9. Tak Pernah Tega

Sore menjelang malam, John melangkah masuk ke apartemennya dengan ekspresi yang terlihat lelah setelah seharian bekerja. Pikirannya langsung tertuju pada Nadira, yang biasanya akan menyapanya dengan senyuman ketika ia pulang. Ia berjalan cepat menuju kamar Nadira dan mengetuk pintu beberapa kali.

"Nadira? Kamu di dalam? Nadira?" panggilnya sambil mengetuk.

Namun, tak ada suara balasan. Ia mengetuk lagi, sedikit lebih keras kali ini. Tetap saja, sunyi. Setelah beberapa saat menunggu tanpa jawaban, John memutuskan untuk membuka pintu dan masuk. Ia mencari Nadira di kamar itu, namun kamar terlihat kosong dan rapi, tanda bahwa gadis itu sudah pergi sejak lama.

“Kemana dia pergi?” gumamnya pelan dengan alis yang berkerut cemas.

John melangkah ke ruang tamu, duduk, dan berusaha menunggu Nadira pulang. Pikirannya tak bisa tenang, bertanya-tanya kenapa gadis itu pergi tanpa memberitahunya. Waktu berlalu, dan menjelang malam, kekhawatirannya semakin tumbuh. Ia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tepat saat ia hendak berdiri untuk mencarinya, suara pintu yang terbuka dari luar membuatnya menoleh.

Sosok Nadira muncul dari balik pintu. Ia tampak terkejut begitu melihat John menunggunya di ruang tamu, ekspresinya berubah sedikit kaget.

"Dari mana saja kamu?" tanya John dengan nada rendah, tapi jelas penuh kekhawatiran.

Nadira tampak terdiam sejenak, seperti tak menyangka bahwa John akan menunggunya. "Eh… aku baru saja pulang dari kafe."

"Kamu nongkrong di kafe sampai malam begini?" John bertanya dengan dahi berkerut, nada suaranya setengah menegur.

Nadira menggeleng cepat dan menatapnya dengan sedikit gugup. "Aku... aku bekerja paruh waktu di kafe itu, Om John," jawabnya pelan.

Nadira menatap lantai sejenak, lalu menghela napas sebelum berkata pelan, suaranya penuh ketegangan yang ia coba tahan.

"Aku... mencari uang untuk biayai kuliahku," ucap Nadira sambil sedikit menggigit bibirnya, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang. Nadira terdiam sejenak, wajahnya seolah penuh dengan luka lama yang terbuka kembali.

"Jadi... ya, aku mencari pekerjaan part time," lanjutnya sambil tersenyum tipis, meskipun tampak jelas senyumnya menyembunyikan rasa sedih yang mendalam. "Aku sudah terbiasa kok," tambahnya, mencoba terlihat ceria dan kuat.

John menatap Nadira, masih terkejut mendengar ceritanya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu, yang selama ini tinggal di apartemennya dengan tenang, sebenarnya menjalani kehidupan yang berat. Kenyataan bahwa Nadira harus bekerja paruh waktu demi uang membuatnya merasa... entah mengapa, hatinya seperti tertarik ke dalam simpati yang tak ia inginkan.

Nadira tampak menunduk, seolah malu menceritakan kondisinya. John ingin mengajukan banyak pertanyaan, rasa penasarannya semakin dalam, namun ia menahan diri. "Tidak. Aku tidak boleh terlalu banyak tahu tentang hidupnya. Aku tidak ingin terseret masuk lebih jauh dalam kehidupan gadis ini," batinnya mencoba mengingatkan dirinya sendiri.

Setelah hening beberapa saat, John akhirnya memecah keheningan. "Jadi... kamu kuliah di mana?"

Nadira menyebutkan nama universitasnya. John mengangguk kecil, lalu berkata dengan nada lembut, "Baiklah, sudah malam. Kamu istirahat saja, Nadira."

Nadira mengangguk patuh, menyembunyikan sedikit rasa lega, dan segera bergegas menuju kamarnya. Setelah pintu kamarnya tertutup, John duduk di sofa, termenung sesaat. Pikirannya berputar, menimbang segala sesuatu yang baru saja ia dengar. Tanpa sadar, ia mengeluarkan ponselnya, mulai mencari informasi tentang apartemen atau kamar sewaan di dekat kampus Nadira. "Ini lebih baik,"pikirnya. Dia akan punya tempat sendiri dan… aku bisa menjauhkan diri."

Namun, saat ia menggeser-geser jarinya di layar, ia mulai merasa aneh. "Kenapa aku melakukan semua ini?" gumamnya pelan, seakan bertanya pada dirinya sendiri. "Kenapa aku begitu peduli pada gadis itu? Bukankah seharusnya aku tidak mempersulit diriku sendiri?"

Tetapi meski bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ia tetap melanjutkan pencariannya. Kemarin ia mencari tempat tinggal untuk Nadira tanpa mengetahui letak kampus Nadira, tapi setelah tahu, ia mencari tempat yang dekat dengan kampus Nadira.

