Chapter 10 - Cemburu

"Apa dia sering begini?"

Mata Aslan menatap ke arah Conrad yang tengah menengguk rakus minumannya di satu meja bar.

"Kadang. Kalau dia lagi stress."

"Memangnya dia stress karena apa?"

Pria itu refleks memeluk pinggang Mei saat ada lelaki lain lewat di depannya. Situasi cukup ramai malam itu sampai mereka tidak bisa menemukan meja kosong, dan terpaksa berdiri di pojokan.

"Dia stress karena apa, Mei?"

Pertanyaan itu kembali dilontarkan Aslan. Pria itu tidak menyadari kalau tangannya yang berada di pinggang Mei, membuat pikiran wanita itu buyar ke mana-mana.

"Hem. Biasa. Masalah pekerjaan."

Tekanan lembut dari tangan pria itu, membuat Mei mulai bercerita tentang latar belakang Conrad. Ia bisa menceritakan mengenai atasannya karena tahu pasti, lelaki itu tidak akan pernah membocorkannya.

Pelukan Aslan di pinggangnya mengetat, saat ia melihat lelaki di meja bar itu mencium seorang wanita.

"Dia mencium seseorang."

"Sudah biasa. Paling juga setelah itu dia langsung teler."

Jawaban santai itu membuat tatapan Aslan turun ke arah wanita di pelukannya.

"Kamu ga cemburu?"

"Kenapa mesti cemburu? Aku sendiri sudah muak dengan kelakuannya. Kalau ga dibayar mahal, mana mau aku menemaninya ke klub begini, mas? Aku juga sudah pengen resign dari dulu."

Kedua orang itu saling bertatapan. Debaran jantung mereka terasa liar di d*da masing-masing.

"Meichan..."

"Dia pingsan!"

Seruan dari arah meja bar memutus kontak pasangan itu. Satu tangan Aslan menggenggam erat tangan Mei.

"Ikut aku. Kita harus membantunya kembali ke hotel."

Pipi Mei terasa panas. Setelah 7 tahun, ia akhirnya dapat merasakan genggaman pria itu lagi di tangannya.

Saat Aslan melepasnya untuk membantu Conrad yang pingsan, wanita itu merasa kehilangan. Tapi pikiran itu segera ditepisnya. Mungkin dirinya hanya sekedar haus belaian lelaki. Sudah lama ia tidak disentuh pria, dan yang terakhir menyentuhnya adalah suaminya sendiri. Dan itu pun sudah 7 tahun yang lalu.

Menggelengkan kepalanya, ia segera membereskan pembayaran dengan menggunakan kartu kredit kantor. Matanya melirik pria berkacamata itu membopong Conrad dengan cukup sulit. Meski berbadan besar, tapi berat lelaki yang sedang pingsan bisa bertambah dua kali lipatnya.

Melihat tangan Mei yang akan membantunya, Aslan langsung menyergah kasar.

"Tidak usah, Mei! Biar mas saja! Kamu tolong ambil kunci mobil di kantong celanaku. Kamu yang nyetir."

Cukup terkejut mendengar perkataan Aslan yang tegas, Mei menelan ludahnya. Tangannya segera merogoh kantong celana pria itu dan jantungnya berdebar makin keras. Hidungnya bisa mencium wangi lelaki ini.

Ketika menjauhkan diri, Mei merasakan tubuhnya berdenyut. Ia mendambakan sentuhan suaminya.

"Ayo, Mei."

Kembali mengenyahkan pikiran anehnya, wanita itu mengikuti Aslan yang mulai menerobos kerumunan.

Mereka pada akhirnya bisa membaringkan tubuh lelaki yang tidak sadar itu di tempat tidur, setelah melalui berbagai kesulitan. Tampak Mei sedang memberikan tips pada lelaki berseragam gelap di depan pintu.

"Terima kasih bantuannya, pak. Tolong insiden ini abaikan saja."

