\= Terminal 3. Bandara Internasional, kota J \=
"Sudah check in?"
Tanpa berkata-kata, lelaki tinggi itu mengulurkan tiket dan juga boarding pass-nya.
"Kopernya masuk bagasi. Nomornya ada di belakang."
"Makasih mas. Untung saja mas punya kenalan di bandara."
Terdengar dengusan dari hidung Aslan. Matanya menyapu ruangan yang luas itu.
"Mana orang itu? Dia harus masuk sekarang, dari pada terlambat untuk pemeriksaan paspor."
Mei menghela nafas panjang. Ia menunjuk salah satu toilet yang ada di ujung.
"Muntah lagi. Sepertinya hangover-nya cukup parah."
"Merepotkan saja. Untung kamu bangun lebih pagi."
Pipi Mei sedikit merona dan wanita itu terkekeh pelan. Ingatannya melayang saat tadi ia terbangun di dalam pelukan seorang lelaki. Tadinya ia menyangka dirinya bermimpi basah saat sadar, kalau pria ganteng yang sedang memeluknya itu adalah suaminya sendiri.
Melihat ekspresi isterinya yang malu-malu dan menunduk, jantung Aslan berdebar di d*danya. Tangannya terulur dan mengelus lembut belakang leher wanita itu yang berbulu halus.
Sentuhan itu membuat Mei mendongak. Pandangannya bertanya.
"Mas?"
Sejenak pria itu hanya menatapnya diam dan perlahan, bibirnya tersenyum.
"Mas paling suka lihat kamu malu-malu begini, Mei. Kamu buat mas berdebar dan merasa sudah ngelakuin sesuatu yang sangat istimewa buat kamu. Ini yang mas rasakan tiap melihat kamu mengantar mas pergi ke kantor dan juga menyambut mas pulang di rumah, Meichan."
Pengakuan jujur itu membuat mata Mei mengerjap. Ia merasa perutnya dipenuhi kupu-kupu.
Jari-jari Aslan di leher Mei memijat lembut dan mata cokelat terang itu bergerak-gerak saat menatapnya.
"Mas sangat rindu kamu, Mei... Mas rindu suaramu... Mas rindu tawa kamu... Mas rindu masakan kamu... Mas rindu lihat punggung kamu waktu kamu sibuk dengan tanaman kamu..."
Bola mata itu perlahan berkaca-kaca dan suara berat lelaki itu sedikit serak.
"Mas merindukan kehangatan kamu waktu mas peluk... Mas benar-benar rindu kamu, Meichan... Sangat rindu sampai mas mau mati rasanya... Kamu ga tahu, betapa mas ingin mati waktu kamu pergi dulu, Mei..."
Ekspresi sakit lelaki itu tidak tergambarkan dan membuat Mei tertegun beberapa saat.
"Mas Aslan-"
"Mei!"
Panggilan itu membuat Aslan langsung melepas tangannya. Kepalanya tertunduk dan ia sedikit menjauh.
Tampak Conrad berjalan menghampiri dari arah toilet. Pria tampan itu menarik nafas dalam dan tersenyum. Wajahnya masih pucat, tapi rautnya terlihat tidak separah pagi tadi saat datang ke airport.
"Tuan Conrad? Anda baik-baik saja?"
Senyuman pria itu pada sekretarisnya melebar.
"Yep. Sudah lebih baik. Setelah jackpot tiga kali, aku yakin aku akan baik-baik saja. Baru kali ini sebuah kloset terasa seperti wanita cantik di mataku. Oh ya, kau masih menyimpan obat mual barangkali?"
Wanita itu terkekeh dan membuka tasnya. Tampak ia mengulurkan beberapa butir obat dalam plastik.
"Sudah saya duga. Ini simpanan buat Anda di pesawat, sir. Saya sudah menyiapkannya."
"Wow! Kau memang sekretarisku yang luar biasa, Mei. Sudah kubilang, aku ini butuh isteri seperti dirimu."
Dua orang itu tertawa seperti teman lama, tidak sadar ada seseorang yang sama sekali tidak tertawa di sana.
D*da Aslan terasa panas. Ia sangat cemburu. Tangannya yang mengepal, sangat ingin memberikan tonjokan pada lelaki di depannya. Meski ia sendiri pria tulen, tapi mata dan pikiran yang paling waras pun bisa menilai kalau Julius Conrad adalah pria yang sangat tampan.
Kedua matanya mengerjap cepat saat melihat interaksi antara Mei dengan atasannya itu. Meski tetap ada jarak tak kasat mata, tapi jelas kalau pria itu tertarik pada isterinya. Gesture Conrad berusaha mendekati wanita di sampingnya yang dengan luwes, menghindar untuk tetap memberi batasan.
Batasan yang kini ia sadari, juga telah terjadi antara dirinya dengan isterinya selama ini.
Semakin lama, Aslan merasa ada sesuatu yang tidak terlihat memisahkan wanita itu semakin jauh darinya. Raut pria itu yang tadinya keras, perlahan mulai tampak kosong.
Kekosongan yang dengan lihai dimanfaatkan sebagai celah oleh pria bermata hijau di sana.
"Mei. Bisa aku minta tolong lagi?"
Mendecak kesal, Mei menatap atasannya datar.
"Minta tolong apa lagi, sir?"
"Tolong beliin aku kopi hitam, dong. Aku butuh di pesawat."
Alis Mei yang melengkung sedikit naik. "Oh? Tumben. Saya kira Anda minta dibelikan minuman keras."
Mengucek kedua matanya, kepala Conrad menggeleng. Pria itu terlihat sedikit lemas.
"Tidak. Aku sepertinya memang harus mengurangi. Tolong kopi hitam, Mei."
Permintaan itu membuat Mei tersenyum. Matanya melirik ke arah Aslan yang tampak memandanginya.
"Oke, sir. Tunggu sebentar ya. Biar pak Aslan yang akan menemani sebentar."
Setelah sosok mungil wanita itu menjauh, kepala Conrad menoleh pada Aslan di belakangnya.
Tampangnya yang tadinya ramah, kini mulai menggelap. Tampak ia mengantongkan dua tangan ke dalam celana panjangnya. Tubuhnya tegak berdiri dan mengeluarkan aura permusuhan pada pria di depannya.
"Jadi, kau ini lelaki yang membuatnya tidak pernah mau menerimaku?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
cinta semu
cerdas juga tuan Conrad...🤣😂
2024-11-22
0
♡Ñùř♡
mei pun pasti juga begitu tp aplh daya nya,siapa pun pasti tk akn terima klau mau di dua kan
2024-10-12
0
♡Ñùř♡
Tp knpa kmu tega nyakitin mei dengan pingin nikah lg karena bunda mu yg minta
2024-10-12
0