Chapter 9 - Aslan

\= Salah satu restoran fine dining di kota J. Jam 7 malam \=

Tampak empat orang pria yang tadinya duduk itu berdiri berbarengan saat melihat tamunya mendekat.

"Conrad. Syukurlah kau datang. Aku kira kau menolak undanganku malam ini."

Jabatan tangan Conrad ke Stanley mengerat dan pria itu menoleh pada tiga pria lainnya di sana.

"Tuan Hagen. Tuan Herman. Saya senang akhirnya bertemu kalian semua."

Menepuk tangan Conrad, pria bermata kelabu di depannya tersenyum ramah.

"Jangan terlalu formal, Conrad. Kita sudah cukup akrab selama ini, meski belum pernah bertemu."

Pria itu terkekeh dan ia pun menjabat tangan Herman.

"Kau sudah dengar kata Hagen tadi kan? Jadi jangan terlalu sopan pada kami."

"Oh, aku tetap saja harus sopan, Herman. Karena aku membawa seorang wanita malam ini."

"Oh? Siapa ini, Conrad? Calonmu?"

Pertanyaan Hagen dijawab Conrad dengan tawa kecil.

"Aku juga berharap begitu. Tapi ini sekretaris yang paling aku andalkan. Meilany."

Tangan lelaki itu di punggung Mei dan mengarahkan wanita itu bersalaman dengan para pria di depannya.

"Selamat malam, pak. Saya Meilany dan tolong jangan dengarkan kata-kata dia tadi. Saya ini hanya sekretaris yang dia bayar tinggi untuk mengurus perusahaan."

Entah siapa yang mengaturnya, tapi saat duduk di meja bulat itu, Mei berada di tengah-tengah Conrad dan juga Aslan yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. Raut lelaki itu tampak datar dan dingin.

Makan malam itu berlangsung lancar. Selain makanan yang lezat luar biasa, obrolan pun berlangsung akrab dan menyenangkan. Cukup mengherankan, pria yang ia sangka pendiam dan kaku di sebelahnya, ternyata bisa membawa diri dengan luwes dan ramah.

Tanpa sadar, hati Mei perlahan mekar. Saat ia menatap pria itu, ia menyadari kalau ia belum pernah melihat sosok Aslan di luar rumah. Selama ini, ia hanya tahu lelaki itu sebagai suaminya saja dan bukan seseorang dengan profesi dan juga karir menjanjikan di luar sana.

Ketika menerima Aslan dulu sebagai suaminya, tidak sekali pun pernah terbersit dalam benak Mei mengenai pekerjaan atau pun gaji pria itu. Saat tahu lelaki itu sudah menjadi karyawan tetap dan juga memiliki rumah, keduanya telah cukup menyakinkan dirinya kalau pria itu sosok yang bertanggungjawab. Ia pun sama sekali tidak mempermasalahkan penghasilan lelaki itu yang dulu sedikit lebih rendah dibanding dirinya.

Ia tidak pernah menuntut apapun, sampai pada akhirnya ujian itu datang.

Ujian yang tidak bisa ia lalui dengan baik. Ia bahkan memilih untuk menghindar dibanding menghadapinya.

Tenggorokannya yang seret, membuat Mei meminum airnya tergesa dan membuatnya sedikit tumpah.

"Oh!"

"Mei!"

Beberapa pasang mata tampak membesar, saat melihat lelaki di sampingnya sigap membersihkan gaunnya.

Pria itu masih belum sadar banyak orang mengamatinya, sampai Mei menghentikannya.

"Sudah cukup pak... Ini cuman air putih kok. Tidak akan membekas."

Gerakan tangan Aslan di gaunnya terhenti mendadak, pria itu menengadah. Tampak jakunnya naik-turun saat ia baru menyadari perilakunya yang tidak biasa.

Canggung, lelaki tinggi itu berdiri. "Maaf. Saya permisi ke toilet sebentar."

Ketika sosok jangkung itu menghilang, terdengar suara Conrad di sampingnya.

"Ini perasaanku saja, atau bawahanmu itu memang sedikit... aneh?"

"Aneh?"

Pertanyaan dingin Herman membuat Conrad sedikit tidak enak.

"Maaf. Aku tidak bermaksud menyinggungmu, Man. Sepertinya memang hanya perasaanku saja."

"Tidak. Tidak, Conrad. Aku justru ingin mendengarnya. Kenapa kau anggap Aslan aneh?"

Kata-kata Stanley membuat Conrad menatap Herman, dan ternyata pria itu mengangguk kaku. Anggukan yang juga diberikan pria tampan bermata kelabu di depannya.

"Ya. Kami semua ingin mendengarnya. Katakan saja."

Suara serak Hagen pada akhirnya membuat Conrad menghela nafasnya panjang.

"Aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi ada sesuatu yang sepertinya disembunyikan orang itu, dan membuatku sedikit tidak nyaman saat berinteraksi dengannya. Tapi selain itu, anak buahmu itu sangat kompeten."

