Cemas

Hari berlalu, Lewis terlihat semakin sibuk dan jarang pulang. Irene semakin muak terkurung dalam rumah mewah itu. Bahkan pelayan tidak ada yang betah mengobrol lama-lama dengannya karena merasa tidak enak.

Malam ini pria tampan itu pulang dengan membawa beberapa orang dari catatan sipil.

"Bersiaplah, kita bisa membuat sertifikat pernikahan malam ini. Saya tidak bisa mengadakan resepsi dalam waktu dekat. Maaf!" ucap Lewis membuat Irene menatapnya datar.

Ia tidak tau apakah ini berita baik atau tidak. Yang jelas ia sudah terlalu muak dengan laki-laki ini.

Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya, ia hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan Lewis tanpa membantah.

Mereka berfoto untuk sertifikat pernikahan. Irene terlihat sangat cantik bersanding dengan Lewis yang begitu tampan. Mereka terlihat begitu serasi, bak raja dan ratu.

Hingga pegawai catatan sipil pulang, mereka hanya terdiam tanpa berbicara.

Irene kembali ke kamar, sementara Lewis masuk ke dalam ruang kerjanya.

Namun tak selang berapa lama tiba-tiba Irene ikut masuk dengan wajah yang cemas dan takut.

"Kenapa?" tanya Lewis bingung.

"Tuan, apa boleh saya pulang sebentar? Diego sedang sakit dan badannya sangat panas. tolong pengertian anda!" mohon Irene sambil berdiri dengan gelisah di hadapan Lewis.

"Tidak!" tegas pria tampan itu.

Raut wajah Irene terlihat semakin cemas. Ia sudah menebak jika Lewis akan melarangnya.

"Tuan, saya janji tidak akan kabur lagi. Atau anda bisa mengirim orang untuk mengawasi saya!" lirih Irene dengan mata yang berkaca-kaca.

"Saya sedang sibuk Irene! Kembalilah ke kamar dan istirahat! Bukankah ada temanmu yang menjaga mereka?" jawab Lewis tanpa perasaan.

Irene terdiam dengan wajah yang mulai basah dengan air mata. "Mereka membutuhkan saya! Jika tindakan anda seperti ini terhadap anak-anak, saya akan berpikir berulang kali untuk hamil! Anda hanya akan menyiksa mereka!" ucap Irene membuat Lewis menatapnya dengan tajam.

"Jangan buat saya marah, Irene!" bentak Lewis.

"Saya tidak peduli! Malam ini saya akan pergi sendiri ke kota Sanford dengan atau tanpa izin anda!" tegas Irene.

Ia berjalan dengan cepat kembali ke kamar dan mengambil dompetnya.

Irene keluar dari rumah dengan tergesa-gesa, namun para penjaga sudah mengepung dan kembali membawanya ke dalam rumah.

"Lepaskan! pekik Irene berusaha untuk memberontak. Namun ia kalah tenaga dari mereka.

"Jangan menguji batas saya Irene!" ucap Lewis berhasil membuat Irene terdiam dan bungkam.

"Seharusnya dari awal saya memang tidak pernah terlibat dengan anda!" lirih Irene membuat Lewis menatapnya semakin tajam.

"Bawa dia ke kamar dan kunci!" titah Lewis.

Beberapa orang pelayan di sana menatap Irene dengan perasaan iba dan sedih. Dulu mereka memiliki keinginan untuk menjadi nyonya Maddison, tapi ketika melihat bagaimana Lewis memperlakukan Irene, semua keinginan itu hanya menjadi angan semata.

Irene diseret kembali ke kamar, sementara Lewis memilih untuk kembali ke ruang kerjanya.

Perusahaan baru yang ia dirikan mendapat sedikit masalah. Ditambah desakan dari para pemegang saham agar ia tetap bekerja di kantor XM dan menjaga keseimbangan saham yang terus merosot.

Setelah perdebatan tadi, bukannya fokus bekerja, Lewis selalu terngiang dengan perkataan Irene. Dengan kesal ia berjalan kembali ke kamar dan melihat Irene tengah menangis sambil menatap foto kedua anaknya.

