Chapter 18 - Kebenaran (1)

Berada di mobilnya, Mei menatap cincin di jari manisnya. Ia mengerjapkan matanya yang mulai berair dan melepas cincin itu kasar. Sembarangan, ia melemparnya ke dalam tasnya.

Mengusap ingusnya di tisu, ia menyender di kursi dan menutup mata.

Bagaimana pun ia berusaha menepis, ia tidak bisa memungkiri ia bersalah pada suaminya. Ia telah bersikap tidak hormat dan kasar pada lelaki yang telah menikahinya. Ia tidak adil dan tidak memberi kesempatan Aslan untuk menjelaskan. Tapi apa ia mendapat perlakuan adil dulu? Apapun yang dikatakan bundanya, hanya Mei telan mentah-mentah. Ia melakukan itu, karena suaminya pun tidak pernah protes satu kali pun.

Selama dalam pernikahan, dilema Mei makin lama makin menggunung. Ia bahagia saat menjadi isteri Aslan. Tapi di sisi lain, ia sangat tertekan ketika berperan sebagai menantu.

Mei tahu, saat menerima pinangan Aslan, ia juga otomatis menikahi keluarganya. Tapi ia tidak menyangka, dalam pernikahan mereka, pria itu ternyata memilih memprioritaskan keinginan orang lain dibanding dia.

"Mungkin ini yang terbaik..."

Membersihkan lagi cairan dari hidungnya, Mei akhirnya menekan pedal gas di kakinya.

Mungkin sebelum meninggalkan negara ini, ia perlu melakukan napak tilas. Mengunjungi beberapa tempat yang jadi kenangannya. Kunjungan terakhir sebelum ia menutup buku dan membuka lembaran yang baru.

Tanpa sadar, tangannya membawanya ke tempat yang membuatnya sangat sakit dulu. Kedua mata Mei menatap gedung perkantoran yang dulu beberapa kali didatanginya. Tidak ada yang berubah dari gedung itu kecuali catnya. Ia baru sadar, kedai kopi di seberang kantor sudah berubah menjadi restoran cepat saji.

Ragu-ragu, Mei keluar dari mobil.

Meski lokasi ini menyisakan rasa sakit di hatinya, tapi ia terdorong masuk ke dalam. Untuk terakhir kalinya.

Lobi tidak terlalu besar itu cukup ramai. Jam makan siang membuat banyak karyawan mulai keluar kantor dan suara denting lift yang ada di ujung ruangan, terdengar tidak berhenti.

Kakinya perlahan melangkah ke meja resepsionis dan berhenti. Tampak seraut wajah asing memandangnya.

"Selamat siang bu. Mau bertemu dengan siapa?"

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab Mei. Ia sendiri tidak tahu tujuannya datang ke tempat ini.

"Ci Mei?"

Panggilan ragu itu membuat kepala Mei menoleh. Tampak seraut wajah familiar sedang menatapnya intens. Senyuman mulai muncul di mulut wanita itu, saat ia yakin dengan perkiraannya.

"Benaran ci Mei, ya?"

Balas tersenyum, Mei menyambut uluran tangan wanita itu hangat. "Apa kabar mba Dinda?"

Tidak lama, keduanya terlihat duduk di dalam restoran cepat saji. Wanita bernama Dinda itu dengan cepat menandaskan makanan yang ada di hadapannya.

"Laper banget ya mba?"

"Bukan itu, ci. Habis ini, saya harus menyiapkan berkas buat meeting jam 3 nanti. Masih banyak yang perlu dikopi dan juga dijilid. Jadi harus buru-buru."

"Oh..."

Santai, Mei menyedot minumannya. Ia baru saja memakan kentangnya saat terdengar suara Dinda lagi.

"Cici sudah sehat?"

Pertanyaan itu sedikit menohok hati Mei, tapi ia tersenyum.

"Sudah kok. Kalau ga sehat kan ga mungkin saya jalan-jalan seperti ini."

Perkataan itu membuat Dinda terkekeh pelan. Ia sedikit menyender di kursinya.

Menusuk es di gelasnya, wanita itu menatap Mei lagi. "Gimana kabar pak Aslan, ci?"

Lagi-lagi, hati Mei serasa tercubit di dalam.

"Mas Aslan sehat. Baik-baik saja kok."

"Sepertinya dia sudah sukses di TJ Corp. ya ci? Memang seharusnya pak Aslan itu kerja di perusahaan besar, bukan perusahaan kecil seperti ini. Karirnya jadi ga maju-maju."

"Lumayanlah mba. Buat nambah-nambah cicilan rumah sama mobil."

Dinda terkekeh. Matanya menatap intens wanita di sebelahnya.

"Saya seneng banget cici sama pak Aslan baik-baik saja. Tadinya saya khawatir kalian berdua ada masalah."

Mata sipit Mei mengerjap. Ia memandang Dinda heran.

"Masalah? Memangnya kenapa?"

Senyuman Dinda menghilang. Wanita itu mulai terlihat gugup, saat sadar ia sudah keceplosan.

"Ma- Maaf, ci. Lupakan saja. Saya hanya asal ngomong saja tadi."

