Akan selalu Ada

Cahaya melihat Bima yang sedang berjongkok di bawah pohon besar di pinggir jalan, suara hujan mampu meredam tangisnya. Hati Cahaya ikut sakit melihat Bima, di sembunyikannya air mata, kakinya melangkah mendekat kearah bocah berusia enam tahun itu.

"Huhuhu.... Papa jahat...!" Raung Bima sambil memukul lututnya.

Cahaya ikut berjongkok, dia membawa Bima ke dalam pelukannya.

"Lepasin...!" Bima memberontak, tetapi Cahaya mempererat dekapannya.

"Den Bima, kalau dunia Den Bima memang jahat. Mbak akan selalu ada buat den Bima, jangan sedih terlalu lama ya, Den. Meskipun. Mbak baru kenal dan baru ketemu sama Aden, mbak sayang sama Aden dan kapan pun Den Bima butuh mbak, mbak akan siap sedia di samping Den Bima." Ucap Cahaya lembut tepat di telinga Bima.

Bima mengeratkan pelukannya, dia menangis sejadinya di dalam dekapan Cahaya. Baru pertama kalinya ada seseorang yang mampu menenangkannya, rasanya seperti mendapat hal yang berharga.

"Tapi semua orang jahat, aku dikatai anak yatim piatu padahal aku masih punya Papa. Gak ada yang sayang sama Bima, Mbak.. Huhuhu..." Ucap Bima.

Suara tangisnya sangat menyayat hati Cahaya, ternyata tebakannya benar bahwasannya Bima nakal karena banyak luka yang tak pernah ia ceritakan.

"Ada..! Mbak sayang Den Bima, kalau ada yang jahat lagi sama Den Bima, biar mbak yang lawan mereka biarpun harus terluka." Ucap Cahaya dengan tegas.

"Orangtua Bima masih ada, Mbak. Bukan cuma---"

NGUEEENGGGG... BBYUUURRR...

Ucapan Bima tak terdengar begitu jelas, suara bising motor membuat indera pendengaran Cahaya terganggu. Cahaya membalikkan badannya demi melindungi wajah Bima agar tak terkena cipratan air ulah pengendara motor yang lewat, alhasil badan Cahaya pun kotor.

"Den, kita pulang ya." Bujuk Cahaya.

Cahaya mengusap wajah Bima yang terus di hantam air hujan, pandangan anak itu kosong dan hanya anggukan yang Cahaya dapati.

Tubuh Bima melayang di udara, Cahaya menggendongnya seperti bayi koala. Bima hanya mampu mengikut apa yang di lakukan Cahaya, begitu Cahaya melangkahkan kakinya sang supir datang dengan nafas terengah-engah.

"Alhamdulillah, ketemu Den Bimanya ya, nduk." Ucap Pak Maryono.

"Iya, Pak. Den Bima ketemu di bawah pohon, mending kita cepet pulang soalnya kasihan Den Bima kedinginan." Ucap Cahaya.

Pak Maryono mengangguk paham, ia meminta Cahaya menunggu di tempat yang teduh agar tidak kecapean karena posisi mobilnya cukup jauh dari tempat mereka berdiri.

Sambil menunggu Pak Maryono datang, Cahaya berteduh di depan sebuah minimarket, ia memeriksa wajah Bima yang sudah menggigil kedinginan bahkan tangannya juga sudah keriput.

"Sabara ya, Den. Sebentar lagi kita pulang." Ucap Cahaya.

Tak berselang lama, Pak Maryono datang dan Cahaya pun gegas membawa Bima masuk ke dalam mobil.

*

*

Di tempat lain.

Sagara tengah memainkan pulpennya, dia memandangi foto wajah istrinya yang hilang di telan tsunami. Kabar yang di terima banyak korban jiwa, di dalam daftar orang yang selamat pun tidak ada identitas sang istri, sehingga istrinya dinyatakan meninggal dunia.

Mengenai sikapnya kepada sang putra, hanya Sagara lah yang tahu. Selama ini ia sibuk bekerja, dalam pikirannya yang pasti dengan materi tercukupi ia tak harus selalu mendampingi putranya.

Braakkk...

Suara pintu terbuka dengan keras, Sagara cukup tersentak melihat kedatangan ibunya yang tiba-tiba datang dengan wajah kusamnya.

"Kenapa kamu gak datang di acara makan malam kemarin, hah! Mau di taruh dimana muka Mama di hadapan teman Mama, kalau kamu gak mau turun ranjang, kenapa gak ikuti saja perjodohan Mama."Cerocos wanita paruh baya yang sudah melahirkannya itu.

"Aku sibuk." Balas Sagara dingin.

