\= Salah satu restoran fine dining di kota J. Jam 7 malam \=
Tampak empat orang pria yang tadinya duduk itu berdiri berbarengan saat melihat tamunya mendekat.
"Conrad. Syukurlah kau datang. Aku kira kau menolak undanganku malam ini."
Jabatan tangan Conrad ke Stanley mengerat dan pria itu menoleh pada tiga pria lainnya di sana.
"Tuan Hagen. Tuan Herman. Saya senang akhirnya bertemu kalian semua."
Menepuk tangan Conrad, pria bermata kelabu di depannya tersenyum ramah.
"Jangan terlalu formal, Conrad. Kita sudah cukup akrab selama ini, meski belum pernah bertemu."
Pria itu terkekeh dan ia pun menjabat tangan Herman.
"Kau sudah dengar kata Hagen tadi kan? Jadi jangan terlalu sopan pada kami."
"Oh, aku tetap saja harus sopan, Herman. Karena aku membawa seorang wanita malam ini."
"Oh? Siapa ini, Conrad? Calonmu?"
Pertanyaan Hagen dijawab Conrad dengan tawa kecil.
"Aku juga berharap begitu. Tapi ini sekretaris yang paling aku andalkan. Meilany."
Tangan lelaki itu di punggung Mei dan mengarahkan wanita itu bersalaman dengan para pria di depannya.
"Selamat malam, pak. Saya Meilany dan tolong jangan dengarkan kata-kata dia tadi. Saya ini hanya sekretaris yang dia bayar tinggi untuk mengurus perusahaan."
Entah siapa yang mengaturnya, tapi saat duduk di meja bulat itu, Mei berada di tengah-tengah Conrad dan juga Aslan yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. Raut lelaki itu tampak datar dan dingin.
Makan malam itu berlangsung lancar. Selain makanan yang lezat luar biasa, obrolan pun berlangsung akrab dan menyenangkan. Cukup mengherankan, pria yang ia sangka pendiam dan kaku di sebelahnya, ternyata bisa membawa diri dengan luwes dan ramah.
Tanpa sadar, hati Mei perlahan mekar. Saat ia menatap pria itu, ia menyadari kalau ia belum pernah melihat sosok Aslan di luar rumah. Selama ini, ia hanya tahu lelaki itu sebagai suaminya saja dan bukan seseorang dengan profesi dan juga karir menjanjikan di luar sana.
Ketika menerima Aslan dulu sebagai suaminya, tidak sekali pun pernah terbersit dalam benak Mei mengenai pekerjaan atau pun gaji pria itu. Saat tahu lelaki itu sudah menjadi karyawan tetap dan juga memiliki rumah, keduanya telah cukup menyakinkan dirinya kalau pria itu sosok yang bertanggungjawab. Ia pun sama sekali tidak mempermasalahkan penghasilan lelaki itu yang dulu sedikit lebih rendah dibanding dirinya.
Ia tidak pernah menuntut apapun, sampai pada akhirnya ujian itu datang.
Ujian yang tidak bisa ia lalui dengan baik. Ia bahkan memilih untuk menghindar dibanding menghadapinya.
Tenggorokannya yang seret, membuat Mei meminum airnya tergesa dan membuatnya sedikit tumpah.
"Oh!"
"Mei!"
Beberapa pasang mata tampak membesar, saat melihat lelaki di sampingnya sigap membersihkan gaunnya.
Pria itu masih belum sadar banyak orang mengamatinya, sampai Mei menghentikannya.
"Sudah cukup pak... Ini cuman air putih kok. Tidak akan membekas."
Gerakan tangan Aslan di gaunnya terhenti mendadak, pria itu menengadah. Tampak jakunnya naik-turun saat ia baru menyadari perilakunya yang tidak biasa.
Canggung, lelaki tinggi itu berdiri. "Maaf. Saya permisi ke toilet sebentar."
Ketika sosok jangkung itu menghilang, terdengar suara Conrad di sampingnya.
"Ini perasaanku saja, atau bawahanmu itu memang sedikit... aneh?"
"Aneh?"
Pertanyaan dingin Herman membuat Conrad sedikit tidak enak.
"Maaf. Aku tidak bermaksud menyinggungmu, Man. Sepertinya memang hanya perasaanku saja."
