Gaduh

Pak Maryono yang sedang menyesap kopi panasnya pun terkejut, ia menyemburkan air kopi dari mulutnya kemudian menatap Cahaya.

"Aduh Neng ngagetin aja," Ucap Pak Maryono.

"Cepetan Pak..!" Desak Yaya menarik tangan Maryono agar segera bangkit dari duduknya.

Maryono lantas berdiri dengan tangan sebelahnya menyambar kunci mobi, Cahaya khawatir Bima kenapa-napa begitu mendapat kabar dari guru Bima. Mobil sudah di nyalakan, Cahaya duduk di samping Paka Maryono dengan perasaan gelisah dan meminta sang supir untuk cepat melajukan mobilnya. Satpam rumah membukakan pintu gerbang, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.

*

*

Sementara itu, di ruang guru ada sekitar 4 orang anak lelaki dengan penampilan acak-acakan tengah menunggu orangtuanya datang.

Bima diam memisahkan diri, saat ini dia sangat butuh Cahaya di sampingnya.

"Bisa kalian jelaskan apa yang sudah terjadi? Kenapa kalian bertengkar saat Miss keluar dari kelas?" Tanya Miss Novi dengan lembut sambil berjongkok menatap keempatnya secara bergantian.

"Mereka yang nakal Miss, padahal Bima tadi sedang melukis bersama Elena, tapi mereka merobek kertas mewarnai Bima dan mengatai Bima anak yatim." Jawab Bima mengatakan apa yang terjadi.

"Apa benar seperti itu?" Tanya Miss Novi kearah tiga bocah yang sudah membentuk satu geng itu.

"Enggak Miss..! Bima duluan yang dorong Aiden, kita berdua cuman menolong Aiden biar gak jatuh, Bima yang nakal Miss."Kilah Javen berbohong.

Bima menyangkal semua ucapan Javen, dia marah karena Javen berbicara bohong kapada gurunya. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api, Bima mengatakan pada Miss Novi bahwasannya Aiden dan kawannya itu meledek dirinya yang tidak punya ibu serta mengolok-olok Bima. Walaupun mereka masih berumur 6 tahun, ucapan mereka semua layaknya orang dewasa karena apa yang mereka ucapa adalah apa yang mereka dengar dari orangtuanya. Ingat..! Anak adalah peniru ulung, mereka akan meniru apa yang di lakukan oleh orangtuanya, memang tidak semua anak berlaku seperti Aiden, tetapi ada beberapa anak yang memang menerapkan apa yang di lakukan oleh orangtuanya itu tergantung dari merekanya sendiri.

"Aiden..!" Ibu Aiden yang berpenampilan glamour dengan sepatu hak tinggi mencolok segera memanggil putranya.

Aiden menghambur ke pelukan ibunya, Ibu Aiden berjongkok memeriksa tubuh putranya takutnya ada yang terluka, ternyata ada sedikit luka cakar di wajahnya.

Bima dan Aiden bertengkar di kelas, awal mulanya adalah Aiden yang merobek kertas Bima yang sedang menggambar bersama Elena. Bima yang melawan 3 anak sekaligus, wajahnya banyak cakaran dan ujung bibirnya robek karena Javen memukulnya dengan botol minum miliknya.

"Huaaa... Anakku terluka..!" Ibu Aiden pun menatap Bima dengan sengit.

"Kau lagi, kau lagi...! Berani sekali kau melukai putraku, hah.!" Ibu Aiden menjewer telinga Bima sampai Bima merintih kesakitan, kali ini dia menangis sambil berusaha melepaskan tangan Ibu Aiden dari telinganya.

"Sakit, lepas .. Huhu.." Bima kesakitan sampai telinga yang di tarik itu memerah.

"HEI, LEPASKAN DEN BIMA..!" Teriak Cahaya segera berlari kearah Bima, dia melepaskan tangan Ibu Aiden secara paksa dan menatapnya dengan tajam.

Cahaya segera memeluk tubuh Bima. Dia memeriksa luka di wajah Bima, hati Cahaya begitu sakit menatap anak asuhnya yang malang.

"Maaf, mbak terlambat." Ucap Cahaya penuh penyesalan.

"Mbak, sakit.." Rintih Bima sambil menangis pilu. Cahaya mengusap punggung Bima, menenangkannya suapaya tangisannya juga mereda.

Ada dua Ibu juga yang datang, mereka adalah Ibu Javen dan Naren. Mereka berdua juga mendapat panggilan dari miss Novi selaku penanggung jawab kelas Bima, keduanya pun memeriksa anaknya yang katanya berantem.

"Miss, mending miss keluarin aja si Bima dari sekolah, lama-lama saya jengkel dengan kelakuannya yang bikin anak saya terluka. Sebagai orangtua saya tidak terima!" Ibu Javen menyeru dengan wajah marah, setiap kali di panggil pasti anaknya berkelahi dengan Bima.

"Ibu-ibu semuanya, mohon tenang ya.. Kita bisa bicarakan ini semua dengan cara baik-baik," Ucap Miss Novi.

