semua anggota keluarga terlihat menikmati makan nya, sambil bersenda gurau bersama dg sesekali salim melempar candaan, sungguh kebersamaan seperti ini sangat jarang bisa terjadi, di tengah-tengah kesibukan masing-masing yang sudah sangat padat.
tentu orang tua mana yang tak merasa bahagia melihat anak anak nya bisa saling suport juga saling menghormati seperti ini, sesekali wanita paruh baya yang sibuk memantau anak dan cucunya itu mengusap ujung matanya, dia mencoba menyembunyikan kesedihan nya yang kehilangan salah satu anak nya belum lama ini, dia terus mencoba menyibukan diri dan menepis rasa itu, dia tak ingin membuat anak nya yang lain terganggu dan merusak kebahagiaan mereka,
" bu, ini pasti ibu sendiri belum sempat makan sesuatu kan bu, " reyhan mulai memprovokasi yang lain untuk membujuk ibunya agar mau makan juga.
" ibumu mana bisa makan disaat seperti ini, dia cuma sibuk menyuruh orang makan saja" timpal sang ayah yang biasanya jarang mau berbicara basa basi dan terkesan dingin,
"sudah jangan hiraukan ibu, nanti ibu bisa ambil sendiri kalau sudah lapar. " jawab nya ringan
" ya gak bisa seperti itu lah bu, ayo kita makan bersama, biar lebih nikmat juga" jawab maimunah yang terlihat sedang sibuk menyuapi sang cucu anak pertama Naura,
terlihat ja'far berdiri dari duduk nya berinisiatif mendekati sang ibu,
" ibu makan dulu ya, setidak nya temani kami makan bu, jangan hanya menyuruh kami makan"
suara lembut itu berhasil membungkam sang ibu,
ja'far dengan cekatan mengambil piring kosong sambil menggiring sang ibu, dia mengisi piring kosong itu dan mulai memilihkan aneka ragam masakan disana,
"tidak abi, ibu tidak makan daging, isi saja dengan ikan itu dan tambahkan sedikit acar" titah sang ibu ketika ja'far sedang mengambilkan rendang, ja'far pun menuruti perintah sang ibu lalu kembali menggiring ibu nya untuk duduk terlebih dahulu sebelum menyerah kan piring tersebut, dia mengisyaratkan adik bungsunya untuk menyingkir sebelum mempersilahkan ibu nya untuk duduk, ja'far ikut berlutut diatas karpet ketika sang ibu mulai duduk, dan menaruh piring tadi di pangkuan sang ibu.
tapi sang ibu masih menunduk, membuat ja'far semakin menelisik raut wajah sang ibu lebih dekat lagi.sepersekian detik kemudian bahu renta itu terasa bergetar, ja'far pun langsung meraih telapak tangan itu dan menggenggam nya, wajah itu semakin menunduk, keheningan pun melanda, suara denting sendok pun tak lagi terdengar, sejenak tak ada yang berani menyela dan buka suara.
"ada apa bu???" tanya ja'far, sepersekian detik masih tak ada jawaban hanya ada gelengan kepala,
"apa ada yang mengganggu pikiran ibu??? " lanjut nya,tapi sang ibu masih diam,seakan mencoba menetralisir perasaan nya, tangan ja'far terulur mengangkat wajah sang ibu dan menghapus sisa sisa air matanya, ja'far mencoba menatap netra tua itu, memandang nya dalam untuk menyalurkan kedamaian di sana meski tanpa kata, tapi seolah mampu menghipnotis lawan nya.
" ilyas" akhir nya suara lirih itu mengeluarkan apa yang mengganggu pikiran nya, ja'far pun langsung merengkuh tubuh renta itu dalam pelukan nya,
sekuat apapun ibunya mencoba menyembunyikan kesedihan itu, ia tetaplah seorang ibu yang akan selalu mengingat semua anak-anak nya,meski selalu mencoba tegar, tetap saja ada kalanya dia merasa rapuh, apalagi dalam keadaan seperti ini,kala semua anak dan cucunya berkumpul dia pasti akan mengingat yang telah tiada,tentu bukan begini ingin nya, ia tentu tak ingin merusak moment kebersamaan ini, apalagi dia tau jika ada satu hati yang harus dia jaga agar tidak terpuruk,
ya, disudut sana ada seseorang yang tak berkutik di tempat duduk nya, air matanya sudah membanjiri wajah ayu nya, dada nya terasa begitu nyeri, dia lupa jika wanita yang selalu mensupport nya dlm setiap waktu adalah seorang ibu yang juga kehilangan putra nya, tapi selama ini dia selalu menampak kan ketegaran dan baru kali ini kelemahan nya muncul kepermukaan, rasa bersalah mulai berdatangan, bukankah dirinya terlalu egois selama ini karna tdk pernah memikirkan perasaan yang lain dan mementingkan dirinya sendiri.
