Dean mengantar Elena masuk dalam kamarnya. ''Kamu istirahat yah."
Elena tersenyum mengangguk. "Hemm... kamu juga."
Dean keluar kamar Elena tak lupa mencium kening wanita yang sangat dia cintai. Elena menutup pintu kamarnya, selepas itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lima belas menit El selesai dari ritual membersihkan diri. El keluar dari kamar mandi, saat El keluar pintu kamarnya di ketuk seseorang.
Tok... tok... tok... !
El memutar handle pintu yang dikunci. Belum sempat pintu terbuka sepenuhnya, pintu itu sudah di dobrak hingga El bergeser mundur ke belakang.
Kevin, pria yang memaksa masuk adalah suaminya sendiri. Kevin menutup pintu tak lupa mengunci pintunya. Kevin menatap tajam wajah El, hanya dengan tatapan mata saja El menjadi takut.
El menelan saliva lalu bergerak mundur ke belakang. Kevin terus maju hingga tubuh El terbentur tembok dan Kevin dapat mengukung dengan lengannya.
Kevin membelai rambut El yang masih basah lalu beralih pada pipi yang mulus bak pualam. Jantung El berdetak kencang, takut Kevin akan menyakiti dirinya lagi.
Elena tidak berani menatap wajah suaminya. El mengalihkan pandangan dan membiarkan Kevin terus membelai pipinya. Hidung Kevin menyusuri pipi El hingga napas mint dari Kevin dapat El rasakan.
"Tatap mataku sayang," ujar Kevin.
El masih tidak bergeming untuk menatap wajah Kevin.
Kevin menjepit kedua pipi El dengan tangannya, mengalihkan wajah El agar menatap dirinya.
El meringis kesakitan. "Awww... sa-sakit!"
El bicara dengan tidak jelas sebab Kevin masih menekan pipinya.
Kevin diam saja saat El kesakitan. ''Aku sudah bicara lembut padamu, tapi kamu benar-benar tidak mendengarku El."
Airmata El menetes, Kevin menarik tangan El lalu melemparnya di atas ranjang tidur. Kevin menekan tombol kedap suara yang terpasang di sisi sebelah tembok pintu agar siapapun tidak bisa mendengar mereka.
Kevin membuka kaus yang dia kenakan. Kevin naik ke atas ranjang membuka kimono handuk yang El kenakan. El berusaha mempertahankan kimononya agar tidak terlepas.
"Kenapa... aku menginginkan kamu El," ucap Kevin.
El menggeleng dengan masih mengenggam erat kimono. "Aku... gak mau Kev."
Kevin menatap nyalang El, emosinya sudah berada di puncak. "Kau ingin Dean yang menyentuhmu. Kau membiarkan Dean menyentuh wajahmu, mencium dan memeluk dirimu begitu huh," hardik Kevin.
El mengeleng. "Lepaskan aku kali ini saja Kev," lirih El.
Kevin berdecih. "Cih... lepaskan kau bilang. Kau telah mengkhianatiku. Kamu berselingkuh dariku El. Kamu adalah istriku, hanya aku yang berhak menyentuhmu, tapi kau malah membiarkan Dean menciummu."
Kevin menguncang kedua pundak El. "Apa kau ingin balas dendam padaku. Kau mencintai Dean bukan, katakan El, katakan," ucap Kevin. Dengan nada tinggi.
"Iya Kev... aku memang membalas semua kelakuanmu padaku. Tidakkah kau malu bercumbu di depan istrimu sendiri huh. Kau juga pasti sudah tidur dengan Amel, bukan?" hardik Elena.
"Diam...."
Kevin menarik rambutnya.
Kevin melepas paksa kimono El dan menindihnya. "Apa kau sudah tidur dengan Dean?"
El menggeleng. "Aku tidak semurah itu Kev. Aku masih sadar apa statusku, tidak seperti dirimu!" bentak El.
Kevin terkekeh. "Kau tahu statusmu sebagai istriku, tapi kau berciuman dengan pria lain."
"Aku akan menghapus semua bagian yang sudah di sentuh Dean. Aku akan membalas rasa sakit hatiku karna dirimu El. Setiap sentuhanku, kau hanya menyebut namaku saja."
