16. Sebuah Ancaman

Hari itu John kembali pulang larut malam dan menemukan Nadira tertidur di sofa lagi, dan seperti sebelumnya, John menggendongnya ke kamar. John menatap Nadira yang terbaring tenang di atas tempat tidurnya, wajahnya tampak damai namun tak terawat, seperti gadis yang terlalu sibuk dengan hal-hal lain daripada dirinya sendiri. Sejenak ia merasa geli sekaligus khawatir.

"Gadis ini tidak pernah memanjakan dirinya, selalu mengabaikan penampilan, bahkan setelah aku memberikannya kartu ATM dengan saldo yang cukup besar. Semua uang itu sepertinya benar-benar hanya ia pakai untuk kebutuhan sehari-hari apartemen," batinnya John mengamati wajah dan kulit kusam Nadira.

“Kenapa sih, kamu nggak beli sesuatu buat diri sendiri, Nadira?” gumam John pelan, nyaris seperti membisikkan pada dirinya sendiri. Ia teringat betapa sering ia ingin mengatakan ini padanya, menyuruhnya membeli skincare, pakaian yang lebih layak, atau bahkan mengganti laptop tuanya yang tampak hampir rusak. Tapi tiap kali niat itu muncul, ia merasa ragu. Takut Nadira akan salah paham, mengira perhatian kecil itu sebagai tanda ketertarikannya.

Padahal, kalau ia jujur, memang ada perasaan berbeda setiap kali melihat gadis itu. Meski ia berusaha menekannya, sulit baginya untuk terus berpura-pura tidak peduli. Dalam hati, ia ingin Nadira tahu bahwa ia berharga. Namun, dengan beragam perasaan yang bergejolak, ia kembali hanya bisa menghela napas panjang, menekan semua yang ingin ia ungkapkan.

"Kenapa kamu bikin semuanya jadi rumit, Nadira?" lirihnya, mengusap wajahnya sendiri seolah mencari ketenangan.

***

Dalam perjalanan menuju toko alat tulis, Nadira menaiki ojek dengan santai sambil menikmati pemandangan jalanan. Namun, pandangannya tiba-tiba tertuju pada seseorang yang tak asing, John, sedang berdiri di pinggir jalan dengan wajah serius, menatap ponselnya. Mobilnya tampak terparkir di dekatnya, sepertinya mogok. Namun yang membuat Nadira terkejut dan merasa tak nyaman adalah kehadiran seorang wanita di samping John, dengan lembut menyeka keringat di dahinya.

Nadira mengerutkan alis, merasa ada sesuatu yang menusuk di dadanya. Ada rasa tak suka yang tak bisa ia jelaskan. "Apa-apaan ini?" gumamnya, mencoba berpikir bahwa mungkin ia hanya salah paham atau berlebihan. Tapi hatinya tak bisa menepis perasaan kesal yang muncul. Ia pun terus memandangi pemandangan itu dari kejauhan dengan tatapan yang penuh rasa cemburu, meski dirinya sendiri tak mengerti mengapa hal itu begitu mengganggunya.

Malam sudah menyelimuti bumi. Nadira sedang berjalan sendirian di jalan yang agak sepi, langkahnya terburu-buru. Jalan itu biasanya tidak ramai pada jam ini, dan lampu jalan yang remang menambah kesan sunyi. Tiba-tiba, seseorang muncul dari gang kecil di depannya, menghadang jalannya. Nadira mendongak dan mengenali pria itu, salah satu anak buah Beno yang beberapa waktu lalu menghadangnya.

Wajah kaku dan tatapan dingin pria itu cukup membuatnya waspada, tapi Nadira menahan diri, tetap berdiri dengan tenang. Nadira berdiri tegak di jalan yang sepi itu, meski dadanya berdebar keras. Rasa takut perlahan muncul di sudut pikirannya, apalagi dengan kehadiran pria suruhan ayahnya ini. Nadira tahu ia sendirian di tempat yang cukup terpencil; satu gerakan dari pria itu saja sudah cukup untuk memaksanya pergi, dan mungkin ia tak akan bisa melawan.

