Menonton

Di Rumah utama keluarga Maddison.

Ketegangan terlihat jelas ketika Mark dan Marisa bersitegang tentang hubungan Lewis dengan Clara.

"Sampai kapanpun, aku tidak akan mengakui ja*lang itu sebagai menantuku!" pekik Marisa membuat Mark menghela napas.

"Lalu apa?" tanya Mark sambil menatap dengan tajam. "Pernikahan mereka sudah terdaftar, dan Clara sudah pasti di anggap sebagai pelakor!" sambungnya.

Marisa hanya mengeram kesal. Ia tau apapun keputusan Lewis, tidak akan ada yang bisa menahannya.

"Jika kau ingin dia kembali mengundurkan diri, silahkan!" ucap Mark sebelum meninggalkan Marisa yang masih marah di ruang tamu.

Marisa menatap tajam kepergian suaminya. Ia tidak mungkin membiarkan ini semua terjadi begitu saja. Apalagi Lewis membatasi pergerakannya dan juga Clara.

Bahkan kini sudah ada aturan baru jika Clara tidak diperbolehkan untuk memasuki Perusahaan dan Mansion Lewis apapun alasannya.

Marisa memilih untuk datang ke rumah Lewis dan membicarakan hal ini dengan putranya. Selagi masih bisa dicegah, ia akan menempuh jalur apapun.

Mau taruh di mana mukanya nanti kalau semua teman-teman sosialitanya tau jika ia memiliki menantu yang tidak berkelas.

"Mau kemana kau?" tanya Mark ketika melihat pergerakan Marisa.

"Bukan urusanmu!" ketusnya.

Mark hanya membiarkannya pergi tanpa mencegah. Ia tau jika Marisa akan pergi ke rumah Lewis.

Ia memiliki harapan yang sama dengan Marisa, namun Lewis tidak semudah itu untuk diatur terutama tentang pasangan.

Marisa yang ragu untuk masuk ke dalam mansion Lewis, kini membulatkan tekad untuk menemui putra tampannya yang masih terlelap di dalam selimut.

Ia masuk dengan langkah tegap, menatap keadaan rumah yang terlihat sepi, hanya ada beberapa pelayan yang berlalu lalang membersihkan rumah.

Hingga pandangannya teralihkan ketika menatap seorang anak kecil yang tengah memangku botol minum besar dan beberapa cemilan di tangannya.

"Heh, anak siapa kamu?" sentak Marisa membuat Devon terkejut.

Ia membalikkan badan dan menatap nenek tua yang terlihat bingung.

"Nenek siapa?" tanya Devon dengan wajah datarnya.

Marisa terdiam dan terkejut ketika melihat paras wajah Devon yang terasa begitu familiar.

"Saya yang harus bertanya kamu siapa? Kenapa ada di rumah anak saya?" tanya Marisa ketus.

"Oh!" ucap Devon tidak peduli dan memilih untuk segera kembali ke kamarnya.

"Heh, berhenti kamu! Dasar anak tidak tau diri!" pekik Marisa berusaha untuk mengejar Devon.

"Mom!" panggil Lewis yang terganggu karena suara lengking Marisa.

"Lewis!" seru Marisa terkejut ketika melihat penampilan berantakan Lewis dan bekas percintaannya semalam.

Pria tampan itu hanya memakai boxer saja, sehingga terpampanglah dengan jelas lekuk tubuh Lewis di sana.

"Mom! Kalau hanya untuk membuat keributan, lebih baik Mom kembali dan beristirahat! Aku sungguh lelah karena tidak tidur semalaman. Jangan membuatku emosi!" ucap Lewis tegas.

Marisa terdiam. Ia menatap pintu kamar yang dimasuki Devon tadi. "Mommy melihat anak kecil tadi. Pelayan mana yang berani membawa anak-anak ke sini?" tanya Marisa membuat Lewis mengernyit.

"Jangan ganggu mereka!" tukas Lewis dan kembali masuk ke dalam kamar.

Marisa hanya terdiam, ia melangkah menuju kamar Devon dan membukanya. Namun sayang, pintu telah terkunci.

