"Apa dia sering begini?"
Mata Aslan menatap ke arah Conrad yang tengah menengguk rakus minumannya di satu meja bar.
"Kadang. Kalau dia lagi stress."
"Memangnya dia stress karena apa?"
Pria itu refleks memeluk pinggang Mei saat ada lelaki lain lewat di depannya. Situasi cukup ramai malam itu sampai mereka tidak bisa menemukan meja kosong, dan terpaksa berdiri di pojokan.
"Dia stress karena apa, Mei?"
Pertanyaan itu kembali dilontarkan Aslan. Pria itu tidak menyadari kalau tangannya yang berada di pinggang Mei, membuat pikiran wanita itu buyar ke mana-mana.
"Hem. Biasa. Masalah pekerjaan."
Tekanan lembut dari tangan pria itu, membuat Mei mulai bercerita tentang latar belakang Conrad. Ia bisa menceritakan mengenai atasannya karena tahu pasti, lelaki itu tidak akan pernah membocorkannya.
Pelukan Aslan di pinggangnya mengetat, saat ia melihat lelaki di meja bar itu mencium seorang wanita.
"Dia mencium seseorang."
"Sudah biasa. Paling juga setelah itu dia langsung teler."
Jawaban santai itu membuat tatapan Aslan turun ke arah wanita di pelukannya.
"Kamu ga cemburu?"
"Kenapa mesti cemburu? Aku sendiri sudah muak dengan kelakuannya. Kalau ga dibayar mahal, mana mau aku menemaninya ke klub begini, mas? Aku juga sudah pengen resign dari dulu."
Kedua orang itu saling bertatapan. Debaran jantung mereka terasa liar di d*da masing-masing.
"Meichan..."
"Dia pingsan!"
Seruan dari arah meja bar memutus kontak pasangan itu. Satu tangan Aslan menggenggam erat tangan Mei.
"Ikut aku. Kita harus membantunya kembali ke hotel."
Pipi Mei terasa panas. Setelah 7 tahun, ia akhirnya dapat merasakan genggaman pria itu lagi di tangannya.
Saat Aslan melepasnya untuk membantu Conrad yang pingsan, wanita itu merasa kehilangan. Tapi pikiran itu segera ditepisnya. Mungkin dirinya hanya sekedar haus belaian lelaki. Sudah lama ia tidak disentuh pria, dan yang terakhir menyentuhnya adalah suaminya sendiri. Dan itu pun sudah 7 tahun yang lalu.
Menggelengkan kepalanya, ia segera membereskan pembayaran dengan menggunakan kartu kredit kantor. Matanya melirik pria berkacamata itu membopong Conrad dengan cukup sulit. Meski berbadan besar, tapi berat lelaki yang sedang pingsan bisa bertambah dua kali lipatnya.
Melihat tangan Mei yang akan membantunya, Aslan langsung menyergah kasar.
"Tidak usah, Mei! Biar mas saja! Kamu tolong ambil kunci mobil di kantong celanaku. Kamu yang nyetir."
Cukup terkejut mendengar perkataan Aslan yang tegas, Mei menelan ludahnya. Tangannya segera merogoh kantong celana pria itu dan jantungnya berdebar makin keras. Hidungnya bisa mencium wangi lelaki ini.
Ketika menjauhkan diri, Mei merasakan tubuhnya berdenyut. Ia mendambakan sentuhan suaminya.
"Ayo, Mei."
Kembali mengenyahkan pikiran anehnya, wanita itu mengikuti Aslan yang mulai menerobos kerumunan.
Mereka pada akhirnya bisa membaringkan tubuh lelaki yang tidak sadar itu di tempat tidur, setelah melalui berbagai kesulitan. Tampak Mei sedang memberikan tips pada lelaki berseragam gelap di depan pintu.
"Terima kasih bantuannya, pak. Tolong insiden ini abaikan saja."
Tersenyum sopan, pria itu mengangguk. "Saya mengerti bu. Selamat beristirahat."
Menutup pintu, matanya melihat Aslan yang sedang membuka sepatu dan juga jas Conrad. Gerakan lelaki itu cukup kasar dan asal-asalan. Tampak ia melempar barang-barang itu sembarangan ke lantai.
Mend*sah, tangan Mei terulur untuk meraih dasi Conrad yang tergeletak di lantai karpet.
"Jangan berani mengambilnya, Mei!"
Ucapan kasar itu membuat kepala Mei mendongak. Tubuhnya yang tadinya membungkuk, perlahan tegak. Matanya menatap sepasang mata cokelat yang saat ini memandanginya gusar.
"Mas?"
Bahu Aslan tampak naik-turun. Raut lelaki itu keras, dengan kedua tangan mengepal kuat.
"Kamu nginep di mana?"
Mata sipit Mei mengerjap. Ia merasakan kemarahan lelaki di depannya ini. Kemarahan yang tidak ia pahami.
"Di sini. Kamarku di sebelah kamar ini."
Raut Aslan makin gelap. Urat-urat di pelipisnya mulai menonjol keluar.
"Kamu menginap di hotel yang sama dengan orang ini!?"
