"Ga ada yang berubah di sini, mas."
"Banyak yang berubah, Mei. Mungkin kamu yang belum melihatnya saja."
Kata-kata pelan itu membuat Mei menoleh ke arah suaminya, tapi pria itu sedang berjongkok untuk mengisi mangkuk tempat makan kucingnya.
Berpaling ke arah lain, mata wanita itu menelusuri dinding-dinding putih yang dulu telah dimodifikasi. Untuk beberapa pekerjaan, mereka akan meminta bantuan tenaga profesional. Tapi cukup banyak perbaikan kecil yang tidak sulit, biasanya dia dan Aslan yang akan melakukan sendiri.
Tiap weekend, suaminya akan menyempatkan waktu untuk membantunya.
Saat menatap ruangan dapur yang mungil tapi estetik itu, bola mata Mei memanas. Ia ingat ketika pria itu membantunya, Aslan sempat melukai tangannya sendiri cukup parah. Mereka sampai ke rumah sakit dan tangan lelaki itu harus mendapat beberapa jahitan. Pengalaman yang ternyata tidak membuatnya kapok.
Aslan tidak kapok, tapi Mei yang harus menghadapi kemarahan bunda saat itu.
"Tanganmu sudah ga apa-apa, mas?"
Pertanyaan lirih itu sejenak menghentikan gerakan Aslan, tapi ia tersenyum dan menyimpan lagi kantong makanan si cantik ke dalam lemari dapur.
"Sudah 7 tahun lebih, Mei... Lukanya waktu itu mungkin parah, tapi pasti akan sembuh juga, kan?"
Kalau memang luka bisa sembuh, kenapa hatinya masih terasa sakit?
Mengerjapkan matanya yang mulai basah, tangan Mei membuka pintu ke arah kamar mandi.
"Mas merenovasinya?"
Pria itu berdiri menyender di counter dapur. Kedua tangannya terlipat depan d*da.
"Tiap 3 tahun sekali kamar mandi harus direnovasi, Mei. Kamu tahu sendiri, lantainya cepat kotor."
"Benar juga."
Saat menoleh, matanya menatap pintu yang mengarah ke kamar tamu. Dulu, biasanya bunda yang akan tidur di kamar itu saat berkunjung ke rumah. Kunjungan yang menjadi rutinitas hampir tiap bulan.
Tatapan Mei tidak lepas ke arah pintu. "Boleh Mei lihat kamar ini, mas?"
Kening Aslan sedikit berkerut. Kepalanya menunduk dan ia berpaling ke arah lain. Rautnya sakit.
"Kamu ga perlu minta izinku, Mei... Rumah ini masih rumah kamu..."
Belum menyadari nada suaminya yang berubah, Mei membuka pintunya dan tertegun.
Kamar tamu itu tadinya dipenuhi barang-barang mertuanya. Meski tinggal terpisah, tapi pria itu mengizinkan bundanya untuk mengisi kamar itu sesuai keinginannya. Dulu, ada cukup banyak foto keluarga tergantung di dinding putih itu. Lemari baju yang ada pun penuh terisi pakaian ibunya.
Kamar yang tadinya Mei bayangkan akan diisi bayinya kelak, justru dihuni oleh orang lain dan ia tidak punya keberanian untuk protes pada suaminya. Rumah ini adalah rumah yang dibeli Aslan sebelum menikah. Meski pria itu mengatakan ia punya hak di dalamnya, tetap saja ia merasa rumah ini bukan miliknya.
Tapi sekarang yang ada di hadapannya, hanyalah pemandangan kamar yang kosong. Tidak ada barang lain selain kasur, meja kecil dan juga lemari di sana. Bahkan kasurnya ditutupi kain putih, menandakan tidak ada yang tidur di sana. Ruangan ini terasa kosong dan dingin.
Penasaran, tangan Mei membuka pintu lemari dan lagi-lagi ia mematung. Lemari itu kosong. Tidak ada isinya.
Menelan ludahnya, wanita itu menatap Aslan yang ternyata sedang menatapnya juga.
"Mas?"
"Mas sudah membuang barang-barang yang ga penting. Terlalu banyak menimbun barang, ga baik untuk rumah. Apalagi rumah ini memang ga punya kamar khusus untuk gudang."
Mata Mei mengerjap pelan. Sangat banyak pertanyaan yang ada di benaknya saat ini.
Alasan yang diberikan Aslan tidak masuk akal. Dulu saat suaminya masih supervisor dengan gaji terbatas, ia tahu pria itu belum mampu melakukan renovasi besar. Tapi saat ini, ia yakin lelaki ini punya cukup banyak uang untuk mengubah halaman belakang yang masih cukup luas itu. Mereka pun pernah bersepakat untuk membangun satu gudang di sana saat sudah punya momongan nanti.
Kenapa pria ini memilih membuang barang ibunya, dibanding mengeluarkan biaya untuk renovasi?
