BAB 11 - Migrain

Besok-besok katanya, Faaz terlalu cepat bahagia sampai lupa bahwa yang di sisinya adalah Ganeeta, jelas tidak akan bersedia berubah secepat itu.

Dia menjawab demikian hanya karena tidak ingin Faaz lanjut bicara, bukan karena benar ingin berubah.

Tak menyerah, mumpung masih hangat-hangatnya Faaz kembali mencoba untuk melunakkan hati istrinya.

"Besok-besok tu kapan?"

"Ehm, habis besok besoknya lagi, gitu terus sampai aku mau," jawab Ganeeta tanpa keraguan dan di sini dia memperlihatkan ketidaksiapannya untuk menutup aurat.

Faaz menghela napas kasar, untuk bagian ini tampaknya memang tidak mudah sama sekali. "Kenapa begitu?"

"Kenapa ya?" Ganeeta tampak berpikir, kali ini dia tidak akan bercanda dan memberanikan diri untuk mengungkapkan opini sesuai dengan kata hatinya. "Aku merasa belum pantas saja," ucapnya kemudian.

"Belum pantas?"

Ganeeta mengangguk, wajahnya seketika berubah serius sebelum kemudian lanjut bicara.

"Apa yang membuatmu merasa belum pantas?"

"Aih, masih saja bertanya ... padahal tanpa kujelaskan harusnya tahu."

"Mas ingin dengar langsung dari mulutmu, bisa dijelaskan kenapa?"

"Menurutku hijab itu beban, tidak sedikit manusia suci di dunia ini yang menjadikan hijab sebagai tolak ukur kesempurnaan seseorang," ucapnya disertai helaan napas panjang.

Tentu saja pernyataan Ganeeta tersebut membuat Faaz mengerutkan dahi."Kenapa kamu bisa berpikir begitu?"

"Memang faktanya begitu ... seseorang yang menggunakan hijab seakan tidak boleh berbuat kesalahan, salah sedikit saja hijabnya langsung dibawa-bawa."

"Contohnya?"

"Banyak, di lingkungan sekitar saja sering aku mendengar komentar negatif terhadap muslimah yang menggunakan hijab ... 'Padahal pakai hijab, tapi mulutnya tidak terdidik.' 'Percuma berhijab kalau masih gini-gitu.' 'Pakai hijab cuma nutupin rambut, hatinya tidak.' dan masih banyak lagi," cerocos Ganeeta yang sebenarnya membagikan pengalaman pribadi.

Bukan sekadar katanya atau membual, tapi Ganeeta memang pernah menerima ucapan-ucapan semacam itu.

Walau memang sudah berlalu, tapi hingga detik ini Ganeeta masih ingat betul bagaimana perlakuan orang-orang padanya beberapa tahun lalu. Kala itu, dia mendapat hukuman dari papinya untuk merasakan kehidupan pesantren dengan harapan bisa berubah.

Namun, di sana dia justru dipertemukan dengan beberapa santri yang cukup problematik dan tidak menyukai kehadirannya. Meski memang tidak semua, tapi beberapa di antara mereka justru membuat Ganeeta tertekan dalam prosesnya.

Ketidaksempurnaan Ganeeta yang memang asal ceplos dan hiperaktif membuatnya dijauhi serta dianggap akan membawa pengaruh buruk. Bahkan, pernah Ganeeta mendengar sendiri teman sekamarnya mengatakan bahwa kelakuan Ganeeta hanya membuat malu kaum muslimah dan ada baiknya dilepas saja.

Kendati begitu, Ganeeta sama sekali tidak mengadu dan menyimpan semua itu sendirian. Karena itulah, pandangan Ganeeta tentang anak-anak pesantren mulai berubah.

Dia tidak sekagum dahulu dan merasa sebagian isinya adalah orang-orang yang sombong dengan ilmu dan amalnya, dengan kata lain merasa ahli surga.

