Jantung Mei masih berdebar kencang saat akhirnya ia memarkirkan mobil di depan gedung perkantoran tinggi di depannya. Ia bisa merasakan kedua kakinya gemetar ketika keluar dari mobilnya.
Perasaannya campur aduk di dalam. Tapi ia tahu pasti, ia telah membuat kesalahan yang sangat besar. Ia telah melakukannya 7 tahun lalu, dan kembali melakukannya lagi sekarang pada orang yang sama. Orang yang sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun padanya. Orang yang selama ini tulus, dan membelanya di belakang. Dan ia sama sekali tidak mengetahuinya.
Mata wanita itu mulai berkaca-kaca saat ia akhirnya melangkah ke gedung megah di seberangnya.
Berhenti di depan meja resepsionis, Mei harus berdehem dan mencubit dirinya sendiri agar ia tenang.
"Selamat sore." Suaranya terdengar serak di telinganya sendiri.
"Selamat sore. Mau bertemu dengan siapa bu?"
Berusaha melegakan tenggorokannya, Mei berkata lagi, "Saya Meilany. Ingin bertemu pak Aslan?"
Resepsionis di belakang meja itu masih tersenyum. "Pak Aslan dari TJ Corp. atau perusahaan lain?"
"Pak Aslan TJ Corp. Senior Manager Finance & Accounting?"
Petugas itu mengangguk. Ia melakukan panggilan telepon beberapa saat dan terlihat mengangguk lagi.
Senyuman masih belum meninggalkan bibirnya. "Boleh saya minta tanda pengenal ibu?"
Segera Mei menyerahkannya. Karena gugup, KTP-nya sempat jatuh dan ia mengulurkannya lagi.
"Maaf."
Meski heran, tapi petugas itu tetap mempertahankan senyumannya. Ia mengulurkan kartu akses khusus.
"Pak Aslan masih ada meeting. Tapi ibu bisa langsung naik ke lantai 54. Nanti akan ada petugas lain yang mengantarkan ibu untuk menunggu di ruangan lain."
"Terima kasih."
Wanita itu bergegas masuk ke dalam lift. Kedua tangan Mei ia tangkupkan di depan d*da. Ia sangat gugup. Ia masih belum tahu kata-kata tepat apa yang akan ia sampaikan pada Aslan. Ia telah sangat bersalah pada suaminya sendiri. Mengingat itu, kembali ia ingin menangis.
Lift itu terasa berjalan lambat, sampai akhirnya berhenti di lantai yang ditujunya. Kembali kakinya berjalan ke petugas penerima tamu di depan lift. Semua ruangan di lantai itu hanya bisa dimasuki lewat akses, terkecuali beberapa ruangan meeting yang tersebar di beberapa penjuru dalam lantai yang cukup luas itu.
"Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu pak Aslan."
Melihat layar komputernya, dahi petugas itu berkerut. Ia menatap Mei sedikit tidak ramah.
"Maaf, bu. Sepertinya ibu tidak punya janji temu sebelumnya?"
"Saya akan menunggu kalau memang pak Aslan sedang ada meeting."
Mulut pria itu menipis, tapi ia akhirnya mengangguk. "Tunggu sebentar."
Petugas itu melakukan panggilan dan saat menatap Mei kembali, pandangannya lebih ramah.
"Katanya pak Aslan akan segera menemui ibu. Silahkan lewat sini."
Di dalam ruangan, kaki Mei bergerak-gerak gelisah. Muncul setitik kegembiraan di hatinya ketika menunggu untuk bertemu dengan suaminya lagi. Padahal baru pagi tadi ia bertemu Aslan dan merasakan kemarahan tapi kini, ia tidak sabar untuk meminta maaf dan mungkin merajut kembali pernikahannya dengan pria itu.
Mengelus cincin yang dipakainya lagi, bibirnya mulai mengulas senyum. Matanya berkaca-kaca menatap penuh harapan. Perlahan Mei mencium cincin di tangannya.
"Mei mencintai mas Aslan..."