Ketiga pria di depannya saling berpandangan penuh arti, sampai terdengar suara serak Hagen kembali.

"Kau memang benar, Conrad. Kau punya mata yang cukup tajam. Sejak bergabung dengan TJ Corp. hampir tujuh tahun lalu, Aslan tidak pernah mendaftarkan keluarganya di data perusahaan. Ia hanya bilang dirinya telah menikah dan punya anak, tapi tidak ada yang tahu siapa nama isterinya atau anaknya."

Penjelasan itu membuat jantung Mei berdebar kencang di d*danya. Satu tangannya mengepal kuat.

"Banyak gosip kurang enak beredar di kantor. Karena kau bisa nilai sendiri. Pria itu tampan dan fisiknya oke, jadi cukup banyak karyawan wanita menaksirnya. Tapi statusnya yang tidak jelas, justru membuat mereka menyangka yang tidak-tidak. Ada yang bilang orang itu stress dan menjadi halu karena ditinggal isterinya. Ada juga yang bilang dia sebenarnya g*y, dan menyembunyikan kondisinya dibalik alasan sudah menikah. Tapi ada juga gosip mengatakan dia imp*ten. Intinya, tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya."

Perasaan Mei campur aduk di dalam. Ia sangat ingin membela lelaki yang masih berstatus suaminya, tapi tidak mungkin melakukannya terang-terangan.

"Mungkin dia hanya ingin menjaga privacy-nya. Atau bisa jadi pasangannya orang kantor juga?"

Perkataan pelan wanita itu membuat Hagen menatapnya sedikit intens. Pria itu perlahan tersenyum.

"Apa yang kau katakan bisa jadi benar, Mei. Kami juga tidak pernah mempermasalahkannya, selama Aslan menunjukkan performa maksimal dan tidak membuat masalah di perusahaan. Apapun kehidupan pribadi pria itu di luar kantor, bukan jadi urusan kami semua. Tapi memang, ada larangan hubungan romantis antara karyawan. Itu bisa jadi alasan yang kuat kenapa sampai sekarang Aslan menyembunyikan keluarganya."

Mata kelabu itu menatapnya lembut, seolah menembus jiwanya. Tidak nyaman, Mei segera menunduk.

Jantungnya masih berdebar keras, sampai seseorang kembali duduk di sampingnya.

"Maaf."

"Toiletnya di mana, Ash? Aku kebelet!"

Tangan Aslan menunjuk ke satu lokasi dan Stanley segera berdiri, yang diikuti dua pria lainnya. Tinggallah mereka bertiga dalam meja bundar yang besar itu.

Menumpu satu tangannya di meja, Conrad menatap pria di sebelah Mei.

"Apa kau minum, Aslan?"

Pertanyaan itu membuat Aslan terdiam sejenak, sebelum ia menjawab dengan senyuman.

"Tidak, Tuan Conrad. Saya tidak minum, tapi saya bisa menunjukkan Anda satu klub yang bagus di kota ini."

Jawaban yang tidak disangka itu membuat raut Conrad sumringah.

"Ini yang aku butuhkan! Kau ikut aku, Ash! Aku butuh pria sejati yang bisa menemaniku sampai aku teler!"

Terpopuler

Comments

Sunaryati

Sunaryati

Oh ternyata Mei keguguran ketika kecelakaan saat melihat Ashlan dan Cristin di Cafe, kasihan Mei

2024-09-10

0

Sunaryati

Sunaryati

Sebelum pergi kan mengabarkan kehamilan Mei pada Ashlan, mana anak Mei?

