Chapter 19 - Kebenaran (2)

Menatap kedua tangannya yang gemetar, Mei bisa merasakan jantungnya memompa darahnya sangat kuat. Hal yang dikatakan Dinda barusan membuatnya mengalami shock sejenak.

Tidak. Itu baru satu versi, Mei. Kau harus mencari tahu dulu sebelum memutuskan! Bisa saja itu hanya asumsi Dinda. Bisa saja yang dikatakan dia tadi hanya perkiraannya dan bukan kebenaran!

Pemikiran itu membuat Mei mengerjapkan matanya cepat. Terburu-buru, ia memindahkan persneling dan menginjak gasnya dalam. Ia harus tahu. Kali ini, ia harus benar-benar tahu kebenarannya.

Mei tahu, ia harus pergi ke satu-satunya tempat yang bisa menjawab keraguannya. Kali ini, ia bertekad untuk mengkonfrontir orang yang telah ia anggap bertanggungjawab telah menghancurkan pernikahannya.

Tapi yang wanita itu temukan di sana, ternyata tidak seperti harapannya semula.

Tempat yang tadinya rumah mungil dengan halaman sempit, ternyata telah berubah menjadi bangunan ruko dua lantai dengan toko perkakas di bawahnya.

Kening Mei berkerut dalam. Ia turun dari mobil dan mematung di depan ruko itu. Apa ia salah alamat?

"Cari siapa ci?"

Sapaan itu datang dari seorang pria yang sedikit bungkuk. Pria bermata sipit itu memandang ramah padanya.

"Tidak... Tadinya saya kira di sini ada rumah tinggal. Mungkin saya yang salah."

"Rumah?"

Tidak punya keinginan berbasa-basi, Mei tersenyum sopan dan baru akan pergi saat pria itu berseru pelan.

"Oh iya. Rumahnya Hj. Sri kan? Bener kok. Dulu ini memang rumahnya ibu itu."

Menatap lagi pria itu, Mei berusaha menahan debaran jantungnya yang mulai menggila.

"Ibu Sri pindah ke mana?"

"Oh? Cici ga tahu? Ibu Sri sudah meninggal lama."

Tenggorokan Mei sangat seret. Ia sampai tidak bisa menelan ludahnya. "Meninggal?"

"Mungkin sekitar 6 atau 7 tahun yang lalu? Saya juga sedikit lupa. Saya beli karena anaknya menjual dengan harga cukup murah. Padahal dulu waktu ibunya masih ada, anaknya itu ga pernah mau jual meski saya nawar tinggi padahal ibu Sri-nya ga keberatan. Yah, mungkin pas rezeki saya saja."

Masih mencerna perkataan pria itu, Mei terdiam beberapa saat.

"Kasihan sebenarnya ibu Sri. Pas sudah sepuh, malah ga akur sama putra satu-satunya. Untungnya dia punya anak yang baik dan mau ngurus dia sampai meninggal."

"Ga akur?"

Melihat wanita di sampingnya tertarik mendengar ceritanya, pria bungkuk itu tersenyum lebar.

"Saya punya warung bakmi di depan sana. Kalau cici mau, saya bicara cerita banyak sambil cici makan."

Marketing tidak langsung itu membuat Mei tersenyum kecil.

"Halal ga? Saya hanya bisa makan makanan halal."

Kata-kata itu membuat si pria sejenak terdiam, tapi senyuman kembali muncul di bibirnya. Ia mengangguk.

"Tentu saja halal, ci. Lingkungan sini kan lebih banyak yang kaya cici dibanding seperti saya. Daripada warung bakmi saya ga laku ntaran?"

Mei tertawa pelan. "Kalau gitu, saya mau makan di warung koko."

Tidak lama, Mei duduk di satu warung bakmi dekat dengan lokasi perumahan sebelumnya. Warung itu cukup bersih dan pengunjungnya pun berseliweran, meski tidak terlalu ramai. Sepertinya banyak orang yang milih untuk pesan online atau take away, dibanding makan di tempat.

"Silahkan ci."

"Terima kasih." Bakmi itu mengepul hangat. Tampak lezat, membuat air liur Mei mulai menetes.

