Chapter 5 - Pergi

"Meichan?"

Panggilan mesra itu terdengar dari arah belakangnya, tapi ia tidak berbalik. Ia masih tidak berbalik meski kedua bahunya dipeluk lembut dari belakang.

"Mei... Mas berangkat dulu ya... Kamu mau dibeliin apa nanti?"

Kepala Mei masih menunduk. Ia hanya menggeleng pelan.

"Tidak usah mas. Aku ga perlu apa-apa kok."

Jawaban itu membuat tangan yang ada di bahunya mer*mas lembut.

"Mas ga tanya apa yang kamu perlu, sayang... Mas tanya, apa yang kamu pengenin sekarang... Nanti akan mas usahain beliin di sana..."

Tangan Mei yang sedang memegang gunting tanaman mengerat. Wanita itu memotong salah satu daun yang berwarna cokelat. Daun itu terlihat kering dan layu.

"Engga usah repot mas. Beneran kok, aku ga butuh apa-apa. Aku juga ga pengen apa-apa."

Pria di belakangnya diam dan perlahan, kedua tangannya yang besar memeluknya erat. Sangat erat. Mei juga bisa bisa merasakan ubun-ubunnya diberi ciuman dalam oleh lelaki itu.

"Maafkan mas, Mei..."

Kedua mata Mei hanya menatap kosong ke depan. Pandangannya masih kosong saat Aslan pada akhirnya pergi dan meninggalkannya sendirian.

Di dalam rumah, kembali Mei duduk di sofa dan memandang sekelilingnya. Apa yang ia rasakan sekarang ini, sama dengan yang ia pernah pikirkan sebulan yang lalu.

Impiannya akan rumah ini bukan lagi retak, melainkan telah hancur lebur. Luluh lantak.

Dulu, ia rela meninggalkan semuanya untuk hal yang dipercayainya. Ia mau menikah dengan seseorang yang baru dikenalnya 3 bulan hanya karena yang mengenalkannya seseorang yang ia hormati dulu. Aslan adalah alumni senior dari karyawan wanita yang menjadi role model-nya dulu.

Seseorang yang ia kagumi dan percayai, ternyata orang yang sama yang juga membuatnya hancur.

Tidak pernah dalam mimpinya yang paling buruk pun, ia menyangka kalau suaminya saat ini ternyata pernah menjalin hubungan dengan wanita itu dulu. Ia baru mengetahuinya saat mereka sudah menikah dua minggu dan itu pun karena Mei yang menanyakannya.

Air mata Mei tidak lagi menetes di pipinya. Air matanya telah habis menangisi kepergian calon buah hatinya yang tidak sempat hadir di dunia. Ia juga tidak bisa lagi meratapi nasibnya sebagai seorang perempuan yang tidak akan pernah sempurna sejak keguguran waktu itu.

Kalau memang demikian, untuk apa ia masih bertahan di samping pria itu?

Pria itu memang telah menjadi suaminya, tapi apakah hatinya pernah menjadi miliknya?

Menunduk memandang cincin di jari manisnya, wanita itu hanya duduk diam selama beberapa jam di sana.

Beberapa hari setelah itu, di terminal kedatangan, tampak Aslan terburu-buru mengambil bagasinya. Saking terburunya, pria itu sampai menjatuhkan ponsel yang sedang dipegangnya.

"Hei! Kau ini kenapa, Ash? Sejak tadi pagi, kau ini gelisah terus."

Mengambil uluran ponsel dari rekannya, pria itu menggeleng cepat.

"Aku hanya ingin segera pulang. Aku duluan, Gun!"

Tidak menunggu lagi, Aslan langsung menghambur dari sana dan menuju taksi.

Sepanjang perjalanan, pria itu melakukan panggilan pada seseorang dan seperti tadi pagi, tidak ada jawaban. Hanya suara mesin yang mengatakan nomor tersebut berada di luar jaringan dan hal omong kosong lainnya.

Mata pria itu mengarah ke layar dan memandangi chat terakhir pada isterinya. Padahal tadi malam, mereka masih bercakap-cakap dan pesannya pun masih diterima. Tapi sejak pagi tadi, chat-nya pada Mei belum ada yang dibalas, bahkan masih centang satu, menandakan belum satu pun yang terkirim.

"Mei... Jawab sayang..."

Pikiran Aslan dipenuhi dengan sesuatu yang buruk. Ia sangat takut ada sesuatu yang terjadi pada isterinya. Entah wanita itu jatuh, sakit atau paling buruk, rumahnya dirampok.

Hampir satu jam perjalanan, barulah Aslan masuk ke komplek perumahannya dan dapat melihat bangunan kecil itu dari kejauhan. Tidak sabar, pria itu membayar taksinya dan langsung masuk ke halaman rumah.