Rahang Lewis mengeras. Irene begitu menyayangi anak-anaknya dari pria lain, namun tidak ingin mengandung anaknya.

Tanpa mengucapkan apapun, ia kembali ke ruang kerja sambil membanting pintu dengan keras.

Irene mengetahui kehadiran Lewis namun ia hanya mengacuhkan pria tampan itu. Hatinya begitu sakit karena Lewis tidak bisa menerima anak-anaknya sendiri.

Ia kembali menghubungi Sofia melalui vidio call agar terus mendapatkan kabar terbaru tentang Diego. Irene sangat takut jika Devon akan ikut sakit seperti biasanya. Jika salah satu antara Diego dan Devon sakit, maka keduanya juga akan ikut sakit.

"Kamu tenang saja, Ren. Aku sudah mengambil cuti untuk satu minggu. Semoga dalam dua atau tiga hari demam mereka akan sembuh," ucap Sofia dengan lembut dan berusaha untuk menghibur Irene.

"Mereka akan sangat manja kalau sakit, Sofia! Babi besar ini tidak membiarkanku pergi. Aku akan cari cara untuk pulang secepatnya!" ucap Irene sambil menahan air matanya.

Ia juga berbicara kepada Diego dan Devon. Hatinya semakin hancur ketika melihat tangis mereka yang memintanya untuk pulang.

"Jangan nangis lagi, Sayang! Secepatnya ibu akan pulang ya! Yang patuh sama tante Sofia," ucap Irene begitu lembut seolah merasa sangat bersalah kepada mereka.

"Ibu, aku tidak apa!" isak Diego dengan wajah yang pucat pasi.

Ucapan itu membuat hati Irene semakin sakit. Namun ia tidak bisa berbuat banyak sekarang.

"Sabar ya, Nak! Makan yang banyak biar cepat sembuh. Kakak juga ya!" ucap Irene membuat kedua pria kecil itu mengangguk patuh dengan air mata yang berurai.

Hingga malam semakin Larut, Irene masih menatap Diego dan Devon melalui panggilan vidio. Bahkan ia tidak bisa tidur semalaman karena rasa cemas yang masih menguasai relung hatinya.

Hingga pagi menjelang, Irene masih menahan kantuknya agar tetap menjaga Diego yang selalu saja terbangun dan menangis.

Bahkan kini, suhu tubuh Devon juga mulai meningkat.

"Ibu istirahatlah!" ucap Diego lirih ketika menyadari jika Irene tidak tidur semalaman.

"Setelah kalian sarapan, ibu akan tidur nak!" bujuk Irene agar dia pria kecil itu memakan sarapannya.

Lewis yang baru saja masuk ke dalam kamar, mendapati Irene masih dalam posisi yang sama seperti semalam waktu ia tinggalkan.

"Kau tidak tidur?" tanya Lewis sambil berjalan menuju kamar mandi.

Irene hanya terdiam tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

Lewis mengeram kesal, namun karena sedang buru-buru, ia tidak terlalu menghiraukan tingkah Irene pagi ini.

Tak lama setelah membersihkan diri, Lewis segera bersiap. Namun ketika hendak memanggil Irene, ia tidak mendapatkan gadis itu di sana.

Pintu kamar mandi tertutup dengan suara gemercik air di sana. Lewis menunggu beberapa saat, namun Irene tak kunjung keluar.

Bam! Bam! Bam!

"Irene keluarlah! Saya harus segera bersiap!" pekik Lewis dari luar sambil mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, membuat Lewis mengeram kesal.

Ia segera pergi dari sana tanpa mengucapkan apapun lagi, bahkan ia tidak menyentuh sarapannya.

Irene yang masih berada di dalam kamr mandi hanya bisa menghela napas ketika mendengar Lewis membanting pintu dengan keras.

"Sudah selesai makannya, Sayang?" tanya Irene tersenyum manis.

