Berada di mobilnya, Mei menatap cincin di jari manisnya. Ia mengerjapkan matanya yang mulai berair dan melepas cincin itu kasar. Sembarangan, ia melemparnya ke dalam tasnya.
Mengusap ingusnya di tisu, ia menyender di kursi dan menutup mata.
Bagaimana pun ia berusaha menepis, ia tidak bisa memungkiri ia bersalah pada suaminya. Ia telah bersikap tidak hormat dan kasar pada lelaki yang telah menikahinya. Ia tidak adil dan tidak memberi kesempatan Aslan untuk menjelaskan. Tapi apa ia mendapat perlakuan adil dulu? Apapun yang dikatakan bundanya, hanya Mei telan mentah-mentah. Ia melakukan itu, karena suaminya pun tidak pernah protes satu kali pun.
Selama dalam pernikahan, dilema Mei makin lama makin menggunung. Ia bahagia saat menjadi isteri Aslan. Tapi di sisi lain, ia sangat tertekan ketika berperan sebagai menantu.
Mei tahu, saat menerima pinangan Aslan, ia juga otomatis menikahi keluarganya. Tapi ia tidak menyangka, dalam pernikahan mereka, pria itu ternyata memilih memprioritaskan keinginan orang lain dibanding dia.
"Mungkin ini yang terbaik..."
Membersihkan lagi cairan dari hidungnya, Mei akhirnya menekan pedal gas di kakinya.
Mungkin sebelum meninggalkan negara ini, ia perlu melakukan napak tilas. Mengunjungi beberapa tempat yang jadi kenangannya. Kunjungan terakhir sebelum ia menutup buku dan membuka lembaran yang baru.
Tanpa sadar, tangannya membawanya ke tempat yang membuatnya sangat sakit dulu. Kedua mata Mei menatap gedung perkantoran yang dulu beberapa kali didatanginya. Tidak ada yang berubah dari gedung itu kecuali catnya. Ia baru sadar, kedai kopi di seberang kantor sudah berubah menjadi restoran cepat saji.
Ragu-ragu, Mei keluar dari mobil.
Meski lokasi ini menyisakan rasa sakit di hatinya, tapi ia terdorong masuk ke dalam. Untuk terakhir kalinya.
Lobi tidak terlalu besar itu cukup ramai. Jam makan siang membuat banyak karyawan mulai keluar kantor dan suara denting lift yang ada di ujung ruangan, terdengar tidak berhenti.
Kakinya perlahan melangkah ke meja resepsionis dan berhenti. Tampak seraut wajah asing memandangnya.
"Selamat siang bu. Mau bertemu dengan siapa?"
Pertanyaan itu tidak bisa dijawab Mei. Ia sendiri tidak tahu tujuannya datang ke tempat ini.
"Ci Mei?"
Panggilan ragu itu membuat kepala Mei menoleh. Tampak seraut wajah familiar sedang menatapnya intens. Senyuman mulai muncul di mulut wanita itu, saat ia yakin dengan perkiraannya.
"Benaran ci Mei, ya?"
Balas tersenyum, Mei menyambut uluran tangan wanita itu hangat. "Apa kabar mba Dinda?"
Tidak lama, keduanya terlihat duduk di dalam restoran cepat saji. Wanita bernama Dinda itu dengan cepat menandaskan makanan yang ada di hadapannya.
"Laper banget ya mba?"
"Bukan itu, ci. Habis ini, saya harus menyiapkan berkas buat meeting jam 3 nanti. Masih banyak yang perlu dikopi dan juga dijilid. Jadi harus buru-buru."
"Oh..."
Santai, Mei menyedot minumannya. Ia baru saja memakan kentangnya saat terdengar suara Dinda lagi.
"Cici sudah sehat?"
Pertanyaan itu sedikit menohok hati Mei, tapi ia tersenyum.
"Sudah kok. Kalau ga sehat kan ga mungkin saya jalan-jalan seperti ini."
Perkataan itu membuat Dinda terkekeh pelan. Ia sedikit menyender di kursinya.
Menusuk es di gelasnya, wanita itu menatap Mei lagi. "Gimana kabar pak Aslan, ci?"
Lagi-lagi, hati Mei serasa tercubit di dalam.
"Mas Aslan sehat. Baik-baik saja kok."
"Sepertinya dia sudah sukses di TJ Corp. ya ci? Memang seharusnya pak Aslan itu kerja di perusahaan besar, bukan perusahaan kecil seperti ini. Karirnya jadi ga maju-maju."