" ibu yang ikhlas ya, ilyas sudah dipanggil oleh sang Pencipta, bukan kah semua yang ada di dunia ini hanya titipan??? "
suara ja'far dibuat selembut mungkin mencoba menenangkan ibu nya.
sang ibu langsung mengangguk seraya mencoba memaksakan senyuman di bibir nya.
" ibu Hanya sedikit merindukan nya nak,maafkan ibu yang tdk bisa menahan perasaan ibu"
pandangan sang ibu langsung mencari keberadaan sang menantu yang sudah di tenangkan maimunah dengan mengusap bahunya.
"sudah,sudah! hentikan acara Sedih-sedih nya, kita disini untuk saling menguatkan, jangan sampai merusak suasana kebersamaan ini. "
hardik sang ayah yang tiba-tiba muncul dengan membawa beberapa piring kosong.
"iya- iya ini udahan kok" jawab sang ibu sambil menghapus sisa air mata di pipinya.
"sekarang ibu makan dulu ya! " pinta ja'far yang masih di hadapan nya itu.
"ibu nanti saja makan nya nak, ibu belum lapar"
"nggak bisa, ibu harus makan sekarang, ja'far yakin ibu blm makan dari tadi, ja'far temani ibu sampai selesai, "
kali ini ja'far tak menerima penolakan.
akhir nya sang ibu pun mengalah, dia makan di temani ja'far sambil berbincang2 dan sesekali terlihat tertawa bersama,
begitupun dengan luna, dia sudah terlihat ikut membereskan beberapa piring kotor dan membawanya ke dapur untuk di bersih kan.
" maaf ya bik, luna blm bisa bantuin, gk enak klo ninggal acara didepan, secara luna kan tuan rumah disini, "
"iya neng gak papa, lagian ini kan sudah tugas bibik, neng di depan saja kumpul sama keluarga besar disana."
"makasih ya bik, " balas nya dengan memutar tumit untuk kembali ke depan, sungguh pemandangan di ruang tengah ini begitu menyenangkan, semuanya saling bercengkrama dan saling melempar candaan dengan sang ibu mertua yang terus tersenyum di tengah2 putra putri nya,
lagi, ada yang menarik perhatian luna, si kembar yang terlihat berceloteh di pangkuan kakak ipar nya,dan mereka terlihat begitu akrab.
"bukan kah ini aneh "pikir nya.
di saat luna di liputi tanda tanya, sang mertua lah yang begitu peka menangkap perubahan raut wajah menantunya itu.
" sini lun, "seru sang mertua, luna tersenyum canggung sambil mulai mendekat.
" iya lun sini nimbrung bareng kita" imbuh sang kakak tertua.
"coba bangun dulu rey, itu ada luna diakan malu jadi nya yang mau gabung klo kamu kayak gini"
tegur sang kakak sambil mendorong kepala si bungsu agar beranjak dari pangkuan nya, si bungsu memang terlihat begitu manja pada semua kakak nya, perlahan luna mulai mendekat duduk di sebelah maimunah, lagi, pandangan nya tertuju pada si kembar dan tak berselang lama abi ja'far,kakak ipar nya itu beranjak di ikuti si kembar pula.
"mau kemana key??? "
tanya luna pada sang putra yang terlihat menggandeng tangan kakak ipar nya itu, pandangan luna menilisik bergantian dari keyano dan keysha, dia seakan menuntut jawab kali ini,
"key mau ketempat abi, mau ambil barang yang key pesan waktu itu??? " luna semakin dibuat penasaran saja,
beralih pada keysha, gadis kecil itu terlihat lebih banyak diam tapi tetap mengikuti juga.
"yuk"ajak abi ja'far,mereka bertiga melanjut kan langkah nya dengan riang, pandangan luna beralih pada sang mertua yang juga memandanginya,
"sepertinya banyak yang sudah luna lewatkan selama ini bu, apa luna tertinggal banyak informasi??? "
sang mertua cukup mengerti kemana arah pembicaraan luna.
" mereka sering temani ibu vidio call sama abi akhir akhir ini, jadi mereka ikutan akrab dan ternyata setelah bertemu mereka terlihat sangat cocok "
ujar sang mertua menjelaskan, luna mencoba mencerna alasan yang diberikan mertua itu.