Wanita itu hampir saja berdiri, sampai Mei mencengkeram kuat lengannya.

"Mba Din? Memangnya mba menyangka ada masalah apa antara saya dengan mas Aslan?"

Tadinya Dinda ingin menghindar, tapi melihat ekspresi Mei yang datar dan tegas, ia tahu wanita di depannya ini tidak akan berhenti sampai dia bicara.

Menghela nafas panjang, ia kembali duduk. Ia menelan ludah beberapa kali, sebelum menatap Mei lagi.

"Sebenarnya, ada wanita yang beberapa kali datang ke kantor. Saya tahu pak Aslan dekat dengan wanita itu, karena setahu saya mereka pacaran. Tapi itu sudah cukup lama, ci. Jauh sebelum cici dan pak Aslan nikah."

"Christine?"

Mata Dinda mengerjap dan ia mengangguk. "Cici tahu?"

Kepala Mei mengangguk santai. "Saya sudah tahu dari dulu kok."

Meski kelihatan lega, tapi ada sesuatu di raut Dinda yang masih tampak bertanya.

"Kalian cukup dekat?"

"Tidak terlalu. Memangnya kenapa?"

"Engga... Soalnya pak Aslan sepertinya tidak suka kalau Christine datang ke kantor. Beberapa bulan sebelum kecelakaan ci Mei waktu itu, dia beberapa kali datang lagi ke kantor buat ketemu pak Aslan, tapi pak Aslan selalu mengusirnya. Sampai terakhir sebelum cici nganter makanan waktu itu, pak Aslan lagi marah banget. Baru kali ini saya lihat pak Aslan sikapnya agak kasar sama orang. Apalagi orang itu perempuan."

Jantung Mei seolah berhenti berdetak sebentar, sebelum mulai berderu nyaring di dalam.

"Mas Aslan... kasar sama perempuan?"

"Iya... Semua orang takut banget kalau pak Aslan sampai mukul orang itu. Soalnya pak Aslan sampai nyeret tangan Christine dan akhirnya mereka ke kedai kopi sini. Selanjutnya... ya ci Mei tahu sendiri."

Cerita itu membuat d*da Mei mulai sesak. Baru kali ini dia mendengarnya. Selama ini, dia sangka hubungan Aslan dan Christine baik-baik saja, bahkan mungkin mesra. Tidak ada dalam pikirannya kalau suaminya yang tidak pernah marah itu sampai akan memukul seorang wanita lemah.

"Mungkin itu juga sebabnya pak Aslan resign ya ci?"

Kepala Mei menoleh lagi ke DInda. Mulutnya membeo, "Resign?"

"Iya ci. Kan ga nyampe dua bulan sejak kecelakaan ci Mei, pas Aslan resign dan pindah ke TJ Corp. Mungkin untuk menghindar dari orang itu. Soalnya dia masih datang beberapa kali dan baru berhenti waktu atasan pak Aslan dulu menjelaskan, pak Aslan sudah ga kerja di sini lagi. Pak Aslan sampai pesan ke kita-kita supaya ga kasih tahu dia pindah ke mana. Pokoknya ga enak banget ci waktu itu."

Mei bisa merasakan telapak tangannya mulai berkeringat dan gemetar.

"Tapi syukurlah ci, kalau cici sama pak Aslan baik-baik saja. Saya doakan kalian cepet punya momongan."

Lantai yang dipijak Mei seolah runtuh dan menyeretnya ke bawah.

Apa yang sudah kau lakukan, Mei?

Terpopuler

Comments

Sunaryati

Sunaryati

Itu sepenuhnya bukan salahmu, karena Ashlan tidak menjelaskan setelah kamu kecelakaan yang menyebabkan keguguran, seharusnya waktu itu mengurai kesalahpahamanmu memergoki Ashlan dan Cristine di kedai, karena sebelumnya Ashlan minta izin menikah

