John mengangguk pelan, mencoba tegas. “Iya. Ini bukan tempat yang permanen buatmu, Nadira. Anggap saja ini sebagai tempat istirahat sampai kamu siap untuk berdiri sendiri lagi.”
"Aku mengerti." Nadira tersenyum kecil, senang karena John tidak langsung menolaknya. Tapi juga sedih karena John hanya mengizinkan ia tinggal untuk sementara waktu.
John berpikir sejenak, menatap mata Nadira yang tampak terluka namun mencoba memahami keputusannya. Dalam hatinya, ia merasa sedikit bersalah, tapi ia tahu ini yang terbaik. John berbisik dalam hati, "Aku tak bisa membiarkan perasaan iba ini membuatku terlibat terlalu dalam… ini untuk kebaikan kami berdua." Sesaat kemudian, ia kembali menatap Nadira. “Nadira, aku sudah menyiapkan beberapa kebutuhan dasar untukmu di sini. Tapi aku ingin kita bersepakat, kamu tidak akan mengandalkan aku sepenuhnya. Jika ada yang kamu butuhkan, aku akan membantumu, tapi aku juga ingin kamu belajar mandiri.”
Nadira mengangguk, meski matanya masih tampak bingung. Ia merasa ada dinding yang dibangun oleh John di antara mereka, tapi ia tidak tahu kenapa. “Baik, Om… aku mengerti. Terima kasih untuk semuanya.”
John tersenyum kecil, berusaha tegar. “Bagus. Dan ingat, Nadira, aku ada di sini hanya untuk membantu secara sementara. Jadi, jangan terlalu bergantung padaku.” Dalam hati ia berkata, "Jaga jarak, John… jangan biarkan perasaan iba ini membuatmu terseret terlalu jauh. Ini hanya bantuan sementara, bukan komitmen."
Nadira tersenyum tipis, meski hatinya terasa berat. "Jadi, dia benar-benar hanya mengizinkan aku untuk tinggal sementara waktu di sini? Lalu... setelah itu aku akan kemana?" batin Nadira penuh keresahan.
"Apa keadaanmu sudah lebih baik?" tanya John memecah keheningan yang sempat melanda mereka berdua.
Nadira mengangguk pelan. "Iya."
"Kalau begitu kita sarapan di meja makan saja," ujar John seraya membalikkan tubuhnya meninggalkan Nadira menuju meja makan.
Di meja makan, John menatap Nadira yang duduk di seberangnya, mengambil suapan bubur dengan perlahan. Ekspresinya tetap datar, tapi ada rasa canggung yang tak bisa disembunyikan dari caranya menggenggam sendok.
"Pastikan kamu makan dengan cukup, biar cepat sehat. Aku tak nyaman jika ada orang lain di apartemenku," ucap John, suaranya datar, nyaris tanpa emosi.
Nadira mengangguk pelan, tersenyum kecut. "Iya, Om," balasnya, suaranya terdengar lembut. Meski kalimat kedua John mengisyaratkan agar dirinya segera pergi, tapi kalimat pertama pria itu terasa seperti perhatian yang diam-diam berusaha ia sembunyikan.
John menyuap makanannya tanpa menatap Nadira, tapi di dalam hati, ia berusaha keras meyakinkan dirinya bahwa keputusannya benar. Ia tak ingin wanita mana pun terlalu lama tinggal di dekatnya, terutama Nadira. "Hubungan di antara kami terlalu rumit untuk diperpanjang," pikirnya. Namun, ada rasa aneh yang membuatnya cemas jika gadis itu masih tampak lemah.
"Aku tidak ingin kamu berlama-lama di sini," lanjut John, masih tanpa menatapnya.
Nadira menggigit bibirnya, lalu memaksakan senyumnya yang makin kecut. “Aku tahu, Om. Terima kasih karena sudah merawatku sampai sekarang."
Di dalam hatinya, Nadira merasa perih. Ia tahu John bukan tipe pria yang terbuka, tapi kata-katanya tadi, meskipun terdengar dingin, masih mengandung kepedulian. Bagi orang seperti John, mungkin begitulah caranya menunjukkan perhatian. Hatinya berdebar saat membayangkan bahwa John bisa saja menyuruhnya keluar lebih cepat, tapi tidak melakukannya. Di balik ucapan tegas itu, Nadira merasa ia menemukan setitik harapan.
John melirik Nadira sekilas. Senyumnya yang tipis dan sorot matanya yang tenang seolah mengisyaratkan keteguhan hati. "Anak ini keras kepala," batinnya. Meski begitu, ada perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya, perasaan yang ia coba sangkal sejak Nadira pertama kali datang ke apartemennya. Menjaga jarak adalah keputusannya sejak awal, tapi entah kenapa ia selalu menemukan alasan untuk membiarkan gadis itu tetap tinggal lebih lama.
