Salah tingkah

Uang yang tadi di pegang Sagara langsung berhamburan keatas, seperti kumpulan kelopak mawar yang sengaja di hamburkan layaknya hujan.

Bima yang hendak menyuapkan sepotong brownies pun mengurungkan niatnya, ia turun dari kasur begitu mendengar suara orang jatuh.

Cahaya dan Sagara saling berpandangan cukup lama, sebelum ada suara Bima yang memecah keheningan diantara keduanya.

"Wooowww!!! Cieeee...." Seru Bima.

Bukannya membantu, Bima justru terkekeh sambil bertepuk tangan. Cahaya segera bangkit dari tubuh Sagara, ia menjadi kikuk dan salah tingkah di buatnya, sedangkan Sagara bangun dengan kesusahan karena nyeri di bagian b*k***a. Cahaya membantu menarik tubuh Sagara untuk berdiri, dia menuntun majikannya untu duduk di kasur.

"Cieee.... Cieee.." Bima mendadak jadi mak comblang, hal itu membuat kedua orang dewasa itu menjadi canggung.

Untuk mengusir kecanggungannya, Cahaya memunguti uang yang berserakan di lantai, sementara Sagara yang hendak membantunya mengurungkan niatnya karena pinggangnya juga sakit.

Kreeekkkk...

"AAAWWW....!" Pekik Sagara.

"Papa! Papa kenapa?" Seru Bima khawatir.

Cahaya pun ikut khawatir mendengar ringisan Sagara, dia meninggalkan uang yang berserakan itu dan membantu Sagara berbaring di kasurnya.

"Tuan, mana yang sakit? Duh, kumaha ieu teh nya? Apa mau saya panggilkan Dokter, atau tukang urut?" Tanya Cahaya.

"Gak usah, paling bentar lagi enakan." Jawab Sagara menahan sakitnya.

"Ish, Papa kan sudah tua, lebih baik di periksa sama Om Rey. Biasanya tulang orangtua gampang keropos, apalagi yang gak pernah olahraga." Cerocos Bima sambil menyindir Sagara.

"Eh, mulutnya! Kamu pikir Papa sudah kakek-kakek? Yang benar saja, perlu di garis bawahi ya! Papa suka olahraga, kamu aja yang gak pernah lihat." Protes Sagara tidak terima.

"Alasan!" Cibir Bima.

Sagara beralih menatap Cahaya, dia berdehem sebentar kemudian meminta tolong pada Cahaya.

"Em, Cahaya. Maaf sebelumnya, tolong kamu bereskan uangnya dan berikan pada Bi Nur sebagian, sebagiannya lagi kamu belanjakan sesuai kebutuhan rumah. Dan yang terakhir, bisa kamu ambilkan saya makan? Saya lapar, pinggang saya masih sakit kalau di pake jalan." Ucap Sagara.

"Baik, Tuan. Saya bereskan dulu uangnya, setelah itu saya akan kembali membawa makanan." Ucap Cahaya tanpa berani menatap wajah Sagara.

Gegas Cahaya mengambil seluruh uang yang ada di lantai, ia segera keluar dari dalam kamar Sagara dan turun ke lantai bawah.

Bima duduk di samping ayahnya, tatapannya seolah menginterogasi Sagara. Sedangkan Sagara sendiri heran melihat tatapan Bima, televisi pun di biarkan menyala begitu saja.

"Kenapa?" Tanya Sagara.

"Papa suka ya sama, Mbak Yaya?" Tebak Bima.

Sagara mengerutkan keningnya, entah pikiran dari mana Bima bisa memberikan kesimpulan atas kejadian tadi seperti itu.

"Apa karena kejadian tadi kamu mikir kayak gitu? Lagian juga, kamu itu masih kecil dan gak tahu apa itu suka, sayang dan cinta-cintaan." Ucap Sagara.