"Sibuk? Sibuk apanya yang sibuk, Sagara Mahardika..! Makan malam gak makan waktu 10 jam, alasannya sibuk terus. Papa kamu aja yang pegang perusahaan besar gak sibuk kayak kamu, meskipun bolak balik ke luar negeri, keluar kota pun dia gak kayak kamu. Baru perusahaan kecil aja banyak gaya..!" Cibir Mahya dengan ketus, dia meremehkan bisnis yang di kelola oleh anaknya sendiri.

Sagara mengepalkan tangannya, dia sudah sangat muak dengan aturan ibunya yang selalu mengedepankan ego dan gengsinya.

"CUKUP!"

Sagara langsung berdiri dari duduknya, dia menatap tajam kearah ibunya yang terkejut akan bentakannya.

"Dari dulu Mama selalu mengaturku, dari dulu juga Mama yang selalu menyudutkan istriku sampai akhirnya Tuhan mengambilnya. Lantas Mama mau apalagi, belum cukup memangnya Mama buat aku sakit, hah?! Mama pikir dengan turun ranjang, orang baru bisa menggantikan sosok istriku? Apa Rachel lebih baik dari kakaknya? Tidak..! Tidak ada satupun yang bisa menggantikan sosok istriku, baik adiknya ataupun yang lainnya." Tekan Sagara yang sudah tak mampu menahan emosinya lagi.

"Dasar anak durhaka, kamu..! Mama lakuin ini juga buat kebaikan kamu juga, memangnya kamu pikir status duda itu bukan aib? Temen-temen sosialita Mama sering ngomongin kamu, Mama malu Saga! MALU..!" Mahya malah semakin menjadi.

PRANNGGG...

Mata Sagara memerah, dia melemparkan vas bunga kecil yang ada di mejanya ke arah lain. Mahya memegangi dadanya karena syok, baru pertama kalinya Sagara berlaku demikian padanya.

"Mama pilih pergi, atau aku yang pergi?!" Usir Sagara menunjuk kearah pintu meminta ibunya keluar.

"Awas kamu, Saga..! Kamu udah berani usir Mama, bakal Mama aduin kamu sama Papa." Ancam Mahya.

"Aku gak peduli." Ucap Sagara.

Mahya menghentakkan kakinya, dia membalikkan tubuhnya dan pergi begitu saja dari hadapan Sagara yang masih terbakut amarah.

Lelah.

Sagara menjatuhkan tubuhnya diatas kursi, kedua tangannya menutupi wajahnya yang sudah memerah menahan tangisnya. Sagara tahu dia sudah berlaku tak sopan pada ibunya, akan tetapi sikap ibunya membuat dirinya benar-benar muak.

Karena sikap Mahya lah yang membuat Sagara tidak mengizinkan Bima berada dalam asuhan ibunya, Mahya memang terlihat menyayangi Bima, akan tetapi di balik itu semua ada sebuah tuntutan dan juga perlakuan kasar yang Bima terima.

Turun ranjang?

Oh ayolah, Sagara tidak mungkin turun ranjang dengan adik dari mendiang istrinya yang ia sendiri tahu bagaimana sikap Rachel.

*

*

Sampai di rumah. Cahaya bergegas memandikan Bima dengan air hangat, tak lupa juga ia meminta Lela untuk menyediakan pakaian Bima. Selama di urus oleh dua pembantunya, Bima diam saja tak mengatakan apapun, hanya tatapan kosong lah yang ia tunjukkan.

Cahaya meminta tolong pada Lela untuk mengurus keperluan Bima terlebih dahulu, dia sendiri membersihkan tubuhnya dan juga mengganti pakaiannya. Cahaya tak bisa langsung membersihkan tubuhnya, Bima merengek tak mau di mandikan oleh siapapun selain Cahaya, ada rasa nyaman dan tak mau jauh dari Cahaya walau baru bertemu. Untuk itulah Cahaya mendahulukan Bima karena khawatir dengan kondisinya, ia takut Bima demam.

Lela membawakan makan siang untuk Bima, tetapi anak itu menolak makanan yang di bawa Lela karena Bima sama sekali tak berselera.

Lela yang tipikal gak mau ambil pusing lebih memilih keluar dari kamar Bima, dia tidak mau menguras tenaganya hanya untuk membujuk Bima yang pada akhirnya dia tahu endingnya bagaimana.

Tok... Tok..

"Den Bima," Panggil Cahaya sambil melongokkan kepalanya ke dalam.

Bima menoleh kearah Cahaya, ia hanya menaikkan satu alisnya pada Cahaya yang di balas dengan senyum cengengesan.

