Berangkat

Keesokan harinya.

Cahaya membicarakan semuanya pada sang ibu, Dandi pula ikut mendengarkan dan merasa keberatan karena sang kakak bekerja demi dirinya. Euis mengusap tangan Cahaya lengkap dengan senyum tulusnya, ia mengizinkan Cahaya pergi asalkan tetap memberi kabar walau pun hanya satu menggu sekali. Cahaya pun mengangguk antusias begitu mendapat izin sang ibu, Dandi pun hanya bisa mengikuti keputusan ibunya.

"Jaga diri baik-baik ya, Neng. Meskipun mendadak banget perginya, tapi ibu pasti akan tetap mendoakan kemana pun langkah anak-anak ibu pergi, maafkan ibu ya gak bisa berbuat banyak." Ucap Euis.

"Doa ibu aja sudah cukup kok, bu." Ucap Cahaya.

"Buat ongkos di jalannya gimana, Neng? Ibu cuma punya pegangan sedikit, kamu bawa aja ya," Tanya Euis. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang yang sudah di kumpulkannya.

"Cahaya mau ke rumah bu Dina, bu. Enak aja dia bisa foya-foya sedangkan kita kesusahan, lumayan juga itu tabungan bisa buat ibu sama Dandi makan selama nunggu Cahaya gajian nanti." Ucap Cahaya memasang wajah kesal, dia memang sudah berniat mendatangi rumah Dina salah satu anggota nyinyir di kampungnya.

"YAYA..!"

Dari arah luar terdengar Erik berteriak memanggil Cahaya, sahabatnya itu datang untuk menemani Cahaya menemui Dina untuk menagih hutangnya.

Cahaya berpamitan kepada ibunya, dia dan Erik melenggang pergi ke tempat tujuannya.

Beberapa saat kemudian. Cahaya menyapa suami Dina yang sedang menyiram tanaman, kebetulan juga Dina keluar dari dalam rumah lengkap dengan nampan berisikan teh hangat dan juga makanan. Tak mau berbasa-basi lagi, Cahaya ikut duduk bersama suami Dina dan ia pun mengutarakan niatnya. Dina memainkan ujung bajunya gugup karena Cahaya benar-benar membeberkan semuanya, suami Dina pun syok karena ternyata uang yang selama ini ia berikan untuk bayar hutang tidak tersampaikan kepada pemilik uang tersebut.

"Begitu, Mang. Saya teh kesini ya memang sudah jauh dari tempo, terus saya juga sore ini mau berangkat ke luar kota, maklum lah mang saya teh bukan orang berada, pastinya uang segitu tuh gede buat Yaya mah." Ucap Cahaya.

"Iya, Yaya. Mamang teh ngerti. Maafin istri mamang ya, soalnya mamang serahin semua uangnya sama istri mamang, kirain mah bakal di bayarin. Tunggu sebentar ya. Mamang ambil uang dulu, kebetulan ada lemburan terus jadinya mamang bisa tabung." Ucap Suami Dina beranjak dari duduknya mengambil uang untuk membayar hutangnya.

Cahaya pun menganggukkan kepalanya, ia menatap Dina yang memasang wajah judes sekaligus jengkel akan kedatangan Cahaya.

Sambil masuk ke dalam rumah, suami Dina menyeret istrinya dan mengomelinya sepanjang jalan karena tak kuasa menahan malu di depan Cahaya.

Tak berselang lama, suami Dina membawa uang pecahan berwarna biru dan terlihat tebal. Cahaya tersenyum karena usahanya membuahkan hasil, ia tak perlu memakai tabungan ibunya untuk berangkat ke kota. Sambil beberapa kali minta maaf, suami Dina menyerahkan uang yang sudah di pinjamnya, Cahaya menerima uang tersebut dan membalas permintaan maaf suami Dina dengan lapang dada. Setelah itu, Cahaya dan Erik pun berpamitan pulang.

*

*

Sore hari.

Cahaya diantar menuju terminal oleh sahabat dan juga ibu serta adiknya, disana juga sudah ada Lela dan juga keluarganya yang ikut serta mengantar.

