Chapter 16 - Memori

"Ga ada yang berubah di sini, mas."

"Banyak yang berubah, Mei. Mungkin kamu yang belum melihatnya saja."

Kata-kata pelan itu membuat Mei menoleh ke arah suaminya, tapi pria itu sedang berjongkok untuk mengisi mangkuk tempat makan kucingnya.

Berpaling ke arah lain, mata wanita itu menelusuri dinding-dinding putih yang dulu telah dimodifikasi. Untuk beberapa pekerjaan, mereka akan meminta bantuan tenaga profesional. Tapi cukup banyak perbaikan kecil yang tidak sulit, biasanya dia dan Aslan yang akan melakukan sendiri.

Tiap weekend, suaminya akan menyempatkan waktu untuk membantunya.

Saat menatap ruangan dapur yang mungil tapi estetik itu, bola mata Mei memanas. Ia ingat ketika pria itu membantunya, Aslan sempat melukai tangannya sendiri cukup parah. Mereka sampai ke rumah sakit dan tangan lelaki itu harus mendapat beberapa jahitan. Pengalaman yang ternyata tidak membuatnya kapok.

Aslan tidak kapok, tapi Mei yang harus menghadapi kemarahan bunda saat itu.

"Tanganmu sudah ga apa-apa, mas?"

Pertanyaan lirih itu sejenak menghentikan gerakan Aslan, tapi ia tersenyum dan menyimpan lagi kantong makanan si cantik ke dalam lemari dapur.

"Sudah 7 tahun lebih, Mei... Lukanya waktu itu mungkin parah, tapi pasti akan sembuh juga, kan?"

Kalau memang luka bisa sembuh, kenapa hatinya masih terasa sakit?

Mengerjapkan matanya yang mulai basah, tangan Mei membuka pintu ke arah kamar mandi.

"Mas merenovasinya?"

Pria itu berdiri menyender di counter dapur. Kedua tangannya terlipat depan d*da.

"Tiap 3 tahun sekali kamar mandi harus direnovasi, Mei. Kamu tahu sendiri, lantainya cepat kotor."

"Benar juga."

Saat menoleh, matanya menatap pintu yang mengarah ke kamar tamu. Dulu, biasanya bunda yang akan tidur di kamar itu saat berkunjung ke rumah. Kunjungan yang menjadi rutinitas hampir tiap bulan.

Tatapan Mei tidak lepas ke arah pintu. "Boleh Mei lihat kamar ini, mas?"

Kening Aslan sedikit berkerut. Kepalanya menunduk dan ia berpaling ke arah lain. Rautnya sakit.

"Kamu ga perlu minta izinku, Mei... Rumah ini masih rumah kamu..."

Belum menyadari nada suaminya yang berubah, Mei membuka pintunya dan tertegun.

Kamar tamu itu tadinya dipenuhi barang-barang mertuanya. Meski tinggal terpisah, tapi pria itu mengizinkan bundanya untuk mengisi kamar itu sesuai keinginannya. Dulu, ada cukup banyak foto keluarga tergantung di dinding putih itu. Lemari baju yang ada pun penuh terisi pakaian ibunya.

Kamar yang tadinya Mei bayangkan akan diisi bayinya kelak, justru dihuni oleh orang lain dan ia tidak punya keberanian untuk protes pada suaminya. Rumah ini adalah rumah yang dibeli Aslan sebelum menikah. Meski pria itu mengatakan ia punya hak di dalamnya, tetap saja ia merasa rumah ini bukan miliknya.

Tapi sekarang yang ada di hadapannya, hanyalah pemandangan kamar yang kosong. Tidak ada barang lain selain kasur, meja kecil dan juga lemari di sana. Bahkan kasurnya ditutupi kain putih, menandakan tidak ada yang tidur di sana. Ruangan ini terasa kosong dan dingin.

Penasaran, tangan Mei membuka pintu lemari dan lagi-lagi ia mematung. Lemari itu kosong. Tidak ada isinya.

Menelan ludahnya, wanita itu menatap Aslan yang ternyata sedang menatapnya juga.

