Sedikit melunak

Irene sadar apa yang telah dia lakukan. Ia hanya menghela napas dan menarik Lewis agar sedikit menjauh darinya.

Ia meminta pria tampan itu untuk duduk di meja makan dan memberikan beberapa potong buah agar tidak bosan menunggu masakannya.

"Jangan ganggu lagi, duduk tenang di sini ya, Tuan Muda!" tegas Irene membuat Lewis hanya menatapnya dengan datar tanpa ekpresi.

Namun tidak ada penolakan dari Lewis, ia duduk dengan tenang sambil memakan buah satu persatu. Tatapannya tak lepas dari Irene yang terlihat begitu menggoda.

"Jangan lama-lama!" ucap Lewis membuat Irene menatapnya.

"Iya, Tunggulah di sana. Sebentar lagi matang," ucap Irene tersenyum tipis.

Ia merasa sedikit lucu dengan tingkah Lewis.

Ternyata dia tidak semenakutkan yang aku bayangkan. Batinnya.

Aroma masakan Irene tersebar hampir ke seluruh rumah. Semua orang tergoda dengan apa yang tengah di masak oleh Nyonya baru itu.

Satu persatu hidangan telah di tata di atas meja. Lewis menatapnya tanpa berkedip.

"Makanlah! Semoga suka," ucap Irene tersenyum.

Lewis juga ikut tersenyum menatap wanita cantik ini. "Terima kasih," ucapnya canggung.

Irene terdiam, ia hanya mengangguk dan menatap Lewis sejenak.

Berbeda dengan para pelayan yang berada di sana. Mereka terkejut dengan kata keramat yang di ucapkan Lewis.

Apa benar ini Tuan Muda Lewis? Di-dia mengucapkan terima kasih? Aku gak salah dengar kan?. batin mereka.

Suasana pagi menjelang siang itu terasa berbeda. Kehadiran Irene membuat suasana berubah drastis. Ada sedikit kehangatan di sana.

Lewis dengan elegan memakan makanannya tanpa berbicara. Ia hampir menghabiskan semua masakan Irene dan hanya menyisakan sedikit saja untuk wanita cantik itu.

"Saya akan pergi, mungkin malam ini gak pulang. Jadi, jangan macam-macam di rumah!" ucap Lewis.

"Hmm," balas Irene dengan senang hati.

Artinya malam ini ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan. "Hati-hati di jalan," ucapnya.

"Cih, Sepertinya kau terlalu senang!" sindir Lewis membuat Irene mengangguk.

"Apa saya boleh berkeliling? Saya tidak memiliki baju ganti dan semacamnya!" ucap Irene membuat alis Lewis berkedut.

"Tidak!" bantah Lewis langsung memudarkan senyuman Irene.

Ia mengambil ponsel dan menghubungi George untuk mengirim beberapa baju dari brand terkenal untuk Irene.

Bola mata gadis ini langsung membulat sempurna. "Tidak perlu berlebihan!" tukas Irene membuat Lewis menatapnya tajam.

"Tidak ada penolakan!" tegas Lewis.

Ia beranjak dari sana dan kembali ke kamar. Irene hanya terdiam dan menghela napas berat. Pria ini selalu saja dominan terhadap dirinya.

"Kenapa masih di sana?" Teriak Lewis membuat Irene terkejut.

Ia langsung pergi ke kamar dan membantu Lewis untuk bersiap.

Pria nakal itu terus saja menggoda Irene, bahkan lebih memilih untuk memeluknya dari pada bekerja.

"Jika anda jatuh miskin, saya akan cari pria kaya dan meninggalkan anda!" ucap Irene membuat tangan nakal Lewis berhenti.

Ia menatap tajam dengan tatapan membunuh. "Coba saja dan lihat nanti, dengan cara seperti apa dia akan mati!" ucapnya tegas.

Irene menelan ludahnya dengan kasar. Ia tidak berani mengucapkan apapun lagi hingga Lewis keluar sambil membanting pintu dengan cukup keras.