"Hei anak kecil, buka pintunya!" ucap Marisa sembari mengetuk pintu.

Hingga beberapa kali ia memanggil, tidak ada satupun respon yang ia terima. Hening, seolah tidak ada kehidupan di dalam sana.

Marisa menyerah, ia duduk di ruang tamu dan menonton televisi sembari menunggu Lewis untuk membicarakan masalah ini.

Sementara di dalam kamar, Devon duduk di atas kasur sambil membuka Laptopnya.

Dengan dahi yang ditempeli plaster demam, Devon menatap CCTV yang tengah memperlihatkan nenek tua yang ia lihat tadi.

"Apa dia nenekku?" tanya Devon.

Ia melirik ke arah Diego yang masih terlelap dan membangunkannya.

"Dek! Lihatlah siapa yang datang pagi ini," panggil Devon membuat Diego terbangun.

Dengan mata yang masih buram, ia menatap seorang perempuan yang terasa asing baginya.

"Siapa dia kak?" tanya Diego sembari meminum air putih.

"Nenek kita!" ucap Devon.

Diego hampir saja tersedak, ia mengucek matanya dan menatap dengan lekat wanita tua yang tengah duduk di ruang tamu.

"Apa mereka akan mengusir kita?" tanya Diego mengernyit.

"Ibu tidak akan membiarkannya," ucap Devon.

Mereka terus menatap laptop dengan serius sambil memakan cemilan yang didapat dari dapur.

Hingga kedatangan Lewis membuat jantung mereka berdetak kencang. Akhirnya ayah badjingan mereka bisa berada sedekat ini.

Sementara itu di luar kamar, Lewis hanya menggunakan jubah dengan wajah yang sudah lebih segar.

"Kenapa Mom datang pagi-pagi seperti ini?" tanya Lewis.

"Apa benar yang dikatakan Daddymu semalam?" tanya Marisa.

"Benar! Bukankah aku sudah memperlihatkannya?" seru Lewis.

"Mommy tidak setuju kamu menikah dengan dia, Lewis! Dan anak-anak tadi, pasti anak haram dia kan?" tanya Marisa membuat Lewis mengernyit.

"Anak haram atau tidak, yang jelas sekarang mereka sudah menjadi anakku!" tegas Lewis membuat Marisa semakin geram.

"Kau menerima anak orang lain! Lewis buka matamu! Dia hanya seorang ja*lang! Sangat tidak pantas berada dalam keluarga kita!" pekik Marisa.

Wajah Lewis langsung menggelap. Ia hanya terdiam dan melirik kamar yang berada di sudut ruangan dimana Diego dan Devon berada.

"Setidaknya, dia lebih baik dari pada wanita itu! Dia juga ibu yang baik untuk anak-anakku nanti. Hati yang begitu lembut, penyayang, bahkan ketika anaknya sakit tidak sekalipun dia terlelap hingga pagi!" jelas Lewis berhasil membuat Marisa bungkam.

"Kau menyindirku?" tanya Marisa.

Lewis hanya mengedikkan bahunya dan memilih untuk kembali ke kamar.

"Pulanglah, Mom! Aku tidak akan menuruti permintaanmu kali ini!" ucap Lewis malas.

Marisa tidak langsung pulang. Ia akan menunggu hingga Irene atau kedua anaknya keluar dari kamar.

Ia akan langsung menghajar mereka tanpa ampun ketika Lewis tidak ada.

Diego dan Devon terdiam menatap perdebatan itu sambil memakan sarapannya. Terlihat sangat keren dan membuat mereka paham, ternyata Lewis tidak sebadjingan itu.

"Kak, dia mengakui kita sebagai anaknya! Dia juga sangat mirip dengamu," ujar Diego membuat Devon terdiam.

"Jangan terlalu mempercayainya! Dia pasti sudah membuat Ibu sedih selama di sini. Buktinya nenek itu dengan mudah mengatai ibu," ucap Devon membuat Diego mengangguk.

Mereka masih memperhatikan Marisa. Namun Seketika wajah tampan itu terlihat murung karena Lewis tidak pergi bekerja. Mereka tidak akan bebas bertemu dengan Irene nanti.

