11. Dibenci

Di apartemen John, melalui sambungan telepon, malam itu John menerima laporan dari orang kepercayaannya yang sempat menolong Nadira. Mendengar detail kejadian yang dilaporkan, John merasa lega namun juga penasaran dengan orang-orang yang ingin menghancurkan hidup Nadira.

Setelah orang kepercayaannya selesai memberikan laporan, John mengakhiri panggilan. "Siapa sebenarnya orang-orang yang disebut 'mereka' oleh Nadira? Apa kerabatnya?" gumam John pada dirinya sendiri.

John mendadak mengernyit, ekspresinya berubah serius. Pikirannya mulai dipenuhi kekhawatiran tentang kejadian yang dialami Nadira. Ia bergumam pelan, seakan berbicara pada dirinya sendiri, "Apakah mereka akan terus memaksa Nadira? Apa setelah hari ini mereka akan berhenti begitu saja?"

Tatapan John terarah ke luar jendela, namun pikirannya melayang ke berbagai kemungkinan. Meski awalnya dia berniat hanya mengawasi gadis itu dari jauh, kini rasa tanggung jawabnya pada Nadira justru semakin kuat. Apalagi setelah mengetahui bahwa ada orang-orang yang tak menyukai Nadira dan ingin menghancurkan hidup Nadira.

Matanya tertuju ke arah luar jendela, namun pikirannya penuh dengan cerita yang Nadira bagi malam sebelumnya. Bagaimana gadis itu kabur dalam pengaruh obat karena dijebak. "Dia tak punya siapa-siapa untuk melindungi dirinya." Hatinya semakin mantap untuk melindungi Nadira.

Tanpa sadar, John semakin dalam terjerat dalam kehidupan Nadira. Awalnya, ia hanya merasa simpati, ingin memastikan gadis itu aman setelah kejadian di hotel dan kampus tadi. Namun kini, simpati itu perlahan berubah menjadi perhatian yang lebih dalam. Tanpa ia sadari, hampir setiap tindakannya kini melibatkan Nadira.

Hari-harinya mulai dipenuhi oleh kecemasan jika Nadira belum pulang, atau kegembiraan kecil saat melihat Nadira tersenyum padanya. Kehadiran gadis itu telah mengisi kekosongan dalam dirinya yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Meski ia tahu hubungan ini bisa menjadi rumit, hatinya mulai menginginkan Nadira lebih dari sekadar seorang gadis yang perlu ia jaga.

John mengambil ponselnya dan menghubungi kembali orang kepercayaannya. Begitu panggilan tersambung, ia berkata tegas, "Aku ingin kau tetap mengawasi Nadira, pastikan dia aman. Jika ada siapa pun yang berusaha memaksanya lagi, jangan ragu untuk mengambil tindakan."

Suara dari seberang sana mengiyakan instruksi John, membuatnya sedikit tenang. Setelah menutup telepon, John meletakkan ponselnya dengan helaan napas panjang. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa ia sampai sejauh ini untuk melindungi Nadira. Namun, bagian dari dirinya tahu jawabannya, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti gadis itu, apa pun risikonya.

***

Di ruang kerja rumah Beno, pria yang ditugaskan membawa pulang Nadira berdiri dengan gelisah, sesekali melirik ke arah majikannya yang tengah duduk sambil menatapnya tajam. Dengan nada sedikit tertahan, ia mulai melaporkan kejadian siang tadi, "Maaf, Tuan. Saya sudah mencoba membawa pulang Nona Nadira seperti yang Anda perintahkan. Namun... ada seseorang yang tiba-tiba menghentikan saya."

Beno mengerutkan keningnya. "Seseorang? Maksudmu ada yang ikut campur?" tanyanya dengan nada tak sabar.

Pria itu mengangguk cepat, "Benar, Tuan. Saya perhatikan orang itu memang berada di sekitar Nona Nadira sejak awal, seperti sedang mengawasinya. Waktu saya mulai memaksa Nona Nadira, dia langsung mendekat dan mengancam. Bahkan setelah saya meninggalkan Nona Nadira, dia menghampiri saya dan memperingatkan saya untuk tidak mencoba lagi atau dia tidak akan tinggal diam."