Sejak saat itu pula, Ganeeta yang dulu pilih-pilih teman mulai membuka mata. Tanpa peduli latar belakangnya, Ganeeta akan menganggap orang itu teman selagi menghargainya, termasuk anak-anak nakal yang hidup di jalan raya.

Hingga, puncaknya setelah Om Pras yang dia harapkan akan menjadi pasangan di masa depan itu menikah, Ganeeta semakin dekat dengan mereka bahkan nekat menjalin hubungan bersama Zion sebagai pelampiasan pada awalnya.

Mengingat semua itu, seketika suasana hati Ganeeta mendadak berubah. "Udah ah, jangan bahas ini lagi! Aku muak mendengarnya," ucap Ganeeta kembali membelakangi Faaz demi menyembunyikan mata yang kini berkaca-kaca.

Melihat pemandangan ini, Faaz seketika membuang napas panjang. Tidak ingin suasana hati Ganeeta semakin buruk, Faaz memilih diam dan kembali fokus melanjutkan perjalanan.

Cukup lama keduanya bertahan dalam kebisuan. Hingga tiba di istana megah tersebut, Ganeeta bergegas turun tanpa menunggu dibukakan pintu terlebih dahulu.

Sementara Faaz yang tengah mengenakan sarungnya kembali hanya menggeleng pelan. "Sabar, Faaz ... semua butuh proses, tidak ada yang instan."

Faaz menyabarkan diri sendiri, segera dia meraih kemeja Ganeeta yang tadi tertinggal di mobil sebelum turun.

Tanpa terduga, hal itu justru membuat Khalif - adik iparnya curiga. Dengan tatapan tak terbaca, Ganeeta versi laki-laki itu menghalangi langkah Faaz untuk masuk seketika.

.

.

"Hai, Khalif," saa Faaz baik-baik dan tak ditanggapi sebaliknya.

Alih-alih balik menyapa, Khalif bersedekap dada dan tampak akan melayangkan pertanyaan padanya.

"Aneet nangis, Abang apain?" tanya Khalif langsung pada intinya.

"Menangis?"

"Hem, mascaranya sampai luntur .... pasti diapa-apain."

"Tidak, aku hanya menasihati kakakmu sedikit."

"Nasihat?"

"Iya, nasihat.

Khalif tertawa sumbang, seolah lucu sekali di matanya. "Nasihat katanya," ucap Khalif tak tertuju pada Faaz, melainkan hanya pada dirinya sendiri. "Nasihat apa yang dikasih sampai bajunya harus dilepas? Pasti nasihat me-sum ya?"

Pertanyaannya sungguh di luar dugaan, baik kakak maupun adik sama iyanya, selalu saja curigaan ke arah yang iya-iya hingga membuat Faaz memijat pangkal hidungnya.

"Ngaco, sudah sana belajar," pungkas Faaz kemudian berlalu meninggalkan Khalif yang sebenarnya masih ingin bertanya.

Jika ditanya kenapa, tentu saja karena Faaz tidak kuasa menghadapinya lebih lama. Segera Faaz mempercepat langkah dan mendorong pintu kamar.

Betapa terkejutnya, begitu masuk Faaz disambut pemandangan yang cukup menggoda iman. Dengan posisi telentang di atas tempat tidur, Ganeeta menutupi wajah dengan bantal entah apa tujuannya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan posisi itu. Hanya saja, Ganeeta yang kini hanya mengenakan celana pendek dan bra untuk menutupi aset pentingnya jelas saja membuat Faaz seperti akan gila.

"Huft, apa maksudnya begitu," gumam Faaz seraya menggigit bibir dan perlahan mendekati istrinya.

Tanpa aba-aba, pria itu segera menarik bantal yang Ganeeta gunakan untuk menutup wajahnya.

"Apasih?"

"Dalam rangka apa kamu menyambut kedatangan Mas dalam keadaan hampir telan-jang begini? Hem?"