Tersenyum sopan, pria itu mengangguk. "Saya mengerti bu. Selamat beristirahat."

Menutup pintu, matanya melihat Aslan yang sedang membuka sepatu dan juga jas Conrad. Gerakan lelaki itu cukup kasar dan asal-asalan. Tampak ia melempar barang-barang itu sembarangan ke lantai.

Mend*sah, tangan Mei terulur untuk meraih dasi Conrad yang tergeletak di lantai karpet.

"Jangan berani mengambilnya, Mei!"

Ucapan kasar itu membuat kepala Mei mendongak. Tubuhnya yang tadinya membungkuk, perlahan tegak. Matanya menatap sepasang mata cokelat yang saat ini memandanginya gusar.

"Mas?"

Bahu Aslan tampak naik-turun. Raut lelaki itu keras, dengan kedua tangan mengepal kuat.

"Kamu nginep di mana?"

Mata sipit Mei mengerjap. Ia merasakan kemarahan lelaki di depannya ini. Kemarahan yang tidak ia pahami.

"Di sini. Kamarku di sebelah kamar ini."

Raut Aslan makin gelap. Urat-urat di pelipisnya mulai menonjol keluar.

"Kamu menginap di hotel yang sama dengan orang ini!?"

Suara Mei terdengar seperti cicitan saat ia berusaha menjelaskan, "Aku tadinya nginep di hotel lain, mas. Tapi karena ini malam terakhir Conrad, jadi aku mutusin pindah ke sini. Biasanya dia akan mabuk-mabukan dulu sebelum pulang besoknya. Dia ini takut terbang, jadi pasti akan minum obat tidur waktu bangun nanti malam. Orang ini akan ketinggalan pesawat kalau aku tidak menyeretnya besok ke airport."

Mata cokelat Aslan mengedip cepat. Ekspresi yang tadinya mengerikan, perlahan berubah rileks. Terdengar deruan nafas yang panjang keluar dari hidung mancungnya.

"Maafin mas, Mei. Mas cuman..." Pria itu tidak melanjutkan kata-katanya. Kepalanya tertunduk.

Senyuman canggung diberikan Mei. "Ga apa-apa, mas. Orang ini memang merepotkan saja. Dia-"

"Mas cuman cemburu."

Kata-kata lirih itu membuat ruangan seketika hening. Keduanya bertatap-tatapan.

Wanita itu bisa mendengar suaranya sendiri yang seperti pekikan melengking di telinganya, "Mas?"

"Jam berapa dia harus check out besok?"

Meski jantungnya berdebar gila di d*da, Mei menjawab refleks, "Maksimal jam 8. Pesawatnya jam 11."

Kepala Aslan mengangguk kaku. Tangan pria itu mulai memunguti barang-barang yang tadi dilemparnya.

"Sebaiknya kita bereskan barang-barangnya sekarang, dari pada besok terburu-buru."

Sekali lagi, pria itu menyergah kasar saat Mei hampir menyentuh pernak-pernik Conrad.

"Siapkan saja kopernya, Mei! Jangan sedikit pun sentuh barang-barang dia! Kamu paham?"

Jika yang mengatakan itu adalah orang lain dan bukan Aslan, mungkin Mei akan marah. Tapi ini lelaki yang telah menikahinya dulu. Pria yang sampai sekarang masih ia cintai dan juga hormati. Orang ini suaminya.

"Paham mas. Mas Aslan ga usah marah-marah kayak gitu. Mei juga ngerti kok."

Gerutuan pelan itu membuat Aslan menoleh dan memandang isterinya beberapa saat. Tapi wanita itu sudah menunduk dan sedang membuka sebuah koper besar di lantai.

Pria itu menelan ludah saat melihat Mei memandang tajam dengan bibir cemberut padanya.

"Nih sudah siap. Mau mas yang masukin, atau Mei saja?"

Salah tingkah, Aslan berdehem pelan. "Mas saja. Mas ga mau kamu nyentuh barang-barang pribadi dia."