"Nona Nadira," ucap pria itu dengan nada memerintah. "Sudah terlalu lama Anda diluar. Tuan Beno ingin Anda segera pulang."

Namun, Nadira menegakkan bahunya, mencoba menutupi ketakutannya dengan keberanian yang ia paksakan. Nadira bergeming. Mata tajamnya menatap langsung ke arah pria itu, sorotnya penuh amarah dan keteguhan. Tanpa ragu, ia berkata dengan nada yang dingin namun tegas, "Katakan pada majikanmu, jika dia bersikeras ingin mengatur hidupku, atau berniat mencelakaiku, maka aku akan menuntut hakku atas harta ibuku."

Anak buah Beno terkejut, tak menyangka akan mendengar hal ini dari Nadira. Ekspresinya berubah sesaat, menunjukkan rasa takut yang tak bisa disembunyikan. Pria itu berusaha tetap tenang, tetapi jelas ancaman ini adalah hal serius yang tak bisa diabaikan.

Nadira melanjutkan, nada suaranya semakin rendah dan tajam dan penuh ancaman. "Dia tahu, 'kan, jika aku mati, harta itu akan jatuh ke pemerintah? Jadi, jangan pernah ganggu hidupku lagi. Sampaikan pada majikanmu, kalau dia ingin aku tetap tenang, lebih baik dia menjauh dariku." Nadira menatapnya tanpa ragu, menunggu respons pria itu, seolah memastikan bahwa pesannya akan tersampaikan.

Pria itu terdiam, ekspresinya menunjukkan keterkejutan yang samar, namun Nadira bisa melihat sedikit keraguan di matanya. Itu cukup untuknya, setidaknya, ia berharap kata-katanya bisa mengguncang sedikit keputusan ayahnya.

Nadira juga berharap ancaman itu cukup membuat pria itu mundur, tapi dalam hatinya, ketakutan terus menyeruak. Ia berharap tak perlu berhadapan lagi dengan ayahnya atau anak buahnya, berharap kata-kata tajamnya cukup untuk membuat pria itu tidak menekan lebih jauh.

Pria itu menatapnya beberapa detik lagi, sebelum akhirnya berbalik tanpa mengatakan apa pun. Nadira menahan napas sampai sosok pria itu menghilang di kegelapan, dan akhirnya, ia bisa menghela napas lega. Namun, ketakutan dan kecemasan masih menggantung di dadanya, berharap ancamannya benar-benar membuat ayahnya mundur untuk selamanya.

Nadira melanjutkan langkahnya dengan hati-hati, masih waspada setelah insiden tadi. Di dalam benaknya, ia bergumam, mencoba merasionalisasi pilihannya. "Jika aku benar-benar berusaha merebut hak atas harta ibuku, pria itu (ayah Nadira) pasti tidak akan tinggal diam," Ia menggumam pelan, menenangkan dirinya sendiri di tengah sepinya malam.

Ia tahu betapa liciknya ayahnya dalam mempertahankan kekayaan dan pengaruhnya. Ayahnya tidak akan segan-segan mengambil tindakan ekstrem untuk menjaga reputasinya, apalagi jika Nadira mulai bertindak untuk mengambil kembali hak ibunya.

"Tapi… jika aku hanya memberikan ancaman seperti tadi, mungkin itu akan cukup. Mungkin dia akan melepaskanku," pikirnya dengan harap-harap cemas. Ancaman tadi terasa sebagai satu-satunya senjatanya untuk bertahan, tetapi ada ketakutan dalam hatinya, membayangkan jika ayahnya berubah pikiran dan berusaha mengendalikannya kembali.

Ia mendesah, menyadari betapa rumit posisinya saat ini. Namun, ia terus melangkah dengan tekad yang terpatri kuat, berusaha untuk menjalani hidupnya tanpa bayang-bayang kekuasaan ayahnya. Meski takut, Nadira tetap berharap ancamannya cukup untuk membuatnya bebas dari kendali ayahnya.

