12. Pengakuan

Nadira tersenyum lebar, “Hai, Om! Lagi nungguin aku, ya?” candanya sambil meletakkan tasnya di sofa. Ia tampak begitu ceria, matanya berbinar-binar, seolah kehadiran John di sana adalah hal yang ia nanti-nantikan setiap kali pulang.

John hanya menghela napas. “Siapa yang menunggumu? Aku hanya kebetulan sedang duduk di sini,” sahutnya, sedikit defensif. Dalam hati, ia bergumam,"Kenapa dia berpikir aku menunggunya?" Tanpa menatap Nadira, John berkata, "Aku cuma mau memastikan kau tidak berbuat ulah lagi,” ucapnya datar, meskipun dalam hati ia merasa lega melihat Nadira yang kini tampak lebih ceria.

Tak ada lagi sosok Nadira yang menyedihkan seperti pertama kali John melihatnya di depan pintu apartemennya, duduk meringkuk dengan wajah pucat yang memprihatinkan. Tidak pula gadis yang tampak rapuh dan ketakutan saat John menyelamatkannya dari para pria yang nyaris melecehkannya. Waktu yang mereka habiskan bersama perlahan mengubah Nadira. Gadis itu semakin terlihat ceria, seperti bunga yang kembali bermekaran setelah hujan badai berlalu.

Nadira tertawa kecil, kemudian mendekat ke arahnya. “Om nggak perlu bilang begitu. Aku tahu kok, sebenarnya Om khawatir sama aku,” goda Nadira, melangkah mendekat dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya. "Rasanya menyenangkan melihat ada yang menunggu di rumah," lanjutnya

John memutar matanya, mencoba mengabaikan perasaan hangat yang perlahan merayap di dadanya. “Khawatir? Mungkin lebih tepatnya aku tidak ingin ada masalah baru karena ulahmu.”

“Hmm, alasan klasik,” balas Nadira sambil menyengir. Tanpa ragu ia duduk di sebelah John dengan tatapan penuh rasa syukur yang membuat pria itu tak sanggup mengalihkan pandangannya.

“Om tahu nggak?” Nadira mulai berbicara lagi, suaranya lebih lembut. “Waktu aku nggak punya siapa-siapa, aku selalu berpikir... mungkin hidupku nggak ada gunanya. Tapi sekarang... aku punya Om. Dan aku merasa lebih berarti.”

John terdiam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada yang ia duga. Sekuat tenaga, ia menahan dirinya untuk tidak terlihat terpengaruh.

“Kau terlalu banyak bicara. Cepat mandi sana! Aku tidak punya waktu mendengarkan ocehanmu,” jawabnya, berusaha terdengar dingin.

Namun, senyum Nadira semakin lebar. Ia tahu, di balik sikap dingin John, ada hati yang mulai terbuka untuknya, meskipun pria itu belum mau mengakuinya.

Tanpa sengaja Nadira melihat botol minuman di meja dan cangkir yang ada di tangan John, lalu bertanya sambil menyelipkan senyum penasaran. “Om, apa kau sedang banyak pikiran sampai minum ini malam-malam?”

John menoleh, sedikit terkejut melihat ekspresi ingin tahu di wajah Nadira. “Mungkin. Hanya kebiasaan lama saja, dan... tidak ada salahnya menikmati sesekali.”

Nadira mengangguk, tetapi matanya terus tertuju pada botol itu. “Aku selalu penasaran... sebenarnya, seperti apa sih rasanya?” gumamnya setengah bercanda, tapi jelas ada ketertarikan di nada suaranya.

John mengangkat alis, menyadari maksud Nadira. “Kau ingin mencoba?” tawarnya, merasa ini akan jadi hal yang menarik.

Nadira tersenyum malu-malu. “Boleh?” Ia tak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi.

John mengangguk, menuangkan sedikit ke dalam gelas kecil dan menyerahkannya pada Nadira. “Hanya sedikit, ya? Minuman ini cukup kuat.”

Nadira menerima gelas itu, menatap cairan di dalamnya, dan dengan penuh rasa penasaran, ia mencicipi seteguk. Wajahnya langsung berubah seketika; campuran rasa pahit dan sensasi panas menyebar di tenggorokannya. Nadira berusaha menahan diri untuk tidak tersedak, tapi wajahnya jelas menunjukkan rasa yang tak biasa.

“Ini... seperti terbakar,” katanya seraya batuk kecil, membuat John terkekeh.

“Makanya, aku bilang hanya sedikit saja. Tidak semua orang cocok dengan minuman ini,” jawab John sambil tersenyum, terhibur melihat ekspresi Nadira.

Nadira mengusap bibirnya, menahan senyum malu-malu. “Aku pikir rasanya akan seperti jus atau soda... ternyata jauh dari ekspektasiku!”

John tertawa kecil. “Ya, ini bukan minuman manis. Butuh waktu untuk terbiasa.”

Mereka saling bertukar pandang, lalu keduanya tertawa. Suasana yang tadinya penuh rasa ingin tahu berubah menjadi keakraban yang hangat. Nadira menyadari, meskipun minuman itu tidak sesuai harapannya, momen kecil ini membuatnya merasa lebih dekat dengan John.