"Mas?"

"Mas sudah membuang barang-barang yang ga penting. Terlalu banyak menimbun barang, ga baik untuk rumah. Apalagi rumah ini memang ga punya kamar khusus untuk gudang."

Mata Mei mengerjap pelan. Sangat banyak pertanyaan yang ada di benaknya saat ini.

Alasan yang diberikan Aslan tidak masuk akal. Dulu saat suaminya masih supervisor dengan gaji terbatas, ia tahu pria itu belum mampu melakukan renovasi besar. Tapi saat ini, ia yakin lelaki ini punya cukup banyak uang untuk mengubah halaman belakang yang masih cukup luas itu. Mereka pun pernah bersepakat untuk membangun satu gudang di sana saat sudah punya momongan nanti.

Kenapa pria ini memilih membuang barang ibunya, dibanding mengeluarkan biaya untuk renovasi?

Pikiran Mei masih cukup kacau. Tanpa sadar, langkahnya terhenti di depan pintu kamarnya sendiri dan ia membukanya. Harum familiar langsung mampir ke hidungnya. Harum suaminya yang memabukkan.

Kembali ia menelan ludahnya.

Saat matanya menyapu ruangan yang tidak terlalu besar ini, hampir pasti Mei tidak melihat perubahan yang signifikan. Kamar ini masih tetap sama seperti waktu ia tinggalkan. Posisi lemari dan juga meja rias di sana masih sama. Cuman ada tambahan barbel cukup berat tergeletak di lantai yang dulunya tidak pernah ada.

Refleks, ia menyentuh lemari dan membukanya. Apa yang dilihatnya saat ini, membuat Mei menangis.

Lemari itu masih penuh terisi barang-barangnya yang dulu. Tanpa harus memeriksanya, ia yakin tidak ada satu pun barangnya yang telah suaminya buang.

Pipi Mei bersimbah air mata dan ia menatap Aslan yang ternyata telah menyusulnya ke dalam kamar.

"Mas... Kenapa...?"

"Karena mas tahu kamu akan pulang. Mas yakin, kamu akan kembali ke rumah ini, Mei."

Tangan Aslan terulur mengusap air mata isterinya. Ia menghapus air mata isterinya, tapi mata cokelat lelaki itu sekarang yang malah mengeluarkan air dari kelopaknya.

"Mas selalu menunggumu, Meichan... Mas sangat rindu kamu..."

Penuh h*srat, Aslan menunduk dan mencium isterinya. Sentuhan dua bibir yang sama-sama merindukan satu sama lain. Dua orang yang sangat haus untuk saling menyentuh setelah terpisah bertahun-tahun.

Memeluk erat tubuh isterinya, pria itu menyeretnya dan membaringkannya tidak sabar di ranjang. Bibirnya yang panas kembali menciumi wajah wanita itu yang cantik.

Ia sangat rindu. Ia sangat rindu pada wanita ini tiap harinya sampai hampir gila.

Melepas kaosnya, pria itu menyentuh isterinya penuh kerinduan. Tangan-tangannya dengan liar dan haus mengelus, juga mer*mas bagian-bagian tubuh isteri yang selama 7 tahun ini hanya ada dalam mimpinya.

"Mei... Mei..."

Jari-jarinya mencubit ujung d*da wanita itu yang merah muda dan menghisapnya keras.

"Ugh! Mas!"

Pekikan yang selama ini hanya ada dalam ingatannya, mulai membuat Aslan gila.

Ia butuh isterinya! Hanya Mei yang bisa memenuhi kebutuhan terliarnya!

Tapi ketika ia mulai menurunkan pakaian dalam Mei, wanita itu tiba-tiba saja mencekal tangannya.

"Mas!"

Kepala Aslan yang tadinya terbenam dalam d*da r*num Mei terangkat. Pandangannya bertanya.

"Meichan?"

Wajah Mei memerah, tapi ia memalingkan wajahnya. Tampak raut wanita itu tegang dan kaku.

"Mei? Kenapa sayang? Apa kamu lagi datang-"

"Apa mas sudah melakukan ini dengan Christine juga?"