Ia terlonjak kaget dan menutup mata. Laki-laki itu sulit untuk ia pahami, apalagi pertemuan mereka baru berjalan beberapa hari saja.

Irene merebahkan tubuhnya dibatas kasur. Ia merindukan dua pria kecil yang selalu membuatnya tertawa.

Tanpa terasa, air matanya mengalir tanpa bisa dicegah. Kenapa takdir mempermainkannya seperti ini.

Terjebak dengan laki-laki arogan yang hanya menginginkan tubuhnya, terpisah dari anak-anak dan kini restorannya terancam tutup karena tidak ada yang memasak dan mengelola.

Namun seketika ia tersadar, bagaimana keadaan Mayang dan kakak tirinya setelah lima tahun ini.

Apakah mereka hidup lebih baik atau tidak, apakah uang satu miliar itu cukup untuk hidup mereka dan melunasi hutang?.

"Hutang? setidaknya lima tahun ini aku tidak memikirkan berapa banyak hutang yang ditinggalkan ayah," ucapnya lirih dengan air mata yang masih mengalir.

Saat ini, ia harus berpikir keras untuk keberlangsungan hidupnya. Irene hanya bisa menghela napas dengan kasar.

"Semoga saja Lewis tidak mencari tau siapa ayah dari Diego dan Devon. Aku masih belum tau apa motifnya saat ini," lirih Irene.

Ia terus bergelut dengan pikirannya, bahkan ia tidak menyadari jika pintu kamar diketuk beberapa kali.

Ia malah terlelap di sana dan membuat beberapa manager toko menunggunya di ruang tamu dengan gelisah.

*

*

*

"Kak, aku merindukan Ibu!" ucap Diego lirih.

Mereka baru saja berusaha untuk meretas sistem keamanan di Mansion Lewis, namun tidak berhasil.

"Sabar, Dek. Nanti kita telpon ibu, ya! Aku mau istirahat dulu, sepertinya kita butuh laptop baru untuk meretas rumah itu," ucap Devon.

Diego hanya menunduk. Ia tidak bisa tidur kalau tidak memeluk ibunya. Devon tidak suka dipeluk, sehingga membuat tidurnya terasa tidak enak.

"Kak, peluk!" lirih dengan mata yang berkaca-kaca.

"Kamu ini sudah besar! Kenapa masih manja?" ketus Devon namun tidak menolak ketika Diego memeluknya.

Mereka berdua berpelukan seolah saling menguatkan satu sama lain hingga terlelap.

Sofia yang mendengar hal itu menjadi sedih, ia tau jika Irene telah dibawa oleh ayah mereka. Namun kini, tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa agar Irene baik-baik saja.

"Apa mereka terus seperti ini?" tanya Ken.

"Semenjak Irene pergi, mereka selalu berada di kamar dan keluar hanya untuk makan," jelas Sofia.

"Aku akan cari cara untuk menjemput Irene. Tolong rawat mereka sementara!" ucap Ken sambil menyerahkan kartu ATM miliknya.

Sofia menatap kartu itu dengan datar, ia merasa tersinggung dengan cara Ken.

"Saya masih punya uang untuk menghidupi mereka. Uang dari Irene juga cukup sampai beberapa tahun ke depan," tolaknya dengan tegas.

Tangan Ken menggantung, ia menyerahkan kartu itu dengan paksa ke tangan Sofia. Namun gadis itu malah melemparkan kartunya dengan keras.

"Jangan mengatur saya! Kalau tidak ada urusan lagi, silahkan pergi!" sentak Sofia maran

Ia menutup pintu kamar dengan pelan agar tidak membangunkan kedua pria kecil itu.

Melihat kemarahan Sofia, Ken tidak lagi mengucapkan apapun, ia segera pergi dari sana dan menuju bandara.

Ia tau jika Lewis berasal dari kota Bartow. Ia akan pergi ke sana dan mencari tau di mana Irene berada.

Ketika ia hendak menaikinya pesawat, ponselnya berdering. Ia langsung melihat pesan yang berasal dari orang suruhannya.