Beno mendengus, wajahnya berubah menjadi semakin dingin. "Jadi, Nadira punya pelindung sekarang?" gumamnya setengah mencibir. Ia lalu menatap pria itu tajam, ekspresinya penuh kemarahan yang mulai tersulut, "Apa kau tahu siapa dia? Apa dia sengaja ditugaskan untuk melindungi Nadira?"

Pria itu menggeleng, "Saya tidak tahu, Tuan. Tapi dari sikapnya, dia terlihat sangat serius melindungi Nona Nadira. Dan dari cara dia mengawasi, sepertinya dia memang sudah ditugaskan untuk itu."

Beno menyandarkan tubuhnya di kursi, matanya menyipit penuh perhitungan. "Menarik. Jadi, ada yang menganggap Nadira pantas dilindungi sedemikian rupa. Baiklah." Ia terdiam sejenak, seakan mencerna informasi tersebut, sebelum akhirnya berkata dengan nada dingin, "Kita akan lihat siapa yang berani campur tangan. Untuk sementara, biarkan saja. Tapi jangan sampai lengah. Lihat bagaimana perkembangannya, dan laporkan semuanya padaku."

Pria itu mengangguk hormat, mengerti bahwa majikannya punya rencana lain. Tanpa berkata lebih lanjut, ia mundur keluar dari ruangan, meninggalkan Beno yang kembali tenggelam dalam pikirannya, kini penuh dengan kemarahan dan strategi baru.

Setelah kepergian pria itu, ruang kerja Beno menjadi sunyi, Beno duduk termenung, memandang kosong ke arah foto tua pernikahannya dengan ibu Nadira. Ia bergumam sendiri, seakan berbicara pada sosok dalam foto itu.

“Kenapa aku harus menikah denganmu?” desis Beno dengan nada rendah, penuh penyesalan. “Padahal kau tahu aku mencintai Sandra. Tapi kau meminta orang tuamu untuk menikahkan kita dengan dalih aliansi bisnis. Kau pikir bisa memiliki aku sepenuhnya jika menikah denganku? Naif!”

"Brakk..!"

Ia melemparkan foto itu ke meja dengan kasar, lalu bersandar, memejamkan mata sejenak. Kenangan masa lalu mulai bermunculan, wajah ibu Nadira yang selalu tersenyum, penuh perhatian, dan penuh kasih padanya.

“Aku tahu kau mencintaiku, tapi apa gunanya? Aku tak pernah bisa membalas cintamu itu,” gumam Beno lagi, suaranya lebih lembut namun getir. “Apa yang kau harapkan dari seorang suami yang bahkan tak pernah menginginkan pernikahan ini?”

Ia mendesah panjang, seolah menyingkirkan beban di dadanya, lalu kembali bergumam, “Meski kau mencintaiku… aku hanya ingin Sandra. Selalu hanya Sandra. Bahkan setelah kita menikah, aku terus bersamanya di belakangmu. Kau tahu itu, 'kan?”

Beno tertawa pahit, mengingat betapa sering ia mengabaikan istrinya demi bertemu Sandra. Seketika, matanya beralih pada foto Nadira di meja. Pandangan sinis menghiasi wajahnya.

“Dan kau, Nadira… kau hanya pengingat betapa pernikahan ini menghancurkan hidupku,” katanya pelan, suaranya penuh rasa jijik dan dingin. “Kau sama seperti ibumu, penghalang yang membuatku terperangkap dalam permainan keluarga yang kejam ini.”

Beno menggelengkan kepala sambil tertawa hambar, “Kau pikir aku akan membiayai kuliahmu? Memerhatikanmu? Aku tak akan pernah memberikan apapun padamu. Hanya karena harta ibumu yang membuatmu masih di sini.”

Lalu ia bergumam pelan namun penuh dendam, “Sekarang, dengan kau ada, kenapa tidak? Setidaknya kau bisa memberi keuntungan bagiku. Kalau ada pengusaha yang menyukai gadis muda, kenapa aku harus menolak? Kau tak pernah berarti untukku, Nadira. Tidak pernah.”