Pikiran Mei masih cukup kacau. Tanpa sadar, langkahnya terhenti di depan pintu kamarnya sendiri dan ia membukanya. Harum familiar langsung mampir ke hidungnya. Harum suaminya yang memabukkan.
Kembali ia menelan ludahnya.
Saat matanya menyapu ruangan yang tidak terlalu besar ini, hampir pasti Mei tidak melihat perubahan yang signifikan. Kamar ini masih tetap sama seperti waktu ia tinggalkan. Posisi lemari dan juga meja rias di sana masih sama. Cuman ada tambahan barbel cukup berat tergeletak di lantai yang dulunya tidak pernah ada.
Refleks, ia menyentuh lemari dan membukanya. Apa yang dilihatnya saat ini, membuat Mei menangis.
Lemari itu masih penuh terisi barang-barangnya yang dulu. Tanpa harus memeriksanya, ia yakin tidak ada satu pun barangnya yang telah suaminya buang.
Pipi Mei bersimbah air mata dan ia menatap Aslan yang ternyata telah menyusulnya ke dalam kamar.
"Mas... Kenapa...?"
"Karena mas tahu kamu akan pulang. Mas yakin, kamu akan kembali ke rumah ini, Mei."
Tangan Aslan terulur mengusap air mata isterinya. Ia menghapus air mata isterinya, tapi mata cokelat lelaki itu sekarang yang malah mengeluarkan air dari kelopaknya.
"Mas selalu menunggumu, Meichan... Mas sangat rindu kamu..."
Penuh h*srat, Aslan menunduk dan mencium isterinya. Sentuhan dua bibir yang sama-sama merindukan satu sama lain. Dua orang yang sangat haus untuk saling menyentuh setelah terpisah bertahun-tahun.
Memeluk erat tubuh isterinya, pria itu menyeretnya dan membaringkannya tidak sabar di ranjang. Bibirnya yang panas kembali menciumi wajah wanita itu yang cantik.
Ia sangat rindu. Ia sangat rindu pada wanita ini tiap harinya sampai hampir gila.
Melepas kaosnya, pria itu menyentuh isterinya penuh kerinduan. Tangan-tangannya dengan liar dan haus mengelus, juga mer*mas bagian-bagian tubuh isteri yang selama 7 tahun ini hanya ada dalam mimpinya.
"Mei... Mei..."
Jari-jarinya mencubit ujung d*da wanita itu yang merah muda dan menghisapnya keras.
"Ugh! Mas!"
Pekikan yang selama ini hanya ada dalam ingatannya, mulai membuat Aslan gila.
Ia butuh isterinya! Hanya Mei yang bisa memenuhi kebutuhan terliarnya!
Tapi ketika ia mulai menurunkan pakaian dalam Mei, wanita itu tiba-tiba saja mencekal tangannya.
"Mas!"
Kepala Aslan yang tadinya terbenam dalam d*da r*num Mei terangkat. Pandangannya bertanya.
"Meichan?"
Wajah Mei memerah, tapi ia memalingkan wajahnya. Tampak raut wanita itu tegang dan kaku.
"Mei? Kenapa sayang? Apa kamu lagi datang-"
"Apa mas sudah melakukan ini dengan Christine juga?"
Otak Aslan masih terselimuti kabut n*fsu, membuatnya belum bisa berpikir jernih. Alisnya berkerut.
"Christine? Kenapa kamu sebut nama dia, Mei? Mas sudah ga-"
Kedua tangan Mei mendorong d*da keras Aslan, membuat pria itu terpaksa sedikit mundur. Tatapannya bertanya-tanya pada isterinya yang saat ini tengah mengancingkan pakaiannya sendiri.
Tenggorokan pria itu seret ketika sadar, wanita ini akan meninggalkannya lagi.
"Mei...?"
"Maaf mas. Tapi Mei ga bisa. Mei bener-bener ga bisa menyentuh mas Aslan lagi. Mei merasa jijik... dengan mas Aslan. Maafkan Mei, mas... Mungkin sebaiknya mas Aslan memang segera menceraikan Mei. Karena Mei sudah ga mau disentuh mas Aslan lagi."
Tanpa mengatakan apapun lagi, Mei keluar dari kamar dan menutup rapat pintunya.
Wanita itu kembali pergi meninggalkan Aslan yang terpaku di tempat tidur. H*sratnya yang tadinya tidak tertahankan, kini layu dan melemas. Selama beberapa lama, pria itu hanya terduduk di sana.
Sendirian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Irmha febyollah
memang barang/rumah yg di bangun suami sebelum menikah kita sbgai istri gak berhak, malah kita klo ngantur entah mau letak di mna foto atau barang kita sudah di anggap mau menguasai😊
2024-10-17
1
♡Ñùř♡
thor kmu buat aku nangis terus dr td😭😭
2024-10-12
0
Sunaryati
Lanjuut donel up Thoor, ceritanya semakin seru dan menarik
2024-09-22
0