Chapter 14 - Rindu

Berhenti di depan rumah mungil itu, mata Mei menatap ke sekelilingnya penuh rasa rindu. Dalam 7 tahun masa hidupnya di LN ini, tidak sekali pun ia melupakan kenangan mengenai rumah ini. Memori indah saat ia pertama kali menginjakkan kaki di sini. Memori saat ia berhasil membuat halamannya yang tadinya gersang berubah hijau dan cantik. Juga memori ketika dirinya dan Aslan menikmati semuanya di teras kecil itu.

Keluar dari mobilnya, pandangan Mei terarah pada taman di seberang rumah ini yang sekarang cukup sepi.

"Ugh!"

Satu tangan wanita itu memayungi kedua matanya. Terik matahari serasa menusuk kepala dan kulitnya, padahal waktu belum menunjukkan tengah hari.

Membuka pelan pintu pagar berat itu, pandangan Mei tertuju pada mobil yang telah terparkir di sana. Aslan ternyata belum mengganti mobil tuanya. Ia masih setia menggunakan mobil yang pertama kali dibelinya itu saat usia pernikahan mereka baru berjalan 2 bulan.

Ingatannya melayang ke masa-masa itu, saat Aslan pertama kali meminta izin padanya.

Hati Mei perlahan sedih. Mereka sebenarnya dari awal telah mendiskusikan hal-hal seperti masalah keuangan dan juga pengaturan di dalam rumah tangga. Tapi ketika bunda sudah mengatakan sesuatu, sepertinya apa yang tadinya mereka sudah sepakati menjadi buyar semuanya.

Dari mulai pengaturan mencuci piring, membersihkan rumah, mencuci pakaian dan hal-hal sepele lainnya. Tadinya ia dan suaminya sudah ada kesepakatan bersama. Mereka tidak akan menggunakan ART dan akan mengerjakan semua sendiri saat mampu. Keduanya juga sepakat Mei akan tetap kerja sampai mereka punya anak nanti. Tapi sepertinya, tidak ada satu pun yang konsisten sampai mereka berpisah 7 tahun lalu.

Kini saat ia lebih matang, Mei sadar kenapa dulu ia sulit mengandung. Dari pemeriksaan tidak ada satu pun dari keduanya yang bermasalah tapi tanpa diketahui suaminya, dirinya sebenarnya sangat tertekan selama pernikahan mereka. Ia sangat stress saat itu.

Dirinya ingin curhat tapi tidak punya teman yang bisa dipercaya. Semua teman dekatnya adalah orang kantor dan ia hampir tidak pernah bertemu mereka lagi, semenjak memutuskan resign.

Satu-satunya pelarian adalah ke tanaman. Bercocok tanam yang membuatnya masih waras selama menikah.

Melihat tanaman yang dirawatnya dulu penuh kasih sayang masih terawat baik, hati Mei teriris lagi.

Apa mas Aslan sudah menikahi Christine? Apa Christine juga senang tanaman?

"Mei?"

Panggilan terkejut itu membuat Mei menoleh. Suaminya ternyata telah berdiri di depan pintu. Tangan pria itu tampak memangku seekor kucing lucu berwarna putih dan gemuk.

Sejak kapan mas Aslan suka kucing?

Tatapan Mei terarah pada kucing bermata biru itu. "Siapa namanya, mas?"

"Uh!"

Kucing itu melompat dari pangkuan Aslan dan berjalan menghampiri Mei. Tampak kepalanya mendongak penuh rasa ingin tahu. Suaranya terdengar mengeong pelan.

Senyuman Mei melebar. Dari dulu, ia suka binatang tapi saat itu, bunda tidak memperbolehkan peliharaan. Mertuanya itu takut kucing membuat kotor rumah. Pada dasarnya, ibu suaminya memang tidak suka hewan.

Berjongkok, ia mengelus kepala kucing itu penuh kasih sayang. Terdengar dengkuran pelan dari mulutnya.

"Lucu banget kamu, sayang..."

Aslan hanya memandang interaksi keduanya dari depan pintu. Ia berkata pelan, "Namanya si 'cantik'."

Mata Mei naik dan menatap heran suaminya. "Si cantik?"

Lelaki itu hanya mengangguk dan keduanya bertatapan dalam diam.