"Lumayanlah mba. Buat nambah-nambah cicilan rumah sama mobil."
Dinda terkekeh. Matanya menatap intens wanita di sebelahnya.
"Saya seneng banget cici sama pak Aslan baik-baik saja. Tadinya saya khawatir kalian berdua ada masalah."
Mata sipit Mei mengerjap. Ia memandang Dinda heran.
"Masalah? Memangnya kenapa?"
Senyuman Dinda menghilang. Wanita itu mulai terlihat gugup, saat sadar ia sudah keceplosan.
"Ma- Maaf, ci. Lupakan saja. Saya hanya asal ngomong saja tadi."
Wanita itu hampir saja berdiri, sampai Mei mencengkeram kuat lengannya.
"Mba Din? Memangnya mba menyangka ada masalah apa antara saya dengan mas Aslan?"
Tadinya Dinda ingin menghindar, tapi melihat ekspresi Mei yang datar dan tegas, ia tahu wanita di depannya ini tidak akan berhenti sampai dia bicara.
Menghela nafas panjang, ia kembali duduk. Ia menelan ludah beberapa kali, sebelum menatap Mei lagi.
"Sebenarnya, ada wanita yang beberapa kali datang ke kantor. Saya tahu pak Aslan dekat dengan wanita itu, karena setahu saya mereka pacaran. Tapi itu sudah cukup lama, ci. Jauh sebelum cici dan pak Aslan nikah."
"Christine?"
Mata Dinda mengerjap dan ia mengangguk. "Cici tahu?"
Kepala Mei mengangguk santai. "Saya sudah tahu dari dulu kok."
Meski kelihatan lega, tapi ada sesuatu di raut Dinda yang masih tampak bertanya.
"Kalian cukup dekat?"
"Tidak terlalu. Memangnya kenapa?"
"Engga... Soalnya pak Aslan sepertinya tidak suka kalau Christine datang ke kantor. Beberapa bulan sebelum kecelakaan ci Mei waktu itu, dia beberapa kali datang lagi ke kantor buat ketemu pak Aslan, tapi pak Aslan selalu mengusirnya. Sampai terakhir sebelum cici nganter makanan waktu itu, pak Aslan lagi marah banget. Baru kali ini saya lihat pak Aslan sikapnya agak kasar sama orang. Apalagi orang itu perempuan."
Jantung Mei seolah berhenti berdetak sebentar, sebelum mulai berderu nyaring di dalam.
"Mas Aslan... kasar sama perempuan?"
"Iya... Semua orang takut banget kalau pak Aslan sampai mukul orang itu. Soalnya pak Aslan sampai nyeret tangan Christine dan akhirnya mereka ke kedai kopi sini. Selanjutnya... ya ci Mei tahu sendiri."
Cerita itu membuat d*da Mei mulai sesak. Baru kali ini dia mendengarnya. Selama ini, dia sangka hubungan Aslan dan Christine baik-baik saja, bahkan mungkin mesra. Tidak ada dalam pikirannya kalau suaminya yang tidak pernah marah itu sampai akan memukul seorang wanita lemah.
"Mungkin itu juga sebabnya pak Aslan resign ya ci?"
Kepala Mei menoleh lagi ke DInda. Mulutnya membeo, "Resign?"
"Iya ci. Kan ga nyampe dua bulan sejak kecelakaan ci Mei, pas Aslan resign dan pindah ke TJ Corp. Mungkin untuk menghindar dari orang itu. Soalnya dia masih datang beberapa kali dan baru berhenti waktu atasan pak Aslan dulu menjelaskan, pak Aslan sudah ga kerja di sini lagi. Pak Aslan sampai pesan ke kita-kita supaya ga kasih tahu dia pindah ke mana. Pokoknya ga enak banget ci waktu itu."
Mei bisa merasakan telapak tangannya mulai berkeringat dan gemetar.
"Tapi syukurlah ci, kalau cici sama pak Aslan baik-baik saja. Saya doakan kalian cepet punya momongan."
Lantai yang dipijak Mei seolah runtuh dan menyeretnya ke bawah.
Apa yang sudah kau lakukan, Mei?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Sunaryati
Itu sepenuhnya bukan salahmu, karena Ashlan tidak menjelaskan setelah kamu kecelakaan yang menyebabkan keguguran, seharusnya waktu itu mengurai kesalahpahamanmu memergoki Ashlan dan Cristine di kedai, karena sebelumnya Ashlan minta izin menikah
2024-09-26
6