"Bos, kami sudah mendapatkan jejak dari Nona Irene!".

"Cari terus sampai ketemu, kita harus membawanya pergi. Laki-laki itu terlalu berbahaya!" balas Ken dengan napas yang memburu.

Ia tidak berani menyinggung Lewis, namun Irene ada bersama laki-laki itu. Miliknya tidak boleh di ambil oleh siapapun.

Ken mengeram kesal dengan mata yang tajam. Sampai ke ujung dunia pun ia akan mencari keberadaan Irene.

"Tunggu saja kau Lewis!" ucapnya lirih dan penuh dendam.

Episodes
1 Dijual
2 Kau!
3 Tubuhmu!
4 Membawanya kembali
5 Perjanjian
6 Menikah?
7 Ancaman
8 Melawan
9 Nyonya Baru
10 Sedikit melunak
11 Membawa masalah
12 Calon suami?
13 Menangis?
14 Merindukan anak-anak
15 Cintai aku Irene!
16 Dilabrak!
17 Cemas
18 Merayunya
19 Awal yang baru
20 Menonton
21 Merasa familiar
22 Ingin Bebas
23 Mereka Anak Saya!
24 Hak Asuh Anak
25 Sudah Jelas
26 Tuan Lewis, ayahmu!
27 Istriku hanya satu!
28 Menjijikkan
29 Mantan
30 Ayah Kalah!
31 Om Jahat!
32 Cemburu
33 Tidak Peduli
34 Akan ku rebut kembali!
35 Apa rencanamu?
36 Saling mencintai
37 Belum Menerima!
38 Dimana Ibu kami?
39 Menyerah saja Nona!
40 Jangan besar dulu, Nak!
41 Bersyukur atau menangis
42 Dia milikku!
43 Jangan pergi lagi!
44 Warisan
45 Tidak semiskin itu!
46 Balas Dendam
47 Mendukungmu!
48 Ibu yang kejam
49 Berhati-hatilah!
50 Ibu jangan pergi!
51 Tidak pantas!
52 Luluh
53 Saya ayahnya!
54 Dia yang membeliku!
55 Hancurkan mereka!
56 Curiga
57 Jangan Aneh-aneh!
58 Renovasi!
59 Penerus Lewis
60 Belum seberapa
61 Asisten Pribadi
62 Hancur!
63 Yang setimpal!
64 Sabar sedikit lagi!
65 Apa masih membenci?
66 Menciptakannya!
67 Kasus macam apa ini?
68 Permulaan tanpa akhir
69 Penuh amarah
70 Level Up!!
71 Begitu sombong
72 Karena kamu!
73 Dibayar dengan Nyawa!
74 Cari tau siapa dia!
75 Jaga dirimu!
76 Bukan Aku
77 Sisi lain.
78 Hina
79 Aku di sini
80 Sangat Kompak
81 Diusir
82 Nyawa Harus Dibayar!
83 Bertemu
84 Kalian menipu saya!
85 Pemberitaan
86 The Day
87 Aku merasa lega
88 Menyiapkan kejutan
89 Kejutan
90 Kabar baik?
91 Masih yang dulu
92 Sayang Semangat!
93 Rahasia Clara
94 Aku takut, Lewis!
95 Petunjuk
96 Bukan Kau!
97 Memisahkan Mereka?
98 Saudara Yang Terpisah?
99 Tidak mungkin
100 Terlalu Longgar?
101 Tergeletak
102 Tidak akan Merebutnya.
103 Luluh!
104 Bertahanlah, Dik!
105 Diana Jocelyn Maddison
106 Meradang!
107 Mereka Cucumu!
108 Itu aku!
109 Perusahaan Gelap
110 Tetap Percaya!
111 Pengecut!
112 Penyusup?
113 Membongkarnya
114 Titik terang?
115 Bisakah bertemu?
116 Kami akan menebusnya!
117 Dimana Ibu dan Ayah?
118 Kerahkan semua!
119 Mengawasi
120 Hancur di tanganku!
121 Kabur!
122 Mati di Tanganku!
123 Bukan Irene!
124 Kritis
125 Kemarahan Tuan Arselio
126 Ayah pembohong!
127 Tidak akan rela!
128 Kesempatan Terakhir.
129 Terimakasih
Episodes