"Bima udah gede, Pa. Bima bisa menilai sendiri, apa Papa lupa keahlian Bima pas bantu Papa? Apa anak lain juga bisa melakukannya? Tidak bukan, itu karena Bima sudah besar. Papa sadar gak, waktu Mbak Lela masih kerja disini Papa jarang makan di rumah, apalagi sampai bekal makan siang dari rumah. Biasanya juga beli di luar kalau Papa ke kantor, aku tahu ya kalau Mbak Yaya suka bangun lebih awal soalnya Papa sering minta buatkan sarapan dan bekal." Papar Bima sambil nyerocos tanpa henti, dia membeberkan sikap Papanya yang beda dari biasanya.

"Ya, karena masakan Mbak Yaya kamu itu enak." Ucap Sagara enteng.

"Mbak Lela kalau masak enak pun Papa gak bela-belain langsung makan, apalagi kalau udah pulang lembur, paling cuma di lirik doang." Skakmat. Sagara tidak bisa membantah ucapan Bima lagi, pasalnya semua yang di utarakan Bima adalah kenyataan.

"Perasaan kamu doang itu mah." Ucap Sagara langsung menutup tubuhnya dengan selimut, dia tak mau anaknya semakin memojokannya.

Sementara di bawah. Cahaya menggelengkan kepalanya, dia menepis semua bayangan wajah Sagara yang tadi berad di bawah tubuhnya. Bi Nur yang sedang menyapu pun keheranan melihat Cahaya, tidak biasanya Cahaya bertingkah aneh.

"Yaya, kamu teh kenapa?" Tanya Bi Nur.

Cahaya menoleh kearah Bi Nur, dia menggelengkan kepalanya dengan gugup.

"E-enggak papa kok," Jawab Cahaya.

"Dari tadi kamu geleng-geleng kepala, apa kamu lagi pusing? Kalau lagi pusing mah mending istirahat aja." Ucap Bi Nur.

"Enggak kok. Oh iya, ini uang yang seperti biasanya ya. Kata Tuan tolong ambilkan baju yang masih di laundry, katanya mau di pakai buat meeting penting sama klien besok." Ucap Cahaya mengalihkan pembicaraannya dengan memberikan uang pada Nur, dia juga langsung menyampaikan pesan dari Sagara.

"Oke." Balas Bi Nur.

Cahaya menyimpan uang belanja ke dalam dompetnya, dia segera mengambil nampan dan juga piring. Tangan Cahaya dengan cekatan mengambil nasi dan juga lauknya, tak lupa ia juga membawa satu gelas air minum. Rasanya satu gelas saja tak cukup, untuk itu Cahaya mengambil ceret kaca dan mengisinya dengan air juga satu gelas lagi untuk Bima. Cahaya memanggil Bi Nur untuk membantunya membawakan nampan yang berisikan ceret, Cahaya kesusahan bila harus membawa dua nampan sekaligus.

Keduanya pun menaiki tangga ke lantai atas, Cahaya mengetuk pintu dan di buka oleh Bima. Terlihat Sagara yang membungkus tubuhnya menggunakan selimut, Bi Nur menyimpan nampan yang di bawanya keatas meja dan langsung keluar setelah tugasnya selesai. Cahaya merapikan meja agar bisa menyimpan nampan yang di bawanya.

"Tuan, nasinya saya simpan di atas meja." Ucap Cahaya.

Sagara menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya, dia menatap Cahaya yang berdiri di samping meja.

"Cahaya, apa kamu mau mengerjaiku? Bagaimana bisa aku mengambilnya, pinggangku masih sakit." Ucap Sagara.

"O-oh, baik Tuan. Akan saya ambilkan." Ucap Cahaya.

Cahaya sendiri merutuki kebodohannya, ia segera mengambilkan nampan tersebut dan menyimpannya diatas nakas. Sebelum Sagara makan, Cahaya membantu Sagara duduk karena terlihat kesusahan. Tubuhnya dan tubuh Sagara pastinya menempel, jantung Cahaya seperti ingin meledak karena tak pernah sedekat ini bersama lawan jenisnya.