"Halaahhh, dengan cara baik gimana? Mosok anak saya harus terluka parah dulu toh, baru si Bima anak bandel itu di keluarin dari sekolah?" Timpal Ibu Naren tak terima.

"Tuh denger, mending si Bima keluar aja dari sekolah ini. Daripada makan korban terus, bilangin sama majikan kamu atau siapapun itu, identitas Bima yang gak jelas ini mending pindah atau keluar sekalian...!" Ucap Ibu Aiden pada Cahaya.

Cahaya melepas pelukannya, dia berdiri dan berbalik menatap Ibu Aiden yang menatapnya dengan jijik.

"Apakah Anda tidak bisa melihat kalau bukan anak kalian saja yang terluka, Den Bima justru lebih parah lukanya dan saya yakin anak-anak kalian pelakunya." Ucap Cahaya tidak terima.

Miss Novi mengajak para wali murid untuk duduk, akan tetapi mereka menolaknya kecuali Cahaya yang duduk bersama Bima.

"Pokoknya, kalau Bima gak di keluarin dari sekolah ini, biar saya tuntut..! Suami saya kan kepala polisi, dengan mudah saya akan berikan surat tuntutan untuk sekolah ini." Ancam Ibu Javen.

Bima menjelaskan kepada Cahaya bahwa dirinya tak bersalah, dengan kesabaran dan juga dengan cermat Cahaya menyimak apa yang di ceritakan oleh Bima.

"Saya mohon, Nyonya. Tolong jangan bawa masalah ini ke jalur hukum, kita bisa bicarakan semuanya baik-baik. Kepala sekolah juga sedang dalam perjalanan menuju kesini, saya mohon kerjasamanya." Ucap Miss Novi.

"Yang salah anak kalian, tapi kenapa yang di sudutkan hanya Den Bima?!" Suara Cahaya naik satu oktaf, dia heran kenapa ibu-ibu itu selalu saja mengusik Bima yang sudah jelas tidak bersalah. Seorang anak itu wajar bukan mempertahankan apa yang menjadi miliknya, tapi kenapa seolah Bima adalah anak yang selalu salah di mata mereka.

"Berani kamu ya, hah! Jelas anak bandel itu yang salah," Ucap Ibu Aiden.

"Apa salah Bima sama kalian, hanya karena gak pernah diantar orangtuanya kalian menilanya dengan sebelah mata. Kalau anak kalian ada di posisi Bima, apa kalian juga akan terima, hah!" Cahaya tak gentar membela anak asuhnya, dia juga ingin tahu mengapa diantara yang lainnya ketiga ibu-ibu itu saja yang selalu saja menggunjing, mengusik, bahkan mengatai Bima sampai di tiru anak-anaknya.

Cahaya yang sudah tak menahan amarahnya pun sampai berdiri, bagaimana bisa ada seorang ibu berlaku demikian.

"Siapa kamu? Beraninya menceramahi kami." Ibu Aiden mendorong tubuh Cahaya sampai hampir oleng, Cahaya menepis tangan ibu Aiden yang hendak mendorong kembali tubuhnya.

Keduanya pun memancarkan aura permusuhan, ibu Aiden yang tak suka melihat Cahaya sok berani di hadapannya pun menjambak rambut Cahaya. Suasana pun menjadi gaduh, Miss Novi berusaha melerai keduanya karena guru yang lainnya masih ada kelas masing-masing, kepala sekolah pun tengah ada urusan dan masih dalam perjalanan.

Terpopuler

Comments

jaran goyang

jaran goyang

gᥲs kᥒ ᥴᥲһᥲᥡᥲ

2024-10-15

1

Indriani Kartini

Indriani Kartini

lawan saja cahaya jangan takut, masa istri seorang polisi kelakuan begitu ga berpendidikn

