"Apa perlu saya ikut, sir? Saya kira lebih baik Anda saja yang makan malam dengan pak Stanley besok."
Tampak pria di depannya mend*sah.
"Mei. Kau ini tahu kan, aku sebenarnya bukan orang yang suka bersosialisasi. Aku hanya butuh dirimu untuk menemani saja. Setidaknya, aku tahu aku tidak sendirian. Apalagi Stanley akan membawa bawahannya yang kemarin, dan dua rekannya yang lain. Akan lucu kan kalau aku cuman sendirian?"
Kali ini, Mei yang menghela nafasnya berat. Ia meletakkan garpunya pelan.
"Tapi Anda sebenarnya tidak butuh saya, sir... Anda juga sudah cukup kenal mereka semua, kan?"
"Aku hanya mengenal permukaannya saja, Mei. Kau cukup hadir saja di sana. Itu saja. Kau juga orang lokal sini kan? Jadi kalau misalnya aku ada kesulitan, aku bisa mengandalkanmu nanti."
Saat mendengarnya, mata sipit Mei semakin memicing.
"Anda tidak ada rencana ke klub malam, kan? Saya tidak mau kerepotan harus menyeret Anda ke airport besok paginya. Kalau Anda sampai mabuk, saya akan langsung meninggalkan Anda."
"Mei! Kau ini sekretarisku kan!?"
Kedua tangan Mei menyilang di depan d*danya. Wajahnya mengeras.
"Justru karena itu. Saya ini sekretaris Anda, sir. Dan bukan bodyguard Anda. Sekali lagi saya katakan, saya akan tinggalkan Anda kalau Anda sampai mabuk di klub. Kalau Anda tidak bisa janji, silahkan cari yang lain."
Kesal, Conrad menyender di kursinya. Mulut pria itu cemberut.
"Kau ini seperti isteriku saja, Meilany! Mungkin seharusnya kita menikah saja!"
Perkataan itu membuat Mei terkekeh. "Apa Anda melamar saya, sir?"
Salah satu sudut mulut Conrad terangkat jijik. "Dalam mimpimu, Meilany. Aku tidak tahan isteri sepertimu!"
Tawa keras terdengar dari mulut Mei, yang diikuti Conrad di depannya.
Keduanya masih tertawa, sampai pria itu menatap Mei dengan ekspresi rileks.
"Terima kasih, Mei. Kau mau ikut ke sini dan selalu menemani dari dulu. Kalau tidak ada dirimu, aku tidak tahu lagi arah hidupku semenjak orangtuaku meninggal. Kau penolongku, Meilany."
Mendengar itu, Mei hanya tersenyum lebar.
"Anda kan memang meng-hire-ku dulu untuk mengatur semuanya, sir. Saya senang bisa membantu Anda di perusahaan. Selama saya dibayar tinggi."
Perkataan jujur itu direspon Conrad dengan kekehan. Tangan pria itu menangkup tangan Mei di meja.
"Tapi aku serius tadi, Mei. Aku serius dengan perkataanku. Sudah 3 tahun ini, aku menunggumu. Apa yang membuatmu masih tidak mau menerimanya?"
Mata wanita itu sejenak menatap tangan Conrad di atas meja. Perlahan, ia menarik tangannya sendiri.
"Anda tahu dari dulu kalau saya sudah terikat, sir."
Jawaban wanita itu membuat Conrad membuang pandangannya. Pria itu terlihat sangat kesal, juga marah.
"Sudahlah, Mei! Jangan cari-cari alasan lagi. Sejak dulu, kau selalu bilang sudah bersuami, tapi tidak sekali pun kau pernah membawanya ke depan hidungku! Kalau kau memang tidak mau memberiku kesempatan, tolong bilang saja kau tidak tertarik. Aku bisa menerima penolakan itu lebih terbuka, dibanding mendengar alasanmu yang sudah terikat dengan orang lain!"
Pandangan wanita itu yang tadinya tertunduk, perlahan naik. Ia menatap pria di depannya dengan tatapan yang sangat tenang. Wajahnya yang cantik tidak menunjukkan ekspresi, selain ketenangan.
"Baiklah. Karena Anda menginginkan kejujuran, maka saya akan jujur untuk kali ini, sir. Saya akui, saya sama sekali tidak tertarik dengan Anda. Bukan karena Anda tidak tampan atau tidak memiliki kualitas yang saya inginkan, tapi karena saya memang TIDAK BISA tertarik pada pria lain selain dengan suami saya."
Tanpa diinginkan Conrad, penolakan itu ternyata menimbulkan rasa sakit di d*danya. Pria itu menelan ludah dan menatap wanita di depannya lebih tajam.
