Berhenti di depan rumah mungil itu, mata Mei menatap ke sekelilingnya penuh rasa rindu. Dalam 7 tahun masa hidupnya di LN ini, tidak sekali pun ia melupakan kenangan mengenai rumah ini. Memori indah saat ia pertama kali menginjakkan kaki di sini. Memori saat ia berhasil membuat halamannya yang tadinya gersang berubah hijau dan cantik. Juga memori ketika dirinya dan Aslan menikmati semuanya di teras kecil itu.
Keluar dari mobilnya, pandangan Mei terarah pada taman di seberang rumah ini yang sekarang cukup sepi.
"Ugh!"
Satu tangan wanita itu memayungi kedua matanya. Terik matahari serasa menusuk kepala dan kulitnya, padahal waktu belum menunjukkan tengah hari.
Membuka pelan pintu pagar berat itu, pandangan Mei tertuju pada mobil yang telah terparkir di sana. Aslan ternyata belum mengganti mobil tuanya. Ia masih setia menggunakan mobil yang pertama kali dibelinya itu saat usia pernikahan mereka baru berjalan 2 bulan.
Ingatannya melayang ke masa-masa itu, saat Aslan pertama kali meminta izin padanya.
Hati Mei perlahan sedih. Mereka sebenarnya dari awal telah mendiskusikan hal-hal seperti masalah keuangan dan juga pengaturan di dalam rumah tangga. Tapi ketika bunda sudah mengatakan sesuatu, sepertinya apa yang tadinya mereka sudah sepakati menjadi buyar semuanya.
Dari mulai pengaturan mencuci piring, membersihkan rumah, mencuci pakaian dan hal-hal sepele lainnya. Tadinya ia dan suaminya sudah ada kesepakatan bersama. Mereka tidak akan menggunakan ART dan akan mengerjakan semua sendiri saat mampu. Keduanya juga sepakat Mei akan tetap kerja sampai mereka punya anak nanti. Tapi sepertinya, tidak ada satu pun yang konsisten sampai mereka berpisah 7 tahun lalu.
Kini saat ia lebih matang, Mei sadar kenapa dulu ia sulit mengandung. Dari pemeriksaan tidak ada satu pun dari keduanya yang bermasalah tapi tanpa diketahui suaminya, dirinya sebenarnya sangat tertekan selama pernikahan mereka. Ia sangat stress saat itu.
Dirinya ingin curhat tapi tidak punya teman yang bisa dipercaya. Semua teman dekatnya adalah orang kantor dan ia hampir tidak pernah bertemu mereka lagi, semenjak memutuskan resign.
Satu-satunya pelarian adalah ke tanaman. Bercocok tanam yang membuatnya masih waras selama menikah.
Melihat tanaman yang dirawatnya dulu penuh kasih sayang masih terawat baik, hati Mei teriris lagi.
Apa mas Aslan sudah menikahi Christine? Apa Christine juga senang tanaman?
"Mei?"
Panggilan terkejut itu membuat Mei menoleh. Suaminya ternyata telah berdiri di depan pintu. Tangan pria itu tampak memangku seekor kucing lucu berwarna putih dan gemuk.
Sejak kapan mas Aslan suka kucing?
Tatapan Mei terarah pada kucing bermata biru itu. "Siapa namanya, mas?"
"Uh!"
Kucing itu melompat dari pangkuan Aslan dan berjalan menghampiri Mei. Tampak kepalanya mendongak penuh rasa ingin tahu. Suaranya terdengar mengeong pelan.
Senyuman Mei melebar. Dari dulu, ia suka binatang tapi saat itu, bunda tidak memperbolehkan peliharaan. Mertuanya itu takut kucing membuat kotor rumah. Pada dasarnya, ibu suaminya memang tidak suka hewan.
Berjongkok, ia mengelus kepala kucing itu penuh kasih sayang. Terdengar dengkuran pelan dari mulutnya.
"Lucu banget kamu, sayang..."
Aslan hanya memandang interaksi keduanya dari depan pintu. Ia berkata pelan, "Namanya si 'cantik'."
Mata Mei naik dan menatap heran suaminya. "Si cantik?"
Lelaki itu hanya mengangguk dan keduanya bertatapan dalam diam.
Jantung Mei mulai berdebar. Cantik adalah nama yang pernah ia berikan pada seekor kucing kampung yang ada di kantornya dulu. Ia cukup sering memberi makan kucing kesayangan para karyawan itu, dan pernah beberapa kali menceritakannya pada Aslan saat mereka masih tahap pendekatan dulu.
Apa mungkin mas Aslan masih mengingat itu?
Pengalamannya di masa lalu, membuat Mei tidak ingin memiliki harapan yang terlalu tinggi lagi.
Ia pernah berharap banyak pada suaminya, tapi ternyata harus kecewa juga. Masalahnya, bukan karena pria itu mengecewakannya. Tapi justru faktor eksternal di luar mereka berdua yang membuatnya harus mundur dan memilih pergi dari hidup lelaki itu. Faktor yang sama sekali di luar prediksinya.
Tersenyum, Mei berdiri dari jongkoknya dan tubuhnya hampir jatuh lagi ke lantai.
"Meichan!"
Kedua mata Mei memejam erat dan nafasnya sedikit berat. Ia cukup pusing karena matahari yang bersinar sangat terik di luar. Ia hanya bisa pasrah saat merasakan gendongan mantap dari suaminya.
"Ayo sayang. Kamu butuh asupan dingin sekarang."
Berada dalam pelukan suaminya, perlahan mata Mei membuka. Ia bisa menatap leher jenjang lelaki itu di depannya. Jakun pria itu yang menonjol membuat matanya terfokus ke sana. Terlihat bulu-bulu halus Aslan berwarna gelap yang mulai tumbuh di sekitar rahang dan juga mulutnya.
Kedua tangan Mei terangkat dan memeluk leher suaminya erat.
"Meichan?"
Suara Mei pecah dan terdengar isakan dari mulut wanita itu, "Mei rindu mas Aslan... Mei sangat rindu, mas."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
♡Ñùř♡
😭😭😭
2024-10-12
0
Sunaryati
Jika Ashlan tidak jadi menikah dengan Cristin, kembalilah. Namun jika sudah menikah lebih baik mundur dari pada sakit hati
2024-09-19
0