Otak Aslan masih terselimuti kabut n*fsu, membuatnya belum bisa berpikir jernih. Alisnya berkerut.

"Christine? Kenapa kamu sebut nama dia, Mei? Mas sudah ga-"

Kedua tangan Mei mendorong d*da keras Aslan, membuat pria itu terpaksa sedikit mundur. Tatapannya bertanya-tanya pada isterinya yang saat ini tengah mengancingkan pakaiannya sendiri.

Tenggorokan pria itu seret ketika sadar, wanita ini akan meninggalkannya lagi.

"Mei...?"

"Maaf mas. Tapi Mei ga bisa. Mei bener-bener ga bisa menyentuh mas Aslan lagi. Mei merasa jijik... dengan mas Aslan. Maafkan Mei, mas... Mungkin sebaiknya mas Aslan memang segera menceraikan Mei. Karena Mei sudah ga mau disentuh mas Aslan lagi."

Tanpa mengatakan apapun lagi, Mei keluar dari kamar dan menutup rapat pintunya.

Wanita itu kembali pergi meninggalkan Aslan yang terpaku di tempat tidur. H*sratnya yang tadinya tidak tertahankan, kini layu dan melemas. Selama beberapa lama, pria itu hanya terduduk di sana.

Sendirian.

Terpopuler

Comments

Irmha febyollah

Irmha febyollah

memang barang/rumah yg di bangun suami sebelum menikah kita sbgai istri gak berhak, malah kita klo ngantur entah mau letak di mna foto atau barang kita sudah di anggap mau menguasai😊

