Tubuh wanita yang duduk di tempat tidur itu menegang. Kedua tangannya mencengkeram selimut, dengan mata yang terarah ke pintu kamar mandi di depannya.
Beberapa kali ia menelan ludah dan jantungnya seolah melompat ke tenggorokan, karena mendengar suara sekecil apapun. Ia bisa merasakan seluruh tubuhnya mulai gemetar.
Kali ini, badannya benar-benar terlonjak saat pintu yang tadinya tertutup itu terbuka.
Mulutnya tanpa sadar terbuka, saat ia melihat sosok Aslan yang baru mandi keluar. Tampak uap asap samar mengalir dari dalam dan mengelilingi tubuh lelaki itu yang berdiri di depannya. Hanyalah selembar handuk tebal berwarna putih yang meliliti pinggang pria itu yang ramping.
Ritme jantung Mei tidak beraturan dalam d*da dan ia bisa merasakan nafasnya mulai cepat. Bahkan dalam mimpi terliarnya sekali pun, ia tidak pernah membayangkan tubuh suaminya bisa jadi seindah ini.
Apa yang tadinya tumpukan lemak di perut buncit yang beberapa kali ia cubit, berubah menjadi alur otot yang tampak liat dan keras. D*da lelaki itu yang tambun dan sering ia r*mas dulu, kini terlihat kencang berisi. Bahkan kedua lengan pria itu yang besar dulu, sekarang seperti tumpukan otot dengan urat-urat bertonjolan.
Anehnya, Mei merasakan perasaan asing. Ia tidak mengenal lagi sosok pria yang berdiri di depannya. Ada bisikan dalam relung hati terdalamnya, kalau lelaki ini bukan lagi suami yang pernah ia kenal dulu.
"Mei?"
Bola mata Mei mengerjap cepat. Perasaannya tidak karuan. Ia bingung. Juga takut.
Entah kenapa, tapi ia tidak mau memandang pria itu. Ia tidak bisa menatap lelaki itu lagi seperti dulu.
"Hem. Sebaiknya kita tidur sekarang. Sudah malam."
Tanpa mengatakan apapun lagi, Mei membalikkan badan dan menyelimuti dirinya erat. Ia tidak berbalik saat ranjang di belakangnya memberat dan selimutnya sedikit tertarik.
Wanita itu menutup matanya erat dan ia bisa merasakan matanya sedikit basah.
Meski tahu lelaki di belakangnya ini adalah Aslan, suami yang pernah ia tinggalkan dulu, tapi Mei merasa ia kehilangan sosok Aslan yang dulu ia cintai. Pria yang telah memberinya rumah dan kenyamanan dalam hidup. Pria yang membuatnya merasa utuh sebagai wanita dan juga isteri, seperti yang diimpikannya dulu.
Impiannya memang telah hancur, tapi rasa cintanya pada pria itu masih belum berubah.
Setitik air mulai mengaliri pipinya, sampai ia mendengar suara berat lelaki di belakangnya.
"Meichan... Kenapa kamu pergi...?"
Pertanyaan itu membuat mata Mei membuka. Matanya masih mengalirkan air. Hatinya terasa sangat sakit.
Belum ada jawaban dari isterinya, pria itu menolehkan kepalanya. Suaranya lebih lirih, "Kenapa, Mei...?"
Sama sekali Mei tidak bisa melihat ekspresi pria itu, tapi entah kenapa, ia dapat merasakan kesakitan dalam suara berat itu. Suara yang pertama kali berhasil membuatnya jatuh hati dulu, saat mendengarnya.
Satu tangan Aslan meraih bahunya. Ia bisa merasakan bibir pria itu menyentuh belakang lehernya.
"Mei..."
Bayangan tubuh lelaki itu tadi, membuat Mei refleks mengedikkan bahunya. Menolak sentuhan itu.
Aslan yang dulu akan mundur. Aslan yang dikenalnya 7 tahun lalu pasti akan menarik tangannya dan tidak berani menyentuhnya lagi. Tapi tidak dengan Aslan yang sekarang.
