Mata Kevin membulat dia yakin jika gadis cantik yang duduk di hadapannya adalah istrinya Elena.
"Kamu Elena, kan?" tanya Kevin.
Elena tersenyum. "Aku memang Elena!"
Amel dan Natalia melotot bagaimana bisa gadis cantik ini Elena. "Kamu sengaja dandan cantik buat Raka, yah?" tanya Amel.
Elena menggeleng. "Ini memang aku yang asli."
Amel seakan tidak percaya. "Kau... jangan membodohi kami semua. Gimana bisa seorang cupu jadi bidadari."
Dean dan Raka jengah melihat Amel dan Natalia seolah tidak percaya akan gadis cantik itu adalah Elena.
"Dia memang Elena, ini memang penampilan aslinya. Jika yang kalian lihat di sekolah itu hanya samaran saja," ujar Dean.
"Benar... ini adalah Elena yang asli. Elena yang punya rambut kecoklatan dan bermata emerald," sahut Raka.
Natalia berdecak. "Ck... jika kamu cantik begini, kenapa berpenampilan cupu?"
"Jika Elena berpenampilan seperti ini, maka Amel tidak akan jadi bunga sekolah. Posisinya akan di geser oleh Elena, hahahaha," ujar Raka. Tertawa.
Amel terlihat kesal akan perkataan Raka.Dia akui memang Elena sangat cantik. Tadi saja Elena masuk cafe sudah menjadi pusat perhatian.
"Jangan dengar omongan Raka. Itu karna diriku dan masa lalu kami sebagai sahabat. Jadi Elena mengubah penampilan dirinya," ujar Dean.
Elena menepuk punggung Dean. "Sudahlah Dean, jangan lagi di bahas."
Dean memeluk Elena. "Maafkan... aku El."
Kevin mengepalkan tangan di bawah meja. Beraninya Dean memeluk El dan itu sudah dua kali terjadi.
sepertinya hukuman tadi malam masih kurang, batin Kevin.
Mereka makan bersama sesaat setelah Raka memesan makanan. Kevin menatap tajam El sedangkan yang di tatap menunduk takut. El yakin Kevin akan mengintrogasinya setelah pulang.
Kevin mengirimkan chat pada Elena agar segera pulang.
~ Pulang sekarang dan tunggu aku di apartemen, Kevin.
Elena membaca pesan chat yang dikirim Kevin. Elena meremas ujung bajunya sesekali melirik Kevin.
Dia takut Kevin pasti akan marah padanya. Dengan berat hati El harus pulang sekarang.
"Raka... ini sudah malam, aku pulang dulu," ujar El.
Raka melirik arloji di pergelangan tanganya.
"Ini baru jam 10 malam El."
El bingung untuk mencari alasan agar bisa cepat pulang. "Cafenya pasti akan tutup jadi lebih baik kita pulang saja."
Raka pasrah saat El merengek ingin pulang padahal dia masih ingin bersama El.
"Iya sudah... pulang lah, tapi Dean akan mengantarmu."
El menggeleng. "Tidak usah, biar aku pulang sendiri."
Dean meraih pergelangan tangan El. "Sudahlah... El, biar aku mengantar kamu ini sudah larut tidak baik bagimu pulang malam."
Natalia cemburu melihat Dean yang perhatian pada El. Seperti bukan perhatian pada sahabat tapi pada seorang gadis yang Dean cintai. "Dean... aku boleh ikut gak?"
Dean menolak mentah-mentah permintaan Natalia. "Tidak... jika kamu mau pulang, sama Raka saja atau sama Amel."
Dean beranjak pergi mengantar Elena pulang setelah berpamitan pada Raka dan Kevin.
Di dalam mobil Dean dan Elena merasa canggung. Biasanya mereka bertemu hanya saling menatap sinis dan bertengkar.
******
Dean melajukan mobilnya membelah jalan kota dan berhenti di sebuah taman. El heran kenapa Dean membawanya ke sebuah taman.
"Kenapa kita ke taman De?" tanya El.
"Ayo... kita turun dulu," ujar Dean.
Dean dan El turun keluar dari dalam mobil.
Dean tahu jika El menyukai lampu taman, maka dari itu Dean membawa El ke taman agar dapat berbicara pada El.
El tersenyum melihat indahnya lampu di taman itu. El merasakan tangan melingkar di perutnya. Jantung El berdetak perasaan itu masih sama seperti tiga tahun lalu.
"El... aku merindukan dirimu."