"Sudah, Ibu. Kita juga sudah minum obat!" ucap Devon juga ikut tersenyum dengan wajah lesunya.

"Pintar! Ayo kita istirahat nak!" ajak Irene membuat dua pria kecil itu mengambil posisi untuk tidur

"Selamat istirahat pria kecil Ibu!" ucap Irene tersenyum membuat mereka juga ikut tersenyum.

"Ibu, cepat pulang ya!" pinta mereka berhasil membuat air mata Irene lolos begitu saja.

"Secepatnya, Sayang!".

Terpopuler

Comments

Diah Anggraini

Diah Anggraini

tega bener kau lewis.. kalo udah tau tuh bocil putramu..
pasti nyesel kau

2025-01-06

1

lihat semua
Episodes
1 Dijual
2 Kau!
3 Tubuhmu!
4 Membawanya kembali
5 Perjanjian
6 Menikah?
7 Ancaman
8 Melawan
9 Nyonya Baru
10 Sedikit melunak
11 Membawa masalah
12 Calon suami?
13 Menangis?
14 Merindukan anak-anak
15 Cintai aku Irene!
16 Dilabrak!
17 Cemas
18 Merayunya
19 Awal yang baru
20 Menonton
21 Merasa familiar
22 Ingin Bebas
23 Mereka Anak Saya!
24 Hak Asuh Anak
25 Sudah Jelas
26 Tuan Lewis, ayahmu!
27 Istriku hanya satu!
28 Menjijikkan
29 Mantan
30 Ayah Kalah!
31 Om Jahat!
32 Cemburu
33 Tidak Peduli
34 Akan ku rebut kembali!
35 Apa rencanamu?
36 Saling mencintai
37 Belum Menerima!
38 Dimana Ibu kami?
39 Menyerah saja Nona!
40 Jangan besar dulu, Nak!
41 Bersyukur atau menangis
42 Dia milikku!
43 Jangan pergi lagi!
44 Warisan
45 Tidak semiskin itu!
46 Balas Dendam
47 Mendukungmu!
48 Ibu yang kejam
49 Berhati-hatilah!
50 Ibu jangan pergi!
51 Tidak pantas!
52 Luluh
53 Saya ayahnya!
54 Dia yang membeliku!
55 Hancurkan mereka!
56 Curiga
57 Jangan Aneh-aneh!
58 Renovasi!
59 Penerus Lewis
60 Belum seberapa
61 Asisten Pribadi
62 Hancur!
63 Yang setimpal!
64 Sabar sedikit lagi!
65 Apa masih membenci?
66 Menciptakannya!
67 Kasus macam apa ini?
68 Permulaan tanpa akhir
69 Penuh amarah
70 Level Up!!
71 Begitu sombong
72 Karena kamu!
73 Dibayar dengan Nyawa!
74 Cari tau siapa dia!
75 Jaga dirimu!
76 Bukan Aku
77 Sisi lain.
78 Hina
79 Aku di sini
80 Sangat Kompak
81 Diusir
82 Nyawa Harus Dibayar!
83 Bertemu
84 Kalian menipu saya!
85 Pemberitaan
86 The Day
87 Aku merasa lega
88 Menyiapkan kejutan
89 Kejutan
90 Kabar baik?
91 Masih yang dulu
92 Sayang Semangat!
93 Rahasia Clara
94 Aku takut, Lewis!
95 Petunjuk
96 Bukan Kau!
97 Memisahkan Mereka?
98 Saudara Yang Terpisah?
99 Tidak mungkin
100 Terlalu Longgar?
101 Tergeletak
102 Tidak akan Merebutnya.
103 Luluh!
104 Bertahanlah, Dik!
105 Diana Jocelyn Maddison
106 Meradang!
107 Mereka Cucumu!
108 Itu aku!
109 Perusahaan Gelap
110 Tetap Percaya!
111 Pengecut!
112 Penyusup?
113 Membongkarnya
114 Titik terang?
115 Bisakah bertemu?
116 Kami akan menebusnya!
117 Dimana Ibu dan Ayah?
118 Kerahkan semua!
119 Mengawasi
120 Hancur di tanganku!
121 Kabur!
122 Mati di Tanganku!
123 Bukan Irene!
124 Kritis
125 Kemarahan Tuan Arselio
126 Ayah pembohong!
127 Tidak akan rela!
128 Kesempatan Terakhir.
129 Terimakasih
Episodes