"Aku merindukan ibu," ucap Diego membuat Devon mendelik.

"Kita bisa bertemu ibu setiap hari, sampai nanti kita kabur dan menghilang dari hadapan ayah badjingan ini," ketus Devon.

Untungnya sarapan yang di dapat cukup banyak dan juga stok cemilan, membuat mereka betah di dalam kamar seharian.

"Eh ibu bangun, Kak!" sentak Diego membuat Devon menatap wanita cantik yang begitu mereka sayangi.

Namun, Lewis berjalan dibelakangnya dengan wajah datar dan itu merusak pemandangan.

"Kita akan beraksi setelah ini, Dek! Persiapkan dirimu!" ucap Devon dengan senyum jahat di bibirnya.

Terpopuler

Comments

El_Tien

El_Tien

kalau bukan di dunia novel, mana ada anak-anak seperti ini 🤣🤣🤣

2024-10-31

2

lihat semua
Episodes
1 Dijual
2 Kau!
3 Tubuhmu!
4 Membawanya kembali
5 Perjanjian
6 Menikah?
7 Ancaman
8 Melawan
9 Nyonya Baru
10 Sedikit melunak
11 Membawa masalah
12 Calon suami?
13 Menangis?
14 Merindukan anak-anak
15 Cintai aku Irene!
16 Dilabrak!
17 Cemas
18 Merayunya
19 Awal yang baru
20 Menonton
21 Merasa familiar
22 Ingin Bebas
23 Mereka Anak Saya!
24 Hak Asuh Anak
25 Sudah Jelas
26 Tuan Lewis, ayahmu!
27 Istriku hanya satu!
28 Menjijikkan
29 Mantan
30 Ayah Kalah!
31 Om Jahat!
32 Cemburu
33 Tidak Peduli
34 Akan ku rebut kembali!
35 Apa rencanamu?
36 Saling mencintai
37 Belum Menerima!
38 Dimana Ibu kami?
39 Menyerah saja Nona!
40 Jangan besar dulu, Nak!
41 Bersyukur atau menangis
42 Dia milikku!
43 Jangan pergi lagi!
44 Warisan
45 Tidak semiskin itu!
46 Balas Dendam
47 Mendukungmu!
48 Ibu yang kejam
49 Berhati-hatilah!
50 Ibu jangan pergi!
51 Tidak pantas!
52 Luluh
53 Saya ayahnya!
54 Dia yang membeliku!
55 Hancurkan mereka!
56 Curiga
57 Jangan Aneh-aneh!
58 Renovasi!
59 Penerus Lewis
60 Belum seberapa
61 Asisten Pribadi
62 Hancur!
63 Yang setimpal!
64 Sabar sedikit lagi!
65 Apa masih membenci?
66 Menciptakannya!
67 Kasus macam apa ini?
68 Permulaan tanpa akhir
69 Penuh amarah
70 Level Up!!
71 Begitu sombong
72 Karena kamu!
73 Dibayar dengan Nyawa!
74 Cari tau siapa dia!
75 Jaga dirimu!
76 Bukan Aku
77 Sisi lain.
78 Hina
79 Aku di sini
80 Sangat Kompak
81 Diusir
82 Nyawa Harus Dibayar!
83 Bertemu
84 Kalian menipu saya!
85 Pemberitaan
86 The Day
87 Aku merasa lega
88 Menyiapkan kejutan
89 Kejutan
90 Kabar baik?
91 Masih yang dulu
92 Sayang Semangat!
93 Rahasia Clara
94 Aku takut, Lewis!
95 Petunjuk
96 Bukan Kau!
97 Memisahkan Mereka?
98 Saudara Yang Terpisah?
99 Tidak mungkin
100 Terlalu Longgar?
101 Tergeletak
102 Tidak akan Merebutnya.
103 Luluh!
104 Bertahanlah, Dik!
105 Diana Jocelyn Maddison
106 Meradang!
107 Mereka Cucumu!
108 Itu aku!
109 Perusahaan Gelap
110 Tetap Percaya!
111 Pengecut!
112 Penyusup?
113 Membongkarnya
114 Titik terang?
115 Bisakah bertemu?
116 Kami akan menebusnya!
117 Dimana Ibu dan Ayah?
118 Kerahkan semua!
119 Mengawasi
120 Hancur di tanganku!
121 Kabur!
122 Mati di Tanganku!
123 Bukan Irene!
124 Kritis
125 Kemarahan Tuan Arselio
126 Ayah pembohong!
127 Tidak akan rela!
128 Kesempatan Terakhir.
129 Terimakasih
Episodes

