Chapter 11 - Kenapa?

Tubuh wanita yang duduk di tempat tidur itu menegang. Kedua tangannya mencengkeram selimut, dengan mata yang terarah ke pintu kamar mandi di depannya.

Beberapa kali ia menelan ludah dan jantungnya seolah melompat ke tenggorokan, karena mendengar suara sekecil apapun. Ia bisa merasakan seluruh tubuhnya mulai gemetar.

Kali ini, badannya benar-benar terlonjak saat pintu yang tadinya tertutup itu terbuka.

Mulutnya tanpa sadar terbuka, saat ia melihat sosok Aslan yang baru mandi keluar. Tampak uap asap samar mengalir dari dalam dan mengelilingi tubuh lelaki itu yang berdiri di depannya. Hanyalah selembar handuk tebal berwarna putih yang meliliti pinggang pria itu yang ramping.

Ritme jantung Mei tidak beraturan dalam d*da dan ia bisa merasakan nafasnya mulai cepat. Bahkan dalam mimpi terliarnya sekali pun, ia tidak pernah membayangkan tubuh suaminya bisa jadi seindah ini.

Apa yang tadinya tumpukan lemak di perut buncit yang beberapa kali ia cubit, berubah menjadi alur otot yang tampak liat dan keras. D*da lelaki itu yang tambun dan sering ia r*mas dulu, kini terlihat kencang berisi. Bahkan kedua lengan pria itu yang besar dulu, sekarang seperti tumpukan otot dengan urat-urat bertonjolan.

Anehnya, Mei merasakan perasaan asing. Ia tidak mengenal lagi sosok pria yang berdiri di depannya. Ada bisikan dalam relung hati terdalamnya, kalau lelaki ini bukan lagi suami yang pernah ia kenal dulu.

"Mei?"

Bola mata Mei mengerjap cepat. Perasaannya tidak karuan. Ia bingung. Juga takut.

Entah kenapa, tapi ia tidak mau memandang pria itu. Ia tidak bisa menatap lelaki itu lagi seperti dulu.

"Hem. Sebaiknya kita tidur sekarang. Sudah malam."

Tanpa mengatakan apapun lagi, Mei membalikkan badan dan menyelimuti dirinya erat. Ia tidak berbalik saat ranjang di belakangnya memberat dan selimutnya sedikit tertarik.

Wanita itu menutup matanya erat dan ia bisa merasakan matanya sedikit basah.

Meski tahu lelaki di belakangnya ini adalah Aslan, suami yang pernah ia tinggalkan dulu, tapi Mei merasa ia kehilangan sosok Aslan yang dulu ia cintai. Pria yang telah memberinya rumah dan kenyamanan dalam hidup. Pria yang membuatnya merasa utuh sebagai wanita dan juga isteri, seperti yang diimpikannya dulu.

Impiannya memang telah hancur, tapi rasa cintanya pada pria itu masih belum berubah.

Setitik air mulai mengaliri pipinya, sampai ia mendengar suara berat lelaki di belakangnya.

"Meichan... Kenapa kamu pergi...?"

Pertanyaan itu membuat mata Mei membuka. Matanya masih mengalirkan air. Hatinya terasa sangat sakit.

Belum ada jawaban dari isterinya, pria itu menolehkan kepalanya. Suaranya lebih lirih, "Kenapa, Mei...?"

Sama sekali Mei tidak bisa melihat ekspresi pria itu, tapi entah kenapa, ia dapat merasakan kesakitan dalam suara berat itu. Suara yang pertama kali berhasil membuatnya jatuh hati dulu, saat mendengarnya.

Satu tangan Aslan meraih bahunya. Ia bisa merasakan bibir pria itu menyentuh belakang lehernya.

"Mei..."

Bayangan tubuh lelaki itu tadi, membuat Mei refleks mengedikkan bahunya. Menolak sentuhan itu.

Aslan yang dulu akan mundur. Aslan yang dikenalnya 7 tahun lalu pasti akan menarik tangannya dan tidak berani menyentuhnya lagi. Tapi tidak dengan Aslan yang sekarang.

Di luar perkiraannya, telapakan pria itu di bahunya mengencang. Lelaki itu memeluknya erat dan tangannya yang kekar mengelilingi tubuh Mei yang mungil. Menariknya dalam pelukannya yang hangat.

Tubuh kecil Mei berontak, tapi Aslan makin memeluknya erat dan kuat. Pria itu tidak mau melepaskannya.

"Mas..."

"Tidak. Untuk kali ini, mas tidak akan melepasmu, Mei. Mas tidak akan biarkan kamu pergi lagi."

Telinga Mei menangkap suara berat lelaki itu pecah. Tanpa harus melihatnya, ia tahu pria itu mulai menangis. Ia bisa merasakan tubuh besar suaminya bergetar pelan di belakangnya.