Nadira menatap gelas kosong di tangannya, lalu kembali mengarahkan pandangan penuh rasa ingin tahu pada John. “Bagaimana rasanya… kalau mabuk?”

John menoleh, kaget dengan pertanyaannya. “Mabuk?” ulangnya dengan nada tak percaya.

“Iya. Pasti rasanya aneh, ya? Aku cuma penasaran,” kata Nadira sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. “Sebenarnya apa yang dirasakan orang saat mabuk?”

John menimbang sejenak, melihat raut wajah Nadira yang antusias. “Nadira, mabuk itu bukan hal yang menyenangkan seperti yang kau kira. Banyak orang malah menyesal saat mabuk. Itu bukan pengalaman yang ingin kau coba begitu saja.”

Tapi Nadira hanya tersenyum, tak gentar. “Aku cuma ingin tahu rasanya. Lagi pula, aku 'kan di sini bersama Om. Tidak akan terjadi apa-apa, 'kan?”

John menghela napas panjang, tahu kalau Nadira tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban. Akhirnya ia menuangkan sedikit lagi minuman ke gelas Nadira, kali ini tetap menjaga jumlahnya agar tak berlebihan.

“Oke, tapi kau harus janji… cukup sampai di sini, ya?” katanya, menyerahkan gelas itu dengan perasaan campur aduk.

Nadira mengangguk penuh semangat dan menyesap minuman itu perlahan, mencoba membiasakan diri dengan rasa terbakar yang menyebar di tenggorokannya. Ia mencicipi beberapa teguk lagi, dan tak lama kemudian, efek alkohol mulai terasa. Pipinya memerah, dan matanya sedikit berkaca-kaca saat ia mulai merasa hangat.

“Wah… rasanya… seperti dunia jadi berputar-putar pelan,” gumamnya dengan suara pelan, tersenyum sendiri sambil bersandar ke sofa.

John terkekeh melihat Nadira yang tampak setengah mabuk, tapi masih berusaha menyunggingkan senyum. “Sudah kubilang. Rasanya lebih aneh dari yang kau bayangkan, kan?”

Nadira mengangguk, lalu memejamkan mata. “Iya, rasanya aneh… tapi menyenangkan. Terasa lebih rileks,” katanya pelan.

John menatap Nadira dengan campuran antara hiburan dan keprihatinan. Melihat gadis itu begitu santai, dia merasa tergerak untuk memastikan Nadira tetap nyaman dan aman. “Kalau sudah cukup, lebih baik kau istirahat. Nanti efeknya bisa makin kuat,” katanya lembut.

Namun, Nadira tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan menatap John dengan tekad. "Tidak! Aku masih ingin mencobanya lagi," jawabnya cepat. Tanpa ragu, ia meraih botol minuman itu dan meneguk langsung dari botolnya.

John langsung membelalakkan matanya, terkejut melihat aksi Nadira. "Hei, hentikan! Aku tak mau menggendongmu ke kamar karena mabuk," sergahnya, mencoba merebut botol itu dari tangan Nadira.

Namun, sudah terlambat. Nadira sudah meneguk beberapa teguk lagi, wajahnya semakin memerah dan senyumnya mulai mengembang, tampak mulai terpengaruh. John menghela napas panjang, menyadari ini mungkin akan menjadi malam yang panjang untuknya.

Pipi dan wajah Nadira tampak semakin memerah, sementara matanya terlihat sayu namun berbinar. Ia menatap John dengan pandangan yang lembut, terlihat lebih terbuka dan santai dari biasanya.

"Om John…" suara Nadira terdengar lirih namun penuh perasaan, membuat John menoleh padanya dengan sedikit bingung.

“Ada apa?” tanya John lembut, menyadari perubahan dalam sorot mata Nadira.

“Aku… sebenarnya merasa senang setiap kali melihatmu di rumah,” ungkap Nadira tiba-tiba, suaranya terdengar jujur namun sedikit bergetar. “Entah kenapa, aku merasa… nyaman.”

John terpaku mendengar pengakuan Nadira yang tak terduga ini. Ia tahu efek alkohol mungkin membuat Nadira lebih berani mengungkapkan perasaannya, tapi kata-kata itu membuatnya mulai merasa tersentuh.

“Sejak aku tinggal di sini… Om selalu baik padaku. Aku merasa aman…” lanjut Nadira dengan suara lembut, tangannya perlahan meraih tangan John yang berada di sampingnya.

“Nadira, kamu… sedang mabuk. Mungkin sebaiknya—”

...🍁💦🍁...

To be continued

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

Nadira sangat happy om John sedang menunggu kepulangannya hari nadira menghangat....
Dasar om John tdk mau mengakuinya menunggu nadira dan perlahan2 hati om John luluh kehadirah nadira sangat banyak membawa perubahan....
lanjut thor....