Ia memalingkan wajah, seakan tak sudi melihat foto putrinya lebih lama lagi. Foto Nadira dan ibunya masih terpajang di ruang kerja Beno, bukan karena kenangan indah, tetapi sebagai simbol luka dan dendam. Pernikahan yang dipaksakan oleh keluarganya telah membuat Beno merasa terjebak, dan foto itu mengingatkannya pada cinta yang tak pernah ia inginkan. Meski tak pernah peduli pada Nadira, Beno membiarkan foto itu di sana, sebagai sebuah pembenaran bagi dirinya untuk mengabaikan warisan cinta yang dianggapnya sebagai beban.

Setiap kali memandang wajah ibunya Nadira di foto itu, ia merasa dipenuhi rasa sakit, namun juga kepuasan tersendiri karena mengabaikan warisan cinta yang tak pernah ia inginkan. Setiap kali melihat foto tersebut, perasaan benci dan dendamnya muncul kembali, menguatkan tekadnya untuk terus mengabaikan Nadira. Sungguh ironi, bukan? Foto itu dipajang bukan karena dicintai, tapi dibenci.

***

John menatap gelas di tangannya, cairan bening beraroma khas menguar tipis. Ia meneguknya perlahan, bukan untuk mabuk atau menghilangkan penat, tapi sekadar mengingat masa lalu di negara asalnya. Ia bergumam pelan, “Aku tahu ini tak baik untuk kesehatan, tapi… sudah terlalu terbiasa sejak di negara asalku.” Ia menarik napas panjang, lalu meneguknya lagi perlahan.

Di satu sisi, ia merasa lega karena tidak terlalu kecanduan, hanya ingin menikmati sesekali saja. “Untunglah aku masih bisa mengendalikan diri,” batinnya, seolah meyakinkan diri bahwa kebiasaan ini tak akan membawanya terlalu jauh.

John duduk santai di ruang tamu, masih memegang gelas minumannya. Saat mendengar pintu terbuka, ia menoleh, dan melihat Nadira masuk dengan senyum cerah yang entah mengapa selalu menyegarkan suasana.

...🍁💦🍁...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

Beno sll mengabaikan nadira krn kehadirannya tidak diinginkan dan beno tega skl menjual nadira kpd rekan bisnisnya....

Nadira skrg ada bodyguardnya yg menjaga dan melindunginya nadira dlm bahaya....

om john sll menyangkal tidak peduli sm nadira akhirnya sudah terlalu jauh msk dlm kehidupan nadira pgn menjaga dan melindungi nadira.....

lanjut thor
semangat sll dan sehat sll......

2024-11-22

5

Dewi S Ayunda

Dewi S Ayunda

eh beno. yg naif kamu,suatu saat bakal nyeesel udah sia²in ank sndri. klo gk suka ibunya.knp d hamilin. heran. kaum adam mah gitu.bilang gk cinta gk syg.tp d garap jg itu ladang sepetak.helowww.situ waras!!

2024-11-23

2

Septya Tya

Septya Tya

senyumannya Nadira bs menghipnotis dan menyegarkan John, pasti lma2 jg bs mencairkn hati John yg dingin dn menumbuhkan rasa sayang cinta