Suara Mei terdengar seperti cicitan saat ia berusaha menjelaskan, "Aku tadinya nginep di hotel lain, mas. Tapi karena ini malam terakhir Conrad, jadi aku mutusin pindah ke sini. Biasanya dia akan mabuk-mabukan dulu sebelum pulang besoknya. Dia ini takut terbang, jadi pasti akan minum obat tidur waktu bangun nanti malam. Orang ini akan ketinggalan pesawat kalau aku tidak menyeretnya besok ke airport."
Mata cokelat Aslan mengedip cepat. Ekspresi yang tadinya mengerikan, perlahan berubah rileks. Terdengar deruan nafas yang panjang keluar dari hidung mancungnya.
"Maafin mas, Mei. Mas cuman..." Pria itu tidak melanjutkan kata-katanya. Kepalanya tertunduk.
Senyuman canggung diberikan Mei. "Ga apa-apa, mas. Orang ini memang merepotkan saja. Dia-"
"Mas cuman cemburu."
Kata-kata lirih itu membuat ruangan seketika hening. Keduanya bertatap-tatapan.
Wanita itu bisa mendengar suaranya sendiri yang seperti pekikan melengking di telinganya, "Mas?"
"Jam berapa dia harus check out besok?"
Meski jantungnya berdebar gila di d*da, Mei menjawab refleks, "Maksimal jam 8. Pesawatnya jam 11."
Kepala Aslan mengangguk kaku. Tangan pria itu mulai memunguti barang-barang yang tadi dilemparnya.
"Sebaiknya kita bereskan barang-barangnya sekarang, dari pada besok terburu-buru."
Sekali lagi, pria itu menyergah kasar saat Mei hampir menyentuh pernak-pernik Conrad.
"Siapkan saja kopernya, Mei! Jangan sedikit pun sentuh barang-barang dia! Kamu paham?"
Jika yang mengatakan itu adalah orang lain dan bukan Aslan, mungkin Mei akan marah. Tapi ini lelaki yang telah menikahinya dulu. Pria yang sampai sekarang masih ia cintai dan juga hormati. Orang ini suaminya.
"Paham mas. Mas Aslan ga usah marah-marah kayak gitu. Mei juga ngerti kok."
Gerutuan pelan itu membuat Aslan menoleh dan memandang isterinya beberapa saat. Tapi wanita itu sudah menunduk dan sedang membuka sebuah koper besar di lantai.
Pria itu menelan ludah saat melihat Mei memandang tajam dengan bibir cemberut padanya.
"Nih sudah siap. Mau mas yang masukin, atau Mei saja?"
Salah tingkah, Aslan berdehem pelan. "Mas saja. Mas ga mau kamu nyentuh barang-barang pribadi dia."
Selama beberapa menit ke depan, tampak dua orang itu membereskan pakaian Conrad dan juga barang-barang lainnya. Terlihat Aslan meletakkan sepasang pakaian untuk dipakai lelaki yang sudah tidur itu besok.
"Jangan lupa baju dalamnya, mas."
Mendengar itu, kekesalan Aslan yang tadinya sudah hilang kembali muncul. Ia menggigit bibirnya dan cuping hidungnya sedikit melebar saat dirinya menarik nafas kasar.
"Ada di mana tadi?"
"Tuh di situ. Kan mas Aslan yang nyimpen tadi."
Asal, tangan-tangan Aslan menyibak kesal pakaian yang tadi sudah dirapihkannya dalam koper.
"Ga ada, Mei."
"Mau Mei bantu?"
"Ga usah!"
Menghela nafasnya, wanita itu berjongkok dan memegang pergelangan suaminya. Perlahan ia menggunakan tangan lelaki itu untuk menarik tumpukan beberapa baju.
"Nah, tuh! Ada kan? Mas ga sabar sih."
Raut Mei yang tadinya meledek perlahan berubah saat ia melihat sorot Aslan yang tidak dikenalnya. Kedua mata cokelat lelaki itu menajam dan terarah pada tangannya yang sedang mencengkeram pergelangannya.
Gugup, Mei melepaskan pegangannya. "Maaf."
Jantung Mei berdebar kencang. Ia tidak paham arti sorot mata lelaki itu yang aneh. Tubuhnya cukup tegang saat ia mengamati pria itu membereskan semuanya dengan cepat.
Dalam waktu singkat, kamar itu telah rapih dengan sisa barang-barang Conrad tersimpan dalam kopernya.
"Sudah beres."
Suara berat pria itu terdengar datar, dan ia menoleh pada Mei yang masih mematung.
"Kalau gitu, Mei akan mengantar-"
"Mas akan menginap di sini, Mei."
"Ma- Mas?"
Suasana hening sejenak, sampai pria itu mengatakan sesuatu yang membuat jantung Mei seolah meledak.
"Malam ini mas akan menginap di hotel. Di kamarmu, Meichan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
♡Ñùř♡
emang masih boleh
2024-10-12
0
♡Ñùř♡
hah apa kt nya cemburu,cemburu dengkul mu,tau kan rasanya gmn,dulu aja nyakitin bilang ingin kawin skrg baru gitu aja cemburu preett
2024-10-12
0
♡Ñùř♡
aduh mei jngn ya mei ya😅
2024-10-12
0