Menyeret kursi, pria bungkuk itu duduk di depannya.

Lagi-lagi pria itu tersenyum dan kali ini, senyumnya tampak gembira melihat pengunjungnya lahap makan.

"Cici kelaparan ya? Mau nambah?"

Mengusap mulut dengan tisu, kepala Mei menggeleng dan ia tampak malu.

"Tidak. Terima kasih. Saya sebenarnya sudah makan sebelum ke sini. Tapi ini bener-bener enak, koh."

Hanya kekehan terdengar dari mulut pria itu dan sejenak, keduanya terdiam.

"Soal yang tadi koh. Gimana kelanjutan ceritanya?"

Mata sipit lelaki itu menatap Mei lebih intens. Sangat jelas, ia sebenarnya ingin tahu lebih banyak kenapa wanita di depannya ini tertarik dengan ceritanya. Tapi mengingat sudah berjanji, ia akhirnya mengangguk.

"Sejujurnya, saya tidak terlalu mengenal ibu Sri. Saya juga tahu tentang beliau dari tetangga-tetangga di sini. Awalnya saya tertarik membeli rumah ibu itu karena ingin buka toko, dan kebetulan lokasinya bagus. Ya seperti saya bilang tadi, putranya menolak mentah-mentah. Itu kalau ga salah sekitar... 9-10 tahun lalu. Saya ga terlalu ingat soalnya sudah cukup lama."

Pelan, Mei menengguk tehnya. Matanya menatap pria di depannya, menunggu kelanjutannya.

"Beberapa tahun setelahnya, saya iseng lagi ke sana. Mungkin firasat ya? Saya ketemu lagi dengan anaknya, dan dia langsung setuju tanpa nego lagi. Urusannya juga cepet banget. Cuman sekitar 2 bulanan, akhirnya saya menempati rumah itu dan langsung membongkarnya. Setelah itu, saya ga pernah ketemu mereka lagi."

"Terus soal ibu Sri ga akur dengan anaknya? Itu karena apa?"

Tampak pria itu mengulum bibirnya, sebelum melanjutkan.

"Saya cuman denger desas-desus sih. Setelah saya tempati sekitar 2-3 hari, saya beli sayuran dari tukang yang lewat di depan rumah. Tahu sendiri kan, ibu-ibu pada cepet ngumpul dan kita ngobrol-ngobrol. Nah salah satunya nyeletuk soal ibu Sri. Dia bilang, kasihan si ibu itu karena ga disayang sama mantu dan anaknya. Padahal anaknya sudah punya rumah, malah si ibunya disuruh tinggal sendirian di sini."

Ada setitik kemarahan mulai timbul di hati Mei saat mendengarnya, tapi ia masih diam.

"Saya sih cuman ketawa saja, kan saya juga ga terlalu kenal ya dengan keluarganya ibu Sri. Pokoknya mereka debat sendiri, karena ada juga yang bilang kalau anak sudah nikah itu memang baiknya tinggal pisah dari orangtua atau mertua. Daripada berantem. Ya gitu deh."

Kekehan pria itu perlahan hilang, dan wajahnya sedikit lebih serius.

"Tapi kemudian ada satu ibu yang bilang pernah lihat ibu Sri dan putranya bertengkar di rumah. Waktu itu dia sempet lihat anaknya ibu Sri bersimpuh di depan ibunya dan mohon-mohon sambil nangis."

Informasi itu membuat jantung Mei berdebar makin kencang. Tangannya yang memegang gelas mengetat.

"Bersimpuh?"

Terdengar lelaki itu menarik nafas dan ia sedikit mendekat ke arah Mei. Suaranya lebih rendah.

"Gosipnya sih, sang putra disuruh nikah lagi karena menantunya belum juga hamil. Tapi masalahnya anaknya ga mau. Setelah itu, katanya anaknya jadi makin jarang datang ke rumah ibunya. Sampai beberapa bulan setelahnya, ibu Sri jatuh sakit. Baru setelah itu, putranya kelihatan datang lagi ke rumah itu. Dan ga sampai tiga bulan kemudian, ibu Sri meninggal di rumah sakit dan rumah itu dijual ke saya."