"Idih, siapa juga yang menyambut kedatangan situ? Memang begini kebiasaanku kalau pulang kuliah," ucap Ganeeta membela diri dan memang tidak sedang mengada-ada.

"Ah, jadi memang kebiasaan begini?"

"Iya, kenapa sih bawel banget?"

"Jelas, kamu berpenampilan begini sementara adik kamu laki-laki yang sedang beranjak remaja ... walaupun kalian sedarah, tapi bukan tidak mungkin menimbulkan syahwat dan itu sama halnya kamu membuka gerbang dosa, Ganeeta."

"Masa sih?"

"Tidak ada yang tidak mungkin, namanya laki-laki."

"Mas juga berarti?"

Tak segera menjawab, Faaz seketika meneguk salivanya.

"Pasti iya."

"Sudah tahu iya, kenapa masih dipakai juga? Sengaja menggoda?"

"Tidak, cuma kalau tergoda bukan salahku ... tapi iman Mas yang lemah," ucap Ganeeta santai saja karena merasa aman dengan keadaannya saat ini.

Faaz yang berada di sisinya seketika kian gelisah dan berakhir ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya segera, sekaligus mendinginkan kepala pasca Ganeeta buat mendidih sebelumnya.

"Awh kepalaku mendadak migrain dibuatnya, tadi pagi histeris saking tidak sudinya kusentuh sekarang mancing-mancing ... apa yang diinginkan anak kecil itu sebenarnya?"

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

Herni Haryani

Herni Haryani

nah... faaz baru juga beberapa hari menghadapi anet sudah migran? gimana papi.cakra n mami.ameera yg udah kurleb 18 gimana ngk stress coba masih untung ngk pada gila ya faaz makanya ke 2 orang tuanya nyerah n angkat tangan mesti gimana lagi dalam menghadapi n mendidiknya,sabar... sabar... sabar n luaskanlah ilmu ikhlas tuk menghadapi anet ya gus.faaz.

2024-11-05

4

resna maydila

resna maydila

kalo datang bulan nya udah beres, lgsg aja mas faaz unboxing, suruh siapa juga dia yg mancing-mancing duluan 🤭🤣🤣🤣

2024-11-05

9

Syakirah Dzaky

Syakirah Dzaky

Sabar faaz , berada di dekat Anet selain menguji kesabaran juga menguji keimanan , jdi harus banyak2 sabar dan Istigfar yah 🤣🤣🤣