Jantung Mei mulai berdebar. Cantik adalah nama yang pernah ia berikan pada seekor kucing kampung yang ada di kantornya dulu. Ia cukup sering memberi makan kucing kesayangan para karyawan itu, dan pernah beberapa kali menceritakannya pada Aslan saat mereka masih tahap pendekatan dulu.

Apa mungkin mas Aslan masih mengingat itu?

Pengalamannya di masa lalu, membuat Mei tidak ingin memiliki harapan yang terlalu tinggi lagi.

Ia pernah berharap banyak pada suaminya, tapi ternyata harus kecewa juga. Masalahnya, bukan karena pria itu mengecewakannya. Tapi justru faktor eksternal di luar mereka berdua yang membuatnya harus mundur dan memilih pergi dari hidup lelaki itu. Faktor yang sama sekali di luar prediksinya.

Tersenyum, Mei berdiri dari jongkoknya dan tubuhnya hampir jatuh lagi ke lantai.

"Meichan!"

Kedua mata Mei memejam erat dan nafasnya sedikit berat. Ia cukup pusing karena matahari yang bersinar sangat terik di luar. Ia hanya bisa pasrah saat merasakan gendongan mantap dari suaminya.

"Ayo sayang. Kamu butuh asupan dingin sekarang."

Berada dalam pelukan suaminya, perlahan mata Mei membuka. Ia bisa menatap leher jenjang lelaki itu di depannya. Jakun pria itu yang menonjol membuat matanya terfokus ke sana. Terlihat bulu-bulu halus Aslan berwarna gelap yang mulai tumbuh di sekitar rahang dan juga mulutnya.

Kedua tangan Mei terangkat dan memeluk leher suaminya erat.

"Meichan?"

Suara Mei pecah dan terdengar isakan dari mulut wanita itu, "Mei rindu mas Aslan... Mei sangat rindu, mas."

Terpopuler

Comments

♡Ñùř♡

♡Ñùř♡

😭😭😭

2024-10-12

0

Sunaryati

Sunaryati

Jika Ashlan tidak jadi menikah dengan Cristin, kembalilah. Namun jika sudah menikah lebih baik mundur dari pada sakit hati