"Aku berharap pria itu akan memilih tak mengusik aku agar kami sama-sama tenang," gumam Nadira lirih, menatap jalan sepi di depannya. Angin malam menerpa wajahnya yang masih menyiratkan ketegangan dari kejadian tadi.

Langkah kakinya perlahan melambat, dan ia merasakan hati kecilnya bergejolak, antara rasa takut dan harapan. "Jika dia bisa membiarkan aku hidup dengan damai… mungkin aku juga bisa melupakan semua ini, hidup tanpa bayang-bayang masa lalu." Tapi ia tahu, itu hanya harapan yang bisa saja tak pernah terjadi.

Nadira menggigit bibirnya, mencoba menenangkan diri. Ia tahu bahwa pilihannya mungkin saja akan menimbulkan bahaya, tetapi hanya dengan ancaman seperti itu ia berharap ayahnya akan menjauh, agar keduanya bisa hidup tanpa saling mengganggu.

Nadira tahu bahwa ada beberapa orang kepercayaan keluarga ibunya yang bisa ia mintai bantuan jika ia memutuskan untuk merebut kembali harta peninggalan ibunya. Namun, ia sadar bahwa langkah itu tidak akan mudah dan penuh risiko. Tekanan dari ayah, ibu tiri, dan saudara tirinya bisa semakin mengancam hidupnya.

Karenanya, Nadira memilih untuk melepaskan haknya atas harta tersebut. Yang ia inginkan hanyalah hidup tenang, jauh dari gangguan mereka. Dalam hatinya, ia berharap keputusannya ini cukup untuk membuat ayah dan keluarganya berhenti mengejarnya.

"Aku harus tetap berada di sisi Om John, supaya aku bisa mendapatkan perlindungan darinya," gumam Nadira dengan tekad yang bulat. Namun sesaat, Nadira menghela napas panjang. "Apa sebenarnya perasaanku pada Om John? Apakah aku benar-benar ingin tetap di sisinya untuk mendapatkan perlindungan, atau karena aku... jatuh cinta padanya?" pikirnya, bingung dengan perasaan yang mulai tumbuh dalam hatinya.

...🍁💦🍁...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

Bagus nadira jgn takut bertindaklah tegas akan merebut kembali harta ibunya yg dirampas ayahmu itu dan lawan hrs berani melawan.....

Sebaiknya jujur sm om john nadira tentang masalah pribadimu agar om bule bs menjaga dan melindungi dr sibeno yg jahat dan licik itu....

om bule lg bingung dgn perasaannya pdhal telah jatuh cinta sm nadira tapi sll membohongi dirinya sendiri...
lanjut thor.....

2024-11-24

4

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

sebaiknya nadira menghubungi orang-orang ibunya untuk berjaga-jaga. sambil tetap bertahan bersama jhon.