Keesokan harinya setelah sarapan, John menatap Nadira dengan ekspresi serius, jelas tidak mengharapkan penolakannya. Ia menarik napas panjang, berusaha untuk tetap tenang.

"Nadira," ucap John dengan nada tegas namun lembut, "kamu nggak perlu merasa terbebani atau memaksakan diri untuk tetap tinggal di sini. Aku sudah menyiapkan tempat yang nyaman untukmu, dan lokasinya dekat dengan kampusmu. Kamu bisa lebih fokus kuliah tanpa harus memikirkan jarak atau kelelahan bolak-balik."

Nadira tersenyum tipis, mencoba menahan kehangatan yang timbul dari perhatian John yang sebenarnya sangat berarti baginya. "Terima kasih, Om John," katanya pelan. "Tapi sungguh, aku nggak masalah tinggal di sini. Aku bisa bantu bersih-bersih, masak, dan merawat apartemen ini. Mungkin masakanku nggak akan langsung cocok dengan selera Om John, tapi aku bisa belajar... aku akan berusaha."

John menatap Nadira sejenak, merasa dilematis. Di satu sisi, ia ingin gadis itu mendapatkan tempat yang layak dan nyaman agar lebih mandiri. Namun di sisi lain, permintaan Nadira terdengar tulus, dan ia merasa kesulitan menolak.

"Ini bukan soal seberapa baik kamu bisa merawat apartemen ini," John menjawab akhirnya, mencoba menekan rasa bersalah dan simpati yang mulai mencuat. "Kamu punya kehidupanmu sendiri, Nadira, demikian pula dengan aku. Aku hanya ingin memastikan kamu nyaman dan aman... dengan caraku, meskipun tak tinggal bersamaku."

Nadira menunduk sesaat, menyembunyikan senyum kecil di wajahnya yang terpaksa. "Aku paham, Om John. Tapi aku merasa lebih aman di sini. Lagi pula, aku senang bisa melakukan sesuatu untuk... berterima kasih."

John menghela napas, sadar bahwa perdebatan ini mungkin tidak akan selesai dalam waktu singkat. "Baiklah. Kita lihat saja ke depannya," gumamnya akhirnya, menyerah untuk saat ini. "Tapi kalau ada yang kamu butuhkan, bilang saja padaku."

Nadira mengangguk, tersenyum penuh syukur.

John mengulurkan kartu ATM ke arah Nadira. "Ini, pakai saja untuk keperluan apapun yang kamu butuhkan. PIN-nya 102510," katanya dengan nada datar, menyembunyikan perasaan bingung di balik wajahnya yang tenang.

Nadira menerimanya dengan penuh rasa terima kasih, menundukkan kepala sedikit. "Terima kasih, Om John," ucapnya dengan senyum cerianya, seraya berjanji dalam hati bahwa ia hanya akan menggunakan kartu itu untuk kebutuhan apartemen, tidak untuk dirinya sendiri.

Melihat Nadira menerima kartu itu tanpa banyak protes, bahkan terlihat ceria, John menghela napas panjang, sedikit frustrasi pada dirinya sendiri. “Kenapa aku jadi seperti ini?” gumamnya dalam hati. Lagi-lagi, ia merasa tak bisa tegas dengan gadis ini. Seharusnya, sejak awal ia bersikap lebih keras, tetap memaksanya pindah ke apartemen yang telah ia siapkan. Namun, entah bagaimana, setiap kali ia melihat Nadira, rasa simpati selalu muncul dan membuat tekadnya melemah.

Nadira menyimpan kartu itu dengan hati-hati, senyum hangat tersungging di bibirnya. "Aku janji akan menjaga apartemen ini, Om John. Terima kasih untuk semua kebaikan Om."

John hanya mengangguk kecil, menatap Nadira sejenak sebelum beranjak pergi. Ia masih merasa bimbang, tetapi untuk kali ini, ia membiarkan Nadira tinggal, meski, dalam hati, ia bertekad untuk tetap mengawasi.

...🍁💦🍁...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

John dilema tidak tega mengusir nadira antara perasaaan kasian dan perasaan pgn menjaga dan melindungi nadira.....
John tidak peka sendiri perasaannya dan tidak menyadari telah jatuh cinta sm nadira.....

Setelah mendengarkan cerita nadira bekerja part time membiayai kuliah sendiri John merasa kasian akhirnya mengalah tuk sementara waktu biarkan nadira tinggal bersama....

Cie2 John sangat peduli sm nadira memberikan ATM untuk kebutuhan sehari2 dan kuliahnya dan nadira sangat happy akhirnya om John mengijinkan tinggal bersamanya.....
Nadira buat om John jatuh cinta padamu dan bucin akut....

lanjut thor.....
Semangat sll dan sehat sll.....