2024-11-05

8

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Awal
2 BAB 02 - Perintah, Bukan Penawaran.
3 BAB 03 - Waspada Mode On
4 BAB 04 - Amunisi Pengantin Baru
5 BAB 05 - Mas Faaz ~
6 BAB 06 - Mulai Pagi dengan Istighfar
7 BAB 07 - Malu Semalu-Malunya.
8 BAB 08 - Tanggung Jawab Suamimu
9 BAB 09 - Di Balik Sarung Gus Faaz
10 BAB 10 - Besok Aku Pakai Hijab
11 BAB 11 - Migrain
12 BAB 12 - Menyenangkan Hati Suami
13 BAB 13 - Makasih Saja?
14 BAB 14 - Pacar Semata Wayang
15 BAB 15 - Putuskan Pacarmu!!
16 BAB 16 - Babak Baru, Ujian Lama.
17 BAB 17 - Mumpung LDR
18 BAB 18 - Kita Impas!! - Ganeeta
19 BAB 19 - Bukan Hukuman Biasa
20 BAB 20 - Fitnah Kesekian Kalinya
21 BAB 21 - Cari Uang Ala Ganeeta
22 BAB 22 - Morning Kiss
23 BAB 23 - Aku Sudah Bersuami
24 BAB 24 - Bulan Madu, Yuk
25 BAB 25 - Lagi-Lagi Papi
26 BAB 26 - Tak Ternilai
27 BAB 27 - Mahkota Seorang Wanita
28 BAB 28 - Sambutan Adik Ipar
29 BAB 29 - Kamu Mencintainya? - Faaz
30 BAB 30 - Bukan Salah Takdir
31 BAB 31 - Tidak Seburuk Dugaanmu!!
32 BAB 32 - Kamu Itu Aneh - Faaz
33 BAB 33 - Meresahkan
34 BAB 34 - Orang Sabar Disayang Mertua
35 BAB 35 - Menikahinya Adalah Ibadah - Faaz
36 BAB 36 - Terasa Berbeda
37 BAB 37 - Bukan Salah Jodoh.
38 BAB 38 - Tidak Bisa Ditebak
39 BAB 39 - Haruskah Kurebut?
40 BAB 40 - Seperti Simpanan
41 BAB 41 - Tidak Ada Yang Sempurna
42 BAB 42 - Belum Siap Jadi Oma
43 BAB 43 - Sang Pendusta
44 BAB 44 - Bukan Khayalan
45 BAB 45 - Mendadak Konsultasi
46 BAB 46 - Setua Itu?
47 BAB 47 - Tidak Harus Dia
48 BAB 48 - Janji Ganeeta
49 BAB 49 - Kita Bisa Romantis
50 BAB 50 - Tekad Ganeeta
51 BAB 51 - Di Bawah Selimut
52 BAB 52 - Like A Fireworks
53 BAB 53 - Perang Dunia Ke-3
54 BAB 54 - Sambutan Duka
55 BAB 55 - Terlambat ~
56 BAB 56 - Hanya Rabun
57 BAB 57 - Tidak Sesuci Itu
58 BAB 58 - Bukan Teh Manis Biasa
59 BAB 59 - Seperti Papi
60 BAB 60 - Matanya Jelalatan
61 BAB 61 - Peringatan Faaz
62 BAB 62 - Sangat Peka
63 BAB 63 - Salah Minum Obat?
64 BAB 64 - Menolak Keras LDR
65 BAB 65 - Berakhir di Hotel Bintang Lima
66 BAB 66 - Bukan Sekadar Partner Ranjang
67 BAB 67 - Sad/Happy Ending
68 BAB 68 - Tidak Sebaik Perkiraanmu ~ Faaz
69 BAB 69 - Apa Aku Centil?
70 BAB 70 - Tidak Akan Tinggal Diam
71 BAB 71 - Tarian Pemanggil Suami
72 BAB 72 - Pura-Pura Tidur
73 BAB 73 - Sibuk Jadi Istri
74 BAB 74 - Insting Seorang Lelaki
75 BAB 75 - Tamu Tak diundang
76 BAB 76 - Pemandangan Tak Terduga
77 BAB 77 - Rahasia Besar
78 BAB 78 - Kurang Berbakat
79 BAB 79 - Awal Kehancuran Fandy
