Chapter 7 - Ancaman

Sepanjang pertemuan, benak Mei terasa kosong. Telinganya tidak bisa mendengar apapun, Matanya tidak bisa melihat apapun. Ia seolah menjadi patung, di tengah para pria yang saling berdiskusi di depannya.

Bola matanya hanya bisa menatap kosong lelaki yang saat ini sedang berbicara di depan layar proyektor.

Lelaki yang dulu tinggi cenderung sedikit gemuk itu, sekarang tubuhnya terlihat langsing dan atletis. Pipinya pun tampak tirus, menonjolkan tulang pipinya yang tinggi dan rahangnya yang keras.

Sejak dulu, Mei tahu Aslan lelaki yang tampan. Tapi sekarang, pria itu terlihat jauh lebih tampan.

Tidak ada lagi sisa fisik yang dikenal Mei saat mereka bersama dulu, selain sepasang mata tajam berwarna cokelat terang. Bahkan mata itu kini bersinar berbeda. Mata yang dulu sering menatapnya datar, kini tampak memandanginya lebih tajam dan seolah ingin memangsanya. Mata seorang predator.

Menundukkan pandangannya, Mei menatap recorder di depannya. Ia ingin pertemuan ini segera berakhir.

Memandang puas bawahannya, Stanley tersenyum lebar pada Conrad.

"Jadi begitu penjelasannya. Ada yang mau kau tanyakan lebih lanjut?"

Senyuman Conrad sumringah. Lelaki itu menoleh pada sekretarisnya.

"Dari aku tidak ada. Bagaimana denganmu, Mei? Biasanya kau lebih kritis dibanding aku."

Kelopak mata Mei mengerjap cepat. Ia bisa melihat kilat berbahaya di kedua mata Aslan.

Wanita itu berdehem gugup dan mengalihkan perhatiannya pada Stanley yang berwajah lebih ramah.

"Dari saya tidak ada pak Stanley. Sepertinya semua berjalan cukup lancar."

Jawaban itu cukup memuaskan Stanley. Ia mengangguk senang.

"Kalau begitu, biar aku menunjukkan perusahaan ini pada kalian. Jadi kalian sebagai investor, tidak ragu lagi menanamkan modalnya lebih banyak ke TJ Corp."

Kekehan terdengar dari mulut Conrad. "Tentu saja, Stan. Itu yang kami mau. Bukan begitu, Mei?"

Wanita itu hanya bisa memberikan senyuman canggung. Bulu kuduknya mulai berdiri, dan ia bisa merasakan seseorang sedang menatapnya tajam dari seberang ruangan.

"Betul sekali, Tuan Conrad. Tapi jangan lupa, kita masih ada jadwal lain setelah ini."

"Oh? Kalian ada kunjungan lain?"

Tatapan Conrad tampak menyesal. "Iya Stan. Aku dan Mei harus pergi lagi setelah ini. Kami ada..."

Penjelasan atasannya tidak didengar Mei saat matanya berserobok dengan mata cokelat terang di depannya. Tampak mata itu menatapnya intens dan bibirnya yang merah muda menipis. Rahang kuat itu mengeras.

Tubuh wanita itu terasa bergetar, sampai ia merasakan tepukan pelan di bahunya.

"Mei? Kau baik-baik saja?"

Kembali mata Mei mengerjap pelan. Tampak tiga orang lelaki di depannya sudah berdiri dan menatapnya.

"Ya. Saya baik-baik saja, sir. Tidak masalah."

Pandangan Conrad tampak bertanya, tapi pria mengangguk singkat.

"Oke, Stan. Kau bisa menunjukkan kantor ini padaku sekarang."

Stanley terkekeh dan pria itu menatap Aslan bertanya.

"Kau yakin bisa ikut, Ash? Bukannya kau ada meeting dengan timmu sekarang?"

Aslan tersenyum ramah. "Tidak masalah pak. Mereka akan menghubungi kalau memang ada masalah."

Tepukan ringan diberikan Stanley pada bahu bawahannya. "Terima kasih, Ash."

Luwes, Aslan berdiri di samping Mei dan membiarkan dua orang pria di depannya berjalan duluan ke arah lift. Terdengar kembali suara Stanley berbicara pada Conrad di sampingnya.

"Maaf, Conrad. Hagen dan Herman tidak bisa hadir hari ini. Mereka tiba-tiba harus keluar kantor."

"Tidak masalah, Stan. Kemarin aku juga sudah sempat meeting dengan mereka, bukan? Hari ini juga hanya sebatas kunjungan informal. Kebetulan aku ke Indonesia, jadi sekalian mampir."

Kedua orang di depan itu masih bercakap-cakap, sampai terdengar bisikan berat dari sebelah Mei.

"Kamu masih pakai cincinku."