2024-09-19

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Sakit
2 Chapter 2 - Bunda
3 Chapter 3 - Ikhlas
4 Chapter 4 - Hilang
5 Chapter 5 - Pergi
6 Chapter 6 - Bertemu
7 Chapter 7 - Ancaman
8 Chapter 8 - Cinta
9 Chapter 9 - Aslan
10 Chapter 10 - Cemburu
11 Chapter 11 - Kenapa?
12 Chapter 12 - Rival
13 Chapter 13 - Suamiku
14 Chapter 14 - Rindu
15 Chapter 15 - Patah Hati
16 Chapter 16 - Memori
17 Chapter 17 - Putus
18 Chapter 18 - Kebenaran (1)
19 Chapter 19 - Kebenaran (2)
20 Chapter 20 - Cerai
21 Chapter 21 - Hancur
22 Chapter 22 - Gila
23 Chapter 23 - Dasi
24 Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25 Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26 Chapter 26 - Penolakan
27 Chapter 27 - Usaha
28 Chapter 28 - Mengulang
29 Chapter 29 - Sederhana
30 Chapter 30 - Bahagia
31 Chapter 31 - Mengabulkan
32 Chapter 32 - Momen
33 Chapter 33 - Int*m
34 Chapter 34 - Mundur
35 Chapter 35 - Gagal (1)
36 Chapter 36 - Gagal (2)
37 Chapter 37 - Kepercayaan
38 Chapter 38 - Perlawanan
39 Chapter 39 - Melindungi
40 Chapter 40 - Honeymoon (1)
41 Chapter 41 - Honeymoon (2)
42 Chapter 42 - Rendezvous (1)
43 Chapter 43 - Rendezvous (2)
44 Chapter 44 - Rendezvous (3)
45 Chapter 45 - Kesempatan
46 Chapter 46 - Diusir
47 Chapter 47 - Kesetiaan
48 Chapter 48 - Kabar
49 Chapter 49 - Welcoming
50 Chapter 50 - Memilih
51 Chapter 51 - Kecewa
52 Chapter 52 - Ketahuan
53 Chapter 53 - Berdebat
54 Chapter 54 - Keraguan
55 Chapter 55 - Kesadaran
56 Chapter 56 - Jatuh Cinta
57 Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58 Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59 Chapter 59 - Hagen
60 Chapter 60 - Keputusan
61 Chapter 61 - Pengakuan
62 Chapter 62 - Penyelesaian
63 Chapter 63 - 'Menembak'
64 Chapter 64 - Interogasi
65 Chapter 65 - Kencan (1)
66 Chapter 66 - Kencan (2)
67 Chapter 67 - Kembali
68 Chapter 68 - Bersatu
69 Chapter 69 - First Time
70 Chapter 70 - Memori Indah
71 Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72 EPILOG - Awal Mula
73 EPILOG - Hubungan Transaksional
74 EPILOG - Kemarahan Terpendam
75 EPILOG - Rencana Perjodohan
76 EPILOG - Pertemuan Pertama
77 EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78 EPILOG - Hati yang Ragu
79 EPILOG - Keputusan Meilany
80 EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81 Pengumuman karya baru - Maret 2025
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Chapter 1 - Sakit
2
Chapter 2 - Bunda
3
Chapter 3 - Ikhlas
4
Chapter 4 - Hilang
5
Chapter 5 - Pergi
6
Chapter 6 - Bertemu
7
Chapter 7 - Ancaman
8
Chapter 8 - Cinta
9
Chapter 9 - Aslan
10
Chapter 10 - Cemburu
11
Chapter 11 - Kenapa?
12
Chapter 12 - Rival
13
Chapter 13 - Suamiku
14
Chapter 14 - Rindu
15
Chapter 15 - Patah Hati
16
Chapter 16 - Memori
17
Chapter 17 - Putus
18
Chapter 18 - Kebenaran (1)
19
Chapter 19 - Kebenaran (2)
20
Chapter 20 - Cerai
21
Chapter 21 - Hancur
22
Chapter 22 - Gila
23
Chapter 23 - Dasi
24
Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25
Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26
Chapter 26 - Penolakan
27
Chapter 27 - Usaha
28
Chapter 28 - Mengulang
29
Chapter 29 - Sederhana
30
Chapter 30 - Bahagia
31
Chapter 31 - Mengabulkan
32
Chapter 32 - Momen
33
Chapter 33 - Int*m
34
Chapter 34 - Mundur
35
Chapter 35 - Gagal (1)
36
Chapter 36 - Gagal (2)
37
Chapter 37 - Kepercayaan
38
Chapter 38 - Perlawanan
39
Chapter 39 - Melindungi
40
Chapter 40 - Honeymoon (1)
41
Chapter 41 - Honeymoon (2)
42
Chapter 42 - Rendezvous (1)
43
Chapter 43 - Rendezvous (2)
44
Chapter 44 - Rendezvous (3)
45
Chapter 45 - Kesempatan
46
Chapter 46 - Diusir
47
Chapter 47 - Kesetiaan
48
Chapter 48 - Kabar
49
Chapter 49 - Welcoming
50
Chapter 50 - Memilih
51
Chapter 51 - Kecewa
52
Chapter 52 - Ketahuan
53
Chapter 53 - Berdebat
54
Chapter 54 - Keraguan
55
Chapter 55 - Kesadaran
56
Chapter 56 - Jatuh Cinta
57
Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58
Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59
Chapter 59 - Hagen
60
Chapter 60 - Keputusan
61
Chapter 61 - Pengakuan
62
Chapter 62 - Penyelesaian
63
Chapter 63 - 'Menembak'
64
Chapter 64 - Interogasi
65
Chapter 65 - Kencan (1)
66
Chapter 66 - Kencan (2)
67
Chapter 67 - Kembali
68
Chapter 68 - Bersatu
69
Chapter 69 - First Time
70
Chapter 70 - Memori Indah
71
Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72
EPILOG - Awal Mula
73
EPILOG - Hubungan Transaksional
74
EPILOG - Kemarahan Terpendam
75
EPILOG - Rencana Perjodohan
76
EPILOG - Pertemuan Pertama
77
EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78
EPILOG - Hati yang Ragu
79
EPILOG - Keputusan Meilany
80
EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81
Pengumuman karya baru - Maret 2025

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!