"Suapi saya, tangan saya kebas." Titah Sagara.

Cahaya membulatkan matanya, tidak masalah kalau ia harus menyuapi Bima. Tapi kalau menyuapi bapaknya, rasanya Cahaya ingin menolaknya.

"Kenapa? Gak mau?" Tanya Sagara yang melihat Cahaya diam saja.

"Dihhh, alasan." Cicit Bima yang kembali menonton Ultraman kesukaannya.

"I-iya, s-sebentar." Jawab Cahaya terbata-bata.

Sagara menggeser tubuhnya ke sebelah Bima, dia menyuruh Cahaya duduk di sampingnya karena tidak ada kursi untuk Cahaya duduk. Masa Cahaya harus menyuapi Sagara sambil berdiri, kan kasihan.

Cahaya menyendokkan satu sendok nasi bersama lauknya, tangannya agak gemetar karena ini pertama kalinya dia menyuapi pria yang notabenenya adalah majikannya.

'Duda satu ini banyak maunya, Ya Allah tolong...' Batin Cahaya resah.

Happp...

BRAAKKKK...

Terpopuler

Comments

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

apa tuh yg jatuh..

2024-10-25

0

jaran goyang

jaran goyang

ᥴ⍴ ᥣg

2024-10-25

0

jaran goyang

jaran goyang

ᥲᥣsᥒ kᥲᥙ ᥡᥲ🤣

2024-10-25

0

lihat semua
Episodes
1 Hama
2 Tawaran pekerjaan.
3 Berangkat
4 Di usir
5 Akan selalu Ada
6 Demam
7 Pembantu baru
8 Sembuh
9 Gaduh
10 Membela Bima
11 Binar Bahagia
12 Penyesalan Sagara
13 Janji Sagara
14 Dia datang
15 Di balik semua yang terjadi
16 Mengusirnya
17 Nonton
18 Salah tingkah
19 Ghost
20 Editan
21 Pergi bersama
22 Baby Face
23 Beralasan
24 Cemburu
25 Mencari Cahaya dan Bima
26 Menjadi tamu
27 Bukti
28 Sebuah pilihan
29 Menikah
30 Bima bosan
31 Ketakutan Bima
32 Belanja
33 Berdarah
34 Pulang
35 Sagara salah tingkah
36 Bersaing
37 Sagara menangis
38 Keributan di Club
39 Meleleh
40 Mudik
41 Tidak ada peran Kakak
42 Kesempatan
43 Tidur bersama
44 Keinginan Bima
45 Menerkam
46 Pulang kampung
47 Angkasa dan Gadis kurir.
48 Lambe doerrrr
49 Menginap
50 Calon istriku
51 Menggoda Cahaya
52 Pulang
53 Keteguhan Kiki
54 Manusia lumpur
55 Saran Langit
56 Kejutan
57 Lewati bersama
58 Kedatangan tamu
59 Pingsan
60 Rumah sakit
61 Menyesal
62 Bersimpuh
63 Murkanya si bungsu
64 Meeting adik
65 Kritis
66 Syukuran
67 Aliando patah hati
68 Ketegaran Aliando
69 Bertemu Angkasa
70 Gosip
71 Makan siang
72 Rumah sakit
73 Mahya pingsan
74 Penyesalan Relia
75 Logika bergosip
76 Persiapan
77 Rumah baru
78 Memberi pelajaran
79 Menyesal
80 SAH
81 Mempermalukan diri sendiri
82 Nunggang kuda
83 Jatuh ke dalam perangkap sendiri.
84 Kejepit
85 Di pertemukan
86 Kejutan
87 Seekor kupu-kupu
88 Rasa iri
89 Isi pikiran Marshel
90 Rencana
91 Melarikan diri
92 Gila
93 Mencurigakan.
94 Pengakuan Toni
95 Menjalin hubungan baik
96 Lelahnya Rachel