Kata-kata itu membuat jantung Mei melompat. Sekuat tenaga, wanita itu mempertahankan ekspresinya.

"Kita mau ke mana dulu?" Conrad bertanya riang.

"Ke lantai timnya Herman dan aku saja dulu. Baru setelah itu, aku akan mengajakmu ke ruangan IT dan juga server. Kau juga perlu melihat kantin kebanggaan TJ Corp. Makanannya enak."

"Oh ya?"

Kekehan terdengar dari mulut Stanley saat pria itu menekan tombol lift.

"Cukup enak, kalau kau tahan pedas, Conrad. Pertanyaannya, apa kau bisa makan chili?"

"Mungkin aku pass dulu, Stan. Kemarin di Bali, perutku bermasalah karena makan makanan cukup pedas. Mei sampai harus membawaku ke rumah sakit. Benar kan, Mei?"

Refleks, Mei yang berdiri di belakang Conrad tertawa pelan.

"Kalau hanya soal makanan, itu tidak jadi masalah, sir. Masalahnya adalah, campuran antara chili dan juga minuman keras setelah Anda berpesta pora yang membuat Anda muntah-muntah. Bukan begitu, sir?"

Sedikit menoleh pada sekretarisnya, Conrad tersenyum dibuat-dibuat.

"Mungkin kau perlu menutup mulut cantikmu sebentar, Mei?"

"Tidak akan."

Perdebatan dua orang itu memancing tawa di dalam lift. Semua orang tertawa terkecuali satu orang. Tangan Aslan tampak mengepal kencang di samping tubuhnya.

"Aku ingin mengajak kalian makan malam. Sampai kapan kalian di Indonesia?"

"Aku dua hari lagi pulang. Tapi Mei sepertinya akan sedikit lebih lama. Sampai kapan kau ambil cuti, Mei?"

"Minggu depan saya akan pulang, sir."

Kepala Stanley mengangguk dan ia sedikit menatap pada Mei di belakangnya.

"Kau orang Indonesia asli?"

"Benar pak. Saya lahir dan besar di sini."

Sebelum Stanley dapat bertanya lebih jauh, lift telah berhenti di lantai yang mereka tuju.

"Kita sudah sampai. Ayo, aku akan memperkenalkan PIC dari masing-masing departemen."

Dua pria itu keluar dari dalam lift. Kaki Mei baru saja akan melangkah, saat ia merasakan tepukan keras yang diikuti r*masan kurang ajar di p*ntatnya.

Seluruh badannya merinding saat tangan besar di b*kongnya itu mer*mas lebih kuat bagian tubuhnya.

"Kamu itu masih isteriku, Meichan. Jangan lupakan itu! Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu sampai main-main dengan lelaki lain! Ingat itu!"

Bersamaan dengan bisikan penuh ancaman itu, Aslan keluar dari lift meninggalkan Mei yang membeku.

Terpopuler

Comments

cinta semu

cinta semu

setelah 7 thn masih menanyakan status ...suami apa'an 😂🤣aneh u Mei dah lama juga g ketemu Aslan masih gugup aja ...kalo masih cinta ngapain kabur ... berharap u wanita tangguh & Badas ...tapi ternyata ...😛😡