80 BAB 80 - Ember
81 BAB 81 - Pantang Dipuji
82 BAB 82 - Takut Ditikung Juga
83 BAB 83 - Akhiri Saja
84 BAB 84 - Dipulangkan Baik-baik
85 BAB 85 - Makan Daging Mauren?
86 Promo Karya Mama Reni - PEMBALASAN ISTRI : AKU YANG DIANGGAP BONEKA
87 BAB 86 - Prahara Apel Bang Mamat
88 BAB 87 - Kejutan Untuk Mami
89 BAB 88 - Misteri Ngidamnya Anet.
90 BAB 89 - Berkah Dari Hongkong!!
91 BAB 90 - Tuhan Maha Tahu
92 BAB 91 - Kalah Saing
93 BAB 92 - Good Job, Mbak Alifah!!
94 BAB 93 - Bukan Santri Biasa
95 BAB 94 - Mendadak Resepsi
96 Promosi Karya Baru - Tawanan Cinta Pria Bayaran (Abimanyu)
97 BAB 95 - Pernikahan Impian
98 BAB 96 - Doa di Ujung Malam
99 BAB 97 - Aku Akan Bertanggung Jawab
100 BAB 98 - Kejutan di Awal Hari
101 BAB 99 - Masih Mau Jadi Istri Mas?
102 BAB 100 - Mas Bukan Pendosa ~ Ganeeta
103 BAB 101 - Aku Percaya ~
104 BAB 102 - Tapi Aku Sakit ~
105 BAB 103 - Mati Rasa?
106 BAB 104 - Dimana Dia?
107 BAB 105 - Deal
108 BAB 106 - Akmal Serius Mode On
109 BAB 107 - Allah Sebaik-baiknya Pelindung
110 BAB 108 - Hidup Segan Mati Tak Mau ~ Ganeeta
111 BAB 109 - Sama Iyanya
112 Visual Cast
113 Promosi Karya Baru
114 BAB 110 - Bukan Pillow Talk Biasa
115 BAB 111 - Kayak Om Faaz
116 BAB 112 - Waktuku Untukmu, Neta.
117 BAB 113 - 99 Persen
118 BAB 114 - Kita, Bukan Mas Saja.
119 BAB 115 - Istri Kecilmu Itu Sudah Dewasa
120 BAB 116 - Tekad Faaz
121 BAB 117 - Tidak Sesabar Itu
122 BAB 118 - Hasil DNA Sebenarnya
123 BAB 119 - Kita Perlu Penjelasan!! ~ Ganeeta
124 BAB 120 - Jangan Gegabah!! ~ Faaz
125 BAB 121 - Dilema Akmal
126 BAB 122 - Mengerti, Tapi Tidak Kumaklumi.
127 BAB 123 - Ada Syaratnya!! ~ Ganeeta
128 BAB 124 - Pulang ke JKT
129 BAB 125 - Tidak Sesederhana Itu
130 BAB 126 - Apapun untuk Anet
131 BAB 127 - Kurang Puas (Sedikit)
132 BAB 128 - I'm Pregnant
133 BAB 129 - Masing-Masing
134 BAB 130 - Pulang ~
135 BAB 131 - Bukan Ngambek Biasa
136 BAB 132 - Hikmah Dibalik Duka
137 BAB 133 - Sentuh Dikit Bereaksi
138 BAB 134 - Astaghfirullah, Istighfar Suamiku.
139 BAB 135 - Tak Terduga
140 BAB 136 - Labil Mode On
141 BAB 137 - TerFaaz-Faaz
142 BAB 138 - Kumat
143 BAB 139 - Tanpa Suami
144 BAB 140 - Takut Karma
145 BAB 141 - Surga yang Kuimpikan (Tamat)
146 BONUS CHAPTER 01
147 Promo Karya Baru - Bukan Pernikahan Biasa (Iqlima)
148 BONUS CHAPTER 02
149 BONUS CHAPTER 03
150 BONUS CHAPTER 04
151 BONUS CHAPTER 05 - Edisi Akmal - Alifah
152 BONUS CHAPTER 06 - Edisi Akmal - Alifah
153 BONUS CHAPTER 07 - Edisi Akmal - Alifah
Episodes

