Chapter 2 - Bunda

"Terima kasih, Mei."

Wanita itu tersenyum dan duduk di samping mertuanya.

Memandang wanita baya di depannya, benak Mei berkelana ke beberapa tahun lalu saat ia pertama kali jadi seorang mualaf. Ia berasal dari keluarga dengan tradisi tertentu dan ketika akhirnya memutuskan menganut kepercayaan yang berbeda, seluruh keluarga besar menentang dan mengeluarkannya dari akta.

Ia bukannya tidak memiliki uang sama sekali. Namun, tidak akan ada seorang pun yang mau untuk berada dalam situasinya saat itu. Ia memang sudah punya pekerjaan, tapi pengasingan keluarga intinya secara cepat mempengaruhi pandangan orang-orang di sekitarnya.

Dirinya terpaksa pindah dari lingkungan tempat tinggalnya semenjak ia lahir. Belum lagi pandangan yang mencemooh dari beberapa rekan saat mengetahui keputusannya.

Tidak pernah sekali pun ia menyesali jalan yang ia ambil. Ia hanya menyesal, kenapa pada waktu itu ia mau saja menerima saat dilamar dan belum cukup pengalaman untuk lebih memperdalam keyakinannya.

Hal yang tidak ia pikirkan akan jadi masalah, ternyata sekarang justru menimpa dirinya di saat ia belum siap.

"Mei?"

Panggilan lembut itu membuat Mei menengadah.

Di depannya, tampak mertuanya memandanginya lembut. Wanita baya yang telah melahirkan suaminya ini selalu memperlakukannya sangat baik. Seolah ia adalah anaknya sendiri. Tapi...

"Ya, bunda?"

Terdengar helaan nafas dari mertuanya. Wanita baya itu meletakkan cangkirnya di meja.

"Mei... Apa Aslan sudah... mengatakan niatnya pada kamu?"

Pertanyaan itu membuat hati Mei seolah dirajam ribuan batu. Hatinya sakit. Hatinya berdarah. Ia hancur.

Bibir merah muda itu tersenyum lembut. "Iya. Mas Aslan sudah ngomong sama Mei tadi malam, bun."

Mata tua itu memandanginya ragu-ragu.

"Boleh bunda tahu, apa keputusanmu, Mei?"

Merasakan tangannya mulai gemetar, Mei ikut meletakkan cangkirnya di meja. Pandangannya tertunduk.

"Mei akan ikut keputusan mas Aslan saja."

Sejenak, suasana di ruang tamu kecil itu senyap. Hanya suara samar cuitan burung terdengar di luar.

"Mei... Boleh bunda cerita kenapa Aslan minta itu ke kamu?"

Bola mata Mei yang sipit naik dan menatap mertuanya. Wanita baya itu tersenyum lembut.

"Boleh bun..."

Kembali terdengar helaan nafas dari mertuanya. Ia sedikit menyender.

"Bunda yakin, kamu sudah tahu siapa Christine kan?"

Kepala Mei mengangguk. Tatapannya tertunduk ke arah tangan yang ada di pangkuannya.

"Dia mantan pacar mas Aslan dulu."

Lagi-lagi suasana hening sejenak, sampai mertuanya bicara kembali.

"Kamu sudah tahu kenapa mereka sampai putus kan?"

Kedua tangan Mei mencengkeram erat, dan kepalanya mengangguk pelan.

"Beda agama."

Wanita baya itu menghembuskan nafasnya sedikit keras, menandakan kegalauan hatinya.

"Sudah dari awal, bunda memperingatkan. Pacaran beda keyakinan itu, tidak akan membawamu ke mana pun. Tidak ada masa depan. Membuang waktu, juga tenaga. Karena tidak akan pernah ada jalan temunya."

Penjelasan itu membuat Mei semakin mengeratkan tangannya. Ia masih menunduk.

Mengamati menantunya yang masih diam, wanita baya itu memutuskan melanjutkan lagi.

"Kamu tahu mereka dekat berapa lama?"

"Empat tahun, bunda..."

"Benar. Empat tahun. Aslan menghabiskan 4 tahunnya sia-sia, hanya untuk menjalin hubungan yang pada akhirnya kandas juga. Dari awal, anak itu tahu orangtua Christine tidak akan pernah merestui mereka. Meski hubungan mereka terjalin baik, meski Christine adalah wanita yang baik dan calon isteri yang sempurna bagi Aslan, tapi apa manfaatnya kalau itu tidak membawa ke mana pun?"

Sesuatu dalam kata-kata itu membuat nafas Mei sedikit cepat, tapi ia masih menundukkan kepalanya.

Memandang menantunya, tatapan wanita baya itu terlihat sedih. Perlahan, ia mengambil kedua tangan Mei yang putih dan menggenggamnya erat.

