Dean dan Raka telah sampai di depan pintu rumah sewa El.
Mereka mengetuk pintu rumah tapi tidak ada tanda-tanda orang di dalamnya.
"El... Elena," panggil Dean.
"kayaknya El gak ada dirumah Dean," ujar Raka.
"Jadi gimana nih, apa kita balik?" tanya Dean.
"Coba telepon lagi saja, mungkin ponsel El sudah aktif," ujar Raka.
Dean mencoba sekali lagi mendial nomor ponsel El tapi tetap saja tidak tersambung. Seorang wanita paruh baya menghampiri Dean dan Raka.
"Cari siapa Aden?" tanya Ibu paruh baya.
"Eh... ini Bu, kami mau cari El," ujar Dean.
"Nak El... sudah tidak lagi tinggal disini, sejak ibu Nona El meninggal, dia pindah ikut tantenya," ucap Ibu paruh baya.
Dean dan Raka saling tatap. "Iya Bu, makasih sudah memberitahu pada kami," ucap Raka.
Dean dan Raka pamit pulang pada Ibu paruh baya. Mereka kembali masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Dean memijat pangkal hidungnya.
"Kemarin malam gue anterin El kerumah ini. Tapi ibu itu bilang, El pindah sejak hari kematian ibunya," guman Dean.
Raka juga sama seperti Dean bingung. "Ibu itu bilang, El pindah sama tantenya. Tapi tantenya yang mana. Secara kita tahu El sudah tidak di anggap keluarga sama kerabatnya," ujar Raka.
"Gue yakin, ada yang di sembunyikan sama El dari kita," ujar Dean.
"Kita cari El sekarang," ujar Raka.
*****
Kevin terus mengikuti Amel yang tengah asyik belanja. Di tangannya sudah ada beberapa paper bag belanjaan tapi Amel belum juga puas. Kevin mendumel dalam hati.
"Kev... kita istirahat dulu yuk di restoran," ujar Amel.
Kevin mengangguk dan mengikuti Amel dari belakang. Kevin bagai pelayan yang melayani seorang Tuan Putri.
Amel memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Setelah pesanan mereka datang hanya Amel yang sendiri yang makan sedangkan Kevin tidak sedikitpun menyentuh makanannya.
Amel memperhatikan Kevin sejak dari sekolah sampai mereka jalan di mall Kevin terlihat tidak bersemangat.
"Kevin... kamu kenapa sih, dari tadi kayak gak semangat?"
Amel terlihat kesal melihat Kevin. "Kamu ada masalah?" tanya Amel.
Kevin semakin gelisah hari sudah sore tapi masih belum ada kabar dari para anak buahnya.
Kevin memutuskan untuk meninggalkan Amel di mall. "Amel... kamu pulang sendiri yah! aku pulang dulu ada urusan penting."
Belum sempat Amel bicara, Kevin sudah beranjak pergi dari restoran meninggalkan Amel sendiri. Amel mendumel karna Kevin meninggalkan dirinya di mall.
Di dalam mobil Kevin menghubungi Dean untuk mengetahui kondisi El.
"Hallo Dean...." ~ Kevin.
"Halo Kev... ada apa?" ~ Dean.
Kevin berusaha menetralkan ke khawatiran dalam dirinya.
"Apa kau sudah menemui El?" ~ Kevin.
"Belum Kev... El tidak ada di rumah karna sudah pindah." ~ Dean.
Kevin memutuskan sambungan telpon pada Dean.
Kevin menghela memijit pangkal hidungnya.
"Hah... El kamu di mana?" guman Kevin.
Kevin memutuskan untuk pulang ke Apartemen. Kevin masuk ke dalam lift menuju lantai atas dimana flatnya berada. Mata Kevin membulat saat melihat El bersama Pria lain di depan pintu kamar apartmentnya.
Kevin segera bersembunyi agar El tidak melihat kedatangan dirinya.
Aku mencemaskan dirinya ternyata dia bersama Pria itu, batin Kevin
El sudah berada di depan pintu apartemen Kevin. Karna Dika sudah tahu tentang keadaan El, maka tidak ada lagi rahasia yang harus El sembunyikan. Dika mengantar El ke lantai atas apartemen karna kondisi El masih sedikit lemah.
"Makasih yah Kak, Udah antar El sama jagain El di rumah sakit,":ucap El.
Dika tersenyum mengangguk. "Jangan makasih melulu. Kalau kamu ada apa-apa cepat hubungi Kakak."
"Iya pasti," ucap El.
