Menangis?

"Irene bangun!" panggil Lewis sambil menepuk pipi Irene dengan sedikit keras.

Namun gadis itu hanya diam tak bergerak dengan mata yang terpejam. Lewis menjadi panik dan langsung menghubungi Hans, sahabat dan sekaligus dokter pribadinya.

Sebentar ia menatap leher gadis itu yang terlihat membiru bekas tangannya. Ia terkejut dan tidak menyangka, jika sedikit tenaga yang dikeluarkan bisa berbekas seperti itu.

"Irene bangunlah! Jangan membuat saya takut!" pekik Lewis.

Hingga ia dikejutkan dengan ketukan pintu. Lewis langsung melihat siapa yang datang mengganggunya.

"Tuan, ini sarapan untuk anda dan Nyonya," ucap Pak Man sambil membawa troli makanan.

Lewis mengangguk dengan wajah datar. "Temui saya nanti di ruang kerja!" ucapnya.

Pak Man terdiam dan mengangguk. "Baik, Tuan!" ucapnya.

Ia tau jika hal ini pasti karena Irene tidak diberi makan semalam.

Lewis membawa troli itu dan menutup pintu. Tak lama Hans datang dan memeriksa keadaan Irene.

"Apa yang kau lakukan padanya, Lewis?" tanya Hans dengan tajam.

"Jelaskan saja dia kenapa!" ketus Lewis dengan tidak suka.

"Apa kau mencekiknya? Bekas lebam ini, bukan lebam biasa!" tukas Hans membuat Lewis terdiam.

Mereka saling bertatapan. "Siapa dia?" tanya Hans membuat Lewis semakin bungkam.

"Diamlah! Sekarang bagaimana cara agar dia bisa sadar?" bentak Lewis.

Hans hanya menatapnya dengan datar dan membasahi tangannya dengan minyak angin, lalu mendekatkannya ke hidung Irene.

Tak lama gadis itu siuman dengan tubuh yang terasa sangat lemas.

"Kenapa kau pingsan? Siapa yang mengizinkan kau pingsan?" tanya Lewis membuat Irene menatapnya den datar.

"Kau ini kenapa? Dia baru saja siuman dan kau marah-marah tidak jelas seperti ini!" cegat Hans membuat Lewis menatapnya tajam.

"Sudah selesai, kan? silahkan pergi, maaf tidak mengantarmu sampai luar!" ucap Lewis ketus.

Irene hanya menatap mereka berdua dengan datar. Ia tidak peduli, kini tubuhnya terasa lemas karena tidak makan dari kemarin siang, ditambah cengkraman Lewis di lehernya membuat ia merasa kesulitan untuk menelan ludah.

"Bisakah kalian keluar? saya ingin istirahat!" ucap Irene ketus dan menarik selimut.

Hans dan Lewis terdiam, mereka menatap Irene dengan heran. Hans mulai paham dengan hubungan antara Lewis dan Irene, ia segera pergi dan meninggalkan mereka.

Sementara itu Lewis menatap Irene dengan datar dan langsung menarik selimut yang sudah membungkusnya.

"Makan dulu! Kau belum makan dari kemarin kan?" tanya Lewis.

Irene dengan malas berusaha untuk duduk. Namun kepalanya terasa berat, hingga ia memilih untuk kembali berbaring dan menutup mata.

"Hei!" pekik Lewis membuat Irene mendelik kesal.

Ia hanya bisa pasrah, Irene segera duduk dan mengambil makanan yang ada di troli dengan malas.

"Ck, kau lambat!" ketus Lewis sambil merebut piring Irene dan menyuapi gadis cantik itu.

Pandangan Irene terkunci, ia tidak kunjung membuka mulut hingga membuat Lewis mengeram kesal. Sementara Irene, matanya mulai berkaca-kaca.

"Saya bisa sendiri!" lirih Irene.

Lewis menatapnya dengan lekat. "Kenapa kau menangis? Saya tidak akan memukul!" ketusnya.

"Tidak apa! Sudah lama tidak ada yang menyuapi saya. Tapi terima kasih!" ucapnya sambil menerima suapan Lewis.

Mereka terdiam, situasi ini terasa begitu canggung.

Apa dia sangat terlantar? Atau memang hidupnya begitu keras?. batin Lewis mulai simpati.

Mereka makan bersama, satu piring dan satu sendok berdua tanpa sadar. Hingga semua makanan tandas, Lewis menatap Irene yang kembali terlelap di ranjang.