97 Berdiskusi.
98 Jebakan
99 Di amankan
100 Akbar berontak
101 Saling memaafkan
102 Pinta Khanza
103 Mau Papa baru
104 Mak Comblang
105 Kejutan?
106 Kekhawatiran Rizaldy
107 Cahaya ngidam
108 Kiki dan duriannya
109 Keberatan
110 Pahatan luka
111 Mak comblang berjamaah.
112 Akting?
113 Di imbangi
114 Kabar duka
115 Pemakaman
116 Kembali kehilangan
117 Ayo mampiiirrr
118 Melamar
119 Mendampingi
120 menyambut anggota baru
121 Menyambut anggota baru
122 bahagia dan duka
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Hama
2
Tawaran pekerjaan.
3
Berangkat
4
Di usir
5
Akan selalu Ada
6
Demam
7
Pembantu baru
8
Sembuh
9
Gaduh
10
Membela Bima
11
Binar Bahagia
12
Penyesalan Sagara
13
Janji Sagara
14
Dia datang
15
Di balik semua yang terjadi
16
Mengusirnya
17
Nonton
18
Salah tingkah
19
Ghost
20
Editan
21
Pergi bersama
22
Baby Face
23
Beralasan
24
Cemburu
25
Mencari Cahaya dan Bima
26
Menjadi tamu
27
Bukti
28
Sebuah pilihan
29
Menikah
30
Bima bosan
31
Ketakutan Bima
32
Belanja
33
Berdarah
34
Pulang
35
Sagara salah tingkah
36
Bersaing
37
Sagara menangis
38
Keributan di Club
39
Meleleh
40
Mudik
41
Tidak ada peran Kakak
42
Kesempatan
43
Tidur bersama
44
Keinginan Bima
45
Menerkam
46
Pulang kampung
47
Angkasa dan Gadis kurir.
48
Lambe doerrrr
49
Menginap
50
Calon istriku
51
Menggoda Cahaya
52
Pulang
53
Keteguhan Kiki
54
Manusia lumpur
55
Saran Langit
56
Kejutan
57
Lewati bersama
58
Kedatangan tamu
59
Pingsan
60
Rumah sakit
61
Menyesal
62
Bersimpuh
63
Murkanya si bungsu
64
Meeting adik
65
Kritis
66
Syukuran
67
Aliando patah hati
68
Ketegaran Aliando
69
Bertemu Angkasa
70
Gosip
71
Makan siang
72
Rumah sakit
73
Mahya pingsan
74
Penyesalan Relia
75
Logika bergosip
76
Persiapan
77
Rumah baru
78
Memberi pelajaran
79
Menyesal
80
SAH
81
Mempermalukan diri sendiri
82
Nunggang kuda
83
Jatuh ke dalam perangkap sendiri.
84
Kejepit
85
Di pertemukan
86
Kejutan
87
Seekor kupu-kupu
88
Rasa iri
89
Isi pikiran Marshel
90
Rencana
91
Melarikan diri
92
Gila
93
Mencurigakan.
94
Pengakuan Toni
95
Menjalin hubungan baik
96
Lelahnya Rachel
97
Berdiskusi.
98
Jebakan
99
Di amankan
100
Akbar berontak
101
Saling memaafkan
102
Pinta Khanza
103
Mau Papa baru
104
Mak Comblang
105
Kejutan?
106
Kekhawatiran Rizaldy
107
Cahaya ngidam
108
Kiki dan duriannya
109
Keberatan
110
Pahatan luka
111
Mak comblang berjamaah.
112
Akting?
113
Di imbangi
114
Kabar duka
115
Pemakaman
116
Kembali kehilangan
117
Ayo mampiiirrr
118
Melamar
119
Mendampingi
120
menyambut anggota baru
121
Menyambut anggota baru
122
bahagia dan duka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!