Suara pintu terbuka, membuat Mei menengadah. Tampak sosok tinggi yang ditunggunya telah datang.
"Mas..."
"Selamat sore, bu Meilany. Kebetulan ibu datang. Tadinya saya akan menghubungi ibu lewat email."
Sambutan formal itu membuat hati Mei mencelos. Raut yang tadinya penuh haru, perlahan memucat.
"Mas-"
Tangan pria itu mengulurkan berkas yang pagi tadi menjadi pembahasan dalam meeting mereka. Bibir lelaki itu tampak tersenyum singkat.
"Tim saya sudah mengecek semua, dan tidak ada revisi. Berkas ini saya kembalikan ke ibu."
Terpaksa menerima uluran berkas itu, Mei bisa melihat kedua tangannya sedikit gemetar.
Ia merasakan tenggorokannya kering, membuat suaranya sedikit serak, "Terima kasih."
Kepala pria itu mengangguk dan ia kembali tersenyum kecil.
"Saya yang berterima kasih bu. Ibu telah banyak membantu. Mungkin seumur hidup pun, TJ Corp. akan selalu berhutang pada GuardYourInvest.com. yang telah memberi kepercayaan investasinya."
Kata-kata itu seolah bersayap, membuat Mei menatap Aslan dalam. "Mas...?"
Sekilas, Mei melihat kilasan kesedihan dalam kedua mata cokelat pria itu, tapi lelaki itu tersenyum lagi.
"Maaf, tapi saya ada meeting lain. Selalu sukses untuk ibu Mei dan semoga perjalanannya besok lancar."
Pria itu mengulurkan tangannya dan seperti robot, Mei menyambutnya. Jabatan tangan lelaki itu erat dan mantap, tapi tangan yang biasanya hangat itu, kali ini terasa dingin seperti es.
"Mas? Mas Aslan... sakit?"
Sesaat lelaki itu tidak menjawab. Jakunnya naik-turun dan ia melepaskan tangan wanita itu.
"Maaf, Mei. Tapi mas ga bisa nalak kamu. Mas ga mampu menceraikan kamu. Mas ga sanggup."
Suara berat pria itu sedikit tersendat. Tapi setelah menelan ludah beberapa kali, ia melanjutkan.
"Kalau kamu memang sudah ga mau jadi isteri mas, sudah ga ridho, berarti mas bukan suami yang baik buat kamu. Kamu bisa ngajuin cerai ke pengadilan dan mas akan menerimanya. Hanya itu yang bisa mas tawarkan buat kamu, Mei. Perceraian di pengadilan. Untuk harta gono-gini, kamu boleh ambil semuanya."
Sangat terkejut dengan perkataan itu, Mei membeku di tempatnya.
Mata cokelat pria itu bergerak-gerak saat menatap isterinya, dan perlahan memerah.
"Maafkan mas selama ini, Mei. Mas sudah buat kamu hidup menderita. Kamu memang lebih baik lepas dari mas. Maaf, mas ga langsung melakukannya 7 tahun lalu."
Melihat isterinya yang masih mematung, tangan lelaki itu terulur dan mengelus halus pipi wanita itu.
"Semoga kamu bisa lebih bahagia dengan pria lain, Meichan."
Selesai mengatakannya, Aslan langsung berbalik dan meninggalkan ruangan.
Seketika Mei merasakan gemuruh kencang di kedua telinganya. Tubuhnya berat seperti batu, membuatnya tidak mampu bergerak beberapa saat. Ia sangat shock karena suaminya menyetujui permintaan cerainya.
Pagi tadi, ia dengan lantangnya meminta hal itu pada Aslan. Dengan sombongnya, ia mengatakan telah jijik pada suaminya sendiri. Ia juga berani menunjuk muka lelaki itu dan menuduhnya berselingkuh.
Tapi apa yang terjadi? Ternyata semua yang dituduhkannya tidak ada satu pun yang benar. Lelaki itu tidak berselingkuh. Ia mungkin tidak membela isterinya langsung di depan ibunya sendiri, tapi Aslan melakukan di belakangnya dan ia tidak tahu. Mei yakin, pria itu berusaha menjaga rasa hormat isterinya pada ibunya.