***
Usai sarapan, John langsung berangkat bekerja, sedangkan Nadira nampak termenung di kamarnya. Nadira menatap langit-langit kamar yang putih dan polos dengan pandangan kosong, pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Ada perasaan sunyi yang tak pernah hilang, mengendap dalam benaknya selama bertahun-tahun. Ia adalah anak dari sebuah perjodohan tanpa cinta, sebuah hubungan yang lebih menyerupai kontrak bisnis daripada pernikahan. Sejak kecil, ia terbiasa dengan kehadiran sosok ayah yang dingin dan tak pernah memperlihatkan kehangatan. Di matanya, ayahnya adalah pria yang berjarak, selalu sibuk dan jarang meluangkan waktu untuknya. Ada pandangan tertentu dari ayahnya yang membuatnya merasa seperti beban, seolah kehadirannya hanya mengingatkan sang ayah akan pernikahan yang terpaksa dijalani.
Ayah Nadira memang memiliki keluarga lain, keluarga yang lebih ia cintai. Istri kedua ayahnya adalah wanita yang dipilih hatinya, berbeda dari ibunya yang hanya hadir sebagai peran formal dalam hidup sang ayah. Ibu Nadira hanya menjadi sosok yang sunyi, menjalani hari-hari tanpa kehangatan cinta yang seharusnya menjadi pondasi sebuah keluarga. Terkadang Nadira melihat ibunya menangis di kamar, menyadari bahwa dirinya sendiri tak mendapatkan dukungan emosional yang ia butuhkan dari sang ibu. Seiring waktu, ibunya tampak semakin tertutup, semakin larut dalam penderitaan yang tak pernah terucapkan. Dan di tengah keluarga yang hampa ini, Nadira tumbuh sebagai anak yang selalu merasa terabaikan.
Semua semakin sulit bagi Nadira setelah ibunya meninggal enam tahun yang lalu dan ayahnya membawa anak dan istri keduanya pulang ke rumah.
Nadira tersentak dari lamunannya ketika suara dering ponselnya tiba-tiba memenuhi kesunyian kamar. Ia langsung meraih ponselnya, melihat nama dosennya tertera di layar. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. “Dosen? Kenapa sekarang?” pikirnya dengan cemas. Dosen itu biasanya jarang menelepon langsung, kecuali ada hal penting yang perlu dibahas. Mungkin sesuatu terkait penelitian atau proyeknya sebagai asisten.
"Kenapa sekarang? Apa yang salah?" Nadira menggigit bibir, merasa sedikit khawatir. Hari-hari terakhir yang penuh kekacauan membuatnya sulit fokus pada tanggung jawabnya sebagai asisten dosen, apalagi menjalankan semua itu dengan ketenangan. Tapi panggilan ini, meski tak terduga, juga mengingatkan Nadira akan hidupnya yang selama ini tertata baik, setidaknya sebelum semua masalah ini datang.
Menarik napas dalam, Nadira berusaha menenangkan diri dan mengangkat telepon. "Halo, Pak," jawab Nadira dengan suara lembut, mencoba terdengar tenang meskipun pikirannya masih berantakan.
"Nadira, di mana kamu? Saya sudah menunggu laporan tugas asistensi dari kamu," suara tegas dosennya terdengar, membuat Nadira segera menyadari tugas-tugas yang sempat ia abaikan.
“Oh, maaf Pak… Saya sedang kurang enak badan. Beberapa hari ini saya memang agak repot,” jawab Nadira sambil menunduk, meskipun dosennya tak bisa melihatnya. Ia tidak mau memberi tahu keadaan yang sebenarnya, yang menurutnya sangat memalukan.
"Baik, tapi jangan lupakan tanggung jawabmu, Nadira. Kamu mahasiswa beasiswa dan asisten dosen. Ini adalah bagian dari komitmenmu,” nada suara dosennya penuh pengingat. “Besok, saya ingin kamu hadir ke kampus dan membawa laporan itu."
“Iya, Pak. Saya akan pastikan selesai,” jawab Nadira sambil menguatkan diri. Meskipun sulit, ia tahu posisinya sebagai asisten dosen adalah hasil dari usahanya sendiri, sesuatu yang tidak ingin ia korbankan.
...🍁💦🍁...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Anitha Ramto
nyesek banget ketika John bilang aku tidak ingin kamu berlama² di sini...aduh John kamu itu ya...secara tdk langsung kamu sdh nyakitin petasaan Nadira...udahlah Dira kamu pergi sj dari situ..biar si John merasa kehilangan dan kefikiran kamu trs...nah km jd Asisten Dosen minta bantuan tempat tinggal sm.Dosen itu..ato pinjem uang Dosen utk cari kontrakan..gereget bngt sm sikapnya si John
2024-11-19
4
Dwi Winarni Wina
Kasian nadira hidupnya penuh penderitaan dan sll diabaikan ayahnya....
Sabar nadira menghadapi cobaan dan ujian suatu saat nanti akan mendapatkan kebahagiaan....
2024-11-20
3
abimasta
jhon jujur aja dengan hatimu kenapa?jangan biarkan jarak diantara kalin semakin jauh
2024-11-19
3