Binar Bahagia

Sampai di parkiran, ternyata sudah ada dua sahabat Sagara yang menunggu kedatangannya. Mereka sudah membuat janji untuk ke rumah Sagara, akan tetapi Sagara melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari pihak sekolah sampai akhirnya memutuskan untuk mendatangi sekolah terlebih dahulu.

Matheo dan Aliando memelongo melihat keadaan Bima yang berantakan, begitu juga Cahaya.

"Loh, ponakan gue kenapa?" Tanya Matheo.

"Hooh, kenapa mukanya banyak cakaran? Siapa yang ngelakuin ini semua?" Tanya Aliando beruntun.

"Cepat kita ke rumah, panggilkan si Rey buat ngobati luka Bima sama Cahaya." Titah Sagara tak menjawab semua pertanyaan kedua sahabatnya.

Rey adalah Dokter sekaligus teman Sagara, tak banyak bertanya lagi keduanya pun menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil masing-masing. Cahaya ikut masuk ke dalam mobil Sagara atas permintaan Bima, sedangkan Pak Maryono membawa mobilnya tanpa penumpang di dalamnya ikut serta pulang.

Di sepanjang perjalanan pulang, Bima tertidur di pangkuan Cahaya yang duduk di samping Sagara yang duduk di kursi kemudi. Suasana di dalam mobil hening, tidaka da yang bersuara sama sekali, Cahaya juga merasa lelah karena sudah berdebat dan juga pusing karena Ibu Aiden yang menjambak rambutnya.

Tak lama kemudian. Sagara dan yang lainnya sudah sampai di rumah, mereka semua turun dari dalam mobilnya kemudian masuk ke dalam rumah. Bersamaan dengan itu pula, Rey datang lengkap dengan pakaian seragam Dokter dan juga alat medisnya.

Sagara membawa Bima dari gendongan Cahaya dan naik keatas, Cahaya mengekor di belakang tubuh Sagara karena ia juga harus mengurus Bima yaitu mengganti pakaiannya dan juga menjaganya. Bima pasti akan menangis kembali begitu bangun dari tidurnya, Cahaya cukup mengenal sosok Bima yang membutuhkan perhatian.

Rey memeriksa wajah Bima dan mengobati lukanya, Bima meringis saat Rey memberikan obat untuk luka di bibirnya sampai terbangun. Dugaan Cahaya benar, Bima kembali menangis dan memanggil namanya.

"Mbak, sakit..." Rintih Bima.

"Cup, cup, cup... Den Bima kan kuat, mbak udah menang lawan nenek sihirnya sampai jatuh. Mbak kan udah bilang, selama ada Mbak di samping Den Bima, Mbak akan berusaha melindungi Den Bima." Ucap Cahaya sambil mengusap kepala Bima serta memeluknya.

Kasih sayang Cahaya yang membuat tangis Bima mereda, Sagara melihat interaksi keduanya pun memalingkan wajahnya, dia tak mau menunjukkan kesedihannya di depan Bima.

"Jagoan! Lukanya sedikit kok, nanti juga akan cepat sembuh dan gak perih lagi. Jangan lupa minum obat sama pakai salepnya juga ya, Om Rey kasih obat terbaik buat Bima biar nanti bisa main tembak-tembakan lagi sama Om." Ucap Rey menatap Bima.

Bima menatap Rey sekilas dan menganggukkan kepalanya.

"Kalau begitu, Om keluar dulu ya." Pamit Rey.

"Terimakasih, Om Rey." Ucap Bima dengan suara pelan.

Rey bangkit dari duduknya, ia keluar bersama Sagara. Cahaya membujuk Bima untuk mengganti pakaiannya, ia mengambilkan baju ganti dan memakaikannya pada Bima.

"Mbak, Bima laper." Ucap Bima.

"Den Bima lapar? Mbak ambilkan makanannya kesini ya," Ucap Cahaya sambil memakaikan celana Bima.

"Di bawah aja, aku mau makan sama Papa." Ucap Bima dengan mata sendunya.

Cahaya tersenyum kearah Bima, ia mengambil sisir kemudian merapikan rambut Bima.

"Baiklah, kita ke bawah ya." Ucap Cahaya menuruti keinginan Bima.