"Kenapa kau tidak bisa tertarik padaku, Mei? Apa karena kau masih mencintai pria itu? Aku yakin, kalau kau memberiku kesempatan, aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Kau hanya perlu memberiku waktu."
Pernyataan penuh percaya diri itu membuat Mei terdiam sejenak, tapi wanita itu akhirnya menggeleng.
"Kesempatan itu mungkin memang ada, sir. Tapi saya tidak menginginkannya."
"Kenapa!?"
Nafas Conrad mulai tidak teratur. Ia benar-benar merasa harga dirinya tertampar oleh wanita ini.
Terlihat kilasan kesedihan di mata sipit wanita itu yang cukup mengejutkan Conrad. Bibir merah muda Mei tampak mengukir senyum penuh ironi untuknya.
"Karena sampai kapan pun, saya tidak akan pernah bisa menikah dengan Anda, sir. Saya memiliki keyakinan yang berbeda dari Anda, keyakinan yang tidak akan pernah saya ubah hingga saya mati nanti. Dan benar seperti kata Anda tadi, saya masih mencintai suami saya. Meski saya mungkin tidak bisa bersatu lagi dengan dia, tapi saya akan tetap mencintai dia. Saya tidak akan pernah menikah lagi, jadi percuma Anda menunggu saya, sir. Penantian Anda akan sia-sia saja. Lebih baik Anda mencari wanita lain, dibanding menunggu saya."
Lama setelah Mei pergi, Conrad masih terduduk di tempatnya. Sambil melamun, pria itu minum entah sudah gelas ke berapa. Ia baru saja akan minum lagi, saat menyadari botolnya sudah kosong.
Tampak satu pelayan pria menghampirinya. "Maaf, Tuan. Sebentar lagi restoran akan ditutup."
Melihat jam di tangannya, waktu ternyata sudah menunjukkan tengah malam. Menghela nafasnya, Conrad mengangguk dan berusaha memberikan senyuman singkat.
"Saya akan segera pergi. Terima kasih."
Segera setelah pelayan itu pergi, Conrad merasakan matanya sedikit basah. Air yang tadinya hanya terasa menggenangi kelopaknya, perlahan turun ke pipinya lebih banyak.
Menutup wajah dengan tangannya, pria itu terkekeh pelan.
"Ternyata, aku mencintaimu, Mei... Aku jatuh cinta pada wanita yang jelas-jelas mencintai lelaki lain..."
Pria itu terkekeh menertawakan kebodohannya. Kekehan yang perlahan berubah menjadi isakan pelan.
Sementara itu di dalam kamar hotelnya sendiri, tampak Mei menatap cincin di tangannya. Jari-jarinya yang lentik mengelus lembut ukiran nama di dalam cincin itu.
Tatapannya sendu, dan setetes air mengaliri pipinya.
Pertemuan hari ini dengan Aslan, kembali membuat hati Mei sakit. Ia tahu luka ini tidak akan pernah sembuh. Ia tahu pasti, karena semenjak meninggalkan suaminya dulu, ia akhirnya sadar dengan perasaannya.
Alasan kenapa ia sakit hati saat melihat lelaki itu bersama wanita lain, dan alasan kenapa dia pergi dulu.
"Aku mencintaimu, mas Aslan... Aku selalu mencintaimu... Aku rela melepasmu kalau kamu bahagia, tapi aku tidak bisa melihatmu bersama wanita lain... Aku tidak sanggup... Aku tidak bisa... Maafkan aku, mas..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
cinta semu
kalo masih cinta knp jaga gengsi ...yg penting suami ada di sisi ny kn beres ...u tinggal nunggu sisa2 cinta Aslan ...aneh 7 thn menghilang bukan ny waras malah kejebak masa lalu ...
2024-11-22
0
Ira
Kok ragu lanjut baca laah ceweknya bodoh.. Mau aja sma keluarga sesat.. Thanks thor
2024-10-27
0
Sri Ayuu
Mei pergi karena ga sanggup melihat Aslan minikah dengan Cristine, teka-teki nya apa alasan Aslan harus menikahi Cristine padahal Aslan sangat mencintai Mei???
kok aku ga yakin alasan yang diberikan oleh Bunda Mertua nya saat itu, masa' hanya karena Christine mualaf butuh imam makan Aslan harus menikahinya??? ga masuk akal...
Aslan juga sangat. terpukul saat Mei pergi meninggalkan nya...
Apa ini maksud nya???
kenapa Mei tidak mengurus perceraian dan masih memakai cincin pernikahan dari Aslan?
2024-10-26
3