Cukup shock dengan kenyataan ini, wanita itu hanya bisa terdiam. Tidak pernah sekali pun ia melihat Aslan memperlihatkan perasaannya. Pria itu tidak pernah marah atau menunjukkan dominasinya, apalagi sampai menangis seperti sekarang. Lelaki itu sangat sabar dan mengikuti apapun perkataan bundanya.

Bahkan lelaki ini pun sampai rela menduakannya, karena ingin mengabulkan permintaan mertuanya dulu.

Selama 2 tahun pernikahan mereka, Mei tidak tahu apa yang disukai atau tidak disukai pria ini. Tidak satu kali pun ia mendengar keinginan lelaki itu keluar dari mulutnya sendiri. Satu-satunya yang ia bisa ketahui dari suaminya adalah ketika muncul rona merah di pipinya, menandakan pria ini sedang gembira.

Lainnya? Mei tidak pernah tahu.

Mengingat lagi kenangan menyakitkan dulu, air mata Mei mengering. Meski ia masih mencintai pria ini, tapi ia tidak mau lagi kembali ke kehidupannya yang dulu. Kehidupan yang disetir oleh orang lain. Dalam skala tertentu, ia mungkin masih menerima masukan bundanya dulu. Tapi lama kelamaan, hal itu membuatnya makin sesak ketika permintaan itu semakin tidak masuk di akalnya.

Biar saja ia melepas suaminya, bila pria ini masih ingin menuruti keinginan bundanya. Mei tidak akan pernah mau mempengaruhi Aslan untuk durhaka pada orangtuanya sendiri. Lebih baik ia yang pergi.

"Mei..." Suara lelaki itu yang kini serak masih memanggilnya.

Mata Mei melihat tangan besar yang memeluknya. Jarinya mengelus cincin yang tersemat di jari manis lelaki itu. Matanya memejam, saat akhirnya ia menangkup tangan Aslan dan menggenggamnya erat.

"Mei ga mau ngomong apapun dulu, mas... Mei butuh waktu. Mei juga yakin, mas Aslan bilang begitu tadi karena kita sudah lama pisah. Tapi Mei tahu, mas akan tetap mengabulkan keinginan bunda dulu kan? Maaf mas, kalau memang begitu, Mei ga akan pernah bisa kembali lagi. Mei ternyata bukan isteri sholehah seperti yang diinginkan bunda... Mei bukan wanita kuat yang sanggup didua. Mei hanya wanita biasa yang bisa sakit hati dan cemburu... Lebih baik Mei melepaskan mas Aslan, kalau memang mas mau dengan wanita lain."

Ada sedikit jeda sebelum Mei melanjutkan lagi dengan hati yang sangat perih.

"Mei rela mas... Mas Aslan boleh menceraikan Mei sekarang juga, secara agama dan negara... Mei sangat rela... Maaf mas, kalau Mei sampai menghambat mas Aslan buat menikahi Christine dulu."

Kata-kata itu mampu membuat Aslan terdiam. Pria di belakangnya tidak mengatakan apapun lagi.

Tadinya Mei menduga pria itu akan menjauh dan melepasnya. Tapi nyatanya, pelukan Aslan menguat. Dan pelukannya itu tidak terlepas, sampai keesokan harinya.