Sebelum turun, Cahaya merapikan rambutnya terlebih dahulu. Setelah rapi, Cahaya menggendong tubuh Bima dan keluar dari kamar dengan menuruni anak tangga.

Sagara dan ketiga sahabatnya makan bersama di bawah, terlihat ketiganya makan dengan wajah sumringah, sedangkan Sagara hanya duduk diam memikirkan sesuatu yang menurutnya penting.

"Tuan Sagara." Panggil Cahaya.

Sagara pun tersadar dari lamunannya, ia menatap Cahaya yang tengah menggendong Bima.

"Den Bima ingin makan dengan Tuan, apa boleh?" Tanya Cahaya.

"Kemarilah." Jawab Sagara menepuk pahanya meminta Bima duduk di pangkuannya.

Bima senang karena untuk pertama kalinya Sagara memintanya duduk di pangkuannya, Cahaya menurunkan tubuh Bima di atas paha Sagara.

"Mau makan pakai lauk apa?" Tanya Sagara.

Bima menatap lauk yang berjejer diatas meja.

"Tapi bibirnya masih perih," Ucap Bima.

"Mau mbak buatkan sup?" Ucap Cahaya.

"Itu pasti memakan waktu lama, aku lapar sekali." Jawab Bima.

"Makannya sedikit-sedikit saja, biar Papa yang suapi."Ucap Sagara.

"Benarkah?" Tanya Bima memastikan.

Sagara menganggukkan kepalanya, Bima pun menatap Cahaya dengan wajah berbinar dan di balas senyuman oleh Cahaya.

Matheo, Aliando dan juga Rey saling menatap satu sama lain. Mereka tahu seperti apa Sagara, melihat Bima yang berbinar bahagia membuat hati mereka tersentuh.

Hingga akhirnya, Bima makan di suapi oleh Sagara sambil tertawa renyah walaupun perih, Bima merasa senang karena ketiga sahabat ayahnya benar-benar menghiburnya.

Cahaya undur diri ke dapur, dari kejauhan ia melihat interaksi Bima dan juga ayahnya serta ketiga pria yang ikut bergabung disana. Cahaya mengeluarkan air mata, ia mengusapnya dengan kasar dan menggantinya dengan sebuah senyuman.

*

*

Malam hari.

Sekitar pukul 7 malam, Bima sudah terbang kealam mimpi. Sagara baru keluar dari dalam ruang kerjanya, Cahaya menata makana untuk makan malam Sagara. Untuk Bima, Cahaya membuatkan bubur karena luka di bibirnya bertambah akibat tergigit saat makan buah.

Sagara duduk di meja makan, ia memijat pelipisnya yang terasa pusing. Saat pulang untuk makan siang, Sagara tidak kembali ke kantornya, melainkan mengerjakan pekerjaannya di rumah saja.

"Cahaya." Panggil Sagara.

Cahaya yang sedang berdiri tak jauh dari Sagara pun langsung menoleh, ia pun menghentikan aktifitasnya dan berdiri tegak menghampiri Sagara.

"Iya, Tuan. Apa Tuan butuh sesuatu?" Tanya Cahaya.

"Duduk!" Titah Sagara.

"Em, tidak perlu Tuan. Saya berdiri saja." Ucap Cahaya.

Sagara menyendokkan nasinya ke piring, ia juga mengambilkan lauk secukupnya sebelum kembali mengeluarkan suaranya.

"Apa Bima ada bercerita sesuatu padamu?" Tanya Sagara.

Cahaya tahu kemana arah pembicaraan Sagara, mungkin sudah saatnya Sagara tahu apa yang sedang di rasakan oleh Bima.

"Ada Tuan," Jawab Cahaya.

"Katakan." Sagara melipat kedua tangannya di dada, ia menatap Cahaya dengan seksama.

"Pertama kali saya datang ke rumah ini, begitu esoknya saya di tugaskan mengantarkan Den Bima ke perta ulang tahun temannya, disana Den Bima di usir dari pesta saat tak sengaja menubruk salah satu temannya. Bahkan kata-kata ibu-ibu disana menyakiti Den Bima dan mengatakan Den Bima anak yatim piatu karena mereka tak pernah melihat orangtua Den Bima mengantar ke sekolah seperti anak lainnya, kenakalan yang Den Bima lakukan menjadi penilaian mereka sampai berkata sedemikian rupa. Tuan, ingat? Kenapa Den Bima bisa demam? Saat itu Den Bima lari begitu di usir dari pesta Elena, saya mengejarnya sampai hujan turun deras." Jelas Cahaya.