"Tidak. Tidak, Conrad. Aku justru ingin mendengarnya. Kenapa kau anggap Aslan aneh?"
Kata-kata Stanley membuat Conrad menatap Herman, dan ternyata pria itu mengangguk kaku. Anggukan yang juga diberikan pria tampan bermata kelabu di depannya.
"Ya. Kami semua ingin mendengarnya. Katakan saja."
Suara serak Hagen pada akhirnya membuat Conrad menghela nafasnya panjang.
"Aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi ada sesuatu yang sepertinya disembunyikan orang itu, dan membuatku sedikit tidak nyaman saat berinteraksi dengannya. Tapi selain itu, anak buahmu itu sangat kompeten."
Ketiga pria di depannya saling berpandangan penuh arti, sampai terdengar suara serak Hagen kembali.
"Kau memang benar, Conrad. Kau punya mata yang cukup tajam. Sejak bergabung dengan TJ Corp. hampir tujuh tahun lalu, Aslan tidak pernah mendaftarkan keluarganya di data perusahaan. Ia hanya bilang dirinya telah menikah dan punya anak, tapi tidak ada yang tahu siapa nama isterinya atau anaknya."
Penjelasan itu membuat jantung Mei berdebar kencang di d*danya. Satu tangannya mengepal kuat.
"Banyak gosip kurang enak beredar di kantor. Karena kau bisa nilai sendiri. Pria itu tampan dan fisiknya oke, jadi cukup banyak karyawan wanita menaksirnya. Tapi statusnya yang tidak jelas, justru membuat mereka menyangka yang tidak-tidak. Ada yang bilang orang itu stress dan menjadi halu karena ditinggal isterinya. Ada juga yang bilang dia sebenarnya g*y, dan menyembunyikan kondisinya dibalik alasan sudah menikah. Tapi ada juga gosip mengatakan dia imp*ten. Intinya, tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya."
Perasaan Mei campur aduk di dalam. Ia sangat ingin membela lelaki yang masih berstatus suaminya, tapi tidak mungkin melakukannya terang-terangan.
"Mungkin dia hanya ingin menjaga privacy-nya. Atau bisa jadi pasangannya orang kantor juga?"
Perkataan pelan wanita itu membuat Hagen menatapnya sedikit intens. Pria itu perlahan tersenyum.
"Apa yang kau katakan bisa jadi benar, Mei. Kami juga tidak pernah mempermasalahkannya, selama Aslan menunjukkan performa maksimal dan tidak membuat masalah di perusahaan. Apapun kehidupan pribadi pria itu di luar kantor, bukan jadi urusan kami semua. Tapi memang, ada larangan hubungan romantis antara karyawan. Itu bisa jadi alasan yang kuat kenapa sampai sekarang Aslan menyembunyikan keluarganya."
Mata kelabu itu menatapnya lembut, seolah menembus jiwanya. Tidak nyaman, Mei segera menunduk.
Jantungnya masih berdebar keras, sampai seseorang kembali duduk di sampingnya.
"Maaf."
"Toiletnya di mana, Ash? Aku kebelet!"
Tangan Aslan menunjuk ke satu lokasi dan Stanley segera berdiri, yang diikuti dua pria lainnya. Tinggallah mereka bertiga dalam meja bundar yang besar itu.
Menumpu satu tangannya di meja, Conrad menatap pria di sebelah Mei.
"Apa kau minum, Aslan?"
Pertanyaan itu membuat Aslan terdiam sejenak, sebelum ia menjawab dengan senyuman.
"Tidak, Tuan Conrad. Saya tidak minum, tapi saya bisa menunjukkan Anda satu klub yang bagus di kota ini."
Jawaban yang tidak disangka itu membuat raut Conrad sumringah.
"Ini yang aku butuhkan! Kau ikut aku, Ash! Aku butuh pria sejati yang bisa menemaniku sampai aku teler!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Sunaryati
Oh ternyata Mei keguguran ketika kecelakaan saat melihat Ashlan dan Cristin di Cafe, kasihan Mei
2024-09-10
0
Sunaryati
Sebelum pergi kan mengabarkan kehamilan Mei pada Ashlan, mana anak Mei?
2024-09-10
0