2024-09-26

6

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Sakit
2 Chapter 2 - Bunda
3 Chapter 3 - Ikhlas
4 Chapter 4 - Hilang
5 Chapter 5 - Pergi
6 Chapter 6 - Bertemu
7 Chapter 7 - Ancaman
8 Chapter 8 - Cinta
9 Chapter 9 - Aslan
10 Chapter 10 - Cemburu
11 Chapter 11 - Kenapa?
12 Chapter 12 - Rival
13 Chapter 13 - Suamiku
14 Chapter 14 - Rindu
15 Chapter 15 - Patah Hati
16 Chapter 16 - Memori
17 Chapter 17 - Putus
18 Chapter 18 - Kebenaran (1)
19 Chapter 19 - Kebenaran (2)
20 Chapter 20 - Cerai
21 Chapter 21 - Hancur
22 Chapter 22 - Gila
23 Chapter 23 - Dasi
24 Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25 Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26 Chapter 26 - Penolakan
27 Chapter 27 - Usaha
28 Chapter 28 - Mengulang
29 Chapter 29 - Sederhana
30 Chapter 30 - Bahagia
31 Chapter 31 - Mengabulkan
32 Chapter 32 - Momen
33 Chapter 33 - Int*m
34 Chapter 34 - Mundur
35 Chapter 35 - Gagal (1)
36 Chapter 36 - Gagal (2)
37 Chapter 37 - Kepercayaan
38 Chapter 38 - Perlawanan
39 Chapter 39 - Melindungi
40 Chapter 40 - Honeymoon (1)
41 Chapter 41 - Honeymoon (2)
42 Chapter 42 - Rendezvous (1)
43 Chapter 43 - Rendezvous (2)
44 Chapter 44 - Rendezvous (3)
45 Chapter 45 - Kesempatan
46 Chapter 46 - Diusir
47 Chapter 47 - Kesetiaan
48 Chapter 48 - Kabar
49 Chapter 49 - Welcoming
50 Chapter 50 - Memilih
51 Chapter 51 - Kecewa
52 Chapter 52 - Ketahuan
53 Chapter 53 - Berdebat
54 Chapter 54 - Keraguan
55 Chapter 55 - Kesadaran
56 Chapter 56 - Jatuh Cinta
57 Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58 Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59 Chapter 59 - Hagen
60 Chapter 60 - Keputusan
61 Chapter 61 - Pengakuan
62 Chapter 62 - Penyelesaian
63 Chapter 63 - 'Menembak'
64 Chapter 64 - Interogasi
65 Chapter 65 - Kencan (1)
66 Chapter 66 - Kencan (2)
67 Chapter 67 - Kembali
68 Chapter 68 - Bersatu
69 Chapter 69 - First Time
70 Chapter 70 - Memori Indah
71 Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72 EPILOG - Awal Mula
73 EPILOG - Hubungan Transaksional
74 EPILOG - Kemarahan Terpendam
75 EPILOG - Rencana Perjodohan
76 EPILOG - Pertemuan Pertama
77 EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78 EPILOG - Hati yang Ragu
79 EPILOG - Keputusan Meilany
80 EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81 Pengumuman karya baru - Maret 2025
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Chapter 1 - Sakit
2
Chapter 2 - Bunda
3
Chapter 3 - Ikhlas
4
Chapter 4 - Hilang
5
Chapter 5 - Pergi
6
Chapter 6 - Bertemu
7
Chapter 7 - Ancaman
8
Chapter 8 - Cinta
9
Chapter 9 - Aslan
10
Chapter 10 - Cemburu
11
Chapter 11 - Kenapa?
12
Chapter 12 - Rival
13
Chapter 13 - Suamiku
14
Chapter 14 - Rindu
15
Chapter 15 - Patah Hati
16
Chapter 16 - Memori
17
Chapter 17 - Putus
18
Chapter 18 - Kebenaran (1)
19
Chapter 19 - Kebenaran (2)
20
Chapter 20 - Cerai
21
Chapter 21 - Hancur
22
Chapter 22 - Gila
23
Chapter 23 - Dasi
24
Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25
Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26
Chapter 26 - Penolakan
27
Chapter 27 - Usaha
28
Chapter 28 - Mengulang
29
Chapter 29 - Sederhana
30
Chapter 30 - Bahagia
31
Chapter 31 - Mengabulkan
32
Chapter 32 - Momen
33
Chapter 33 - Int*m
34
Chapter 34 - Mundur
35
Chapter 35 - Gagal (1)
36
Chapter 36 - Gagal (2)
37
Chapter 37 - Kepercayaan
38
Chapter 38 - Perlawanan
39
Chapter 39 - Melindungi
40
Chapter 40 - Honeymoon (1)
41
Chapter 41 - Honeymoon (2)
42
Chapter 42 - Rendezvous (1)
43
Chapter 43 - Rendezvous (2)
44
Chapter 44 - Rendezvous (3)
45
Chapter 45 - Kesempatan
46
Chapter 46 - Diusir
47
Chapter 47 - Kesetiaan
48
Chapter 48 - Kabar
49
Chapter 49 - Welcoming
50
Chapter 50 - Memilih
51
Chapter 51 - Kecewa
52
Chapter 52 - Ketahuan
53
Chapter 53 - Berdebat
54
Chapter 54 - Keraguan
55
Chapter 55 - Kesadaran
56
Chapter 56 - Jatuh Cinta
57
Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58
Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59
Chapter 59 - Hagen
60
Chapter 60 - Keputusan
61
Chapter 61 - Pengakuan
62
Chapter 62 - Penyelesaian
63
Chapter 63 - 'Menembak'
64
Chapter 64 - Interogasi
65
Chapter 65 - Kencan (1)
66
Chapter 66 - Kencan (2)
67
Chapter 67 - Kembali
68
Chapter 68 - Bersatu
69
Chapter 69 - First Time
70
Chapter 70 - Memori Indah
71
Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72
EPILOG - Awal Mula
73
EPILOG - Hubungan Transaksional
74
EPILOG - Kemarahan Terpendam
75
EPILOG - Rencana Perjodohan
76
EPILOG - Pertemuan Pertama
77
EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78
EPILOG - Hati yang Ragu
79
EPILOG - Keputusan Meilany
80
EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81
Pengumuman karya baru - Maret 2025

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!