Sagara memejamkan matanya, dadanya berdenyut nyeri mendengar cerita dari Cahaya.

"Yang Den Bima butuhkan bukanlah harta, keinginan yang terpenuhi atau apapun itu. Den Bima mengatakan kalau ia hanya butuh Tuan ada di sisinya, Tuan memang satu rumah dengan Den Bima, akan tetapi Tuan membuat jarak yang seharusnya dekat. Tuan pasti tahu bagaimana perlakuan neneknya yang menyakiti hati dan fisiknya, di sekolah pun Bima selalu di sudutkan, apa pernah Tuan mendengar keluhannya? Tidak bukan, Den Bima sebenarnya tidak membutuhkan Nanny untuk menjaganya, di umurnya yang masih 6 tahun sudah bisa belajar mandiri. Dia hanya butuh Tuan Sagara, kepada siapa lagi Den Bima berlindung kalau bukan pada ayahnya? Siapa lagi yang Den Bima punya kalau bukan Tuan? Batinnya sakit, tapi Den Bima tak mau menunjukkannya karena ia berpikir sesakit apapun fisik serta lukanya, Tuan tidak akan memperdulikannya." Tambah Cahaya panjang lebar.

Sagara terdiam mendengar keluh kesah Bima dari Cahaya, rasa bersalah kian menyeruak ke dalam relung hatinya. Semua ucapan Cahaya, Sagara cerna ke dalam benaknya sampai ia tersadar bahwasannya ucapan Cahaya memang benar adanya.

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

SMG TUAN SAGARA SADAR BIMA BUTUH PERHATIAN DAN KASIH SAYANG🙏

2025-01-20

0

Sani Srimulyani

Sani Srimulyani

kasian banget bima, anak sekecil itu harus merasakan beban fisik dan mental yang cukup berat dari lingkungan sekitarnya.

2024-11-10

2

Indriani Kartini

Indriani Kartini

kasian banget kamu bima, seharusnya sebagai ayah jangan abaikan ank hanya karena kehilangan seorang istri, akan sakit hati seorang ibu bila anak di abaikan, kuat ya bima ada mna cahaya yg sayanh