2024-10-15

0

Wanita Aries

Wanita Aries

Mudahan mereka itu dikeluarkan dari sekolah. Gk tau aja kl bima cucu org terkaya

2024-10-15

0

lihat semua
Episodes
1 Hama
2 Tawaran pekerjaan.
3 Berangkat
4 Di usir
5 Akan selalu Ada
6 Demam
7 Pembantu baru
8 Sembuh
9 Gaduh
10 Membela Bima
11 Binar Bahagia
12 Penyesalan Sagara
13 Janji Sagara
14 Dia datang
15 Di balik semua yang terjadi
16 Mengusirnya
17 Nonton
18 Salah tingkah
19 Ghost
20 Editan
21 Pergi bersama
22 Baby Face
23 Beralasan
24 Cemburu
25 Mencari Cahaya dan Bima
26 Menjadi tamu
27 Bukti
28 Sebuah pilihan
29 Menikah
30 Bima bosan
31 Ketakutan Bima
32 Belanja
33 Berdarah
34 Pulang
35 Sagara salah tingkah
36 Bersaing
37 Sagara menangis
38 Keributan di Club
39 Meleleh
40 Mudik
41 Tidak ada peran Kakak
42 Kesempatan
43 Tidur bersama
44 Keinginan Bima
45 Menerkam
46 Pulang kampung
47 Angkasa dan Gadis kurir.
48 Lambe doerrrr
49 Menginap
50 Calon istriku
51 Menggoda Cahaya
52 Pulang
53 Keteguhan Kiki
54 Manusia lumpur
55 Saran Langit
56 Kejutan
57 Lewati bersama
58 Kedatangan tamu
59 Pingsan
60 Rumah sakit
61 Menyesal
62 Bersimpuh
63 Murkanya si bungsu
64 Meeting adik
65 Kritis
66 Syukuran
67 Aliando patah hati
68 Ketegaran Aliando
69 Bertemu Angkasa
70 Gosip
71 Makan siang
72 Rumah sakit
73 Mahya pingsan
74 Penyesalan Relia
75 Logika bergosip
76 Persiapan
77 Rumah baru
78 Memberi pelajaran
79 Menyesal
80 SAH
81 Mempermalukan diri sendiri
82 Nunggang kuda
83 Jatuh ke dalam perangkap sendiri.
84 Kejepit
85 Di pertemukan
86 Kejutan
87 Seekor kupu-kupu
88 Rasa iri
89 Isi pikiran Marshel
90 Rencana
91 Melarikan diri
92 Gila
93 Mencurigakan.
94 Pengakuan Toni
95 Menjalin hubungan baik
96 Lelahnya Rachel
97 Berdiskusi.
98 Jebakan
99 Di amankan
100 Akbar berontak
101 Saling memaafkan
102 Pinta Khanza
103 Mau Papa baru
104 Mak Comblang
105 Kejutan?
106 Kekhawatiran Rizaldy
107 Cahaya ngidam
108 Kiki dan duriannya
109 Keberatan
110 Pahatan luka
111 Mak comblang berjamaah.
112 Akting?
113 Di imbangi
114 Kabar duka
115 Pemakaman
116 Kembali kehilangan
117 Ayo mampiiirrr
118 Melamar
119 Mendampingi
120 menyambut anggota baru
121 Menyambut anggota baru
122 bahagia dan duka
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Hama
2
Tawaran pekerjaan.
3
Berangkat
4
Di usir
5
Akan selalu Ada
6
Demam
7
Pembantu baru
8
Sembuh
9
Gaduh
10
Membela Bima
11
Binar Bahagia
12
Penyesalan Sagara
13
Janji Sagara
14
Dia datang
15
Di balik semua yang terjadi
16
Mengusirnya
17
Nonton
18
Salah tingkah
19
Ghost
20
Editan
21
Pergi bersama
22
Baby Face
23
Beralasan
24
Cemburu
25
Mencari Cahaya dan Bima
26
Menjadi tamu
27
Bukti
28
Sebuah pilihan
29
Menikah
30
Bima bosan
31
Ketakutan Bima
32
Belanja
33
Berdarah
34
Pulang
35
Sagara salah tingkah
36
Bersaing
37
Sagara menangis
38
Keributan di Club
39
Meleleh
40
Mudik
41
Tidak ada peran Kakak
42
Kesempatan
43
Tidur bersama
44
Keinginan Bima
45
Menerkam
46
Pulang kampung
47
Angkasa dan Gadis kurir.
48
Lambe doerrrr
49
Menginap
50
Calon istriku
51
Menggoda Cahaya
52
Pulang
53
Keteguhan Kiki
54
Manusia lumpur
55
Saran Langit
56
Kejutan
57
Lewati bersama
58
Kedatangan tamu
59
Pingsan
60
Rumah sakit
61
Menyesal
62
Bersimpuh
63
Murkanya si bungsu
64
Meeting adik
65
Kritis
66
Syukuran
67
Aliando patah hati
68
Ketegaran Aliando
69
Bertemu Angkasa
70
Gosip
71
Makan siang
72
Rumah sakit
73
Mahya pingsan
74
Penyesalan Relia
75
Logika bergosip
76
Persiapan
77
Rumah baru
78
Memberi pelajaran
79
Menyesal
80
SAH
81
Mempermalukan diri sendiri
82
Nunggang kuda
83
Jatuh ke dalam perangkap sendiri.
84
Kejepit
85
Di pertemukan
86
Kejutan
87
Seekor kupu-kupu
88
Rasa iri
89
Isi pikiran Marshel
90
Rencana
91
Melarikan diri
92
Gila
93
Mencurigakan.
94
Pengakuan Toni
95
Menjalin hubungan baik
96
Lelahnya Rachel
97
Berdiskusi.
98
Jebakan
99
Di amankan
100
Akbar berontak
101
Saling memaafkan
102
Pinta Khanza
103
Mau Papa baru
104
Mak Comblang
105
Kejutan?
106
Kekhawatiran Rizaldy
107
Cahaya ngidam
108
Kiki dan duriannya
109
Keberatan
110
Pahatan luka
111
Mak comblang berjamaah.
112
Akting?
113
Di imbangi
114
Kabar duka
115
Pemakaman
116
Kembali kehilangan
117
Ayo mampiiirrr
118
Melamar
119
Mendampingi
120
menyambut anggota baru
121
Menyambut anggota baru
122
bahagia dan duka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!