Senyuman pria itu yang ditujukan pada Mei memudar, saat ia melihat mata wanita itu nanar.

"Ci?"

Sedikit gemetar, Mei menatap lelaki di depannya tidak fokus.

"Be- Berapa semuanya koh?"

"Tiga puluh lima ribu, sudah sama teh. Tapi cici ga-?"

Terburu-buru, Mei mengeluarkan selembar uang berwarna biru dan langsung berdiri.

"Simpan kembaliannya, koh. Terima kasih banyak."

Lelaki itu tampak bingung, tapi ia kemudian mengambil uang di atas meja. Ia baru saja akan berdiri, saat satu anak buahnya berseru pelan dari belakangnya.

"Loh! Itu bukannya ci Mei?"

"Ci Mei?"

Meletakkan nampan di atas meja, pria berkulit cokelat itu mengangguk. Ia mulai membereskan piring kotor.

"Iya, sepertinya sih bener ci Mei. Itu loh koh, dia itu isterinya mas Aslan. Anaknya ibu Sri yang rumahnya koko beli tujuh tahun lalu. Koko masih inget kan mas Aslan? Orangnya tinggi ganteng, pake kacamata. Asyik ya, cowo kalau ganteng pasti bisa saja dapet isteri yang cantik kaya ci Mei."

Mata sipit itu perlahan melebar. Ekspresinya tidak tergambarkan saat ia menatap ke arah Mei pergi tadi.

"Oh."

Terpopuler

Comments

Sunaryati

Sunaryati

Dobell up Thoot makin menarik ceritanya

2024-09-27

0

Sunaryati

Sunaryati

Makin ada kejelasan, tapi tetap saja penyebabnya Ashlan telat menjelaskannya pada Mei sehingga Mei menyimpulkan jika Ashlan bersedia menikahi Cristine apalagi dugaan itu dikuatkan dengan kebersamaan Ashlan dan Cristine di kedai kopi dan terlihat Ashlan memegang tangan Cristine

