Awal yang baru

Irene dengan cemas menanti kedatangan kedua putranya. Ia harus berterima kasih kepada George karena berhasil membujuk Lewis agar berbaik hati kepadanya.

Beberapa orang datang berlalu lalang untuk merenovasi kamar yang akan ditempati oleh dua pria kecil itu.

Berada sedikit jauh dari kamarnya, namun itu tidak jadi masalah selama Irene bisa mengawasi mereka berdua secara langsung.

Hans datang bersama dengan seorang perawat. Ia menatap Irene yang terlihat lebih cantik dibanding terakhir kali mereka bertemu.

"Irene!" panggil Hans.

Wanita cantik itu menoleh, ia mengetahui siapa laki-laki ini namun ia tidak tau siapa namanya.

"Saya Hans!" ucapnya ketika menyadari raut wajah Irene.

"Ah, Maaf! Kita belum berkenalan," tukas Irene tersenyum canggung.

"Mereka anak kalian, atau hanya anakmu saja?" tanya Hans membuat Irene terkejut.

"Anak saya saja!" jawabnya dengan cepat.

Hans mengangguk dann menunggu, ia mendapatkan informasi jika George sudah tiba di bandara dan sedang menuju pulang.

Tak lama, Dua mobil datang. George tengah menggendong Diego dan Devon digendong oleh seorang dokter.

"Nyonya!" sapa George membuat Air mata Irene tidak bisa ditahan.

"Diego, Devon!" panggil Irene ia menatap ke arah George seolah tengah mengucapkan terima kasih.

Kedua pria kecil itu menoleh dan langsung meminta untuk turun dari gendongan agar bisa memeluk Irene dengan segera.

"Ibu!" pekik mereka sambil membentangkan tangan.

Irene memeluk keduanya dan membawa mereka untuk langsung masuk ke dalam kamar.

"Maafkan ibu nak!" lirih Irene dengan masih memeluk kedua putranya.

"Ibu tidak salah! Sekarang kita sudah bertemu, ibu jangan takut lagi!" ucap Devon lirih sambil terisak.

"Iya sayang!".

Irene membiarkan dokter memeriksa keadaan mereka. Ia sudah membuat sup ikan favorit dua pria kecil ini dan langsung menghangatkannya.

Bertemu dengan Irene, panas badan Diego dan Devon langsung turun dan stabil. walaupun masih terlihat sayu, namun mereka harus menghabiskan obat yang sudah diberikan dokter.

Hingga mereka terlelap, hanya ada Hans dan seorang perawat di sana.

"Irene, Saya pamit dulu! Ini Noela perawat yang bakalan bantu kamu mengurus anak-anak," ucap Hans membuat Irene tersenyum.

"Terima kasih, Hans!" ucapnya.

Irene langsung pergi ke dapur dan membuatkan Lewis beberapa masakan yang disukai pria tampan itu.

Ia harus benar-benar berterima kasih kepada Lewis dan George untuk apa yang terjadi hari ini.

Tentu saja, Lewis pasti akan menagih janjinya malam ini Ia juga akan bersiap dengan baik agar tidak mengecewakan Lewis.

"Ibu?" panggil Diego lirih.

"Eh, kenapa sayang?" tanya Irene langsung menggendong Diego.

"Aku lapar, Bu! Apa masih ada supnya?" tanya Diego membuat Irene terkekeh senang.

"Tentu, Sayang! Kembalilah ke kamar, nanti ibu antarkan, ya!" titah Irene.

Diego mengangguk dan kembali ke kamar. ia melihat sekeliling rumah itu. Terlihat mewah dan juga indah.

Ayah badjingan ini sangat kaya ternyata! Tapi membiarkan kami hidup susah payah sejak ibu mengandung! Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan kepadamu ayah badjingan!. Batin Diego kesal.

Sementara itu Devon memilih untuk duduk di depan laptop yang selalu ia bawa ke mana-mana.

"Gimana kak, apa sudah bisa di retas?" tanya Diego sambil menatap laptop yang dipegang Devon.

Ia bersandar dengan manja di punggung sang kakak. Hawa hangat terasa menguap dari pori-pori mereka.

"Belum, Dek! Sepertinya ini cukup sulit dan aku tidak akan bisa meretasnya. Mungkin beberapa CCTV dan jaringan lain masih bisa," jelas Devon lirih dengan wajah yang memerah.

Diego hanya mengangguk. Mereka sedang menyusun rencana tentang hal apa yang akan mereka lakukan ketika bertemu dengan Lewis untuk pertama kalinya nanti.