2024-10-17

1

♡Ñùř♡

♡Ñùř♡

thor kmu buat aku nangis terus dr td😭😭

2024-10-12

0

Sunaryati

Sunaryati

Lanjuut donel up Thoor, ceritanya semakin seru dan menarik

2024-09-22

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Sakit
2 Chapter 2 - Bunda
3 Chapter 3 - Ikhlas
4 Chapter 4 - Hilang
5 Chapter 5 - Pergi
6 Chapter 6 - Bertemu
7 Chapter 7 - Ancaman
8 Chapter 8 - Cinta
9 Chapter 9 - Aslan
10 Chapter 10 - Cemburu
11 Chapter 11 - Kenapa?
12 Chapter 12 - Rival
13 Chapter 13 - Suamiku
14 Chapter 14 - Rindu
15 Chapter 15 - Patah Hati
16 Chapter 16 - Memori
17 Chapter 17 - Putus
18 Chapter 18 - Kebenaran (1)
19 Chapter 19 - Kebenaran (2)
20 Chapter 20 - Cerai
21 Chapter 21 - Hancur
22 Chapter 22 - Gila
23 Chapter 23 - Dasi
24 Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25 Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26 Chapter 26 - Penolakan
27 Chapter 27 - Usaha
28 Chapter 28 - Mengulang
29 Chapter 29 - Sederhana
30 Chapter 30 - Bahagia
31 Chapter 31 - Mengabulkan
32 Chapter 32 - Momen
33 Chapter 33 - Int*m
34 Chapter 34 - Mundur
35 Chapter 35 - Gagal (1)
36 Chapter 36 - Gagal (2)
37 Chapter 37 - Kepercayaan
38 Chapter 38 - Perlawanan
39 Chapter 39 - Melindungi
40 Chapter 40 - Honeymoon (1)
41 Chapter 41 - Honeymoon (2)
42 Chapter 42 - Rendezvous (1)
43 Chapter 43 - Rendezvous (2)
44 Chapter 44 - Rendezvous (3)
45 Chapter 45 - Kesempatan
46 Chapter 46 - Diusir
47 Chapter 47 - Kesetiaan
48 Chapter 48 - Kabar
49 Chapter 49 - Welcoming
50 Chapter 50 - Memilih
51 Chapter 51 - Kecewa
52 Chapter 52 - Ketahuan
53 Chapter 53 - Berdebat
54 Chapter 54 - Keraguan
55 Chapter 55 - Kesadaran
56 Chapter 56 - Jatuh Cinta
57 Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58 Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59 Chapter 59 - Hagen
60 Chapter 60 - Keputusan
61 Chapter 61 - Pengakuan
62 Chapter 62 - Penyelesaian
63 Chapter 63 - 'Menembak'
64 Chapter 64 - Interogasi
65 Chapter 65 - Kencan (1)
66 Chapter 66 - Kencan (2)
67 Chapter 67 - Kembali
68 Chapter 68 - Bersatu
69 Chapter 69 - First Time
70 Chapter 70 - Memori Indah
71 Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72 EPILOG - Awal Mula
73 EPILOG - Hubungan Transaksional
74 EPILOG - Kemarahan Terpendam
75 EPILOG - Rencana Perjodohan
76 EPILOG - Pertemuan Pertama
77 EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78 EPILOG - Hati yang Ragu
79 EPILOG - Keputusan Meilany
80 EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81 Pengumuman karya baru - Maret 2025
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Chapter 1 - Sakit
2
Chapter 2 - Bunda
3
Chapter 3 - Ikhlas
4
Chapter 4 - Hilang
5
Chapter 5 - Pergi
6
Chapter 6 - Bertemu
7
Chapter 7 - Ancaman
8
Chapter 8 - Cinta
9
Chapter 9 - Aslan
10
Chapter 10 - Cemburu
11
Chapter 11 - Kenapa?
12
Chapter 12 - Rival
13
Chapter 13 - Suamiku
14
Chapter 14 - Rindu
15
Chapter 15 - Patah Hati
16
Chapter 16 - Memori
17
Chapter 17 - Putus
18
Chapter 18 - Kebenaran (1)
19
Chapter 19 - Kebenaran (2)
20
Chapter 20 - Cerai
21
Chapter 21 - Hancur
22
Chapter 22 - Gila
23
Chapter 23 - Dasi
24
Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25
Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26
Chapter 26 - Penolakan
27
Chapter 27 - Usaha
28
Chapter 28 - Mengulang
29
Chapter 29 - Sederhana
30
Chapter 30 - Bahagia
31
Chapter 31 - Mengabulkan
32
Chapter 32 - Momen
33
Chapter 33 - Int*m
34
Chapter 34 - Mundur
35
Chapter 35 - Gagal (1)
36
Chapter 36 - Gagal (2)
37
Chapter 37 - Kepercayaan
38
Chapter 38 - Perlawanan
39
Chapter 39 - Melindungi
40
Chapter 40 - Honeymoon (1)
41
Chapter 41 - Honeymoon (2)
42
Chapter 42 - Rendezvous (1)
43
Chapter 43 - Rendezvous (2)
44
Chapter 44 - Rendezvous (3)
45
Chapter 45 - Kesempatan
46
Chapter 46 - Diusir
47
Chapter 47 - Kesetiaan
48
Chapter 48 - Kabar
49
Chapter 49 - Welcoming
50
Chapter 50 - Memilih
51
Chapter 51 - Kecewa
52
Chapter 52 - Ketahuan
53
Chapter 53 - Berdebat
54
Chapter 54 - Keraguan
55
Chapter 55 - Kesadaran
56
Chapter 56 - Jatuh Cinta
57
Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58
Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59
Chapter 59 - Hagen
60
Chapter 60 - Keputusan
61
Chapter 61 - Pengakuan
62
Chapter 62 - Penyelesaian
63
Chapter 63 - 'Menembak'
64
Chapter 64 - Interogasi
65
Chapter 65 - Kencan (1)
66
Chapter 66 - Kencan (2)
67
Chapter 67 - Kembali
68
Chapter 68 - Bersatu
69
Chapter 69 - First Time
70
Chapter 70 - Memori Indah
71
Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72
EPILOG - Awal Mula
73
EPILOG - Hubungan Transaksional
74
EPILOG - Kemarahan Terpendam
75
EPILOG - Rencana Perjodohan
76
EPILOG - Pertemuan Pertama
77
EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78
EPILOG - Hati yang Ragu
79
EPILOG - Keputusan Meilany
80
EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81
Pengumuman karya baru - Maret 2025

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!