2024-09-10

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Sakit
2 Chapter 2 - Bunda
3 Chapter 3 - Ikhlas
4 Chapter 4 - Hilang
5 Chapter 5 - Pergi
6 Chapter 6 - Bertemu
7 Chapter 7 - Ancaman
8 Chapter 8 - Cinta
9 Chapter 9 - Aslan
10 Chapter 10 - Cemburu
11 Chapter 11 - Kenapa?
12 Chapter 12 - Rival
13 Chapter 13 - Suamiku
14 Chapter 14 - Rindu
15 Chapter 15 - Patah Hati
16 Chapter 16 - Memori
17 Chapter 17 - Putus
18 Chapter 18 - Kebenaran (1)
19 Chapter 19 - Kebenaran (2)
20 Chapter 20 - Cerai
21 Chapter 21 - Hancur
22 Chapter 22 - Gila
23 Chapter 23 - Dasi
24 Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25 Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26 Chapter 26 - Penolakan
27 Chapter 27 - Usaha
28 Chapter 28 - Mengulang
29 Chapter 29 - Sederhana
30 Chapter 30 - Bahagia
31 Chapter 31 - Mengabulkan
32 Chapter 32 - Momen
33 Chapter 33 - Int*m
34 Chapter 34 - Mundur
35 Chapter 35 - Gagal (1)
36 Chapter 36 - Gagal (2)
37 Chapter 37 - Kepercayaan
38 Chapter 38 - Perlawanan
39 Chapter 39 - Melindungi
40 Chapter 40 - Honeymoon (1)
41 Chapter 41 - Honeymoon (2)
42 Chapter 42 - Rendezvous (1)
43 Chapter 43 - Rendezvous (2)
44 Chapter 44 - Rendezvous (3)
45 Chapter 45 - Kesempatan
46 Chapter 46 - Diusir
47 Chapter 47 - Kesetiaan
48 Chapter 48 - Kabar
49 Chapter 49 - Welcoming
50 Chapter 50 - Memilih
51 Chapter 51 - Kecewa
52 Chapter 52 - Ketahuan
53 Chapter 53 - Berdebat
54 Chapter 54 - Keraguan
55 Chapter 55 - Kesadaran
56 Chapter 56 - Jatuh Cinta
57 Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58 Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59 Chapter 59 - Hagen
60 Chapter 60 - Keputusan
61 Chapter 61 - Pengakuan
62 Chapter 62 - Penyelesaian
63 Chapter 63 - 'Menembak'
64 Chapter 64 - Interogasi
65 Chapter 65 - Kencan (1)
66 Chapter 66 - Kencan (2)
67 Chapter 67 - Kembali
68 Chapter 68 - Bersatu
69 Chapter 69 - First Time
70 Chapter 70 - Memori Indah
71 Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72 EPILOG - Awal Mula
73 EPILOG - Hubungan Transaksional
74 EPILOG - Kemarahan Terpendam
75 EPILOG - Rencana Perjodohan
76 EPILOG - Pertemuan Pertama
77 EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78 EPILOG - Hati yang Ragu
79 EPILOG - Keputusan Meilany
80 EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81 Pengumuman karya baru - Maret 2025
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Chapter 1 - Sakit
2
Chapter 2 - Bunda
3
Chapter 3 - Ikhlas
4
Chapter 4 - Hilang
5
Chapter 5 - Pergi
6
Chapter 6 - Bertemu
7
Chapter 7 - Ancaman
8
Chapter 8 - Cinta
9
Chapter 9 - Aslan
10
Chapter 10 - Cemburu
11
Chapter 11 - Kenapa?
12
Chapter 12 - Rival
13
Chapter 13 - Suamiku
14
Chapter 14 - Rindu
15
Chapter 15 - Patah Hati
16
Chapter 16 - Memori
17
Chapter 17 - Putus
18
Chapter 18 - Kebenaran (1)
19
Chapter 19 - Kebenaran (2)
20
Chapter 20 - Cerai
21
Chapter 21 - Hancur
22
Chapter 22 - Gila
23
Chapter 23 - Dasi
24
Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25
Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26
Chapter 26 - Penolakan
27
Chapter 27 - Usaha
28
Chapter 28 - Mengulang
29
Chapter 29 - Sederhana
30
Chapter 30 - Bahagia
31
Chapter 31 - Mengabulkan
32
Chapter 32 - Momen
33
Chapter 33 - Int*m
34
Chapter 34 - Mundur
35
Chapter 35 - Gagal (1)
36
Chapter 36 - Gagal (2)
37
Chapter 37 - Kepercayaan
38
Chapter 38 - Perlawanan
39
Chapter 39 - Melindungi
40
Chapter 40 - Honeymoon (1)
41
Chapter 41 - Honeymoon (2)
42
Chapter 42 - Rendezvous (1)
43
Chapter 43 - Rendezvous (2)
44
Chapter 44 - Rendezvous (3)
45
Chapter 45 - Kesempatan
46
Chapter 46 - Diusir
47
Chapter 47 - Kesetiaan
48
Chapter 48 - Kabar
49
Chapter 49 - Welcoming
50
Chapter 50 - Memilih
51
Chapter 51 - Kecewa
52
Chapter 52 - Ketahuan
53
Chapter 53 - Berdebat
54
Chapter 54 - Keraguan
55
Chapter 55 - Kesadaran
56
Chapter 56 - Jatuh Cinta
57
Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58
Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59
Chapter 59 - Hagen
60
Chapter 60 - Keputusan
61
Chapter 61 - Pengakuan
62
Chapter 62 - Penyelesaian
63
Chapter 63 - 'Menembak'
64
Chapter 64 - Interogasi
65
Chapter 65 - Kencan (1)
66
Chapter 66 - Kencan (2)
67
Chapter 67 - Kembali
68
Chapter 68 - Bersatu
69
Chapter 69 - First Time
70
Chapter 70 - Memori Indah
71
Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72
EPILOG - Awal Mula
73
EPILOG - Hubungan Transaksional
74
EPILOG - Kemarahan Terpendam
75
EPILOG - Rencana Perjodohan
76
EPILOG - Pertemuan Pertama
77
EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78
EPILOG - Hati yang Ragu
79
EPILOG - Keputusan Meilany
80
EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81
Pengumuman karya baru - Maret 2025

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!