Chapter 12 - Rival

\= Terminal 3. Bandara Internasional, kota J \=

"Sudah check in?"

Tanpa berkata-kata, lelaki tinggi itu mengulurkan tiket dan juga boarding pass-nya.

"Kopernya masuk bagasi. Nomornya ada di belakang."

"Makasih mas. Untung saja mas punya kenalan di bandara."

Terdengar dengusan dari hidung Aslan. Matanya menyapu ruangan yang luas itu.

"Mana orang itu? Dia harus masuk sekarang, dari pada terlambat untuk pemeriksaan paspor."

Mei menghela nafas panjang. Ia menunjuk salah satu toilet yang ada di ujung.

"Muntah lagi. Sepertinya hangover-nya cukup parah."

"Merepotkan saja. Untung kamu bangun lebih pagi."

Pipi Mei sedikit merona dan wanita itu terkekeh pelan. Ingatannya melayang saat tadi ia terbangun di dalam pelukan seorang lelaki. Tadinya ia menyangka dirinya bermimpi basah saat sadar, kalau pria ganteng yang sedang memeluknya itu adalah suaminya sendiri.

Melihat ekspresi isterinya yang malu-malu dan menunduk, jantung Aslan berdebar di d*danya. Tangannya terulur dan mengelus lembut belakang leher wanita itu yang berbulu halus.

Sentuhan itu membuat Mei mendongak. Pandangannya bertanya.

"Mas?"

Sejenak pria itu hanya menatapnya diam dan perlahan, bibirnya tersenyum.

"Mas paling suka lihat kamu malu-malu begini, Mei. Kamu buat mas berdebar dan merasa sudah ngelakuin sesuatu yang sangat istimewa buat kamu. Ini yang mas rasakan tiap melihat kamu mengantar mas pergi ke kantor dan juga menyambut mas pulang di rumah, Meichan."

Pengakuan jujur itu membuat mata Mei mengerjap. Ia merasa perutnya dipenuhi kupu-kupu.

Jari-jari Aslan di leher Mei memijat lembut dan mata cokelat terang itu bergerak-gerak saat menatapnya.

"Mas sangat rindu kamu, Mei... Mas rindu suaramu... Mas rindu tawa kamu... Mas rindu masakan kamu... Mas rindu lihat punggung kamu waktu kamu sibuk dengan tanaman kamu..."

Bola mata itu perlahan berkaca-kaca dan suara berat lelaki itu sedikit serak.

"Mas merindukan kehangatan kamu waktu mas peluk... Mas benar-benar rindu kamu, Meichan... Sangat rindu sampai mas mau mati rasanya... Kamu ga tahu, betapa mas ingin mati waktu kamu pergi dulu, Mei..."

Ekspresi sakit lelaki itu tidak tergambarkan dan membuat Mei tertegun beberapa saat.

"Mas Aslan-"

"Mei!"

Panggilan itu membuat Aslan langsung melepas tangannya. Kepalanya tertunduk dan ia sedikit menjauh.

Tampak Conrad berjalan menghampiri dari arah toilet. Pria tampan itu menarik nafas dalam dan tersenyum. Wajahnya masih pucat, tapi rautnya terlihat tidak separah pagi tadi saat datang ke airport.

"Tuan Conrad? Anda baik-baik saja?"

Senyuman pria itu pada sekretarisnya melebar.

"Yep. Sudah lebih baik. Setelah jackpot tiga kali, aku yakin aku akan baik-baik saja. Baru kali ini sebuah kloset terasa seperti wanita cantik di mataku. Oh ya, kau masih menyimpan obat mual barangkali?"

Wanita itu terkekeh dan membuka tasnya. Tampak ia mengulurkan beberapa butir obat dalam plastik.

"Sudah saya duga. Ini simpanan buat Anda di pesawat, sir. Saya sudah menyiapkannya."

"Wow! Kau memang sekretarisku yang luar biasa, Mei. Sudah kubilang, aku ini butuh isteri seperti dirimu."

Dua orang itu tertawa seperti teman lama, tidak sadar ada seseorang yang sama sekali tidak tertawa di sana.

D*da Aslan terasa panas. Ia sangat cemburu. Tangannya yang mengepal, sangat ingin memberikan tonjokan pada lelaki di depannya. Meski ia sendiri pria tulen, tapi mata dan pikiran yang paling waras pun bisa menilai kalau Julius Conrad adalah pria yang sangat tampan.