Ia hanya menghela napas dengan kesal. Padahal tujuannya pulang hari ini untuk bermain dengan gadis ini. Tapi malah ia harus merawatnya seperti anak sendiri.

Lewis menyadari ada sesuatu yang mulai menggelitik hatinya. Ia segera menggeleng untuk menepis hal itu dan pergi ke ruang kerja.

Persiapan peluncuran perusahaan baru hanya menunggu hari. Sementara ini perusahaan utama, sedang mengalami kekosongan.

Bahkan kini saham perusahaan semakin turun dan terguncang karena pengumuman dari Mark sendiri.

Ia memeriksa beberapa berkas di sana bersama dengan George. Hingga ketukan pintu terdengar, Pak Man masuk dengan membawa cemilan di tangannya.

Lewis hanya menatap sejenak, pria tua yang sudah ia percaya selama hampir sepuluh tahun ini untuk mengelola rumah mewahnya.

"Tau apa kesalahanmu?" tanya Lewis membuat George menatap Pak Man dengan lekat.

Apa ada hal yang aku lewatkan?. batinnya.

"Tau, Tuan! Saya tidak bermaksud!" ucap Pak Man.

"Kau tau dia tadi pingsan? Irene hanya sarapan kemarin dan terbangun di sore hari. Dia melewatkan makan siang dan kau..., kau tidak memberinya makan malam dan sarapan!" kerus Lewis membuat George membulatkan mata.

"Maaf, Tuan. Saya hanya bermaksud...,".

"Apa? Kau mau mengajarinya sopan santun? Kenapa kau tidak mengajari saya juga?" bentak Lewis.

Pak Man hanya terdiam dan mengutuki diri. Ia tidak menyadari dengan cepat bagaimana posisi Irene di samping Lewis.

Dibandingkan dengan Clara, hanya Irene yang dikenalkan sebagai Nyonya di rumah ini. Ia sudah salah menilai Irene hanya karena permintaan orang lain.

"Sekejamnya saya, tidak pernah membiarkan kalian kelaparan! Sekeras apapun hukuman yang saya berikan, tidak pernah melarang mereka untuk makan!" tegas Lewis membuat Pak Man semakin diam.

George mulai memahami masalah ini. Sedikit ada rasa kagum dihatinya kepada Irene. Dia sanggup menahan lapar hampir selama dua puluh jam.

"Saya salah, Tuan! Maafkan saya," ucap Pak Man.

Baru kali ini Lewis memarahi dirinya seperti ini. Ia sudah menyadari bagaimana posisi Irene di hati dan di rumah Tuan Muda ini.

"Renungi kesalahanmu! jika Irene bangun nanti, pergi dan minta maaf kepadanya!" titah Lewis.

"Baik, Tuan!" ucap Pak Man segera berlalu dari sana.

George dan Lewis saling menatap. Mereka menyadari satu hal yang terlihat aneh. "Tuan, apa anda tidak berpikir untuk menikahi Nona Irene?" tanya George membuat Lewis terdiam.

"Saya belum memikirkannya!" jawab Lewis sembari menghela napas.

"Pikirkanlah dengan cepat! Pasti banyak orang yang menginginkannya di luaran sana!" tukas George membuat Lewis menatapnya dengan tajam.

"Jangan sampai Nona hamil diluar pernikahan, anaknya nanti tidak akan sulit diakui," sambungnya berhasil membuat Lewis bungkam.

Tak lama ia pergi dari sana dan membiarkan Lewis untuk berpikir tentang hubungannya dengan Irene.

Tepat saat ia keluar dari ruang kerja, George menatap Mark yang sudah berdiri di sana dengan wajah masam.

"Mana Lewis?" tanya Mark mendesak.

"Ada apa?" sela Lewis dari dalam ketika mengenal suara itu.

Mark langsung masuk dan menatapnya dengan tajam. "Sekarang apa lagi? Kau memang ingin digantikan diperusahaan?" tukasnya.

"Terserah. Saya selalu menghargai setiap keputusan! Sampai kapanpun saya tidak akan menikahi kupu-kupu malam!" ucap Lewis sembari mengedikkan bahunya.

"Jaga ucapanmu!" bentak Mark. "Clara itu gadis yang baik! Dia begitu patuh dan menyenangkan!" bela Mark membuat Lewis mengejeknya.

"Kalian buta! Dan saya sudah melihatnya dengan mata kepala saya sendiri!" tegas Lewis membuat Mark terdiam.

Mereka saling menatap dengan tajam seolah bisa bertempur dalam tatapan itu.