Updated 129 Episodes

1
Dijual
2
Kau!
3
Tubuhmu!
4
Membawanya kembali
5
Perjanjian
6
Menikah?
7
Ancaman
8
Melawan
9
Nyonya Baru
10
Sedikit melunak
11
Membawa masalah
12
Calon suami?
13
Menangis?
14
Merindukan anak-anak
15
Cintai aku Irene!
16
Dilabrak!
17
Cemas
18
Merayunya
19
Awal yang baru
20
Menonton
21
Merasa familiar
22
Ingin Bebas
23
Mereka Anak Saya!
24
Hak Asuh Anak
25
Sudah Jelas
26
Tuan Lewis, ayahmu!
27
Istriku hanya satu!
28
Menjijikkan
29
Mantan
30
Ayah Kalah!
31
Om Jahat!
32
Cemburu
33
Tidak Peduli
34
Akan ku rebut kembali!
35
Apa rencanamu?
36
Saling mencintai
37
Belum Menerima!
38
Dimana Ibu kami?
39
Menyerah saja Nona!
40
Jangan besar dulu, Nak!
41
Bersyukur atau menangis
42
Dia milikku!
43
Jangan pergi lagi!
44
Warisan
45
Tidak semiskin itu!
46
Balas Dendam
47
Mendukungmu!
48
Ibu yang kejam
49
Berhati-hatilah!
50
Ibu jangan pergi!
51
Tidak pantas!
52
Luluh
53
Saya ayahnya!
54
Dia yang membeliku!
55
Hancurkan mereka!
56
Curiga
57
Jangan Aneh-aneh!
58
Renovasi!
59
Penerus Lewis
60
Belum seberapa
61
Asisten Pribadi
62
Hancur!
63
Yang setimpal!
64
Sabar sedikit lagi!
65
Apa masih membenci?
66
Menciptakannya!
67
Kasus macam apa ini?
68
Permulaan tanpa akhir
69
Penuh amarah
70
Level Up!!
71
Begitu sombong
72
Karena kamu!
73
Dibayar dengan Nyawa!
74
Cari tau siapa dia!
75
Jaga dirimu!
76
Bukan Aku
77
Sisi lain.
78
Hina
79
Aku di sini
80
Sangat Kompak
81
Diusir
82
Nyawa Harus Dibayar!
83
Bertemu
84
Kalian menipu saya!
85
Pemberitaan
86
The Day
87
Aku merasa lega
88
Menyiapkan kejutan
89
Kejutan
90
Kabar baik?
91
Masih yang dulu
92
Sayang Semangat!
93
Rahasia Clara
94
Aku takut, Lewis!
95
Petunjuk
96
Bukan Kau!
97
Memisahkan Mereka?
98
Saudara Yang Terpisah?
99
Tidak mungkin
100
Terlalu Longgar?
101
Tergeletak
102
Tidak akan Merebutnya.
103
Luluh!
104
Bertahanlah, Dik!
105
Diana Jocelyn Maddison
106
Meradang!
107
Mereka Cucumu!
108
Itu aku!
109
Perusahaan Gelap
110
Tetap Percaya!
111
Pengecut!
112
Penyusup?
113
Membongkarnya
114
Titik terang?
115
Bisakah bertemu?
116
Kami akan menebusnya!
117
Dimana Ibu dan Ayah?
118
Kerahkan semua!
119
Mengawasi
120
Hancur di tanganku!
121
Kabur!
122
Mati di Tanganku!
123
Bukan Irene!
124
Kritis
125
Kemarahan Tuan Arselio
126
Ayah pembohong!
127
Tidak akan rela!
128
Kesempatan Terakhir.
129
Terimakasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!