Kedua matanya mengerjap cepat saat melihat interaksi antara Mei dengan atasannya itu. Meski tetap ada jarak tak kasat mata, tapi jelas kalau pria itu tertarik pada isterinya. Gesture Conrad berusaha mendekati wanita di sampingnya yang dengan luwes, menghindar untuk tetap memberi batasan.

Batasan yang kini ia sadari, juga telah terjadi antara dirinya dengan isterinya selama ini.

Semakin lama, Aslan merasa ada sesuatu yang tidak terlihat memisahkan wanita itu semakin jauh darinya. Raut pria itu yang tadinya keras, perlahan mulai tampak kosong.

Kekosongan yang dengan lihai dimanfaatkan sebagai celah oleh pria bermata hijau di sana.

"Mei. Bisa aku minta tolong lagi?"

Mendecak kesal, Mei menatap atasannya datar.

"Minta tolong apa lagi, sir?"

"Tolong beliin aku kopi hitam, dong. Aku butuh di pesawat."

Alis Mei yang melengkung sedikit naik. "Oh? Tumben. Saya kira Anda minta dibelikan minuman keras."

Mengucek kedua matanya, kepala Conrad menggeleng. Pria itu terlihat sedikit lemas.

"Tidak. Aku sepertinya memang harus mengurangi. Tolong kopi hitam, Mei."

Permintaan itu membuat Mei tersenyum. Matanya melirik ke arah Aslan yang tampak memandanginya.

"Oke, sir. Tunggu sebentar ya. Biar pak Aslan yang akan menemani sebentar."

Setelah sosok mungil wanita itu menjauh, kepala Conrad menoleh pada Aslan di belakangnya.

Tampangnya yang tadinya ramah, kini mulai menggelap. Tampak ia mengantongkan dua tangan ke dalam celana panjangnya. Tubuhnya tegak berdiri dan mengeluarkan aura permusuhan pada pria di depannya.

"Jadi, kau ini lelaki yang membuatnya tidak pernah mau menerimaku?"

Terpopuler

Comments

cinta semu

cinta semu

cerdas juga tuan Conrad...🤣😂

2024-11-22

0

♡Ñùř♡

♡Ñùř♡

mei pun pasti juga begitu tp aplh daya nya,siapa pun pasti tk akn terima klau mau di dua kan