Tak lama Irene masuk dengan membawa dua mangkok sup dan beberapa cemilan di sana.

"Makanlah, Nak! Biar cepat sembuh," titah Irene tersenyum manis.

"Apa ibu sudah makan?" tanya Devon sambil menatap wajah satu sang ibu.

"Sudah nak! Makanlah!" ucap Irene mengusap kepala keduanya dengan gemas.

Dua pria kecil itu langsung menghabiskan sup buatan Irene dengan lahap. Rasanya sudah seratus tahun mereka tidak memakan masakan ibunya ini.

"Diego, Devon. Tuan Lewis tidak terlalu menyukai anak-anak. Jadi, ibu harap kalian jangan membuat masalah, ya!" ucap Irene menegaskan.

"Ibu, apa kami akan dipukul?" tanya Diego dengan mata yang berkaca-kaca.

"Tidak, jika kalian tidak membuat masalah. Nak, ibu gak mau kalian kenapa-napa, jadi lebih baik menghindar saja darinya, ya! Dia orang yang berbahaya!" jelas Irene membuat Diego dan Devon saling memandang.

Apa yang sudah dilakukan oleh laki-laki itu kepada ibu mereka. Sebentar tangan mereka mengepal namun berusaha untuk menyembunyikannya dari Irene.

"Apa kita akan lama tinggal di sini, Bu? Kapan ibu diperbolehkan pulang?" tanya Diego penuh harap.

"Ibu belum tau, Nak! Kita sabar dulu ya. Jangan bertindak apapun! Mereka bukan lawan kita, Sayang!" ucap Irene lembut namun terselip ketegasan di sana.

Kedua pria kecil itu hanya mengangguk patuh dan memeluk Irene hingga mereka terlelap.

Ia memandangi Devon, wajahnya begitu mirip dengan Lewis. Garis wajah dan matanya yang tajam, memang persis wajah Lewis bahkan tanpa cela.

Sementara Diego, masih terlihat mirip dengan Lewis, namun memiliki mata teduh miliknya.

Sehat terus, Sayang! Apapun akan ibu lakukan untuk menjaga kalian! Maafkan ibu harus menyembunyikan rahasia sebesar ini kepada kalian. Batin Irene sambil mengecup kedua anaknya sebelum meninggalkan mereka.

Malam semakin menjelang, Irene sudah menghias kamar agar terlihat lebih romantis. Suasana remang-remang di padukan dengan lilin aroma terapi, membuat siapa saja yang masuk pasti mengerti apa artinya.

Irene sudah terlihat begitu cantik, dengan gaun malam hitam yang terlihat kontras dengan kulit putih dan tubuh langsingnya.

Lewis sudah dalam perjalanan pulang, kedua putranya juga sudah kembali terlelap setelah makan dengan kenyang.

Kini Irene sedang memanaskan makan malam di dapur. Jantungnya mulai berdetak kencang, memikirkan apa yang akan terjadi antara mereka.

Padahal ini bukan yang pertama kali, kenapa aku masih deg-degan seperti ini?. Batinnya.

Tanpa ia sadar jika Lewis sudah berdiri tak jauh darinya. Pria tampan itu seolah tengah tersihir walaupun hanya melihat punggung Irene.

Ia berjalan semakin dekat, dan membuat Irene menyadari kehadirannya.

"Anda sudah pulang?" tanya Irene sambil tersenyum.

Lewis terdiam sebentar ketika melihat senyum Irene yang tidak pernah ia lihat selama berada di sini.

Ia hanya mengangguk dan memeluk Irene dari belakang. "Kau benar-benar mempersiapkan semuanya. Apa kau terlalu senang hari ini?" tanya Lewis membuat Irene tersenyum tipis.

"Iya, terima kasih!" ucap Irene sambil mengelus pipi Lewis yang tengah bersandar di pundaknya.

Pria tampan itu mengecup bahu Irene dengan lembut. "Apa mereka sudah tidur? Jangan sampai mengganggu kita malam ini, Istriku!" tanya Lewis membuat Irene terkejut.

"Su-sudah, Tuan! Mereka susah tidur. Suya akan pastikan malam ini tidak akan ada yang mengganggu," ucap Irene sambil tersenyum manis.

Hingga makan malam selesai Irene hangatkan, Lewis memilih untuk membersihkan diri sebelum mengarungi samudra luas bersama dengan Irene.