Jantungnya masih berdebar, tapi saat melihat seluruh tanaman tumbuh subur dan terawat baik, degupannya perlahan memelan. Ia tahu, semua tanaman Mei perlu disiram taratur. Sehari saja isterinya lupa menyiram, maka daun-daun hijau itu akan mulai menguning. Mereka butuh seseorang yang telaten untuk merawatnya.

Lelaki itu masuk ke rumah, tapi tidak seperti biasanya, ia bisa merasakan rumah itu kosong.

"Mei?"

Kembali jantungnya berdegup lebih cepat dan mengikuti instingnya, ia memeriksa semua ruangan seksama.

Rumah itu bersih dan rapih. Kamar tidurnya pun rapih dan semua barang terletak pada tempatnya. Tidak ada yang berubah. Bahkan saat memeriksa seluruh laci, semua perhiasan isterinya dan barang berharganya masih ada di sana. Tidak ada yang hilang. Tidak ada yang berpindah. Tapi Aslan tetap merasa ada yang aneh.

Menelan ludah, ia kembali menelepon isterinya dan sama seperti tadi, nadanya tetap sibuk.

Kedua matanya menelusuri kamar tidurnya, dan akhirnya pandangannya jatuh ke satu amplop kecil di meja.

Alis pria itu berkerut saat ia mengambilnya. "Apa ini?"

Ia membuka amplop itu dan matanya bergerak cepat membaca isinya. Tampang pria itu dengan segera berubah, dan ia langsung membuka pintu lemari dan berjongkok. Tangan-tangannya panik mengeluarkan beberapa kotak yang tersimpan di bawah dan membuka salah satunya.

"Tidak..."

Suara berat pria itu bergetar, dan ia pun dengan kasar membongkar isi kotak itu ke lantai. Matanya jelalatan mencari sesuatu yang diinginkannya dan akhirnya jatuh terduduk.

"Tidak..."

Tatapan nanar pria itu bertahan beberapa saat, sampai ia kembali berdiri dan memeriksa lacinya. Tampak ia membuka sebuah dompet khusus dan melempar beberapa buku bank ke atas tempat tidur. Saat melihatnya, Aslan tahu ia telah kehilangan salah satunya.

Satu buku yang ia tahu pasti, milik isterinya sendiri.

Tubuh pria itu terasa lemas dan ia jatuh ke lantai. Kakinya gemetar. Aslan bisa merasakan tubuhnya gemetar.

Dua mata berwarna cokelat itu menatap ruangan yang berantakan di depannya nanar.

Hanyalah suara pekikan kecil yang terdengar saat ia akhirnya sanggup bersuara, "Mei...!"

Terpopuler

Comments

cinta semu

cinta semu

smg u g pernah kembali untuk Aslan ,Mei...😠g rela mending ikhlas,in aja suami durhaka macam Aslan...u layak bahagia mei