"Hati-hati ya, Neng. Kalau udah sampai, jangan lupa kabarin ibu." Pesan Euis.

"Pasti atuh, Bu." Ucap Cahaya.

"Cahaya, hayu atuh, busnya udah dateng." Ajak Lela menghampiri Cahaya.

Cahaya pun menganggukkan kepalanya seraya menatap bus yang sedang berhenti di hadapannya, ia menyalimi tangan ibunya dan berpamitan kepada yang lainnya. Euis pun mengusap air matanya menggunakan kerudung yang sedang di pakainya, Lela dan Cahaya meletakkan barang bawaannya ke bagasi bus, ada rasa berat hati namun Cahaya tetap menguatkan tekadnya. Keduanya pun naik ke atas dan memilih tempat duduk, semua orang yang mengantar pun melambaikan tangannya begitu melihat Cahaya dan Lela sudah duduk di dalam Bus.

"Kalau mau nangis, nangis aja kok. Ceu Lela juga waktu pertama kayak gitu, namanya juga kita ada tujuan ya berarti harus ada yang di korbankan." Ucap Lela.

"Cahaya mah gak mau keliatan sedih di depan ibu, biar nanti ibu gak kepikiran terus." Ucap Cahaya menahan ari matanya yang sudah menganak, senyum yang ia tampilkan pula ialah senyum palsu.

Bus pun melaju meninggalkan tempat kelahiran Cahaya, saat itu juga Cahaya menangis dan di kuatkan oleh Lela.

Di sepanjang perjalanan, Cahaya menatap kearah luar mobil Bus yang tinggi melihat setiap jalur yang di lewati.

"Doakan anakmu ini ya, Bu. Semoga Cahaya bisa menaklukkan anak calon majikan Cahaya, biar bisa sekolahin Dandi dan juga biar bisa renovasi rumah Ibu." Batin Cahaya.

4 jam kemudian.

Cahaya dan Lela sudah sampai di kota tujuan, mereka menaiki taksi menuju rumah majikan Lela yang letaknya di sebuah perumahan elit.

Cahaya begitu takjub begitu melewati rumah-rumah gedong tinggi menjulang, bahkan desainnya begitu mewah dan elegan. Meskipun mereka tiba pada waktu malam, Cahaya tetap bisa melihat keindahan yang ia pandang saat ini.

Hanya selang 15 menit, keduanya pun sampai di depan gerbang tinggi bercat emas. Lela memanggil penjaga rumah untuk membukakan pintu gerbang.

Keduanya pun masuk, Cahaya melongo melihat betapa besarnya rumah tersebut. Di dalam hatinya ia berandai-andai kalau dirinya juga memiliki rumah yang sama besarnya. Tak terasa kakinya berhenti melangkah, dia berdiri di depan pintu utama yang terbuka lebar.

"Ayo..!" Lela menarik tangan Cahaya masuk kedalam rumah.

"Woooaaahhh...!"

Cahaya membuka mulutnya dengan lebar, isi rumahnya sangat amat luar biasa. Namun, siapa sangka ada kejadian yang tak terduga di dapatinya.

ZIUUUSSSS...

HAP.....!

Sebuah pesawat kecil masuk ke mulut Cahaya, tentunya Cahaya tersentak kaget sampai membulatkan matanya. Tetapi matanya beralih begitu mendengar suara tawa renyah anak kecil yang tak jauh darinya, ia melepaskan pesawat dari mulutnya dan beralih menatap bocah yang sudah di ceritakan oleh Lela.

"Astagfirullah..! Baru masuk udah dapat kejutan aja, yang sabar ya Cahaya, ini baru permulaan." Lela hanya mampu mengelus dadanya, ia beralih mengusap punggung Cahaya.

"Hm, menarik." Ucap Cahaya menyunggingkan senyumnya, tatapannya tak beralih sedikit pun dari anak kecil yang di taksir umurnya baru menginjak 6 tahun tersebut.