2024-11-24

3

Anitha Ramto

Anitha Ramto

si John bikin rumit sendiri

2024-11-24

4

lihat semua
Episodes
1 1. Yang Pertama
2 2. Menunggu
3 3. Kebohongan
4 4. Sementara
5 5. Kepedulian Dibalik Sikap Dingin
6 6. Heran
7 7. Perasaan yang Terusik
8 8. Menahan Rasa
9 9. Tak Pernah Tega
10 10. Pria Misterius
11 11. Dibenci
12 12. Pengakuan
13 13. Terulang Lagi
14 14. Rasa Penasaran
15 15. Warna Baru
16 16. Sebuah Ancaman
17 17. Nekat
18 18. Benar-benar Cemburu
19 19. Gejolak Hati Dibalik Pelukan
20 20. Tantangan
21 21. Menemani
22 22. Membalikkan Keadaan
23 23. Gara-gara Baju Kotor
24 24. Ocehan Angga
25 25. Rencana Licik
26 26. Perasaan Campur Aduk
27 27. Sesuatu yang Membuat Penasaran
28 28. Aku Kalah
29 29. Dimanjakan
30 30. Pembuat Masalah
31 31. Semakin Iri
32 32. Gagal
33 33. Menjengkelkan Tapi Menyenangkan
34 34. Kejujuran John
35 35. Saran Sahabat
36 36. Lamaran
37 37. Tak Ingin Memaksa
38 38. Enggan Pulang
39 39. Sekadar Memberitahu
40 40. Sejak Semalam
41 41. Para Sahabat John
42 42. Kepribadian Rian yang Kontras
43 43. Manggil Apa?
44 44.Ingin Mengacau
45 45. Mengajukan Cuti
46 46. Staf administrasi
47 47. Momen Bahagia
48 48. Pesta Spesial
49 49. Menonton
50 50. Malam Setelah Janji Suci
51 51.Memasang Umpan
52 52. Kejutan
53 53. Tak Percaya
54 54. Sasha Akan Beraksi
55 55. Celah
56 56. Sebuah Kebetulan
57 57. Curiga
58 58. Diskusi
59 59. Menyembunyikan
60 60. Nadira ke Kantor John
61 61. Hadiah
62 62. Nadira Tahu
63 63. Tanpa Solusi
64 64. Nadira Pulang
65 65. Tak Mampu Berkata
66 66. Rahasia yang Terkuak
67 67. Rencana John dan Para Sahabatnya
68 68. Ingin Mengambil Kembali
69 69. Perang Strategi
70 70. Ditangkap
71 71. Kesempatan
72 Dosa yang Kucintai
Episodes

Updated 72 Episodes

1
1. Yang Pertama
2
2. Menunggu
3
3. Kebohongan
4
4. Sementara
5
5. Kepedulian Dibalik Sikap Dingin
6
6. Heran
7
7. Perasaan yang Terusik
8
8. Menahan Rasa
9
9. Tak Pernah Tega
10
10. Pria Misterius
11
11. Dibenci
12
12. Pengakuan
13
13. Terulang Lagi
14
14. Rasa Penasaran
15
15. Warna Baru
16
16. Sebuah Ancaman
17
17. Nekat
18
18. Benar-benar Cemburu
19
19. Gejolak Hati Dibalik Pelukan
20
20. Tantangan
21
21. Menemani
22
22. Membalikkan Keadaan
23
23. Gara-gara Baju Kotor
24
24. Ocehan Angga
25
25. Rencana Licik
26
26. Perasaan Campur Aduk
27
27. Sesuatu yang Membuat Penasaran
28
28. Aku Kalah
29
29. Dimanjakan
30
30. Pembuat Masalah
31
31. Semakin Iri
32
32. Gagal
33
33. Menjengkelkan Tapi Menyenangkan
34
34. Kejujuran John
35
35. Saran Sahabat
36
36. Lamaran
37
37. Tak Ingin Memaksa
38
38. Enggan Pulang
39
39. Sekadar Memberitahu
40
40. Sejak Semalam
41
41. Para Sahabat John
42
42. Kepribadian Rian yang Kontras
43
43. Manggil Apa?
44
44.Ingin Mengacau
45
45. Mengajukan Cuti
46
46. Staf administrasi
47
47. Momen Bahagia
48
48. Pesta Spesial
49
49. Menonton
50
50. Malam Setelah Janji Suci
51
51.Memasang Umpan
52
52. Kejutan
53
53. Tak Percaya
54
54. Sasha Akan Beraksi
55
55. Celah
56
56. Sebuah Kebetulan
57
57. Curiga
58
58. Diskusi
59
59. Menyembunyikan
60
60. Nadira ke Kantor John
61
61. Hadiah
62
62. Nadira Tahu
63
63. Tanpa Solusi
64
64. Nadira Pulang
65
65. Tak Mampu Berkata
66
66. Rahasia yang Terkuak
67
67. Rencana John dan Para Sahabatnya
68
68. Ingin Mengambil Kembali
69
69. Perang Strategi
70
70. Ditangkap
71
71. Kesempatan
72
Dosa yang Kucintai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!