Updated 129 Episodes

1
Dijual
2
Kau!
3
Tubuhmu!
4
Membawanya kembali
5
Perjanjian
6
Menikah?
7
Ancaman
8
Melawan
9
Nyonya Baru
10
Sedikit melunak
11
Membawa masalah
12
Calon suami?
13
Menangis?
14
Merindukan anak-anak
15
Cintai aku Irene!
16
Dilabrak!
17
Cemas
18
Merayunya
19
Awal yang baru
20
Menonton
21
Merasa familiar
22
Ingin Bebas
23
Mereka Anak Saya!
24
Hak Asuh Anak
25
Sudah Jelas
26
Tuan Lewis, ayahmu!
27
Istriku hanya satu!
28
Menjijikkan
29
Mantan
30
Ayah Kalah!
31
Om Jahat!
32
Cemburu
33
Tidak Peduli
34
Akan ku rebut kembali!
35
Apa rencanamu?
36
Saling mencintai
37
Belum Menerima!
38
Dimana Ibu kami?
39
Menyerah saja Nona!
40
Jangan besar dulu, Nak!
41
Bersyukur atau menangis
42
Dia milikku!
43
Jangan pergi lagi!
44
Warisan
45
Tidak semiskin itu!
46
Balas Dendam
47
Mendukungmu!
48
Ibu yang kejam
49
Berhati-hatilah!
50
Ibu jangan pergi!
51
Tidak pantas!
52
Luluh
53
Saya ayahnya!
54
Dia yang membeliku!
55
Hancurkan mereka!
56
Curiga
57
Jangan Aneh-aneh!
58
Renovasi!
59
Penerus Lewis
60
Belum seberapa
61
Asisten Pribadi
62
Hancur!
63
Yang setimpal!
64
Sabar sedikit lagi!
65
Apa masih membenci?
66
Menciptakannya!
67
Kasus macam apa ini?
68
Permulaan tanpa akhir
69
Penuh amarah
70
Level Up!!
71
Begitu sombong
72
Karena kamu!
73
Dibayar dengan Nyawa!
74
Cari tau siapa dia!
75
Jaga dirimu!
76
Bukan Aku
77
Sisi lain.
78
Hina
79
Aku di sini
80
Sangat Kompak
81
Diusir
82
Nyawa Harus Dibayar!
83
Bertemu
84
Kalian menipu saya!
85
Pemberitaan
86
The Day
87
Aku merasa lega
88
Menyiapkan kejutan
89
Kejutan
90
Kabar baik?
91
Masih yang dulu
92
Sayang Semangat!
93
Rahasia Clara
94
Aku takut, Lewis!
95
Petunjuk
96
Bukan Kau!
97
Memisahkan Mereka?
98
Saudara Yang Terpisah?
99
Tidak mungkin
100
Terlalu Longgar?
101
Tergeletak
102
Tidak akan Merebutnya.
103
Luluh!
104
Bertahanlah, Dik!
105
Diana Jocelyn Maddison
106
Meradang!
107
Mereka Cucumu!
108
Itu aku!
109
Perusahaan Gelap
110
Tetap Percaya!
111
Pengecut!
112
Penyusup?
113
Membongkarnya
114
Titik terang?
115
Bisakah bertemu?
116
Kami akan menebusnya!
117
Dimana Ibu dan Ayah?
118
Kerahkan semua!
119
Mengawasi
120
Hancur di tanganku!
121
Kabur!
122
Mati di Tanganku!
123
Bukan Irene!
124
Kritis
125
Kemarahan Tuan Arselio
126
Ayah pembohong!
127
Tidak akan rela!
128
Kesempatan Terakhir.
129
Terimakasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!