Updated 153 Episodes

1
BAB 01 - Awal
2
BAB 02 - Perintah, Bukan Penawaran.
3
BAB 03 - Waspada Mode On
4
BAB 04 - Amunisi Pengantin Baru
5
BAB 05 - Mas Faaz ~
6
BAB 06 - Mulai Pagi dengan Istighfar
7
BAB 07 - Malu Semalu-Malunya.
8
BAB 08 - Tanggung Jawab Suamimu
9
BAB 09 - Di Balik Sarung Gus Faaz
10
BAB 10 - Besok Aku Pakai Hijab
11
BAB 11 - Migrain
12
BAB 12 - Menyenangkan Hati Suami
13
BAB 13 - Makasih Saja?
14
BAB 14 - Pacar Semata Wayang
15
BAB 15 - Putuskan Pacarmu!!
16
BAB 16 - Babak Baru, Ujian Lama.
17
BAB 17 - Mumpung LDR
18
BAB 18 - Kita Impas!! - Ganeeta
19
BAB 19 - Bukan Hukuman Biasa
20
BAB 20 - Fitnah Kesekian Kalinya
21
BAB 21 - Cari Uang Ala Ganeeta
22
BAB 22 - Morning Kiss
23
BAB 23 - Aku Sudah Bersuami
24
BAB 24 - Bulan Madu, Yuk
25
BAB 25 - Lagi-Lagi Papi
26
BAB 26 - Tak Ternilai
27
BAB 27 - Mahkota Seorang Wanita
28
BAB 28 - Sambutan Adik Ipar
29
BAB 29 - Kamu Mencintainya? - Faaz
30
BAB 30 - Bukan Salah Takdir
31
BAB 31 - Tidak Seburuk Dugaanmu!!
32
BAB 32 - Kamu Itu Aneh - Faaz
33
BAB 33 - Meresahkan
34
BAB 34 - Orang Sabar Disayang Mertua
35
BAB 35 - Menikahinya Adalah Ibadah - Faaz
36
BAB 36 - Terasa Berbeda
37
BAB 37 - Bukan Salah Jodoh.
38
BAB 38 - Tidak Bisa Ditebak
39
BAB 39 - Haruskah Kurebut?
40
BAB 40 - Seperti Simpanan
41
BAB 41 - Tidak Ada Yang Sempurna
42
BAB 42 - Belum Siap Jadi Oma
43
BAB 43 - Sang Pendusta
44
BAB 44 - Bukan Khayalan
45
BAB 45 - Mendadak Konsultasi
46
BAB 46 - Setua Itu?
47
BAB 47 - Tidak Harus Dia
48
BAB 48 - Janji Ganeeta
49
BAB 49 - Kita Bisa Romantis
50
BAB 50 - Tekad Ganeeta
51
BAB 51 - Di Bawah Selimut
52
BAB 52 - Like A Fireworks
53
BAB 53 - Perang Dunia Ke-3
54
BAB 54 - Sambutan Duka
55
BAB 55 - Terlambat ~
56
BAB 56 - Hanya Rabun
57
BAB 57 - Tidak Sesuci Itu
58
BAB 58 - Bukan Teh Manis Biasa
59
BAB 59 - Seperti Papi
60
BAB 60 - Matanya Jelalatan
61
BAB 61 - Peringatan Faaz
62
BAB 62 - Sangat Peka
63
BAB 63 - Salah Minum Obat?
64
BAB 64 - Menolak Keras LDR
65
BAB 65 - Berakhir di Hotel Bintang Lima
66
BAB 66 - Bukan Sekadar Partner Ranjang
67
BAB 67 - Sad/Happy Ending
68
BAB 68 - Tidak Sebaik Perkiraanmu ~ Faaz
69
BAB 69 - Apa Aku Centil?
70
BAB 70 - Tidak Akan Tinggal Diam
71
BAB 71 - Tarian Pemanggil Suami
72
BAB 72 - Pura-Pura Tidur
73
BAB 73 - Sibuk Jadi Istri
74
BAB 74 - Insting Seorang Lelaki
75
BAB 75 - Tamu Tak diundang
76
BAB 76 - Pemandangan Tak Terduga
77
BAB 77 - Rahasia Besar
78
BAB 78 - Kurang Berbakat
79
BAB 79 - Awal Kehancuran Fandy
80
BAB 80 - Ember
81
