ikut angkat bicara, menyisipkan komentar dengan nada meremehkan. “Iya, Pa, kita harus segera menemukan dia sebelum semuanya terlambat. Rekan bisnis Papa sudah setuju dengan rencana itu. Apa jadinya kalau Nadira kabur begitu saja?”
Beno menatap Sasha sejenak, rahangnya mengeras. “Aku tahu, Sasha. Kita tidak punya waktu banyak. Gadis itu sudah membuat kita menunggu terlalu lama!” Suaranya terdengar semakin geram.
Ia berdiri, berjalan mondar-mandir sejenak, tampak berpikir keras. Kemudian, ia menghadap kembali ke pelayan yang tampak ketakutan. "Panggil Romi kemari!" Pelayan itu hanya bisa mengangguk cepat, kemudian mundur perlahan dan pergi untuk melaksanakan perintah.
Tak lama kemudian seorang pria bertubuh kekar menghadap Beno. "Apa ada tugas untuk saya, Tuan?" tanyanya.
“Kau, cari Nadira! Pergi ke semua tempat yang mungkin ia datangi. Tidak ada alasan untuk kembali sebelum kau menemukannya. Mengerti?” perintah Beno dengan nada dingin.
Romi mengangguk patuh. "Baik, Tuan." Pria itu bergegas pergi melaksanakan perintah Beno.
Sementara itu, Sasha dan Sandra tersenyum penuh arti, seolah menantikan hasil dari pencarian itu.
Beno menghela napas dalam, mencoba menahan amarahnya yang memuncak. Dalam hatinya, ia tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan hubungan bisnisnya. Dan jika itu berarti harus “mengorbankan” Nadira, maka ia akan melakukannya tanpa ragu.
“Kita akan menemukan dia,” gumam Beno pada dirinya sendiri, tekad di matanya tampak begitu kuat. “Dan memastikan dia tidak akan kabur lagi.”
"Selama ini kita tidak mendisiplinkannya, jadi dia tumbuh menjadi liar di luar sana. Pergi pagi-pagi, pulang larut malam. Apa itu perilaku yang pantas untuk seorang anak perempuan?" Sandra berucap dengan nada kecewa, melipat tangannya di depan dada.
Sasha, yang duduk di sebelah ibunya, segera menimpali, "Benar kata Mama. Papa seharusnya membiarkan kami mendidiknya. Karena Papa tidak mengizinkan, dia jadi seperti ini."
Beno menghela napas panjang, menatap kedua wanita itu dengan tatapan lelah. "Bagaimanapun juga, harta yang aku miliki sekarang, enam puluh persen adalah milik ibunya," katanya, berusaha mempertahankan nada tenang meskipun suaranya terdengar penuh beban.
Sandra mendengus kesal. "Apa kamu bersimpati padanya? Karena ibunya? Kita harus menjalin hubungan diam-diam selama bertahun-tahun hanya demi wanita itu! Dia tahu kita saling mencintai, tapi tetap memilih tidak menolak perjodohanmu."
Beno terdiam, menundukkan kepala saat suara Sandra terus menggema di ruangan itu. Sementara itu, Sasha menyeringai kecil, setuju dengan ibunya.
"Kalau saja dari awal Papa tidak terlalu lunak pada anak itu, semuanya tidak akan seperti ini," Sasha menambahkan, menatap ayahnya dengan pandangan penuh tuntutan.
Beno kembali menghela napas, kali ini lebih berat. Kata-kata mereka adalah pengingat pahit dari masa lalu yang tak bisa ia ubah, dan tanggung jawab yang tak pernah berhenti membebani dirinya.
...🍁💦🍁...
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Dwi Winarni Wina
John Ijinkan nadira tinggal bersamamu kasian hidup nadira sangat menderita tinggal bersama ayahnya dan ibu tirinya dan nadira dijual oleh ayah tuk melancarkan bisnisnya....
Nadira sangat aman dan nyaman tinggal bersama John merasa dilindungi dan tinggal bersama ayahnya dan ibu tirinya merasa terancam dan tidak nyaman...
John terus menyakinkan nadira agar mau pindah dr apartemennya dan nadira sangat kecewa sm keputusan John tdk mengijinkan tinggal bersama...
John tetep kekeh pd pendiriannya tidak mau terikat sm seorang wanita dan sll membentengi dirinya...
John tega bingit kasian nadira mau dijual ayahnya sm rekan bisnisnya...
Ayolah John berusahalah melupakan masa lalumu yg sangat menyakitkan berusahalah membuka hatimu wanita lain...
lanjut thor semangat sll dan sehat sll.....
2024-11-20
5
Anitha Ramto
Bapaknya Nadira sdh terhasut oleh dua ular betina itu sehingga mengorbankan anak kandungnya sendiri demi melancarkan Kecewa
Kecewa dengan sikap John yang menyuruh Nadira pergi dari tempatnya,jgn menyesal John jika Nadira tertangkap oleh irg suruhan Bapakny dan akan di jadikan unpan...
2024-11-21
2
Dewi S Ayunda
aelah pak beno. lembek amat jadi Ayah. mentang² gk suka sm ibunya nadira. km jari semena mena sm darah daging sndri, nyesel baru tau rasa. anak yg kmu banggakan si Sahsa bisa bisa cm bawa petaka alias bawa pengaruh buruk
2024-11-21
2