Di luar perkiraannya, telapakan pria itu di bahunya mengencang. Lelaki itu memeluknya erat dan tangannya yang kekar mengelilingi tubuh Mei yang mungil. Menariknya dalam pelukannya yang hangat.
Tubuh kecil Mei berontak, tapi Aslan makin memeluknya erat dan kuat. Pria itu tidak mau melepaskannya.
"Mas..."
"Tidak. Untuk kali ini, mas tidak akan melepasmu, Mei. Mas tidak akan biarkan kamu pergi lagi."
Telinga Mei menangkap suara berat lelaki itu pecah. Tanpa harus melihatnya, ia tahu pria itu mulai menangis. Ia bisa merasakan tubuh besar suaminya bergetar pelan di belakangnya.
Cukup shock dengan kenyataan ini, wanita itu hanya bisa terdiam. Tidak pernah sekali pun ia melihat Aslan memperlihatkan perasaannya. Pria itu tidak pernah marah atau menunjukkan dominasinya, apalagi sampai menangis seperti sekarang. Lelaki itu sangat sabar dan mengikuti apapun perkataan bundanya.
Bahkan lelaki ini pun sampai rela menduakannya, karena ingin mengabulkan permintaan mertuanya dulu.
Selama 2 tahun pernikahan mereka, Mei tidak tahu apa yang disukai atau tidak disukai pria ini. Tidak satu kali pun ia mendengar keinginan lelaki itu keluar dari mulutnya sendiri. Satu-satunya yang ia bisa ketahui dari suaminya adalah ketika muncul rona merah di pipinya, menandakan pria ini sedang gembira.
Lainnya? Mei tidak pernah tahu.
Mengingat lagi kenangan menyakitkan dulu, air mata Mei mengering. Meski ia masih mencintai pria ini, tapi ia tidak mau lagi kembali ke kehidupannya yang dulu. Kehidupan yang disetir oleh orang lain. Dalam skala tertentu, ia mungkin masih menerima masukan bundanya dulu. Tapi lama kelamaan, hal itu membuatnya makin sesak ketika permintaan itu semakin tidak masuk di akalnya.
Biar saja ia melepas suaminya, bila pria ini masih ingin menuruti keinginan bundanya. Mei tidak akan pernah mau mempengaruhi Aslan untuk durhaka pada orangtuanya sendiri. Lebih baik ia yang pergi.
"Mei..." Suara lelaki itu yang kini serak masih memanggilnya.
Mata Mei melihat tangan besar yang memeluknya. Jarinya mengelus cincin yang tersemat di jari manis lelaki itu. Matanya memejam, saat akhirnya ia menangkup tangan Aslan dan menggenggamnya erat.
"Mei ga mau ngomong apapun dulu, mas... Mei butuh waktu. Mei juga yakin, mas Aslan bilang begitu tadi karena kita sudah lama pisah. Tapi Mei tahu, mas akan tetap mengabulkan keinginan bunda dulu kan? Maaf mas, kalau memang begitu, Mei ga akan pernah bisa kembali lagi. Mei ternyata bukan isteri sholehah seperti yang diinginkan bunda... Mei bukan wanita kuat yang sanggup didua. Mei hanya wanita biasa yang bisa sakit hati dan cemburu... Lebih baik Mei melepaskan mas Aslan, kalau memang mas mau dengan wanita lain."
Ada sedikit jeda sebelum Mei melanjutkan lagi dengan hati yang sangat perih.
"Mei rela mas... Mas Aslan boleh menceraikan Mei sekarang juga, secara agama dan negara... Mei sangat rela... Maaf mas, kalau Mei sampai menghambat mas Aslan buat menikahi Christine dulu."
Kata-kata itu mampu membuat Aslan terdiam. Pria di belakangnya tidak mengatakan apapun lagi.
Tadinya Mei menduga pria itu akan menjauh dan melepasnya. Tapi nyatanya, pelukan Aslan menguat. Dan pelukannya itu tidak terlepas, sampai keesokan harinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
♡Ñùř♡
mei😭😭😭
2024-10-12
0
♡Ñùř♡
Aku pun sama ikut nangis juga😭
2024-10-12
0