Cahaya pun masuk ke dalam kamar Bima, gadis itu melihat nampan berisikan makanan yang tak di sentuh sama sekali oleh Bima.

"Kenapa makanannya gak di sentuh?" Tanya Cahaya sambil duduk di samping Bima.

Bima tidak menjawabnya, akan tetapi Cahaya menelisik wajahnya yang berbeda dari biasanya. Cahaya menempelkan tangannya di dahi Bima, dan benar saja suhu tubuh Bima panas.

"Badan kamu panas, Den Bima..!" Pekik Cahaya.

"Makan." Lirih Bima dengan mata sayu.

Cahaya membuang nafas kasar, dia menyandarkan kepala Bima ke kepala. Dengan telaten, Cahaya menyuapi Bima meskipun hanya ada makanan yang masuk sedikit.

"Sebentar dulu ya, mbak mau cari obat siapa tahu ada." Ucap Cahaya.

Bima menggelengkan kepalanya, dia menahan tangan Cahaya yang hendak pergi.

"Jangan tinggalin," Mohon Bima.

Tak tega melihat tatapan permohonan Bima, Cahaya mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar Bima, ia memilih menelpon Lela untuk membawakan obat penurun demam.

Bima menggeserkan tubuhnya, ia menyuruh Cahaya duduk di sampingnya. Tangan Cahaya mengelus wajah Bima yang masih merah dan panas, ada rasa iba melihat wajah polos yang banyak luka itu.

Lela datang membawa obat penurun panas untuk anak-anak dan juga segelas air, Cahaya meminta Bima meminum obatnya supaya panasnya turun.

"AC nya matiin," Ucap Bima.

"Ceu, gimana cara matiinnya?" Tanya Cahaya menatap Lela.

Lela meraih remot Ac, ia langsung mematikan Ac nya.

"Pembantu keluar!" Usir Bima pada Lela.

Lela memutar bola matanya jengah, sementara Cahaya juga ikut bangkit karena kata pembantu yang keluar dari mulut Bima, dia pikir Bima mengusirnya juga karena Lela dan dirinya sama-sama pembantu.

"Mbak, mau kemana? Disini aja." Tanya Bima menarik ujung baju Cahaya.

"Loh, katanya keluar?" Bingung Cahaya.

"Itu, yang satunya aja." Jawab Bima.

"Yaudah, Ya. Turutin aja, biar ceu Lela yang turun." Ucap Lela.

Lela pun pergi dari kamar Bima, sedangkan Cahaya kembali duduk bersandar di kepala ranjang dengan Bima yang tidur di sampingnya sambil memegangi jemarinya takut Cahaya pergi.

Terpopuler

Comments

⚡Ran's happy⚡

⚡Ran's happy⚡

good

2025-01-04

0

Sani Srimulyani

Sani Srimulyani

anaknya aja langsung nyaman apalagi ntar bapanya.