"RADEN BIMA MAHARDIKA..!" Suara bariton menggema yang berasal dari arah tangga.

Cahaya dan Lela menatap ke atas, mereka berdua melihat raut wajah dingin dari pemilik rumah yang tengah berdiri memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Bocah kecil yang di panggil lengkap namanya itu memutar bola matanya malas, ia segera berlari entah kemana membuat mata sang ayah semakin menajam.

Derap langkah terdengar menyusuri satu persatu anak tangga. Lela menarik tangan Cahaya untuk menghampiri pemilik rumah.

"Selamat malam, Tuan." Ucap Lela menundukkan kepalanya diikuti oleh Cahaya.

"Selamat malam, maaf atas kejadian tadi." Balas Sagara dengan nada dingin khasnya menatap kearah Cahaya.

"Tidak masalah, Tuan. Saya memakluminya." Ucap Cahaya.

"Apa dia yang akan menggantikanmu, Lela?" Tanya Sagara.

"Benar, Tuan. Seperti yang sudah saya jelaskan di telpon siang tadi, Cahaya yang akan menggantikan saya." Jawab Lela.

"Baiklah, berikan dia arahan." Ucap Sagara, tak banyak bertanya lagi karena Sagara sudah menyerahkan semuanya pada Lela untuk mengurus pekerja baru di rumahnya.

Sagara pergi begitu saja, dia mencari anak semata wayangnya yang baru saja membuat kenakalan. Anak itu menyambut kedatangan Cahaya dengan sebuah pesawat yang landing di mulut pembantu barunya.

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

YG SABAR CAHATA🙏

2025-01-20

0

Sani Srimulyani

Sani Srimulyani

ayo cahaya kamu pasti menaklukan bocil itu.