2024-11-23

1

lihat semua
Episodes
1 1. Yang Pertama
2 2. Menunggu
3 3. Kebohongan
4 4. Sementara
5 5. Kepedulian Dibalik Sikap Dingin
6 6. Heran
7 7. Perasaan yang Terusik
8 8. Menahan Rasa
9 9. Tak Pernah Tega
10 10. Pria Misterius
11 11. Dibenci
12 12. Pengakuan
13 13. Terulang Lagi
14 14. Rasa Penasaran
15 15. Warna Baru
16 16. Sebuah Ancaman
17 17. Nekat
18 18. Benar-benar Cemburu
19 19. Gejolak Hati Dibalik Pelukan
20 20. Tantangan
21 21. Menemani
22 22. Membalikkan Keadaan
23 23. Gara-gara Baju Kotor
24 24. Ocehan Angga
25 25. Rencana Licik
26 26. Perasaan Campur Aduk
27 27. Sesuatu yang Membuat Penasaran
28 28. Aku Kalah
29 29. Dimanjakan
30 30. Pembuat Masalah
31 31. Semakin Iri
32 32. Gagal
33 33. Menjengkelkan Tapi Menyenangkan
34 34. Kejujuran John
35 35. Saran Sahabat
36 36. Lamaran
37 37. Tak Ingin Memaksa
38 38. Enggan Pulang
39 39. Sekadar Memberitahu
40 40. Sejak Semalam
41 41. Para Sahabat John
42 42. Kepribadian Rian yang Kontras
43 43. Manggil Apa?
44 44.Ingin Mengacau
45 45. Mengajukan Cuti
46 46. Staf administrasi
47 47. Momen Bahagia
48 48. Pesta Spesial
49 49. Menonton
50 50. Malam Setelah Janji Suci
51 51.Memasang Umpan
52 52. Kejutan
53 53. Tak Percaya
54 54. Sasha Akan Beraksi
55 55. Celah
56 56. Sebuah Kebetulan
57 57. Curiga
58 58. Diskusi
59 59. Menyembunyikan
60 60. Nadira ke Kantor John
61 61. Hadiah
62 62. Nadira Tahu
63 63. Tanpa Solusi
64 64. Nadira Pulang
65 65. Tak Mampu Berkata
66 66. Rahasia yang Terkuak
67 67. Rencana John dan Para Sahabatnya
68 68. Ingin Mengambil Kembali
69 69. Perang Strategi
70 70. Ditangkap
71 71. Kesempatan
72 Dosa yang Kucintai
Episodes

Updated 72 Episodes

1
1. Yang Pertama
2
2. Menunggu
3
3. Kebohongan
4
4. Sementara
5
5. Kepedulian Dibalik Sikap Dingin
6
6. Heran
7
7. Perasaan yang Terusik
8
8. Menahan Rasa
9
9. Tak Pernah Tega
10
10. Pria Misterius
11
11. Dibenci
12
12. Pengakuan
13
13. Terulang Lagi
14
14. Rasa Penasaran
15
15. Warna Baru
16
16. Sebuah Ancaman
17
17. Nekat
18
18. Benar-benar Cemburu
19
19. Gejolak Hati Dibalik Pelukan
20
20. Tantangan
21
21. Menemani
22
22. Membalikkan Keadaan
23
23. Gara-gara Baju Kotor
24
24. Ocehan Angga
25
25. Rencana Licik
26
26. Perasaan Campur Aduk
27
27. Sesuatu yang Membuat Penasaran
28
28. Aku Kalah
29
29. Dimanjakan
30
30. Pembuat Masalah
31
31. Semakin Iri
32
32. Gagal
33
33. Menjengkelkan Tapi Menyenangkan
34
34. Kejujuran John
35
35. Saran Sahabat
36
36. Lamaran
37
37. Tak Ingin Memaksa
38
38. Enggan Pulang
39
39. Sekadar Memberitahu
40
40. Sejak Semalam
41
41. Para Sahabat John
42
42. Kepribadian Rian yang Kontras
43
43. Manggil Apa?
44
44.Ingin Mengacau
45
45. Mengajukan Cuti
46
46. Staf administrasi
47
47. Momen Bahagia
48
48. Pesta Spesial
49
49. Menonton
50
50. Malam Setelah Janji Suci
51
51.Memasang Umpan
52
52. Kejutan
53
53. Tak Percaya
54
54. Sasha Akan Beraksi
55
55. Celah
56
56. Sebuah Kebetulan
57
57. Curiga
58
58. Diskusi
59
59. Menyembunyikan
60
60. Nadira ke Kantor John
61
61. Hadiah
62
62. Nadira Tahu
63
63. Tanpa Solusi
64
64. Nadira Pulang
65
65. Tak Mampu Berkata
66
66. Rahasia yang Terkuak
67
67. Rencana John dan Para Sahabatnya
68
68. Ingin Mengambil Kembali
69
69. Perang Strategi
70
70. Ditangkap
71
71. Kesempatan
72
Dosa yang Kucintai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!