2024-11-22

0

Ira

Ira

Bener tinggalkan keluarga sesat.. Jelek2kin islam aja

2024-10-27

0

♡Ñùř♡

♡Ñùř♡

tau rasa kmu

2024-10-12

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Sakit
2 Chapter 2 - Bunda
3 Chapter 3 - Ikhlas
4 Chapter 4 - Hilang
5 Chapter 5 - Pergi
6 Chapter 6 - Bertemu
7 Chapter 7 - Ancaman
8 Chapter 8 - Cinta
9 Chapter 9 - Aslan
10 Chapter 10 - Cemburu
11 Chapter 11 - Kenapa?
12 Chapter 12 - Rival
13 Chapter 13 - Suamiku
14 Chapter 14 - Rindu
15 Chapter 15 - Patah Hati
16 Chapter 16 - Memori
17 Chapter 17 - Putus
18 Chapter 18 - Kebenaran (1)
19 Chapter 19 - Kebenaran (2)
20 Chapter 20 - Cerai
21 Chapter 21 - Hancur
22 Chapter 22 - Gila
23 Chapter 23 - Dasi
24 Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25 Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26 Chapter 26 - Penolakan
27 Chapter 27 - Usaha
28 Chapter 28 - Mengulang
29 Chapter 29 - Sederhana
30 Chapter 30 - Bahagia
31 Chapter 31 - Mengabulkan
32 Chapter 32 - Momen
33 Chapter 33 - Int*m
34 Chapter 34 - Mundur
35 Chapter 35 - Gagal (1)
36 Chapter 36 - Gagal (2)
37 Chapter 37 - Kepercayaan
38 Chapter 38 - Perlawanan
39 Chapter 39 - Melindungi
40 Chapter 40 - Honeymoon (1)
41 Chapter 41 - Honeymoon (2)
42 Chapter 42 - Rendezvous (1)
43 Chapter 43 - Rendezvous (2)
44 Chapter 44 - Rendezvous (3)
45 Chapter 45 - Kesempatan
46 Chapter 46 - Diusir
47 Chapter 47 - Kesetiaan
48 Chapter 48 - Kabar
49 Chapter 49 - Welcoming
50 Chapter 50 - Memilih
51 Chapter 51 - Kecewa
52 Chapter 52 - Ketahuan
53 Chapter 53 - Berdebat
54 Chapter 54 - Keraguan
55 Chapter 55 - Kesadaran
56 Chapter 56 - Jatuh Cinta
57 Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58 Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59 Chapter 59 - Hagen
60 Chapter 60 - Keputusan
61 Chapter 61 - Pengakuan
62 Chapter 62 - Penyelesaian
63 Chapter 63 - 'Menembak'
64 Chapter 64 - Interogasi
65 Chapter 65 - Kencan (1)
66 Chapter 66 - Kencan (2)
67 Chapter 67 - Kembali
68 Chapter 68 - Bersatu
69 Chapter 69 - First Time
70 Chapter 70 - Memori Indah
71 Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72 EPILOG - Awal Mula
73 EPILOG - Hubungan Transaksional
74 EPILOG - Kemarahan Terpendam
75 EPILOG - Rencana Perjodohan
76 EPILOG - Pertemuan Pertama
77 EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78 EPILOG - Hati yang Ragu
79 EPILOG - Keputusan Meilany
80 EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81 Pengumuman karya baru - Maret 2025
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Chapter 1 - Sakit
2
Chapter 2 - Bunda
3
Chapter 3 - Ikhlas
4
Chapter 4 - Hilang
5
Chapter 5 - Pergi
6
Chapter 6 - Bertemu
7
Chapter 7 - Ancaman
8
Chapter 8 - Cinta
9
Chapter 9 - Aslan
10
Chapter 10 - Cemburu
11
Chapter 11 - Kenapa?
12
Chapter 12 - Rival
13
Chapter 13 - Suamiku
14
Chapter 14 - Rindu
15
Chapter 15 - Patah Hati
16
Chapter 16 - Memori
17
Chapter 17 - Putus
18
Chapter 18 - Kebenaran (1)
19
Chapter 19 - Kebenaran (2)
20
Chapter 20 - Cerai
21
Chapter 21 - Hancur
22
Chapter 22 - Gila
23
Chapter 23 - Dasi
24
Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25
Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26
Chapter 26 - Penolakan
27
Chapter 27 - Usaha
28
Chapter 28 - Mengulang
29
Chapter 29 - Sederhana
30
Chapter 30 - Bahagia
31
Chapter 31 - Mengabulkan
32
Chapter 32 - Momen
33
Chapter 33 - Int*m
34
Chapter 34 - Mundur
35
Chapter 35 - Gagal (1)
36
Chapter 36 - Gagal (2)
37
Chapter 37 - Kepercayaan
38
Chapter 38 - Perlawanan
39
Chapter 39 - Melindungi
40
Chapter 40 - Honeymoon (1)
41
Chapter 41 - Honeymoon (2)
42
Chapter 42 - Rendezvous (1)
43
Chapter 43 - Rendezvous (2)
44
Chapter 44 - Rendezvous (3)
45
Chapter 45 - Kesempatan
46
Chapter 46 - Diusir
47
Chapter 47 - Kesetiaan
48
Chapter 48 - Kabar
49
Chapter 49 - Welcoming
50
Chapter 50 - Memilih
51
Chapter 51 - Kecewa
52
Chapter 52 - Ketahuan
53
Chapter 53 - Berdebat
54
Chapter 54 - Keraguan
55
Chapter 55 - Kesadaran
56
Chapter 56 - Jatuh Cinta
57
Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58
Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59
Chapter 59 - Hagen
60
Chapter 60 - Keputusan
61
Chapter 61 - Pengakuan
62
Chapter 62 - Penyelesaian
63
Chapter 63 - 'Menembak'
64
Chapter 64 - Interogasi
65
Chapter 65 - Kencan (1)
66
Chapter 66 - Kencan (2)
67
Chapter 67 - Kembali
68
Chapter 68 - Bersatu
69
Chapter 69 - First Time
70
Chapter 70 - Memori Indah
71
Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72
EPILOG - Awal Mula
73
EPILOG - Hubungan Transaksional
74
EPILOG - Kemarahan Terpendam
75
EPILOG - Rencana Perjodohan
76
EPILOG - Pertemuan Pertama
77
EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78
EPILOG - Hati yang Ragu
79
EPILOG - Keputusan Meilany
80
EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81
Pengumuman karya baru - Maret 2025

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!