Ketika Irene masuk membawa troli makanan, ia menatap Lewis yang baru saja keluar dari kamar mandi dan pandang mereka terkunci.

Lewis tersenyum genit dan mendekati Irene yang masih terpaku menatapnya.

"Saya tau kalau saya begitu tampan! Ari liurmu sampai menetes," bisik Lewis membuat Irene reflek mengusap mulutnya.

"Ck! Ketahuan kau!" goda Lewis tertawa senang.

Irene yang terlanjur malu, melangkah menuju balkon dengan wajah yang merona. Lewis mengenakan pakaian yang sudah dipersiapkan oleh Irene.

Ia hanya mengenakan celana, dan membiarkan angin malam membelai tubuh indahnya.

"Ayo kita makan dulu, Tuan!" ucap Irene.

Lewis mengernyit, bukankah kita baru saja menikah? kenapa kau masih memanggilku Tuan?" ketus Lewis.

"Ah, maaf. Saya bingung harus memanggil apa," lirih Irene membuat Lewis mendengus.

"Pikirkan!" tegasnya.

Malam itu menjadi awal mulai dari hubungan mereka. Lewis menguasai Irene hingga pagi menjelang.

Tidak ada kekerasan di sana hanya kelembutan dan juga kenikmatan yang menemani mereka sepanjang malam.

"Kau milikku sampai kapanpun Irene! Jangan berpikir untuk kabur lagi!" bisik Lewis ditelinga Irene yang sudah setengah sadar.

"Hmm, iya. Aku gak akan kabur lagi!" lirihnya sebelum terlelap.

Lewis tersenyum lebar dan langsung menyusul Irene ke alam mimpi.

Episodes
1 Dijual
2 Kau!
3 Tubuhmu!
4 Membawanya kembali
5 Perjanjian
6 Menikah?
7 Ancaman
8 Melawan
9 Nyonya Baru
10 Sedikit melunak
11 Membawa masalah
12 Calon suami?
13 Menangis?
14 Merindukan anak-anak
15 Cintai aku Irene!
16 Dilabrak!
17 Cemas
18 Merayunya
19 Awal yang baru
20 Menonton
21 Merasa familiar
22 Ingin Bebas
23 Mereka Anak Saya!
24 Hak Asuh Anak
25 Sudah Jelas
26 Tuan Lewis, ayahmu!
27 Istriku hanya satu!
28 Menjijikkan
29 Mantan
30 Ayah Kalah!
31 Om Jahat!
32 Cemburu
33 Tidak Peduli
34 Akan ku rebut kembali!
35 Apa rencanamu?
36 Saling mencintai
37 Belum Menerima!
38 Dimana Ibu kami?
39 Menyerah saja Nona!
40 Jangan besar dulu, Nak!
41 Bersyukur atau menangis
42 Dia milikku!
43 Jangan pergi lagi!
44 Warisan
45 Tidak semiskin itu!
46 Balas Dendam
47 Mendukungmu!
48 Ibu yang kejam
49 Berhati-hatilah!
50 Ibu jangan pergi!
51 Tidak pantas!
52 Luluh
53 Saya ayahnya!
54 Dia yang membeliku!
55 Hancurkan mereka!
56 Curiga
57 Jangan Aneh-aneh!
58 Renovasi!
59 Penerus Lewis
60 Belum seberapa
61 Asisten Pribadi
62 Hancur!
63 Yang setimpal!
64 Sabar sedikit lagi!
65 Apa masih membenci?
66 Menciptakannya!
67 Kasus macam apa ini?
68 Permulaan tanpa akhir
69 Penuh amarah
70 Level Up!!
71 Begitu sombong
72 Karena kamu!
73 Dibayar dengan Nyawa!
74 Cari tau siapa dia!
75 Jaga dirimu!
76 Bukan Aku
77 Sisi lain.
78 Hina
79 Aku di sini
80 Sangat Kompak
81 Diusir
82 Nyawa Harus Dibayar!
83 Bertemu
84 Kalian menipu saya!
85 Pemberitaan
86 The Day
87 Aku merasa lega
88 Menyiapkan kejutan
89 Kejutan
90 Kabar baik?
91 Masih yang dulu
92 Sayang Semangat!
93 Rahasia Clara
94 Aku takut, Lewis!
95 Petunjuk
96 Bukan Kau!
97 Memisahkan Mereka?
98 Saudara Yang Terpisah?
99 Tidak mungkin
100 Terlalu Longgar?
101 Tergeletak
102 Tidak akan Merebutnya.
103 Luluh!
104 Bertahanlah, Dik!
105 Diana Jocelyn Maddison
106 Meradang!
107 Mereka Cucumu!
108 Itu aku!
109 Perusahaan Gelap
110 Tetap Percaya!
111 Pengecut!
112 Penyusup?
113 Membongkarnya
114 Titik terang?
115 Bisakah bertemu?
116 Kami akan menebusnya!
117 Dimana Ibu dan Ayah?
118 Kerahkan semua!
119 Mengawasi
120 Hancur di tanganku!
121 Kabur!
122 Mati di Tanganku!
123 Bukan Irene!
124 Kritis
125 Kemarahan Tuan Arselio
126 Ayah pembohong!
127 Tidak akan rela!
128 Kesempatan Terakhir.
129 Terimakasih
Episodes