"mereka bisa langsung manja gitu ya, kayak sama ayah nya sendiri, padahal reyhan aja sulit banget buat deketin mereka" celetuk naimah,istri reyhan.
"itu karna suami kamu aja yang usil dan sedikit rese, jadi sulit deketin anak kecil" maimunah langsung menimpali,
" hehehe... iya sih! " jawab naimah.
"Naura kemana kak,? kok gk kelihatan??? " luna mencoba mengalihkan pembicaraan.
"paling juga di luar jagain zain, "
jawab sang kakak sambil fokus memijit ringan lutut sang ibu yang tengah berselonjor di karpet, semua mata beralih mengikuti arah pandang sang ibu yang sedikit mendongak menatap kedatangan sang ayah mertua, dan benar saja suami nya itu menghampiri nya.
"katakan pada yang lain yang tidak memiliki kesibukan untuk bersiap2 kita jamaah bersama sholat maghrib nya, InsyaAllah 30 menit lagi sudah masuk waktu maghrib" titah sang ayah mertua,
"ah ya, itu bagus sekali" jawab ibu mertua antusias,
"tentu saja, supaya perkumpulan ini penuh berkah dan tidak sekedar menjadi ajang gosip" jawab ayah mertuanya dg nada dingin.
" heh gak ada ya yang nama nya gosip bergosip disini! "
timpal sang ibu mertua, sang ayah hanya mengangkat bahunya sambil terus melangkah meninggalkan tempat itu.
"ya udah ayuk, kita mulai siap2, jangan sampai imam nya nanti yang nungguin kita, " perintah maimunah sambil beranjak, semua nya pun mulai bubar dan bersiap menunggu datang nya waktu maghrib, terlihat para lelaki mulai sibuk menata ulang ruang tengah dengan meminggirkan shofa agar bisa leluasa melaksanakan sholat berjamaah.
suasana terasa begitu tenang, sholat berjamaah berlangsung dengan begitu khusuk, para lelaki juga terlihat begitu menawan dengan baju koko putih lengkap dengan peci nya, diikuti para wanita di belakang mereka, suara sang imam terdengar begitu lantang dan merdu sangat menyejukan hati siapapun yang ikut mendengarkan,
tak terasa sholat pun selesai, semua ikut mengamini kala sang imam membacakan doa doa yang di akhiri dengan surat al-fatihah,
entah mengapa hati luna terasa sendu, seperti ada yang mengganjal dan mendadak menyeret pikiran nya menuju mendiang sang suami,
dulu, keinginan kecil nya adalah ingin melaksanakan sholat berjamaah seperti ini bersama sang suami, bukan kah seharus nya dia senang, dia masih memiliki keluarga yang begitu peduli padanya, bukan mendepak nya dr tempat ini setelah kepergian suaminya,seperti yang sering dia tonton di televisi.
kesadaran nya seketika kembali, dia langsung menuju sang ibu mertua,dia raih telapak tangan wanita paruh baya yang wajah nya sedari tadi terus saja tersenyum itu.
" maafin luna bu kalau luna ada salah sama ibu yang di sengaja atau tidak disengaja"
sungguh,kelopak matanya kini sudah penuh dengan genangan air mata, sang ibu mertua hanya menepuk2 pundak nya sambil menyunggingkan senyuman.
" terimakasih bu, ibu telah memberikan segalanya yang tak luna miliki, keluarga, kehidupan yang cukup, bahkan kasih sayang orang tua"
luna tak tahan, dia bersimpuh di pangkuan sang ibu mertua, tubuh nya terlihat sampai bergetar,
ibu mertuanya terlihat begitu tegar, dia tak ingin ikut menangis agar bisa menguat kan sang menantu, di biarkan nya luna beberapa saat dengan terus mengusap lembut bahunya hingga luna kembali mendongak dengan wajah penuh sisa air mata.
" tetap lah seperti ini nak, tetaplah Menjadi anak ibu yang penyabar dan lemah lembut, " pinta sang mertua sambil menangkup wajah nya, luna mengangguk cepat di iringi airmata yang kian membanjiri wajah ayu nya itu, suasana haru itu tentu tak luput dari pandangan lelaki di depan sana yang tadi menjadi imam, dadanya begitu bergemuruh entah apa yang ada di pikiran nya saat ini, hingga akhir nya dia memutus kan untuk pergi dari tempat itu.
suasana mulai kondusif, para wanita terlihat mulai sibuk dengan anak-anak yang mulai rewel hendak tidur,tidak ada tanda tanda satupun yang hendak pamit, bahkan mereka terlihat sdh berganti pakaian dengan daster rumahan, luna berkeliling mencari si kembar, hingga ke ruang depan dia tdk mendapati sang anak,
"maaf ayah, apa ayah melihat si kembar? "
tanya luna pada sang ayah mertua yang tengah duduk santai di teras rumah bersama suami Naura, juga reyhan.