Updated 129 Episodes

1
Dijual
2
Kau!
3
Tubuhmu!
4
Membawanya kembali
5
Perjanjian
6
Menikah?
7
Ancaman
8
Melawan
9
Nyonya Baru
10
Sedikit melunak
11
Membawa masalah
12
Calon suami?
13
Menangis?
14
Merindukan anak-anak
15
Cintai aku Irene!
16
Dilabrak!
17
Cemas
18
Merayunya
19
Awal yang baru
20
Menonton
21
Merasa familiar
22
Ingin Bebas
23
Mereka Anak Saya!
24
Hak Asuh Anak
25
Sudah Jelas
26
Tuan Lewis, ayahmu!
27
Istriku hanya satu!
28
Menjijikkan
29
Mantan
30
Ayah Kalah!
31
Om Jahat!
32
Cemburu
33
Tidak Peduli
34
Akan ku rebut kembali!
35
Apa rencanamu?
36
Saling mencintai
37
Belum Menerima!
38
Dimana Ibu kami?
39
Menyerah saja Nona!
40
Jangan besar dulu, Nak!
41
Bersyukur atau menangis
42
Dia milikku!
43
Jangan pergi lagi!
44
Warisan
45
Tidak semiskin itu!
46
Balas Dendam
47
Mendukungmu!
48
Ibu yang kejam
49
Berhati-hatilah!
50
Ibu jangan pergi!
51
Tidak pantas!
52
Luluh
53
Saya ayahnya!
54
Dia yang membeliku!
55
Hancurkan mereka!
56
Curiga
57
Jangan Aneh-aneh!
58
Renovasi!
59
Penerus Lewis
60
Belum seberapa
61
Asisten Pribadi
62
Hancur!
63
Yang setimpal!
64
Sabar sedikit lagi!
65
Apa masih membenci?
66
Menciptakannya!
67
Kasus macam apa ini?
68
Permulaan tanpa akhir
69
Penuh amarah
70
Level Up!!
71
Begitu sombong
72
Karena kamu!
73
Dibayar dengan Nyawa!
74
Cari tau siapa dia!
75
Jaga dirimu!
76
Bukan Aku
77
Sisi lain.
78
Hina
79
Aku di sini
80
Sangat Kompak
81
Diusir
82
Nyawa Harus Dibayar!
83
Bertemu
84
Kalian menipu saya!
85
Pemberitaan
86
The Day
87
Aku merasa lega
88
Menyiapkan kejutan
89
Kejutan
90
Kabar baik?
91
Masih yang dulu
92
Sayang Semangat!
93
Rahasia Clara
94
Aku takut, Lewis!
95
Petunjuk
96
Bukan Kau!
97
Memisahkan Mereka?
98
Saudara Yang Terpisah?
99
Tidak mungkin
100
Terlalu Longgar?
101
Tergeletak
102
Tidak akan Merebutnya.
103
Luluh!
104
Bertahanlah, Dik!
105
Diana Jocelyn Maddison
106
Meradang!
107
Mereka Cucumu!
108
Itu aku!
109
Perusahaan Gelap
110
Tetap Percaya!
111
Pengecut!
112
Penyusup?
113
Membongkarnya
114
Titik terang?
115
Bisakah bertemu?
116
Kami akan menebusnya!
117
Dimana Ibu dan Ayah?
118
Kerahkan semua!
119
Mengawasi
120
Hancur di tanganku!
121
Kabur!
122
Mati di Tanganku!
123
Bukan Irene!
124
Kritis
125
Kemarahan Tuan Arselio
126
Ayah pembohong!
127
Tidak akan rela!
128
Kesempatan Terakhir.
129
Terimakasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!