Kevin memulai aksinya dengan kasar. Kevin mencengkram kedua pipi El hingga memerah. Rintihan tangis El yang beradu dengan hentakan kuat Kevin menghiasi seluruh sudut kamar. Kevin meluapkan emosinya pada tubuh El. Sekujur tubuh El di penuhi tanda cinta tapi tanda itu berupa bercak-bercak luka.
Kevin terengah-engah setelah mencapai kepuasan. El meneteskan airmata menahan perih di sekujur tubuhnya. Kevin turun dari atas ranjang lalu memakai kembali pakaiannya.
Kevin menatap El sinis. "Apa kamu puas El, suamimu ini begitu perkasa, bukan?"
"Jangan melanggar perintahku El, jauhi Dean dan jadi istri yang patuh padaku."
Kevin mencium kening El kemudian menyelimutinya. "Tidurlah sayang."
Kevin melihat sekitar sekiranya aman, Kevin keluar dari kamar Elena dan pergi kembali menuju kamarnya. Elena terisak setelah kepergian Kevin. Fisik dan juga hatinya telah Kevin sakiti. Entah sampai kapan El akan bertahan dari siksaan Kevin.
El tertatih menuju kamar mandi.El menghidupkan kran air lalu membersihkan dirinya. Rasa perih dia tahan saat air menyentuh luka-luka yang di sebabkan Kevin. Bibir El bengkak, pipinya juga lebam belum lagi jejak kebiruan di seluruh bagian atas badannya.
*******
Kevin kembali ke dalam kamarnya setelah puas menyiksa El. Jam menunjukan pukul tiga pagi. Kevin duduk di tepi ranjang tempat tidur. Kevin mengusap rambutnya ke belakang.
Kevin melihat kedua tangannya. "Apa yang telah kuperbuat pada istriku. Aku cemburu El. Dean bahkan memelukmu saat kau baru saja datang ke villa."
Kevin melihat Dean memeluk saat istrinya itu baru saja datang. Lalu saat El berpenampilan cantik juga itu untuk Dean. Perhatian Dean bahkan kemesraan El dan Dean di taman membuat dada Kevin terbakar.
Kevin sengaja bersikap romantis pada Amel agar Elena merasa sakit hati. Kevin berpura-pura bersikap datar di depan El untuk menyembunyikan rasa sesak di dadanya. Kevin tidak ingin siapapun yang menyentuh El. Hanya dia yang boleh karna El miliknya.
Kevin meneteskan airmata menyesal telah menyakiti Elena. "Maafkan aku istriku, aku bercumbu pada Amel hanya untuk membalasmu. Kau masih mencintai Dean, aku benci akan hal itu."
Elena membaringkan diri di ranjang tempat tidur. Saat dia ingin memejamkan matanya pintu kamarnya di dobrak. El tidak lagi mengunci kamar saat Kevin keluar dari kamarnya.
Mata El membulat saat melihat sosok pria yang menatap dirinya. Pria itu memperhatikan kondisi El yang lebam dan terluka. bahkan bagian lehernya juga terlihat sebab El memakai pakaian kaus yang sedikit lebar di bagian lehernya.
Elena merasa tercekit, bibirnya kelu tidak bisa berkata apa. Bukan tidak bisa tapi bingung harus memulai darimana untuk menjelaskan semuanya. Pria ini pasti sudah mengetahui perbuatan yang Kevin lakukan.
Pria itu duduk di depan menatap wajah El. "Apa... dia yang melakukanya?"
El mengangguk. "Hemm...."
Pria itu pergi dari hadapan El lalu keluar dari kamar. El menghalangi untuk pergi takut jika pria ini akan menemui Kevin. Pria itu melepas tangan Elena.
"Aku akan ambil kotak obat, tunggu saja disini," ujarnya.
Elena mengangguk.
Tidak lama pria itu kembali dengan membawa kotak obat dan segelas air minum. Pria itu memberikan El minum dan El meminum air itu hingga tandas.
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.
Jangan lupa mampir ke karya Author yang lain.~ Terpaksa menikahi Mantanku dan Menikahi Tuan Muda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
mardiana sari
sebel aku el nya lemah bgt thorrr kevin kurang ajar.
2024-10-22
1
@sulha faqih aysha💞
elena kamu jangan lembek doank jangan mudah di tindas lawan suami lucnat kamu
2023-01-13
1
Zamie Assyakur
syp tuh yg dateng 🤔🤔🤔🤔
2023-01-13
0