Terpopuler

Comments

♡Ñùř♡

♡Ñùř♡

mei😭😭😭

2024-10-12

0

♡Ñùř♡

♡Ñùř♡

Aku pun sama ikut nangis juga😭

2024-10-12

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Sakit
2 Chapter 2 - Bunda
3 Chapter 3 - Ikhlas
4 Chapter 4 - Hilang
5 Chapter 5 - Pergi
6 Chapter 6 - Bertemu
7 Chapter 7 - Ancaman
8 Chapter 8 - Cinta
9 Chapter 9 - Aslan
10 Chapter 10 - Cemburu
11 Chapter 11 - Kenapa?
12 Chapter 12 - Rival
13 Chapter 13 - Suamiku
14 Chapter 14 - Rindu
15 Chapter 15 - Patah Hati
16 Chapter 16 - Memori
17 Chapter 17 - Putus
18 Chapter 18 - Kebenaran (1)
19 Chapter 19 - Kebenaran (2)
20 Chapter 20 - Cerai
21 Chapter 21 - Hancur
22 Chapter 22 - Gila
23 Chapter 23 - Dasi
24 Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25 Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26 Chapter 26 - Penolakan
27 Chapter 27 - Usaha
28 Chapter 28 - Mengulang
29 Chapter 29 - Sederhana
30 Chapter 30 - Bahagia
31 Chapter 31 - Mengabulkan
32 Chapter 32 - Momen
33 Chapter 33 - Int*m
34 Chapter 34 - Mundur
35 Chapter 35 - Gagal (1)
36 Chapter 36 - Gagal (2)
37 Chapter 37 - Kepercayaan
38 Chapter 38 - Perlawanan
39 Chapter 39 - Melindungi
40 Chapter 40 - Honeymoon (1)
41 Chapter 41 - Honeymoon (2)
42 Chapter 42 - Rendezvous (1)
43 Chapter 43 - Rendezvous (2)
44 Chapter 44 - Rendezvous (3)
45 Chapter 45 - Kesempatan
46 Chapter 46 - Diusir
47 Chapter 47 - Kesetiaan
48 Chapter 48 - Kabar
49 Chapter 49 - Welcoming
50 Chapter 50 - Memilih
51 Chapter 51 - Kecewa
52 Chapter 52 - Ketahuan
53 Chapter 53 - Berdebat
54 Chapter 54 - Keraguan
55 Chapter 55 - Kesadaran
56 Chapter 56 - Jatuh Cinta
57 Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58 Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59 Chapter 59 - Hagen
60 Chapter 60 - Keputusan
61 Chapter 61 - Pengakuan
62 Chapter 62 - Penyelesaian
63 Chapter 63 - 'Menembak'
64 Chapter 64 - Interogasi
65 Chapter 65 - Kencan (1)
66 Chapter 66 - Kencan (2)
67 Chapter 67 - Kembali
68 Chapter 68 - Bersatu
69 Chapter 69 - First Time
70 Chapter 70 - Memori Indah
71 Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72 EPILOG - Awal Mula
73 EPILOG - Hubungan Transaksional
74 EPILOG - Kemarahan Terpendam
75 EPILOG - Rencana Perjodohan
76 EPILOG - Pertemuan Pertama
77 EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78 EPILOG - Hati yang Ragu
79 EPILOG - Keputusan Meilany
80 EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81 Pengumuman karya baru - Maret 2025
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Chapter 1 - Sakit
2
Chapter 2 - Bunda
3
Chapter 3 - Ikhlas
4
Chapter 4 - Hilang
5
Chapter 5 - Pergi
6
Chapter 6 - Bertemu
7
Chapter 7 - Ancaman
8
Chapter 8 - Cinta
9
Chapter 9 - Aslan
10
Chapter 10 - Cemburu
11
Chapter 11 - Kenapa?
12
Chapter 12 - Rival
13
Chapter 13 - Suamiku
14
Chapter 14 - Rindu
15
Chapter 15 - Patah Hati
16
Chapter 16 - Memori
17
Chapter 17 - Putus
18
Chapter 18 - Kebenaran (1)
19
Chapter 19 - Kebenaran (2)
20
Chapter 20 - Cerai
21
Chapter 21 - Hancur
22
Chapter 22 - Gila
23
Chapter 23 - Dasi
24
Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25
Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26
Chapter 26 - Penolakan
27
Chapter 27 - Usaha
28
Chapter 28 - Mengulang
29
Chapter 29 - Sederhana
30
Chapter 30 - Bahagia
31
Chapter 31 - Mengabulkan
32
Chapter 32 - Momen
33
Chapter 33 - Int*m
34
Chapter 34 - Mundur
35
Chapter 35 - Gagal (1)
36
Chapter 36 - Gagal (2)
37
Chapter 37 - Kepercayaan
38
Chapter 38 - Perlawanan
39
Chapter 39 - Melindungi
40
Chapter 40 - Honeymoon (1)
41
Chapter 41 - Honeymoon (2)
42
Chapter 42 - Rendezvous (1)
43
Chapter 43 - Rendezvous (2)
44
Chapter 44 - Rendezvous (3)
45
Chapter 45 - Kesempatan
46
Chapter 46 - Diusir
47
Chapter 47 - Kesetiaan
48
Chapter 48 - Kabar
49
Chapter 49 - Welcoming
50
Chapter 50 - Memilih
51
Chapter 51 - Kecewa
52
Chapter 52 - Ketahuan
53
Chapter 53 - Berdebat
54
Chapter 54 - Keraguan
55
Chapter 55 - Kesadaran
56
Chapter 56 - Jatuh Cinta
57
Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58
Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59
Chapter 59 - Hagen
60
Chapter 60 - Keputusan
61
Chapter 61 - Pengakuan
62
Chapter 62 - Penyelesaian
63
Chapter 63 - 'Menembak'
64
Chapter 64 - Interogasi
65
Chapter 65 - Kencan (1)
66
Chapter 66 - Kencan (2)
67
Chapter 67 - Kembali
68
Chapter 68 - Bersatu
69
Chapter 69 - First Time
70
Chapter 70 - Memori Indah
71
Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72
EPILOG - Awal Mula
73
EPILOG - Hubungan Transaksional
74
EPILOG - Kemarahan Terpendam
75
EPILOG - Rencana Perjodohan
76
EPILOG - Pertemuan Pertama
77
EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78
EPILOG - Hati yang Ragu
79
EPILOG - Keputusan Meilany
80
EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81
Pengumuman karya baru - Maret 2025

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!