BAB 81 - Pantang Dipuji
82
BAB 82 - Takut Ditikung Juga
83
BAB 83 - Akhiri Saja
84
BAB 84 - Dipulangkan Baik-baik
85
BAB 85 - Makan Daging Mauren?
86
Promo Karya Mama Reni - PEMBALASAN ISTRI : AKU YANG DIANGGAP BONEKA
87
BAB 86 - Prahara Apel Bang Mamat
88
BAB 87 - Kejutan Untuk Mami
89
BAB 88 - Misteri Ngidamnya Anet.
90
BAB 89 - Berkah Dari Hongkong!!
91
BAB 90 - Tuhan Maha Tahu
92
BAB 91 - Kalah Saing
93
BAB 92 - Good Job, Mbak Alifah!!
94
BAB 93 - Bukan Santri Biasa
95
BAB 94 - Mendadak Resepsi
96
Promosi Karya Baru - Tawanan Cinta Pria Bayaran (Abimanyu)
97
BAB 95 - Pernikahan Impian
98
BAB 96 - Doa di Ujung Malam
99
BAB 97 - Aku Akan Bertanggung Jawab
100
BAB 98 - Kejutan di Awal Hari
101
BAB 99 - Masih Mau Jadi Istri Mas?
102
BAB 100 - Mas Bukan Pendosa ~ Ganeeta
103
BAB 101 - Aku Percaya ~
104
BAB 102 - Tapi Aku Sakit ~
105
BAB 103 - Mati Rasa?
106
BAB 104 - Dimana Dia?
107
BAB 105 - Deal
108
BAB 106 - Akmal Serius Mode On
109
BAB 107 - Allah Sebaik-baiknya Pelindung
110
BAB 108 - Hidup Segan Mati Tak Mau ~ Ganeeta
111
BAB 109 - Sama Iyanya
112
Visual Cast
113
Promosi Karya Baru
114
BAB 110 - Bukan Pillow Talk Biasa
115
BAB 111 - Kayak Om Faaz
116
BAB 112 - Waktuku Untukmu, Neta.
117
BAB 113 - 99 Persen
118
BAB 114 - Kita, Bukan Mas Saja.
119
BAB 115 - Istri Kecilmu Itu Sudah Dewasa
120
BAB 116 - Tekad Faaz
121
BAB 117 - Tidak Sesabar Itu
122
BAB 118 - Hasil DNA Sebenarnya
123
BAB 119 - Kita Perlu Penjelasan!! ~ Ganeeta
124
BAB 120 - Jangan Gegabah!! ~ Faaz
125
BAB 121 - Dilema Akmal
126
BAB 122 - Mengerti, Tapi Tidak Kumaklumi.
127
BAB 123 - Ada Syaratnya!! ~ Ganeeta
128
BAB 124 - Pulang ke JKT
129
BAB 125 - Tidak Sesederhana Itu
130
BAB 126 - Apapun untuk Anet
131
BAB 127 - Kurang Puas (Sedikit)
132
BAB 128 - I'm Pregnant
133
BAB 129 - Masing-Masing
134
BAB 130 - Pulang ~
135
BAB 131 - Bukan Ngambek Biasa
136
BAB 132 - Hikmah Dibalik Duka
137
BAB 133 - Sentuh Dikit Bereaksi
138
BAB 134 - Astaghfirullah, Istighfar Suamiku.
139
BAB 135 - Tak Terduga
140
BAB 136 - Labil Mode On
141
BAB 137 - TerFaaz-Faaz
142
BAB 138 - Kumat
143
BAB 139 - Tanpa Suami
144
BAB 140 - Takut Karma
145
BAB 141 - Surga yang Kuimpikan (Tamat)
146
BONUS CHAPTER 01
147
Promo Karya Baru - Bukan Pernikahan Biasa (Iqlima)
148
BONUS CHAPTER 02
149
BONUS CHAPTER 03
150
BONUS CHAPTER 04
151
BONUS CHAPTER 05 - Edisi Akmal - Alifah
152
BONUS CHAPTER 06 - Edisi Akmal - Alifah
153
BONUS CHAPTER 07 - Edisi Akmal - Alifah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!