2024-11-10

2

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

smg cahaya bisa menaklukn sm anak luar biasa

2024-10-13

0

lihat semua
Episodes
1 Hama
2 Tawaran pekerjaan.
3 Berangkat
4 Di usir
5 Akan selalu Ada
6 Demam
7 Pembantu baru
8 Sembuh
9 Gaduh
10 Membela Bima
11 Binar Bahagia
12 Penyesalan Sagara
13 Janji Sagara
14 Dia datang
15 Di balik semua yang terjadi
16 Mengusirnya
17 Nonton
18 Salah tingkah
19 Ghost
20 Editan
21 Pergi bersama
22 Baby Face
23 Beralasan
24 Cemburu
25 Mencari Cahaya dan Bima
26 Menjadi tamu
27 Bukti
28 Sebuah pilihan
29 Menikah
30 Bima bosan
31 Ketakutan Bima
32 Belanja
33 Berdarah
34 Pulang
35 Sagara salah tingkah
36 Bersaing
37 Sagara menangis
38 Keributan di Club
39 Meleleh
40 Mudik
41 Tidak ada peran Kakak
42 Kesempatan
43 Tidur bersama
44 Keinginan Bima
45 Menerkam
46 Pulang kampung
47 Angkasa dan Gadis kurir.
48 Lambe doerrrr
49 Menginap
50 Calon istriku
51 Menggoda Cahaya
52 Pulang
53 Keteguhan Kiki
54 Manusia lumpur
55 Saran Langit
56 Kejutan
57 Lewati bersama
58 Kedatangan tamu
59 Pingsan
60 Rumah sakit
61 Menyesal
62 Bersimpuh
63 Murkanya si bungsu
64 Meeting adik
65 Kritis
66 Syukuran
67 Aliando patah hati
68 Ketegaran Aliando
69 Bertemu Angkasa
70 Gosip
71 Makan siang
72 Rumah sakit
73 Mahya pingsan
74 Penyesalan Relia
75 Logika bergosip
76 Persiapan
77 Rumah baru
78 Memberi pelajaran
79 Menyesal
80 SAH
81 Mempermalukan diri sendiri
82 Nunggang kuda
83 Jatuh ke dalam perangkap sendiri.
84 Kejepit
85 Di pertemukan
86 Kejutan
87 Seekor kupu-kupu
88 Rasa iri
89 Isi pikiran Marshel
90 Rencana
91 Melarikan diri
92 Gila
93 Mencurigakan.
94 Pengakuan Toni
95 Menjalin hubungan baik
96 Lelahnya Rachel
97 Berdiskusi.
98 Jebakan
99 Di amankan
100 Akbar berontak
101 Saling memaafkan
102 Pinta Khanza
103 Mau Papa baru
104 Mak Comblang
105 Kejutan?
106 Kekhawatiran Rizaldy
107 Cahaya ngidam
108 Kiki dan duriannya
109 Keberatan
110 Pahatan luka
111 Mak comblang berjamaah.
112 Akting?
113 Di imbangi
114 Kabar duka
115 Pemakaman
116 Kembali kehilangan
117 Ayo mampiiirrr
118 Melamar
119 Mendampingi
120 menyambut anggota baru
121 Menyambut anggota baru
122 bahagia dan duka
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Hama
2
Tawaran pekerjaan.
3
Berangkat
4
Di usir
5
Akan selalu Ada
6
Demam
7
Pembantu baru
8
Sembuh
9
Gaduh
10
Membela Bima
11
Binar Bahagia
12
Penyesalan Sagara
13
Janji Sagara
14
Dia datang
15
Di balik semua yang terjadi
16
Mengusirnya
17
Nonton
18
Salah tingkah
19
Ghost
20
Editan
21
Pergi bersama
22
Baby Face
23
Beralasan
24
Cemburu
25
Mencari Cahaya dan Bima
26
Menjadi tamu
27
Bukti
28
Sebuah pilihan
29
Menikah
30
Bima bosan
31
Ketakutan Bima
32
Belanja
33
Berdarah
34
Pulang
35
Sagara salah tingkah
36
Bersaing
37
Sagara menangis
38
Keributan di Club
39
Meleleh
40
Mudik
41
Tidak ada peran Kakak
42
Kesempatan
43
Tidur bersama
44
Keinginan Bima
45
Menerkam
46
Pulang kampung
47
Angkasa dan Gadis kurir.
48
Lambe doerrrr
49
Menginap
50
Calon istriku
51
Menggoda Cahaya
52
Pulang
53
Keteguhan Kiki
54
Manusia lumpur
55
Saran Langit
56
Kejutan
57
Lewati bersama
58
Kedatangan tamu
59
Pingsan
60
Rumah sakit
61
Menyesal
62
Bersimpuh
63
Murkanya si bungsu
64
Meeting adik
65
Kritis
66
Syukuran
67
Aliando patah hati
68
Ketegaran Aliando
69
Bertemu Angkasa
70
Gosip
71
Makan siang
72
Rumah sakit
73
Mahya pingsan
74
Penyesalan Relia
75
Logika bergosip
76
Persiapan
77
Rumah baru
78
Memberi pelajaran
79
Menyesal
80
SAH
81
Mempermalukan diri sendiri
82
Nunggang kuda
83
Jatuh ke dalam perangkap sendiri.
84
Kejepit
85
Di pertemukan
86
Kejutan
87
Seekor kupu-kupu
88
Rasa iri
89
Isi pikiran Marshel
90
Rencana
91
Melarikan diri
92
Gila
93
Mencurigakan.
94
Pengakuan Toni
95
Menjalin hubungan baik
96
Lelahnya Rachel
97
Berdiskusi.
98
Jebakan
99
Di amankan
100
Akbar berontak
101
Saling memaafkan
102
Pinta Khanza
103
Mau Papa baru
104
Mak Comblang
105
Kejutan?
106
Kekhawatiran Rizaldy
107
Cahaya ngidam
108
Kiki dan duriannya
109
Keberatan
110
Pahatan luka
111
Mak comblang berjamaah.
112
Akting?
113
Di imbangi
114
Kabar duka
115
Pemakaman
116
Kembali kehilangan
117
Ayo mampiiirrr
118
Melamar
119
Mendampingi
120
menyambut anggota baru
121
Menyambut anggota baru
122
bahagia dan duka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!