2024-11-23

4

Anitha Ramto

Anitha Ramto

Dengan curhatan Nadira semoga John mau membuka hatinya menyayangi dan mencintai Nadira dengan tulus

2024-11-23

2

kaylla salsabella

kaylla salsabella

wah Nadira dalam keadaan mabuk bisa curhat sama om john

2024-11-23

2

lihat semua
Episodes
1 1. Yang Pertama
2 2. Menunggu
3 3. Kebohongan
4 4. Sementara
5 5. Kepedulian Dibalik Sikap Dingin
6 6. Heran
7 7. Perasaan yang Terusik
8 8. Menahan Rasa
9 9. Tak Pernah Tega
10 10. Pria Misterius
11 11. Dibenci
12 12. Pengakuan
13 13. Terulang Lagi
14 14. Rasa Penasaran
15 15. Warna Baru
16 16. Sebuah Ancaman
17 17. Nekat
18 18. Benar-benar Cemburu
19 19. Gejolak Hati Dibalik Pelukan
20 20. Tantangan
21 21. Menemani
22 22. Membalikkan Keadaan
23 23. Gara-gara Baju Kotor
24 24. Ocehan Angga
25 25. Rencana Licik
26 26. Perasaan Campur Aduk
27 27. Sesuatu yang Membuat Penasaran
28 28. Aku Kalah
29 29. Dimanjakan
30 30. Pembuat Masalah
31 31. Semakin Iri
32 32. Gagal
33 33. Menjengkelkan Tapi Menyenangkan
34 34. Kejujuran John
35 35. Saran Sahabat
36 36. Lamaran
37 37. Tak Ingin Memaksa
38 38. Enggan Pulang
39 39. Sekadar Memberitahu
40 40. Sejak Semalam
41 41. Para Sahabat John
42 42. Kepribadian Rian yang Kontras
43 43. Manggil Apa?
44 44.Ingin Mengacau
45 45. Mengajukan Cuti
46 46. Staf administrasi
47 47. Momen Bahagia
48 48. Pesta Spesial
49 49. Menonton
50 50. Malam Setelah Janji Suci
51 51.Memasang Umpan
52 52. Kejutan
53 53. Tak Percaya
54 54. Sasha Akan Beraksi
55 55. Celah
56 56. Sebuah Kebetulan
57 57. Curiga
58 58. Diskusi
59 59. Menyembunyikan
60 60. Nadira ke Kantor John
61 61. Hadiah
62 62. Nadira Tahu
63 63. Tanpa Solusi
64 64. Nadira Pulang
65 65. Tak Mampu Berkata
66 66. Rahasia yang Terkuak
67 67. Rencana John dan Para Sahabatnya
68 68. Ingin Mengambil Kembali
69 69. Perang Strategi
70 70. Ditangkap
71 71. Kesempatan
72 Dosa yang Kucintai
Episodes

Updated 72 Episodes

1
1. Yang Pertama
2
2. Menunggu
3
3. Kebohongan
4
4. Sementara
5
5. Kepedulian Dibalik Sikap Dingin
6
6. Heran
7
7. Perasaan yang Terusik
8
8. Menahan Rasa
9
9. Tak Pernah Tega
10
10. Pria Misterius
11
11. Dibenci
12
12. Pengakuan
13
13. Terulang Lagi
14
14. Rasa Penasaran
15
15. Warna Baru
16
16. Sebuah Ancaman
17
17. Nekat
18
18. Benar-benar Cemburu
19
19. Gejolak Hati Dibalik Pelukan
20
20. Tantangan
21
21. Menemani
22
22. Membalikkan Keadaan
23
23. Gara-gara Baju Kotor
24
24. Ocehan Angga
25
25. Rencana Licik
26
26. Perasaan Campur Aduk
27
27. Sesuatu yang Membuat Penasaran
28
28. Aku Kalah
29
29. Dimanjakan
30
30. Pembuat Masalah
31
31. Semakin Iri
32
32. Gagal
33
33. Menjengkelkan Tapi Menyenangkan
34
34. Kejujuran John
35
35. Saran Sahabat
36
36. Lamaran
37
37. Tak Ingin Memaksa
38
38. Enggan Pulang
39
39. Sekadar Memberitahu
40
40. Sejak Semalam
41
41. Para Sahabat John
42
42. Kepribadian Rian yang Kontras
43
43. Manggil Apa?
44
44.Ingin Mengacau
45
45. Mengajukan Cuti
46
46. Staf administrasi
47
47. Momen Bahagia
48
48. Pesta Spesial
49
49. Menonton
50
50. Malam Setelah Janji Suci
51
51.Memasang Umpan
52
52. Kejutan
53
53. Tak Percaya
54
54. Sasha Akan Beraksi
55
55. Celah
56
56. Sebuah Kebetulan
57
57. Curiga
58
58. Diskusi
59
59. Menyembunyikan
60
60. Nadira ke Kantor John
61
61. Hadiah
62
62. Nadira Tahu
63
63. Tanpa Solusi
64
64. Nadira Pulang
65
65. Tak Mampu Berkata
66
66. Rahasia yang Terkuak
67
67. Rencana John dan Para Sahabatnya
68
68. Ingin Mengambil Kembali
69
69. Perang Strategi
70
70. Ditangkap
71
71. Kesempatan
72
Dosa yang Kucintai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!