2024-11-21

4

Anitha Ramto

Anitha Ramto

apa kamu sdh punya perasaan sama Nadira John...sehingga membuatmu merasa aneh dan tdk bs menolak permintaan Nadira yg bersikukuh ingin tinggal nersamamu..
semoga sj iya..km sdh ada rasa sm Dira John

2024-11-21

3

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

jhon bingung karena selalu tak tega pada nadira. itu karena jhon orang baik. jangan jadi jahat ya

2024-11-21

2

lihat semua
Episodes
1 1. Yang Pertama
2 2. Menunggu
3 3. Kebohongan
4 4. Sementara
5 5. Kepedulian Dibalik Sikap Dingin
6 6. Heran
7 7. Perasaan yang Terusik
8 8. Menahan Rasa
9 9. Tak Pernah Tega
10 10. Pria Misterius
11 11. Dibenci
12 12. Pengakuan
13 13. Terulang Lagi
14 14. Rasa Penasaran
15 15. Warna Baru
16 16. Sebuah Ancaman
17 17. Nekat
18 18. Benar-benar Cemburu
19 19. Gejolak Hati Dibalik Pelukan
20 20. Tantangan
21 21. Menemani
22 22. Membalikkan Keadaan
23 23. Gara-gara Baju Kotor
24 24. Ocehan Angga
25 25. Rencana Licik
26 26. Perasaan Campur Aduk
27 27. Sesuatu yang Membuat Penasaran
28 28. Aku Kalah
29 29. Dimanjakan
30 30. Pembuat Masalah
31 31. Semakin Iri
32 32. Gagal
33 33. Menjengkelkan Tapi Menyenangkan
34 34. Kejujuran John
35 35. Saran Sahabat
36 36. Lamaran
37 37. Tak Ingin Memaksa
38 38. Enggan Pulang
39 39. Sekadar Memberitahu
40 40. Sejak Semalam
41 41. Para Sahabat John
42 42. Kepribadian Rian yang Kontras
43 43. Manggil Apa?
44 44.Ingin Mengacau
45 45. Mengajukan Cuti
46 46. Staf administrasi
47 47. Momen Bahagia
48 48. Pesta Spesial
49 49. Menonton
50 50. Malam Setelah Janji Suci
51 51.Memasang Umpan
52 52. Kejutan
53 53. Tak Percaya
54 54. Sasha Akan Beraksi
55 55. Celah
56 56. Sebuah Kebetulan
57 57. Curiga
58 58. Diskusi
59 59. Menyembunyikan
60 60. Nadira ke Kantor John
61 61. Hadiah
62 62. Nadira Tahu
63 63. Tanpa Solusi
64 64. Nadira Pulang
65 65. Tak Mampu Berkata
66 66. Rahasia yang Terkuak
67 67. Rencana John dan Para Sahabatnya
68 68. Ingin Mengambil Kembali
69 69. Perang Strategi
70 70. Ditangkap
71 71. Kesempatan
72 Dosa yang Kucintai
Episodes

Updated 72 Episodes

1
1. Yang Pertama
2
2. Menunggu
3
3. Kebohongan
4
4. Sementara
5
5. Kepedulian Dibalik Sikap Dingin
6
6. Heran
7
7. Perasaan yang Terusik
8
8. Menahan Rasa
9
9. Tak Pernah Tega
10
10. Pria Misterius
11
11. Dibenci
12
12. Pengakuan
13
13. Terulang Lagi
14
14. Rasa Penasaran
15
15. Warna Baru
16
16. Sebuah Ancaman
17
17. Nekat
18
18. Benar-benar Cemburu
19
19. Gejolak Hati Dibalik Pelukan
20
20. Tantangan
21
21. Menemani
22
22. Membalikkan Keadaan
23
23. Gara-gara Baju Kotor
24
24. Ocehan Angga
25
25. Rencana Licik
26
26. Perasaan Campur Aduk
27
27. Sesuatu yang Membuat Penasaran
28
28. Aku Kalah
29
29. Dimanjakan
30
30. Pembuat Masalah
31
31. Semakin Iri
32
32. Gagal
33
33. Menjengkelkan Tapi Menyenangkan
34
34. Kejujuran John
35
35. Saran Sahabat
36
36. Lamaran
37
37. Tak Ingin Memaksa
38
38. Enggan Pulang
39
39. Sekadar Memberitahu
40
40. Sejak Semalam
41
41. Para Sahabat John
42
42. Kepribadian Rian yang Kontras
43
43. Manggil Apa?
44
44.Ingin Mengacau
45
45. Mengajukan Cuti
46
46. Staf administrasi
47
47. Momen Bahagia
48
48. Pesta Spesial
49
49. Menonton
50
50. Malam Setelah Janji Suci
51
51.Memasang Umpan
52
52. Kejutan
53
53. Tak Percaya
54
54. Sasha Akan Beraksi
55
55. Celah
56
56. Sebuah Kebetulan
57
57. Curiga
58
58. Diskusi
59
59. Menyembunyikan
60
60. Nadira ke Kantor John
61
61. Hadiah
62
62. Nadira Tahu
63
63. Tanpa Solusi
64
64. Nadira Pulang
65
65. Tak Mampu Berkata
66
66. Rahasia yang Terkuak
67
67. Rencana John dan Para Sahabatnya
68
68. Ingin Mengambil Kembali
69
69. Perang Strategi
70
70. Ditangkap
71
71. Kesempatan
72
Dosa yang Kucintai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!