"Tapi sekarang, Christine butuh bantuan kita, Mei... Dia butuh... Aslan."

Barulah pandangan Mei naik. Sorot matanya bercampur antara sakit dan heran.

"Bunda?"

Genggaman di tangan Mei mengerat. Mertuanya itu terlihat menelan ludahnya beberapa kali.

"Saat putus dari Aslan, Christine akhirnya menerima lamaran pria lain. Mereka menikah hampir tiga tahun ini Mei, dan sudah dikaruniai seorang putri cantik... Tapi dalam perjalanannya, Christine ternyata mendapat hidayah. Ia baru menemukan tujuan hidupnya saat sudah menikah dengan lelaki lain."

Kali ini, jantung Mei serasa mencelos ke bawah. Ia sangat tahu pasti yang akan dikatakan selanjutnya.

"Suaminya menceraikannya, Mei. Dan karena Christine memutuskan membawa anaknya serta, pria itu sama sekali tidak mau menafkahi keduanya. Ia menganggap hubungan darah mereka sudah putus, sejak Christine pindah keyakinan. Saat ini, ia tidak punya siapa pun, Mei. Ia tidak punya suami. Ia tidak punya keluarga. Dia tidak punya tempat tinggal. Dia sebatang kara dan butuh bantuan kita, Mei..."

"Tapi kenapa mesti mas Aslan..." Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutnya juga.

"Karena hanya Aslan yang dia tahu, Mei... Aslan juga yang dulu mencoba mengajaknya pindah keyakinan. Anak itu sampai mengenalkannya pada seorang guru untuk belajar agama, tapi dia menolak. Tapi sekarang saat dia sudah mendapatkan petunjuk, apa kita tega menolaknya, Mei?"

Bola mata Mei bergerak-gerak menatap mertuanya, tapi tidak satu pun kata keluar dari mulutnya.

"Bunda tahu, ini tidak adil buat kamu. Kamu juga pernah melalui yang sama, tapi saat itu, Aslan sudah ada di sampingmu. Kamu tidak sendirian. Tapi Christine... Dia sendirian. Dia butuh orang mengarahkannya. Dia butuh seseorang mengajarkannya. Ia butuh orang untuk menyakinkannya bahwa pilihannya tidak salah...."

Dan saat kata-kata terakhir keluar dari mulut wanita baya itu, Mei menundukkan matanya yang basah.

"Dia butuh seorang imam, Mei... Karena itu, bunda meminta Aslan menikahinya."

Terpopuler

Comments

yoongi_ kocheng

yoongi_ kocheng

astaghfirullahalazim, kagak gitu juga bu'

sii christien yg pindah keyakinan, lah kenapa jadi sii aslan yg harus bertanggungjawab, pindah aja gitu ke ponpes kek, apa dilingkungan yg kental sama agama islam, lah sii ibu gak bisa ngerti perasaan sii mantu apa, dikira meichan gak sakit gitu?

2025-03-14

0

kalea rizuky

kalea rizuky

bunda nya tolol np gk suami lu aja bunda yg suruh nikahin

2025-02-08

0

cinta semu

cinta semu

gila ...muallaf kok pilih2 cari imam...suami orang lagi ...😂🤣kayak Cristine hidup ny cuman sekarang aja ...umur dah brp dah punya anak lagi ..masih aja di ajarin cari suami...