2024-10-17

0

lihat semua
Episodes
1 Hama
2 Tawaran pekerjaan.
3 Berangkat
4 Di usir
5 Akan selalu Ada
6 Demam
7 Pembantu baru
8 Sembuh
9 Gaduh
10 Membela Bima
11 Binar Bahagia
12 Penyesalan Sagara
13 Janji Sagara
14 Dia datang
15 Di balik semua yang terjadi
16 Mengusirnya
17 Nonton
18 Salah tingkah
19 Ghost
20 Editan
21 Pergi bersama
22 Baby Face
23 Beralasan
24 Cemburu
25 Mencari Cahaya dan Bima
26 Menjadi tamu
27 Bukti
28 Sebuah pilihan
29 Menikah
30 Bima bosan
31 Ketakutan Bima
32 Belanja
33 Berdarah
34 Pulang
35 Sagara salah tingkah
36 Bersaing
37 Sagara menangis
38 Keributan di Club
39 Meleleh
40 Mudik
41 Tidak ada peran Kakak
42 Kesempatan
43 Tidur bersama
44 Keinginan Bima
45 Menerkam
46 Pulang kampung
47 Angkasa dan Gadis kurir.
48 Lambe doerrrr
49 Menginap
50 Calon istriku
51 Menggoda Cahaya
52 Pulang
53 Keteguhan Kiki
54 Manusia lumpur
55 Saran Langit
56 Kejutan
57 Lewati bersama
58 Kedatangan tamu
59 Pingsan
60 Rumah sakit
61 Menyesal
62 Bersimpuh
63 Murkanya si bungsu
64 Meeting adik
65 Kritis
66 Syukuran
67 Aliando patah hati
68 Ketegaran Aliando
69 Bertemu Angkasa
70 Gosip
71 Makan siang
72 Rumah sakit
73 Mahya pingsan
74 Penyesalan Relia
75 Logika bergosip
76 Persiapan
77 Rumah baru
78 Memberi pelajaran
79 Menyesal
80 SAH
81 Mempermalukan diri sendiri
82 Nunggang kuda
83 Jatuh ke dalam perangkap sendiri.
84 Kejepit
85 Di pertemukan
86 Kejutan
87 Seekor kupu-kupu
88 Rasa iri
89 Isi pikiran Marshel
90 Rencana
91 Melarikan diri
92 Gila
93 Mencurigakan.
94 Pengakuan Toni
95 Menjalin hubungan baik
96 Lelahnya Rachel
97 Berdiskusi.
98 Jebakan
99 Di amankan
100 Akbar berontak
101 Saling memaafkan
102 Pinta Khanza
103 Mau Papa baru
104 Mak Comblang
105 Kejutan?
106 Kekhawatiran Rizaldy
107 Cahaya ngidam
108 Kiki dan duriannya
109 Keberatan
110 Pahatan luka
111 Mak comblang berjamaah.
112 Akting?
113 Di imbangi
114 Kabar duka
115 Pemakaman
116 Kembali kehilangan
117 Ayo mampiiirrr
118 Melamar
119 Mendampingi
120 menyambut anggota baru
121 Menyambut anggota baru
122 bahagia dan duka
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Hama
2
Tawaran pekerjaan.
3
Berangkat
4
Di usir
5
Akan selalu Ada
6
Demam
7
Pembantu baru
8
Sembuh
9
Gaduh
10
Membela Bima
11
Binar Bahagia
12
Penyesalan Sagara
13
Janji Sagara
14
Dia datang
15
Di balik semua yang terjadi
16
Mengusirnya
17
Nonton
18
Salah tingkah
19
Ghost
20
Editan
21
Pergi bersama
22
Baby Face
23
Beralasan
24
Cemburu
25
Mencari Cahaya dan Bima
26
Menjadi tamu
27
Bukti
28
Sebuah pilihan
29
Menikah
30
Bima bosan
31
Ketakutan Bima
32
Belanja
33
Berdarah
34
Pulang
35
Sagara salah tingkah
36
Bersaing
37
Sagara menangis
38
Keributan di Club
39
Meleleh
40
Mudik
41
Tidak ada peran Kakak
42
Kesempatan
43
Tidur bersama
44
Keinginan Bima
45
Menerkam
46
Pulang kampung
47
Angkasa dan Gadis kurir.
48
Lambe doerrrr
49
Menginap
50
Calon istriku
51
Menggoda Cahaya
52
Pulang
53
Keteguhan Kiki
54
Manusia lumpur
55
Saran Langit
56
Kejutan
57
Lewati bersama
58
Kedatangan tamu
59
Pingsan
60
Rumah sakit
61
Menyesal
62
Bersimpuh
63
Murkanya si bungsu
64
Meeting adik
65
Kritis
66
Syukuran
67
Aliando patah hati
68
Ketegaran Aliando
69
Bertemu Angkasa
70
Gosip
71
Makan siang
72
Rumah sakit
73
Mahya pingsan
74
Penyesalan Relia
75
Logika bergosip
76
Persiapan
77
Rumah baru
78
Memberi pelajaran
79
Menyesal
80
SAH
81
Mempermalukan diri sendiri
82
Nunggang kuda
83
Jatuh ke dalam perangkap sendiri.
84
Kejepit
85
Di pertemukan
86
Kejutan
87
Seekor kupu-kupu
88
Rasa iri
89
Isi pikiran Marshel
90
Rencana
91
Melarikan diri
92
Gila
93
Mencurigakan.
94
Pengakuan Toni
95
Menjalin hubungan baik
96
Lelahnya Rachel
97
Berdiskusi.
98
Jebakan
99
Di amankan
100
Akbar berontak
101
Saling memaafkan
102
Pinta Khanza
103
Mau Papa baru
104
Mak Comblang
105
Kejutan?
106
Kekhawatiran Rizaldy
107
Cahaya ngidam
108
Kiki dan duriannya
109
Keberatan
110
Pahatan luka
111
Mak comblang berjamaah.
112
Akting?
113
Di imbangi
114
Kabar duka
115
Pemakaman
116
Kembali kehilangan
117
Ayo mampiiirrr
118
Melamar
119
Mendampingi
120
menyambut anggota baru
121
Menyambut anggota baru
122
bahagia dan duka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!