"Di mana dia?" tanya Mark.

"Saya tidak tau!" tukas Lewis yang mulai was-was.

"Gadis yang kau sembunyikan! Di mana dia?" tanya Mark tidak sabar.

Lewis tersenyum smirk. Ia tidak menanggapi pertanyaan itu dan membuat Mark semakin murka.

Brak!!

Ia memukul meja dengan kuat. "Di mana kau sembunyikan ja*lang itu!" teriaknya.

"Bukan urusan Anda! Bukan hak anda! Sampai saat ini, apapun itu anda tidak berhak atas hidup saya!" ucap Lewis dengan tegas sambil berdiri.

"Kau!" ucap Mark sambil memegang dadanya yang terasa sesak.

"Bagi saya, baik anda ataupun Mommy. Kalian sudah lama mati, saya sudah yatim piatu semenjak kalian tidak pernah datang di setiap hari ulang tahun saya! Camkan itu!" teriak Lewis dengan air mata yang menggenang.

Ia berjalan melewati Mark dan pergi dari sana tanpa menghiraukan sang ayah yang masih sesak napas di dalam ruangan.

George hanya menggeleng melihat perdebatan ayah dan anak ini. Ia langsung membawa Mark ke rumah sakit terdekat sebelum terlambat.

Sementara Lewis memilih untuk masuk ke dalam kamar dan memeluk Irene dengan erat.

Gerakan kecil itu berhasil membangunkannya. Irene hendak marah, namun napas Lewis terasa berbeda, ditambah dengan lengannya yang terasa basah.

"Tuan, apa anda menangis?" tanya Irene.

Episodes
1 Dijual
2 Kau!
3 Tubuhmu!
4 Membawanya kembali
5 Perjanjian
6 Menikah?
7 Ancaman
8 Melawan
9 Nyonya Baru
10 Sedikit melunak
11 Membawa masalah
12 Calon suami?
13 Menangis?
14 Merindukan anak-anak
15 Cintai aku Irene!
16 Dilabrak!
17 Cemas
18 Merayunya
19 Awal yang baru
20 Menonton
21 Merasa familiar
22 Ingin Bebas
23 Mereka Anak Saya!
24 Hak Asuh Anak
25 Sudah Jelas
26 Tuan Lewis, ayahmu!
27 Istriku hanya satu!
28 Menjijikkan
29 Mantan
30 Ayah Kalah!
31 Om Jahat!
32 Cemburu
33 Tidak Peduli
34 Akan ku rebut kembali!
35 Apa rencanamu?
36 Saling mencintai
37 Belum Menerima!
38 Dimana Ibu kami?
39 Menyerah saja Nona!
40 Jangan besar dulu, Nak!
41 Bersyukur atau menangis
42 Dia milikku!
43 Jangan pergi lagi!
44 Warisan
45 Tidak semiskin itu!
46 Balas Dendam
47 Mendukungmu!
48 Ibu yang kejam
49 Berhati-hatilah!
50 Ibu jangan pergi!
51 Tidak pantas!
52 Luluh
53 Saya ayahnya!
54 Dia yang membeliku!
55 Hancurkan mereka!
56 Curiga
57 Jangan Aneh-aneh!
58 Renovasi!
59 Penerus Lewis
60 Belum seberapa
61 Asisten Pribadi
62 Hancur!
63 Yang setimpal!
64 Sabar sedikit lagi!
65 Apa masih membenci?
66 Menciptakannya!
67 Kasus macam apa ini?
68 Permulaan tanpa akhir
69 Penuh amarah
70 Level Up!!
71 Begitu sombong
72 Karena kamu!
73 Dibayar dengan Nyawa!
74 Cari tau siapa dia!
75 Jaga dirimu!
76 Bukan Aku
77 Sisi lain.
78 Hina
79 Aku di sini
80 Sangat Kompak
81 Diusir
82 Nyawa Harus Dibayar!
83 Bertemu
84 Kalian menipu saya!
85 Pemberitaan
86 The Day
87 Aku merasa lega
88 Menyiapkan kejutan
89 Kejutan
90 Kabar baik?
91 Masih yang dulu
92 Sayang Semangat!
93 Rahasia Clara
94 Aku takut, Lewis!
95 Petunjuk
96 Bukan Kau!
97 Memisahkan Mereka?
98 Saudara Yang Terpisah?
99 Tidak mungkin
100 Terlalu Longgar?
101 Tergeletak
102 Tidak akan Merebutnya.
103 Luluh!
104 Bertahanlah, Dik!
105 Diana Jocelyn Maddison
106 Meradang!
107 Mereka Cucumu!
108 Itu aku!
109 Perusahaan Gelap
110 Tetap Percaya!
111 Pengecut!
112 Penyusup?
113 Membongkarnya
114 Titik terang?
115 Bisakah bertemu?
116 Kami akan menebusnya!
117 Dimana Ibu dan Ayah?
118 Kerahkan semua!
119 Mengawasi
120 Hancur di tanganku!
121 Kabur!
122 Mati di Tanganku!
123 Bukan Irene!
124 Kritis
125 Kemarahan Tuan Arselio
126 Ayah pembohong!
127 Tidak akan rela!
128 Kesempatan Terakhir.
129 Terimakasih
Episodes