Updated 129 Episodes

1
Dijual
2
Kau!
3
Tubuhmu!
4
Membawanya kembali
5
Perjanjian
6
Menikah?
7
Ancaman
8
Melawan
9
Nyonya Baru
10
Sedikit melunak
11
Membawa masalah
12
Calon suami?
13
Menangis?
14
Merindukan anak-anak
15
Cintai aku Irene!
16
Dilabrak!
17
Cemas
18
Merayunya
19
Awal yang baru
20
Menonton
21
Merasa familiar
22
Ingin Bebas
23
Mereka Anak Saya!
24
Hak Asuh Anak
25
Sudah Jelas
26
Tuan Lewis, ayahmu!
27
Istriku hanya satu!
28
Menjijikkan
29
Mantan
30
Ayah Kalah!
31
Om Jahat!
32
Cemburu
33
Tidak Peduli
34
Akan ku rebut kembali!
35
Apa rencanamu?
36
Saling mencintai
37
Belum Menerima!
38
Dimana Ibu kami?
39
Menyerah saja Nona!
40
Jangan besar dulu, Nak!
41
Bersyukur atau menangis
42
Dia milikku!
43
Jangan pergi lagi!
44
Warisan
45
Tidak semiskin itu!
46
Balas Dendam
47
Mendukungmu!
48
Ibu yang kejam
49
Berhati-hatilah!
50
Ibu jangan pergi!
51
Tidak pantas!
52
Luluh
53
Saya ayahnya!
54
Dia yang membeliku!
55
Hancurkan mereka!
56
Curiga
57
Jangan Aneh-aneh!
58
Renovasi!
59
Penerus Lewis
60
Belum seberapa
61
Asisten Pribadi
62
Hancur!
63
Yang setimpal!
64
Sabar sedikit lagi!
65
Apa masih membenci?
66
Menciptakannya!
67
Kasus macam apa ini?
68
Permulaan tanpa akhir
69
Penuh amarah
70
Level Up!!
71
Begitu sombong
72
Karena kamu!
73
Dibayar dengan Nyawa!
74
Cari tau siapa dia!
75
Jaga dirimu!
76
Bukan Aku
77
Sisi lain.
78
Hina
79
Aku di sini
80
Sangat Kompak
81
Diusir
82
Nyawa Harus Dibayar!
83
Bertemu
84
Kalian menipu saya!
85
Pemberitaan
86
The Day
87
Aku merasa lega
88
Menyiapkan kejutan
89
Kejutan
90
Kabar baik?
91
Masih yang dulu
92
Sayang Semangat!
93
Rahasia Clara
94
Aku takut, Lewis!
95
Petunjuk
96
Bukan Kau!
97
Memisahkan Mereka?
98
Saudara Yang Terpisah?
99
Tidak mungkin
100
Terlalu Longgar?
101
Tergeletak
102
Tidak akan Merebutnya.
103
Luluh!
104
Bertahanlah, Dik!
105
Diana Jocelyn Maddison
106
Meradang!
107
Mereka Cucumu!
108
Itu aku!
109
Perusahaan Gelap
110
Tetap Percaya!
111
Pengecut!
112
Penyusup?
113
Membongkarnya
114
Titik terang?
115
Bisakah bertemu?
116
Kami akan menebusnya!
117
Dimana Ibu dan Ayah?
118
Kerahkan semua!
119
Mengawasi
120
Hancur di tanganku!
121
Kabur!
122
Mati di Tanganku!
123
Bukan Irene!
124
Kritis
125
Kemarahan Tuan Arselio
126
Ayah pembohong!
127
Tidak akan rela!
128
Kesempatan Terakhir.
129
Terimakasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!