2024-11-10

2

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

kayay bima sdh cocok sm cahaya,smg bisa meubah karakter bisma jg sagara

2024-10-13

0

lihat semua
Episodes
1 Hama
2 Tawaran pekerjaan.
3 Berangkat
4 Di usir
5 Akan selalu Ada
6 Demam
7 Pembantu baru
8 Sembuh
9 Gaduh
10 Membela Bima
11 Binar Bahagia
12 Penyesalan Sagara
13 Janji Sagara
14 Dia datang
15 Di balik semua yang terjadi
16 Mengusirnya
17 Nonton
18 Salah tingkah
19 Ghost
20 Editan
21 Pergi bersama
22 Baby Face
23 Beralasan
24 Cemburu
25 Mencari Cahaya dan Bima
26 Menjadi tamu
27 Bukti
28 Sebuah pilihan
29 Menikah
30 Bima bosan
31 Ketakutan Bima
32 Belanja
33 Berdarah
34 Pulang
35 Sagara salah tingkah
36 Bersaing
37 Sagara menangis
38 Keributan di Club
39 Meleleh
40 Mudik
41 Tidak ada peran Kakak
42 Kesempatan
43 Tidur bersama
44 Keinginan Bima
45 Menerkam
46 Pulang kampung
47 Angkasa dan Gadis kurir.
48 Lambe doerrrr
49 Menginap
50 Calon istriku
51 Menggoda Cahaya
52 Pulang
53 Keteguhan Kiki
54 Manusia lumpur
55 Saran Langit
56 Kejutan
57 Lewati bersama
58 Kedatangan tamu
59 Pingsan
60 Rumah sakit
61 Menyesal
62 Bersimpuh
63 Murkanya si bungsu
64 Meeting adik
65 Kritis
66 Syukuran
67 Aliando patah hati
68 Ketegaran Aliando
69 Bertemu Angkasa
70 Gosip
71 Makan siang
72 Rumah sakit
73 Mahya pingsan
74 Penyesalan Relia
75 Logika bergosip
76 Persiapan
77 Rumah baru
78 Memberi pelajaran
79 Menyesal
80 SAH
81 Mempermalukan diri sendiri
82 Nunggang kuda
83 Jatuh ke dalam perangkap sendiri.
84 Kejepit
85 Di pertemukan
86 Kejutan
87 Seekor kupu-kupu
88 Rasa iri
89 Isi pikiran Marshel
90 Rencana
91 Melarikan diri
92 Gila
93 Mencurigakan.
94 Pengakuan Toni
95 Menjalin hubungan baik
96 Lelahnya Rachel
97 Berdiskusi.
98 Jebakan
99 Di amankan
100 Akbar berontak
101 Saling memaafkan
102 Pinta Khanza
103 Mau Papa baru
104 Mak Comblang
105 Kejutan?
106 Kekhawatiran Rizaldy
107 Cahaya ngidam
108 Kiki dan duriannya
109 Keberatan
110 Pahatan luka
111 Mak comblang berjamaah.
112 Akting?
113 Di imbangi
114 Kabar duka
115 Pemakaman
116 Kembali kehilangan
117 Ayo mampiiirrr
118 Melamar
119 Mendampingi
120 menyambut anggota baru
121 Menyambut anggota baru
122 bahagia dan duka
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Hama
2
Tawaran pekerjaan.
3
Berangkat
4
Di usir
5
Akan selalu Ada
6
Demam
7
Pembantu baru
8
Sembuh
9
Gaduh
10
Membela Bima
11
Binar Bahagia
12
Penyesalan Sagara
13
Janji Sagara
14
Dia datang
15
Di balik semua yang terjadi
16
Mengusirnya
17
Nonton
18
Salah tingkah
19
Ghost
20
Editan
21
Pergi bersama
22
Baby Face
23
Beralasan
24
Cemburu
25
Mencari Cahaya dan Bima
26
Menjadi tamu
27
Bukti
28
Sebuah pilihan
29
Menikah
30
Bima bosan
31
Ketakutan Bima
32
Belanja
33
Berdarah
34
Pulang
35
Sagara salah tingkah
36
Bersaing
37
Sagara menangis
38
Keributan di Club
39
Meleleh
40
Mudik
41
Tidak ada peran Kakak
42
Kesempatan
43
Tidur bersama
44
Keinginan Bima
45
Menerkam
46
Pulang kampung
47
Angkasa dan Gadis kurir.
48
Lambe doerrrr
49
Menginap
50
Calon istriku
51
Menggoda Cahaya
52
Pulang
53
Keteguhan Kiki
54
Manusia lumpur
55
Saran Langit
56
Kejutan
57
Lewati bersama
58
Kedatangan tamu
59
Pingsan
60
Rumah sakit
61
Menyesal
62
Bersimpuh
63
Murkanya si bungsu
64
Meeting adik
65
Kritis
66
Syukuran
67
Aliando patah hati
68
Ketegaran Aliando
69
Bertemu Angkasa
70
Gosip
71
Makan siang
72
Rumah sakit
73
Mahya pingsan
74
Penyesalan Relia
75
Logika bergosip
76
Persiapan
77
Rumah baru
78
Memberi pelajaran
79
Menyesal
80
SAH
81
Mempermalukan diri sendiri
82
Nunggang kuda
83
Jatuh ke dalam perangkap sendiri.
84
Kejepit
85
Di pertemukan
86
Kejutan
87
Seekor kupu-kupu
88
Rasa iri
89
Isi pikiran Marshel
90
Rencana
91
Melarikan diri
92
Gila
93
Mencurigakan.
94
Pengakuan Toni
95
Menjalin hubungan baik
96
Lelahnya Rachel
97
Berdiskusi.
98
Jebakan
99
Di amankan
100
Akbar berontak
101
Saling memaafkan
102
Pinta Khanza
103
Mau Papa baru
104
Mak Comblang
105
Kejutan?
106
Kekhawatiran Rizaldy
107
Cahaya ngidam
108
Kiki dan duriannya
109
Keberatan
110
Pahatan luka
111
Mak comblang berjamaah.
112
Akting?
113
Di imbangi
114
Kabar duka
115
Pemakaman
116
Kembali kehilangan
117
Ayo mampiiirrr
118
Melamar
119
Mendampingi
120
menyambut anggota baru
121
Menyambut anggota baru
122
bahagia dan duka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!