2024-11-22

0

Sunaryati

Sunaryati

Kamu saja menikahi mantanmu, cari yang lain Mei

2024-09-10

2

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Sakit
2 Chapter 2 - Bunda
3 Chapter 3 - Ikhlas
4 Chapter 4 - Hilang
5 Chapter 5 - Pergi
6 Chapter 6 - Bertemu
7 Chapter 7 - Ancaman
8 Chapter 8 - Cinta
9 Chapter 9 - Aslan
10 Chapter 10 - Cemburu
11 Chapter 11 - Kenapa?
12 Chapter 12 - Rival
13 Chapter 13 - Suamiku
14 Chapter 14 - Rindu
15 Chapter 15 - Patah Hati
16 Chapter 16 - Memori
17 Chapter 17 - Putus
18 Chapter 18 - Kebenaran (1)
19 Chapter 19 - Kebenaran (2)
20 Chapter 20 - Cerai
21 Chapter 21 - Hancur
22 Chapter 22 - Gila
23 Chapter 23 - Dasi
24 Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25 Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26 Chapter 26 - Penolakan
27 Chapter 27 - Usaha
28 Chapter 28 - Mengulang
29 Chapter 29 - Sederhana
30 Chapter 30 - Bahagia
31 Chapter 31 - Mengabulkan
32 Chapter 32 - Momen
33 Chapter 33 - Int*m
34 Chapter 34 - Mundur
35 Chapter 35 - Gagal (1)
36 Chapter 36 - Gagal (2)
37 Chapter 37 - Kepercayaan
38 Chapter 38 - Perlawanan
39 Chapter 39 - Melindungi
40 Chapter 40 - Honeymoon (1)
41 Chapter 41 - Honeymoon (2)
42 Chapter 42 - Rendezvous (1)
43 Chapter 43 - Rendezvous (2)
44 Chapter 44 - Rendezvous (3)
45 Chapter 45 - Kesempatan
46 Chapter 46 - Diusir
47 Chapter 47 - Kesetiaan
48 Chapter 48 - Kabar
49 Chapter 49 - Welcoming
50 Chapter 50 - Memilih
51 Chapter 51 - Kecewa
52 Chapter 52 - Ketahuan
53 Chapter 53 - Berdebat
54 Chapter 54 - Keraguan
55 Chapter 55 - Kesadaran
56 Chapter 56 - Jatuh Cinta
57 Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58 Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59 Chapter 59 - Hagen
60 Chapter 60 - Keputusan
61 Chapter 61 - Pengakuan
62 Chapter 62 - Penyelesaian
63 Chapter 63 - 'Menembak'
64 Chapter 64 - Interogasi
65 Chapter 65 - Kencan (1)
66 Chapter 66 - Kencan (2)
67 Chapter 67 - Kembali
68 Chapter 68 - Bersatu
69 Chapter 69 - First Time
70 Chapter 70 - Memori Indah
71 Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72 EPILOG - Awal Mula
73 EPILOG - Hubungan Transaksional
74 EPILOG - Kemarahan Terpendam
75 EPILOG - Rencana Perjodohan
76 EPILOG - Pertemuan Pertama
77 EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78 EPILOG - Hati yang Ragu
79 EPILOG - Keputusan Meilany
80 EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81 Pengumuman karya baru - Maret 2025
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Chapter 1 - Sakit
2
Chapter 2 - Bunda
3
Chapter 3 - Ikhlas
4
Chapter 4 - Hilang
5
Chapter 5 - Pergi
6
Chapter 6 - Bertemu
7
Chapter 7 - Ancaman
8
Chapter 8 - Cinta
9
Chapter 9 - Aslan
10
Chapter 10 - Cemburu
11
Chapter 11 - Kenapa?
12
Chapter 12 - Rival
13
Chapter 13 - Suamiku
14
Chapter 14 - Rindu
15
Chapter 15 - Patah Hati
16
Chapter 16 - Memori
17
Chapter 17 - Putus
18
Chapter 18 - Kebenaran (1)
19
Chapter 19 - Kebenaran (2)
20
Chapter 20 - Cerai
21
Chapter 21 - Hancur
22
Chapter 22 - Gila
23
Chapter 23 - Dasi
24
Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25
Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26
Chapter 26 - Penolakan
27
Chapter 27 - Usaha
28
Chapter 28 - Mengulang
29
Chapter 29 - Sederhana
30
Chapter 30 - Bahagia
31
Chapter 31 - Mengabulkan
32
Chapter 32 - Momen
33
Chapter 33 - Int*m
34
Chapter 34 - Mundur
35
Chapter 35 - Gagal (1)
36
Chapter 36 - Gagal (2)
37
Chapter 37 - Kepercayaan
38
Chapter 38 - Perlawanan
39
Chapter 39 - Melindungi
40
Chapter 40 - Honeymoon (1)
41
Chapter 41 - Honeymoon (2)
42
Chapter 42 - Rendezvous (1)
43
Chapter 43 - Rendezvous (2)
44
Chapter 44 - Rendezvous (3)
45
Chapter 45 - Kesempatan
46
Chapter 46 - Diusir
47
Chapter 47 - Kesetiaan
48
Chapter 48 - Kabar
49
Chapter 49 - Welcoming
50
Chapter 50 - Memilih
51
Chapter 51 - Kecewa
52
Chapter 52 - Ketahuan
53
Chapter 53 - Berdebat
54
Chapter 54 - Keraguan
55
Chapter 55 - Kesadaran
56
Chapter 56 - Jatuh Cinta
57
Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58
Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59
Chapter 59 - Hagen
60
Chapter 60 - Keputusan
61
Chapter 61 - Pengakuan
62
Chapter 62 - Penyelesaian
63
Chapter 63 - 'Menembak'
64
Chapter 64 - Interogasi
65
Chapter 65 - Kencan (1)
66
Chapter 66 - Kencan (2)
67
Chapter 67 - Kembali
68
Chapter 68 - Bersatu
69
Chapter 69 - First Time
70
Chapter 70 - Memori Indah
71
Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72
EPILOG - Awal Mula
73
EPILOG - Hubungan Transaksional
74
EPILOG - Kemarahan Terpendam
75
EPILOG - Rencana Perjodohan
76
EPILOG - Pertemuan Pertama
77
EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78
EPILOG - Hati yang Ragu
79
EPILOG - Keputusan Meilany
80
EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81
Pengumuman karya baru - Maret 2025

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!