Semua yang terjadi sekarang hanya karena kurang komunikasi.
Beberapa kali Mei sadar, Aslan berusaha memancing pertengkaran, tapi tidak sekali pun ia tanggapi. Ia malah terlalu sibuk merubah diri sesuai keinginan bundanya. Lupa, kalau hidupnya milik suaminya dan bukan milik mertuanya. Seharusnya ia menjadi versi yang diinginkan pria itu, dan bukan orang lain.
"Mas... Mas Aslan..." Suara Mei serak dan pecah.
Kesadaran akan ditinggalkan pria itu, membuat tubuh Mei akhirnya bergerak. Ia seperti orang linglung ketika berhadapan lagi dengan penerima tamu yang kurang ramah tadi.
Wajah lelaki itu sedikit berkerut saat melihat tampang Mei yang kurang baik.
"Ibu Meilany? Ibu baik-baik saja?"
"Mas Aslan... Mas Aslan di mana?"
Kedua mata pria itu mengerjap dan tubuhnya tegak. Sikapnya waspada, mengantisipasi sikap wanita ini yang mungkin saja melakukan sesuatu tanpa kontrol. Cukup banyak orang gila mulai bermunculan di dunia yang sudah 'menggila' ini. Tekanan dalam hidup, membuat banyak orang stress dan berubah tidak waras.
"Pak Aslan sudah kembali ke meeting-nya. Beliau ada rapat dengan salah satu direksi."
Pandangan pria itu yang memicing, seketika membuat Mei tersadar akan perilakunya barusan.
Berusaha mengembalikan pikiran jernihnya, Mei mengepalkan kedua tangannya kencang. Ia menelan ludah beberapa kali dan menghela nafas dalam. Perlahan, ia merasakan nafas dan detak jantungnya memelan.
"Maafkan saya. Tadi saya ada sedikit... sedikit... masalah."
Lelaki itu tidak menanggapi, tapi matanya masih menyorot curiga.
"Kalau boleh tahu, pak Aslan selesai meeting jam berapa? Saya akan menunggu."
"Maaf. Tapi saya juga tidak tahu. Kadang berlangsung 1 jam, tapi kadang bisa sampai 5 jam. Beliau bahkan pernah baru selesai meeting jam 10 malam dengan pak Ilyas. Jadi saya tidak menyarankan ibu menunggu di sini. Sebaiknya ibu buat janji temu lagi untuk besok, atau langsung kontak ke pak Aslan saja."
Masalahnya, Mei tidak tahu nomor ponsel Aslan sekarang. Nomor pria itu ada di nomor lamanya, yang telah ia buang entah ke mana. Tahu akan percuma mendebat pria di depannya, ia akhirnya mengangguk kalah.
"Baik. Terima kasih informasinya."
Bahu Mei tertunduk saat ia akhirnya masuk lift yang bergerak turun. Hampir saja ia putus asa, saat teringat sesuatu dan buru-buru, tangannya merogoh ke dalam tas.
Sinar di kedua matanya memancar, ketika ia menatap benda yang masih disimpannya 7 tahun ini.
"Semoga saja belum berubah."
Jantungnya berdebar kencang penuh antisipasi.
Setidaknya sebelum menyerah, ia ingin mencoba dulu. Ia akan mencobanya terus, sampai ia yakin, kerusakan yang telah dibuatnya, tidak akan bisa diperbaiki lagi.
Mei tahu, untuk kali ini, giliran dia-lah yang harus memperjuangkan pernikahannya. Karena suaminya telah melakukan sepanjang pernikahan mereka, dan juga setelahnya. Dan belum satu kali pun, ia membalasnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Harun Gayam
hadeuh muter² tetuss
2024-09-28
1
Sunaryati
Itu akibat tak ada komunikasi yang jelas tujuh tahun yang lalu
2024-09-28
0