Updated 129 Episodes

1
Dijual
2
Kau!
3
Tubuhmu!
4
Membawanya kembali
5
Perjanjian
6
Menikah?
7
Ancaman
8
Melawan
9
Nyonya Baru
10
Sedikit melunak
11
Membawa masalah
12
Calon suami?
13
Menangis?
14
Merindukan anak-anak
15
Cintai aku Irene!
16
Dilabrak!
17
Cemas
18
Merayunya
19
Awal yang baru
20
Menonton
21
Merasa familiar
22
Ingin Bebas
23
Mereka Anak Saya!
24
Hak Asuh Anak
25
Sudah Jelas
26
Tuan Lewis, ayahmu!
27
Istriku hanya satu!
28
Menjijikkan
29
Mantan
30
Ayah Kalah!
31
Om Jahat!
32
Cemburu
33
Tidak Peduli
34
Akan ku rebut kembali!
35
Apa rencanamu?
36
Saling mencintai
37
Belum Menerima!
38
Dimana Ibu kami?
39
Menyerah saja Nona!
40
Jangan besar dulu, Nak!
41
Bersyukur atau menangis
42
Dia milikku!
43
Jangan pergi lagi!
44
Warisan
45
Tidak semiskin itu!
46
Balas Dendam
47
Mendukungmu!
48
Ibu yang kejam
49
Berhati-hatilah!
50
Ibu jangan pergi!
51
Tidak pantas!
52
Luluh
53
Saya ayahnya!
54
Dia yang membeliku!
55
Hancurkan mereka!
56
Curiga
57
Jangan Aneh-aneh!
58
Renovasi!
59
Penerus Lewis
60
Belum seberapa
61
Asisten Pribadi
62
Hancur!
63
Yang setimpal!
64
Sabar sedikit lagi!
65
Apa masih membenci?
66
Menciptakannya!
67
Kasus macam apa ini?
68
Permulaan tanpa akhir
69
Penuh amarah
70
Level Up!!
71
Begitu sombong
72
Karena kamu!
73
Dibayar dengan Nyawa!
74
Cari tau siapa dia!
75
Jaga dirimu!
76
Bukan Aku
77
Sisi lain.
78
Hina
79
Aku di sini
80
Sangat Kompak
81
Diusir
82
Nyawa Harus Dibayar!
83
Bertemu
84
Kalian menipu saya!
85
Pemberitaan
86
The Day
87
Aku merasa lega
88
Menyiapkan kejutan
89
Kejutan
90
Kabar baik?
91
Masih yang dulu
92
Sayang Semangat!
93
Rahasia Clara
94
Aku takut, Lewis!
95
Petunjuk
96
Bukan Kau!
97
Memisahkan Mereka?
98
Saudara Yang Terpisah?
99
Tidak mungkin
100
Terlalu Longgar?
101
Tergeletak
102
Tidak akan Merebutnya.
103
Luluh!
104
Bertahanlah, Dik!
105
Diana Jocelyn Maddison
106
Meradang!
107
Mereka Cucumu!
108
Itu aku!
109
Perusahaan Gelap
110
Tetap Percaya!
111
Pengecut!
112
Penyusup?
113
Membongkarnya
114
Titik terang?
115
Bisakah bertemu?
116
Kami akan menebusnya!
117
Dimana Ibu dan Ayah?
118
Kerahkan semua!
119
Mengawasi
120
Hancur di tanganku!
121
Kabur!
122
Mati di Tanganku!
123
Bukan Irene!
124
Kritis
125
Kemarahan Tuan Arselio
126
Ayah pembohong!
127
Tidak akan rela!
128
Kesempatan Terakhir.
129
Terimakasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!