2024-11-22

2

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Sakit
2 Chapter 2 - Bunda
3 Chapter 3 - Ikhlas
4 Chapter 4 - Hilang
5 Chapter 5 - Pergi
6 Chapter 6 - Bertemu
7 Chapter 7 - Ancaman
8 Chapter 8 - Cinta
9 Chapter 9 - Aslan
10 Chapter 10 - Cemburu
11 Chapter 11 - Kenapa?
12 Chapter 12 - Rival
13 Chapter 13 - Suamiku
14 Chapter 14 - Rindu
15 Chapter 15 - Patah Hati
16 Chapter 16 - Memori
17 Chapter 17 - Putus
18 Chapter 18 - Kebenaran (1)
19 Chapter 19 - Kebenaran (2)
20 Chapter 20 - Cerai
21 Chapter 21 - Hancur
22 Chapter 22 - Gila
23 Chapter 23 - Dasi
24 Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25 Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26 Chapter 26 - Penolakan
27 Chapter 27 - Usaha
28 Chapter 28 - Mengulang
29 Chapter 29 - Sederhana
30 Chapter 30 - Bahagia
31 Chapter 31 - Mengabulkan
32 Chapter 32 - Momen
33 Chapter 33 - Int*m
34 Chapter 34 - Mundur
35 Chapter 35 - Gagal (1)
36 Chapter 36 - Gagal (2)
37 Chapter 37 - Kepercayaan
38 Chapter 38 - Perlawanan
39 Chapter 39 - Melindungi
40 Chapter 40 - Honeymoon (1)
41 Chapter 41 - Honeymoon (2)
42 Chapter 42 - Rendezvous (1)
43 Chapter 43 - Rendezvous (2)
44 Chapter 44 - Rendezvous (3)
45 Chapter 45 - Kesempatan
46 Chapter 46 - Diusir
47 Chapter 47 - Kesetiaan
48 Chapter 48 - Kabar
49 Chapter 49 - Welcoming
50 Chapter 50 - Memilih
51 Chapter 51 - Kecewa
52 Chapter 52 - Ketahuan
53 Chapter 53 - Berdebat
54 Chapter 54 - Keraguan
55 Chapter 55 - Kesadaran
56 Chapter 56 - Jatuh Cinta
57 Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58 Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59 Chapter 59 - Hagen
60 Chapter 60 - Keputusan
61 Chapter 61 - Pengakuan
62 Chapter 62 - Penyelesaian
63 Chapter 63 - 'Menembak'
64 Chapter 64 - Interogasi
65 Chapter 65 - Kencan (1)
66 Chapter 66 - Kencan (2)
67 Chapter 67 - Kembali
68 Chapter 68 - Bersatu
69 Chapter 69 - First Time
70 Chapter 70 - Memori Indah
71 Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72 EPILOG - Awal Mula
73 EPILOG - Hubungan Transaksional
74 EPILOG - Kemarahan Terpendam
75 EPILOG - Rencana Perjodohan
76 EPILOG - Pertemuan Pertama
77 EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78 EPILOG - Hati yang Ragu
79 EPILOG - Keputusan Meilany
80 EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81 Pengumuman karya baru - Maret 2025
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Chapter 1 - Sakit
2
Chapter 2 - Bunda
3
Chapter 3 - Ikhlas
4
Chapter 4 - Hilang
5
Chapter 5 - Pergi
6
Chapter 6 - Bertemu
7
Chapter 7 - Ancaman
8
Chapter 8 - Cinta
9
Chapter 9 - Aslan
10
Chapter 10 - Cemburu
11
Chapter 11 - Kenapa?
12
Chapter 12 - Rival
13
Chapter 13 - Suamiku
14
Chapter 14 - Rindu
15
Chapter 15 - Patah Hati
16
Chapter 16 - Memori
17
Chapter 17 - Putus
18
Chapter 18 - Kebenaran (1)
19
Chapter 19 - Kebenaran (2)
20
Chapter 20 - Cerai
21
Chapter 21 - Hancur
22
Chapter 22 - Gila
23
Chapter 23 - Dasi
24
Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25
Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26
Chapter 26 - Penolakan
27
Chapter 27 - Usaha
28
Chapter 28 - Mengulang
29
Chapter 29 - Sederhana
30
Chapter 30 - Bahagia
31
Chapter 31 - Mengabulkan
32
Chapter 32 - Momen
33
Chapter 33 - Int*m
34
Chapter 34 - Mundur
35
Chapter 35 - Gagal (1)
36
Chapter 36 - Gagal (2)
37
Chapter 37 - Kepercayaan
38
Chapter 38 - Perlawanan
39
Chapter 39 - Melindungi
40
Chapter 40 - Honeymoon (1)
41
Chapter 41 - Honeymoon (2)
42
Chapter 42 - Rendezvous (1)
43
Chapter 43 - Rendezvous (2)
44
Chapter 44 - Rendezvous (3)
45
Chapter 45 - Kesempatan
46
Chapter 46 - Diusir
47
Chapter 47 - Kesetiaan
48
Chapter 48 - Kabar
49
Chapter 49 - Welcoming
50
Chapter 50 - Memilih
51
Chapter 51 - Kecewa
52
Chapter 52 - Ketahuan
53
Chapter 53 - Berdebat
54
Chapter 54 - Keraguan
55
Chapter 55 - Kesadaran
56
Chapter 56 - Jatuh Cinta
57
Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58
Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59
Chapter 59 - Hagen
60
Chapter 60 - Keputusan
61
Chapter 61 - Pengakuan
62
Chapter 62 - Penyelesaian
63
Chapter 63 - 'Menembak'
64
Chapter 64 - Interogasi
65
Chapter 65 - Kencan (1)
66
Chapter 66 - Kencan (2)
67
Chapter 67 - Kembali
68
Chapter 68 - Bersatu
69
Chapter 69 - First Time
70
Chapter 70 - Memori Indah
71
Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72
EPILOG - Awal Mula
73
EPILOG - Hubungan Transaksional
74
EPILOG - Kemarahan Terpendam
75
EPILOG - Rencana Perjodohan
76
EPILOG - Pertemuan Pertama
77
EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78
EPILOG - Hati yang Ragu
79
EPILOG - Keputusan Meilany
80
EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81
Pengumuman karya baru - Maret 2025

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!