2024-10-12

0

♡Ñùř♡

♡Ñùř♡

Tp knpa kmu tega nyakitin mei dengan pingin nikah lg karena bunda mu yg minta

2024-10-12

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Sakit
2 Chapter 2 - Bunda
3 Chapter 3 - Ikhlas
4 Chapter 4 - Hilang
5 Chapter 5 - Pergi
6 Chapter 6 - Bertemu
7 Chapter 7 - Ancaman
8 Chapter 8 - Cinta
9 Chapter 9 - Aslan
10 Chapter 10 - Cemburu
11 Chapter 11 - Kenapa?
12 Chapter 12 - Rival
13 Chapter 13 - Suamiku
14 Chapter 14 - Rindu
15 Chapter 15 - Patah Hati
16 Chapter 16 - Memori
17 Chapter 17 - Putus
18 Chapter 18 - Kebenaran (1)
19 Chapter 19 - Kebenaran (2)
20 Chapter 20 - Cerai
21 Chapter 21 - Hancur
22 Chapter 22 - Gila
23 Chapter 23 - Dasi
24 Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25 Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26 Chapter 26 - Penolakan
27 Chapter 27 - Usaha
28 Chapter 28 - Mengulang
29 Chapter 29 - Sederhana
30 Chapter 30 - Bahagia
31 Chapter 31 - Mengabulkan
32 Chapter 32 - Momen
33 Chapter 33 - Int*m
34 Chapter 34 - Mundur
35 Chapter 35 - Gagal (1)
36 Chapter 36 - Gagal (2)
37 Chapter 37 - Kepercayaan
38 Chapter 38 - Perlawanan
39 Chapter 39 - Melindungi
40 Chapter 40 - Honeymoon (1)
41 Chapter 41 - Honeymoon (2)
42 Chapter 42 - Rendezvous (1)
43 Chapter 43 - Rendezvous (2)
44 Chapter 44 - Rendezvous (3)
45 Chapter 45 - Kesempatan
46 Chapter 46 - Diusir
47 Chapter 47 - Kesetiaan
48 Chapter 48 - Kabar
49 Chapter 49 - Welcoming
50 Chapter 50 - Memilih
51 Chapter 51 - Kecewa
52 Chapter 52 - Ketahuan
53 Chapter 53 - Berdebat
54 Chapter 54 - Keraguan
55 Chapter 55 - Kesadaran
56 Chapter 56 - Jatuh Cinta
57 Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58 Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59 Chapter 59 - Hagen
60 Chapter 60 - Keputusan
61 Chapter 61 - Pengakuan
62 Chapter 62 - Penyelesaian
63 Chapter 63 - 'Menembak'
64 Chapter 64 - Interogasi
65 Chapter 65 - Kencan (1)
66 Chapter 66 - Kencan (2)
67 Chapter 67 - Kembali
68 Chapter 68 - Bersatu
69 Chapter 69 - First Time
70 Chapter 70 - Memori Indah
71 Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72 EPILOG - Awal Mula
73 EPILOG - Hubungan Transaksional
74 EPILOG - Kemarahan Terpendam
75 EPILOG - Rencana Perjodohan
76 EPILOG - Pertemuan Pertama
77 EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78 EPILOG - Hati yang Ragu
79 EPILOG - Keputusan Meilany
80 EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81 Pengumuman karya baru - Maret 2025
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Chapter 1 - Sakit
2
Chapter 2 - Bunda
3
Chapter 3 - Ikhlas
4
Chapter 4 - Hilang
5
Chapter 5 - Pergi
6
Chapter 6 - Bertemu
7
Chapter 7 - Ancaman
8
Chapter 8 - Cinta
9
Chapter 9 - Aslan
10
Chapter 10 - Cemburu
11
Chapter 11 - Kenapa?
12
Chapter 12 - Rival
13
Chapter 13 - Suamiku
14
Chapter 14 - Rindu
15
Chapter 15 - Patah Hati
16
Chapter 16 - Memori
17
Chapter 17 - Putus
18
Chapter 18 - Kebenaran (1)
19
Chapter 19 - Kebenaran (2)
20
Chapter 20 - Cerai
21
Chapter 21 - Hancur
22
Chapter 22 - Gila
23
Chapter 23 - Dasi
24
Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25
Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26
Chapter 26 - Penolakan
27
Chapter 27 - Usaha
28
Chapter 28 - Mengulang
29
Chapter 29 - Sederhana
30
Chapter 30 - Bahagia
31
Chapter 31 - Mengabulkan
32
Chapter 32 - Momen
33
Chapter 33 - Int*m
34
Chapter 34 - Mundur
35
Chapter 35 - Gagal (1)
36
Chapter 36 - Gagal (2)
37
Chapter 37 - Kepercayaan
38
Chapter 38 - Perlawanan
39
Chapter 39 - Melindungi
40
Chapter 40 - Honeymoon (1)
41
Chapter 41 - Honeymoon (2)
42
Chapter 42 - Rendezvous (1)
43
Chapter 43 - Rendezvous (2)
44
Chapter 44 - Rendezvous (3)
45
Chapter 45 - Kesempatan
46
Chapter 46 - Diusir
47
Chapter 47 - Kesetiaan
48
Chapter 48 - Kabar
49
Chapter 49 - Welcoming
50
Chapter 50 - Memilih
51
Chapter 51 - Kecewa
52
Chapter 52 - Ketahuan
53
Chapter 53 - Berdebat
54
Chapter 54 - Keraguan
55
Chapter 55 - Kesadaran
56
Chapter 56 - Jatuh Cinta
57
Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58
Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59
Chapter 59 - Hagen
60
Chapter 60 - Keputusan
61
Chapter 61 - Pengakuan
62
Chapter 62 - Penyelesaian
63
Chapter 63 - 'Menembak'
64
Chapter 64 - Interogasi
65
Chapter 65 - Kencan (1)
66
Chapter 66 - Kencan (2)
67
Chapter 67 - Kembali
68
Chapter 68 - Bersatu
69
Chapter 69 - First Time
70
Chapter 70 - Memori Indah
71
Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72
EPILOG - Awal Mula
73
EPILOG - Hubungan Transaksional
74
EPILOG - Kemarahan Terpendam
75
EPILOG - Rencana Perjodohan
76
EPILOG - Pertemuan Pertama
77
EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78
EPILOG - Hati yang Ragu
79
EPILOG - Keputusan Meilany
80
EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81
Pengumuman karya baru - Maret 2025

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!