2024-09-27

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Sakit
2 Chapter 2 - Bunda
3 Chapter 3 - Ikhlas
4 Chapter 4 - Hilang
5 Chapter 5 - Pergi
6 Chapter 6 - Bertemu
7 Chapter 7 - Ancaman
8 Chapter 8 - Cinta
9 Chapter 9 - Aslan
10 Chapter 10 - Cemburu
11 Chapter 11 - Kenapa?
12 Chapter 12 - Rival
13 Chapter 13 - Suamiku
14 Chapter 14 - Rindu
15 Chapter 15 - Patah Hati
16 Chapter 16 - Memori
17 Chapter 17 - Putus
18 Chapter 18 - Kebenaran (1)
19 Chapter 19 - Kebenaran (2)
20 Chapter 20 - Cerai
21 Chapter 21 - Hancur
22 Chapter 22 - Gila
23 Chapter 23 - Dasi
24 Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25 Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26 Chapter 26 - Penolakan
27 Chapter 27 - Usaha
28 Chapter 28 - Mengulang
29 Chapter 29 - Sederhana
30 Chapter 30 - Bahagia
31 Chapter 31 - Mengabulkan
32 Chapter 32 - Momen
33 Chapter 33 - Int*m
34 Chapter 34 - Mundur
35 Chapter 35 - Gagal (1)
36 Chapter 36 - Gagal (2)
37 Chapter 37 - Kepercayaan
38 Chapter 38 - Perlawanan
39 Chapter 39 - Melindungi
40 Chapter 40 - Honeymoon (1)
41 Chapter 41 - Honeymoon (2)
42 Chapter 42 - Rendezvous (1)
43 Chapter 43 - Rendezvous (2)
44 Chapter 44 - Rendezvous (3)
45 Chapter 45 - Kesempatan
46 Chapter 46 - Diusir
47 Chapter 47 - Kesetiaan
48 Chapter 48 - Kabar
49 Chapter 49 - Welcoming
50 Chapter 50 - Memilih
51 Chapter 51 - Kecewa
52 Chapter 52 - Ketahuan
53 Chapter 53 - Berdebat
54 Chapter 54 - Keraguan
55 Chapter 55 - Kesadaran
56 Chapter 56 - Jatuh Cinta
57 Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58 Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59 Chapter 59 - Hagen
60 Chapter 60 - Keputusan
61 Chapter 61 - Pengakuan
62 Chapter 62 - Penyelesaian
63 Chapter 63 - 'Menembak'
64 Chapter 64 - Interogasi
65 Chapter 65 - Kencan (1)
66 Chapter 66 - Kencan (2)
67 Chapter 67 - Kembali
68 Chapter 68 - Bersatu
69 Chapter 69 - First Time
70 Chapter 70 - Memori Indah
71 Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72 EPILOG - Awal Mula
73 EPILOG - Hubungan Transaksional
74 EPILOG - Kemarahan Terpendam
75 EPILOG - Rencana Perjodohan
76 EPILOG - Pertemuan Pertama
77 EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78 EPILOG - Hati yang Ragu
79 EPILOG - Keputusan Meilany
80 EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81 Pengumuman karya baru - Maret 2025
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Chapter 1 - Sakit
2
Chapter 2 - Bunda
3
Chapter 3 - Ikhlas
4
Chapter 4 - Hilang
5
Chapter 5 - Pergi
6
Chapter 6 - Bertemu
7
Chapter 7 - Ancaman
8
Chapter 8 - Cinta
9
Chapter 9 - Aslan
10
Chapter 10 - Cemburu
11
Chapter 11 - Kenapa?
12
Chapter 12 - Rival
13
Chapter 13 - Suamiku
14
Chapter 14 - Rindu
15
Chapter 15 - Patah Hati
16
Chapter 16 - Memori
17
Chapter 17 - Putus
18
Chapter 18 - Kebenaran (1)
19
Chapter 19 - Kebenaran (2)
20
Chapter 20 - Cerai
21
Chapter 21 - Hancur
22
Chapter 22 - Gila
23
Chapter 23 - Dasi
24
Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25
Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26
Chapter 26 - Penolakan
27
Chapter 27 - Usaha
28
Chapter 28 - Mengulang
29
Chapter 29 - Sederhana
30
Chapter 30 - Bahagia
31
Chapter 31 - Mengabulkan
32
Chapter 32 - Momen
33
Chapter 33 - Int*m
34
Chapter 34 - Mundur
35
Chapter 35 - Gagal (1)
36
Chapter 36 - Gagal (2)
37
Chapter 37 - Kepercayaan
38
Chapter 38 - Perlawanan
39
Chapter 39 - Melindungi
40
Chapter 40 - Honeymoon (1)
41
Chapter 41 - Honeymoon (2)
42
Chapter 42 - Rendezvous (1)
43
Chapter 43 - Rendezvous (2)
44
Chapter 44 - Rendezvous (3)
45
Chapter 45 - Kesempatan
46
Chapter 46 - Diusir
47
Chapter 47 - Kesetiaan
48
Chapter 48 - Kabar
49
Chapter 49 - Welcoming
50
Chapter 50 - Memilih
51
Chapter 51 - Kecewa
52
Chapter 52 - Ketahuan
53
Chapter 53 - Berdebat
54
Chapter 54 - Keraguan
55
Chapter 55 - Kesadaran
56
Chapter 56 - Jatuh Cinta
57
Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58
Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59
Chapter 59 - Hagen
60
Chapter 60 - Keputusan
61
Chapter 61 - Pengakuan
62
Chapter 62 - Penyelesaian
63
Chapter 63 - 'Menembak'
64
Chapter 64 - Interogasi
65
Chapter 65 - Kencan (1)
66
Chapter 66 - Kencan (2)
67
Chapter 67 - Kembali
68
Chapter 68 - Bersatu
69
Chapter 69 - First Time
70
Chapter 70 - Memori Indah
71
Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72
EPILOG - Awal Mula
73
EPILOG - Hubungan Transaksional
74
EPILOG - Kemarahan Terpendam
75
EPILOG - Rencana Perjodohan
76
EPILOG - Pertemuan Pertama
77
EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78
EPILOG - Hati yang Ragu
79
EPILOG - Keputusan Meilany
80
EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81
Pengumuman karya baru - Maret 2025

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!