"Kamu masuk gih dan cepat istirahat," ucap Dika.
"Aku masuk... Kakak hati-hati di jalan," ucap El.
Dika beranjak pergi setelah dia memastikan El masuk ke dalam apartemen. Melihat Dika sudah masuk ke lift untuk turun, Kevin segera masuk ke dalam apartemen.
Kevin masuk dan berteriak memanggil Nama El. Dadanya sudah terselimuti emosi.
"Elena keluar kau!" teriak Kevin.
Elena yang mendengar teriakan Kevin dari kamar tidur segera keluar. "Ada apa, kenapa teriak-teriak Kev?"
Kevin menatap nyalang Elena. "Dari mana saja kau huh!" bentak Kevin.
Elena gugup untuk bicara. "Duduklah dulu Kev... aku akan jelaskan."
Kevin menarik tangan El hingga tubuh El terduduk di sofa. "Apa kau tahu betapa khawatirnya diriku saat kau menghilang. Tapi kamu malah berduaan dengan pria lain," hardik Kevin.
Elena menggeleng. "Tidak Kev, tenangkan dulu dirimu. Biar aku jelaskan kenapa tidak pulang."
Kevin berdecak. "Apalagi yang ingin kau jelaskan El, sudah jelas kau bersama pria itu."
Kevin mencengkram tangan El kuat. "Apa diriku masih kurang El hingga kamu berselingkuh dengannya?"
Elena kaget Kevin menuduhnya selingkuh padahal sudah jelas Kevin lah yang punya kekasih lain. "Jangan menuduh diriku selingkuh Kev. Aku tidak pernah berbuat hal itu."
Kevin semakin mencengkram lengan El hingga El meringis sakit. "Kau bermalam bersama pria itu, kau pikir tidak ada hal yang terjadi denganmu."
El melepaskan cengkraman tangan Kevin. "Cukup Kevin, kau menyakitiku. Di mana kamu saat istrimu membutuhkan suaminya. Apa kamu tahu pria itu menunggui diriku di rumah sakit, kau bahkan tidak tahu istrimu sedang sakit. Aku menelepon ponselmu tapi kau selalu mereject panggilanku. Kau malah asyik bersama Amel."
Kevin memundurkan tubuhnya sedikit menjauh dari El. Dia shock mendengar kata-kata El. Istrinya sakit tapi dia tidak tahu dan bahkan menuduhnya yang bukan-bukan.
Kevin mengambil kunci mobil lalu keluar dari apartemen.
El yang melihat Kevin sudah keluar hanya menangis meratapi dirinya.
El terlelap tidur di atas sofa, Kevin pulang dari luar. Kevin melihat El tertidur di sofa segera memindahkan El ke kamar tidur. Kevin mencium kening El.
"Maafkan... aku El," lirih Kevin.
Kevin berbaring di samping El dan membawa El kedalam pelukannya.
*****
El bangun dari tidurnya saat alarm jam berbunyi. Sudah pukul 4 pagi El bersiap untuk membuat sarapan setelah itu kesekolah.
El membuka kulkas mengeluarkan bahan-bahan untuk dia memaksa.
El berkutat dengan alat-alat dapur. El terkejut sudah ada tangan yang melingkar di perutnya. Kevin memeluk El dari belakang menghirup aroma ceruk leher istrinya. El mengeliat geli akan perlakuan Kevin.
"Maafkan... aku El," ujar Kevin.
"Sudahlah Kev... lupakan, sekarang kamu bersiap saja sana," ucap El.
Kevin membalikkan tubuh El agar berhadapan dengannya. Kevin menatap wajah El di kecupnya kening El dengan lembut. Kevin mematikan api kompor membawa El ke arah meja makan.
El tergagap bicara. "Ka-kamu mau apa Kev?"
"Aku ingin kamu," ujar Kevin.
Jadilah pagi itu Kevin melaksanakan kewajibannya sebagai suami dan El hanya pasrah saja akan perlakuan suaminya.
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Zamie Assyakur
kelakuan anak SMA... semoga El tidak hamil....
2023-01-12
1
fatimatus zahro
sumpah.. xebelin karakterx ellena.. knpa gg tegas jd cew.. jgn mw kalo cuma dperlakukan spt itu.. hrus teges untuk harga diri seorang istri.. xebelin sumpah.. pasrah aja gtu di perlakukan spt itu sm kevin..
2022-09-20
0
dite
orang pada rame ribut krn si kevin umur 18th nikah,
pada lupa keknya ama alvin anaknya alm arifin ilham yg nikah umur 17th.
2022-06-23
0