El melepas pelukan Dean memutar tubuhnya menjadi saling berhadapan. "Aku juga merindukan dirimu sahabatku."
El sengaja menekankan kata sahabat pada Dean. Saat ini statusnya bukan lagi single tapi sudah bersuami. Tidak mungkin baginya kembali menerima perasaan Dean meskipun dia juga punya rasa yang sama.
Dean menggeleng. "Tidak El... aku merindukan kamu sebagai wanita yang ku cintai."
Elena meneteskan airmata betapa hancur hatinya saat ini. Apakah Dean akan tetap menerima dirinya saat pria itu tahu segalanya. Bahkan Kevin sudah melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami.
El mencium tangan Dean lalu mengenggam erat. "Lupakan perasaanmu Dean. Aku tidak ingin kehilangan sahabat lagi. Sudah cukup Derel."
Dean meraih wajah El lalu di hapusnya air mata yang menetes di pipi El. "Aku tidak bisa. Aku sudah pernah mencobanya."
Dean mengecup kening El. "Please... terima Aku."
El menggeleng. "Maafkan aku De, aku tidak bisa."
Dean menguncang bahu El. "Kenapa El, bukankah kamu juga punya perasaan yang sama terhadapku?"
El terdiam airmatanya masih saja menetes dari pipinya. Andai dia tidak menikah dengan Kevin sudah pasti Elena akan menerima Dean. Tapi El sudah menjadi milik Kevin meski Pria itu tidak mencintai dirinya.
Elena bingung untuk bicara, tidak mungkin memberitahu Dean jika dia sudah bersuami apalagi Dean dan Kevin juga bersahabat.
"Dean," lirih El.
El memeluk Dean erat seraya menangis. Dean melepaskan pelukan El di tatapnya mata emerald milik El.
"Kenapa menangis, maaf telah memaksa dirimu."
El kembali memeluk Dean. "Dean... maafkan lah aku, tapi aku mohon lupakan perasaan cintamu padaku," El berkata lirih.
Air mata Dean menetes tiga tahun lalu sahabatnya Derel yang menjadi penghalang. Sekarang apalagi yang membuat El tidak bisa menerimanya. Sudah jelas jika El punya perasaan yang sama.
Tiga tahun lalu Dean dan El saling mengungkapkan perasaan tapi tidak sampai tahap pacaran. Karna Derel juga menyukai El. Saat ini penghalang itu sudah tidak ada lagi kenapa El masih menolak Dean.
Dean menatap mata indah itu. "Katakan El, apa kamu sudah tidak mencintaiku?"
El menggeleng. "Tidak Dean... aku mencintai kamu, tapi kita tidak bisa bersama."
Dean mengusap wajah gusar ."Tapi kenapa Elena?"
Elena terbata-bata menjawab pertanyaan Dean. "A-aku... aku tidak bisa menjelaskannya padamu."
Elena memelas. "Aku mohon De, jangan paksa aku."
Dean menghela saat ini dirinya tidak ingin membuat Elena tertekan dengan perasaan cintanya itu. "Baiklah... maafkan aku yang telah memaksakan perasaan diriku padamu."
Dean membawa El kedalam dekapannya. Mengusap punggung belakang El agar tenang dan berhenti menangis. Dean mengecup kening El membenamkan bibirnya di dahi El dengan cukup lama.
El melepas pelukan Dean dan mereka saling menatap. Dean meraih tengkuk El lalu mendaratkan ciuman di bibir ranum itu. Elena membelalak Dean menciumnya. Dean semakin memperdalam ciumannya. Tanganya mempererat pelukan dipinggang ramping El.
Dean melepas ciumanya. "Elena... aku mencintai kamu."
Dean kembali mencium bibir itu dan kali ini Elena membalasnya.
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Dewi Anjasmaraa
kayanya kurang pantas anak SMA punya problem kaya gitu coba di buat anak kuliahan biar cocok dengan topiknya
2024-10-19
3
Nur Indah Farilah
terima aja el biar ketar ketir si kevin
2022-11-10
2
Ilah Alfiah
mantap lanjutkan El sama Dean tuh si Kevin juga sering jalan bareng sama si Amel kan jangan mau di rendahin sama si Kevin El toh Dean duluan cinta sama kamu dan kalian sahabatan lebih dulu daripada sama si Kevin yang sok play boy itu nyesel Kevin ntar liat El udah cantik dan banyak yang naksir makan tuh bunga sekolah yang katanya tapi nyatanya cantikan El kan daripada Amel juga
2022-07-07
0