" ayah kurang tau nak, mungkin sama omanya di dalam" luna pun hanya ber oh ria.
"si kembar lagi sama abi di kamar nya, mereka bilang mau bobok sama abi sambil mau di dongengin kisah para nabi"tentu luna terperangah kali ini dengan jawaban reyhan, dia lekas berbalik, dia meremat telapak tangan nya yang entah kenapa tiba-tiba dia merasa tdk enak, sampai didepan pintu kamar tamu dia tampak meragu, blm juga sempat dia mengetuk pintu sang kakak ipar yang menempati kamar itu tampak keluar,dan dengan cepat dia menaruh telunjuk nya di depan bibir sebagai isyarat agar tidak berisik.
" kamu nyariin si kembar!?" tebak sang kakak ipar, luna hanya mengangguk sambil tersenyum canggung, ja'far pun ikut tersenyum lembut.
" mereka baru saja terlelap, kelihatan nya kelelahan,kata ibu mereka juga tidak tidur siang tadi,
biarkan saja mereka tidur disini, biar nanti saya yang jagain, "luna terlihat bingung hendak menjawab nya.
" sebelum nya maaf kan luna abi, jadi merepot kan abi, padahal di sini kan abi tamu yang seharus nya kami layani"
"saya tdk merasa direpotkan luna, sekarang sebaik nya kamu juga mulai istirahat, jangan risaukan mereka, percayakan mereka pada saya malam ini" luna hanya mengangguk canggung.
"ya sudah, luna pamit,mari abi..." luna pun mulai melangkah dan naik ke lantai atas menuju kamar nya,
hari ini memang begitu melelahkan, luna pun ingin segera merebahkan tubuh nya, dan itu yang dia lakukan saat ini, nyaman, itu yg luna rasakan.
entah sdh berapa lama luna menikmati nya, tiba-tiba pendengaran nya mulai terganggu dengan ketukan pintu yang terdengar berulang ulang,luna pun mulai beranjak sambil menyahuti panggilan itu, dia membuka pintu,ternyata naima lah yang berdiri di sana.
"kak luna di tunggu ibu di ruang keluarga, katanya ada yang mau dibicarakan sama kak luna, penting" luna hanya mengangguk mengiyakan,
"sebentar lagi saya kesana, saya kekamar mandi dulu, makasih ya sudah sampein"
"iya kak, mari..." luna pun kembali menutup pintu dan segera ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka, setelah itu dia langsung menuju ruang keluarga.
langkah nya berhenti sejenak, pandangannya menangkap semua anggota keluarga inti dari suaminya tengah berada disana, perasaan nya mulai meremang,ada apa ini? pikirnya, dan kini semua mata mulai menyorot kehadiran nya.
"kemarilah nak" seru sang ibu mertua sambil menepuk tempat kosong di sisih nya itu,
luna mulai melangkah sedikit ragu, hingga dia terduduk disana, pandangan semua yang disana terasa mengintimidasi, suara sang ayah mertua mulai terdengar membuka percakapan.
"maaf luna jika kami mengganggu waktu istirahat mu, ada perihal penting yang ingin kami sampai kan pada mu" suara itu terdengar begitu tegas.
" tidak apa apa ayah, silahkan ayah lanjut kan" sang ayah mertua terlihat menghembus kan nafas berat.
"hari ini kami sekeluarga berkumpul disini ingin mengutarakan niat baik kami padamu nak, kami ingin kembali meminang mu sebagai menantu kami untuk kedua kalinya, keputusan ini sudah kami pikirkan dengan penuh pertimbangan, sekali lagi kami ingin meminang mu untuk putra kami yang lain, yang bernama JA'FAR SHODIQ"
jantung luna seketika terasa berhenti berdetak,
pandangan nya sontak beralih pada seseorang yang terlihat menunduk disana,
"hah... apa2 an ini? " batin nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
kayatun SPdSD
bagus cerita nya, merupakan petuah bagi kita utk saling menghargai dan menyayangi
2025-03-28
1
🌷💚SITI.R💚🌷
jd ikut berdebar nih..krn lamaran buat luna
2025-02-09
1
Miyagi Mitsui
jodohnya
2025-02-23
0