Selama beberapa menit ke depan, tampak dua orang itu membereskan pakaian Conrad dan juga barang-barang lainnya. Terlihat Aslan meletakkan sepasang pakaian untuk dipakai lelaki yang sudah tidur itu besok.

"Jangan lupa baju dalamnya, mas."

Mendengar itu, kekesalan Aslan yang tadinya sudah hilang kembali muncul. Ia menggigit bibirnya dan cuping hidungnya sedikit melebar saat dirinya menarik nafas kasar.

"Ada di mana tadi?"

"Tuh di situ. Kan mas Aslan yang nyimpen tadi."

Asal, tangan-tangan Aslan menyibak kesal pakaian yang tadi sudah dirapihkannya dalam koper.

"Ga ada, Mei."

"Mau Mei bantu?"

"Ga usah!"

Menghela nafasnya, wanita itu berjongkok dan memegang pergelangan suaminya. Perlahan ia menggunakan tangan lelaki itu untuk menarik tumpukan beberapa baju.

"Nah, tuh! Ada kan? Mas ga sabar sih."

Raut Mei yang tadinya meledek perlahan berubah saat ia melihat sorot Aslan yang tidak dikenalnya. Kedua mata cokelat lelaki itu menajam dan terarah pada tangannya yang sedang mencengkeram pergelangannya.

Gugup, Mei melepaskan pegangannya. "Maaf."

Jantung Mei berdebar kencang. Ia tidak paham arti sorot mata lelaki itu yang aneh. Tubuhnya cukup tegang saat ia mengamati pria itu membereskan semuanya dengan cepat.

Dalam waktu singkat, kamar itu telah rapih dengan sisa barang-barang Conrad tersimpan dalam kopernya.

"Sudah beres."

Suara berat pria itu terdengar datar, dan ia menoleh pada Mei yang masih mematung.

"Kalau gitu, Mei akan mengantar-"

"Mas akan menginap di sini, Mei."

"Ma- Mas?"

Suasana hening sejenak, sampai pria itu mengatakan sesuatu yang membuat jantung Mei seolah meledak.

"Malam ini mas akan menginap di hotel. Di kamarmu, Meichan."

Terpopuler

Comments

♡Ñùř♡

♡Ñùř♡

emang masih boleh

2024-10-12

0

♡Ñùř♡

♡Ñùř♡

hah apa kt nya cemburu,cemburu dengkul mu,tau kan rasanya gmn,dulu aja nyakitin bilang ingin kawin skrg baru gitu aja cemburu preett

2024-10-12

0

♡Ñùř♡

♡Ñùř♡

aduh mei jngn ya mei ya😅

2024-10-12

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Sakit
2 Chapter 2 - Bunda
3 Chapter 3 - Ikhlas
4 Chapter 4 - Hilang
5 Chapter 5 - Pergi
6 Chapter 6 - Bertemu
7 Chapter 7 - Ancaman
8 Chapter 8 - Cinta
9 Chapter 9 - Aslan
10 Chapter 10 - Cemburu
11 Chapter 11 - Kenapa?
12 Chapter 12 - Rival
13 Chapter 13 - Suamiku
14 Chapter 14 - Rindu
15 Chapter 15 - Patah Hati
16 Chapter 16 - Memori
17 Chapter 17 - Putus
18 Chapter 18 - Kebenaran (1)
19 Chapter 19 - Kebenaran (2)
20 Chapter 20 - Cerai
21 Chapter 21 - Hancur
22 Chapter 22 - Gila
23 Chapter 23 - Dasi
24 Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25 Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26 Chapter 26 - Penolakan
27 Chapter 27 - Usaha
28 Chapter 28 - Mengulang
29 Chapter 29 - Sederhana
30 Chapter 30 - Bahagia
31 Chapter 31 - Mengabulkan
32 Chapter 32 - Momen
33 Chapter 33 - Int*m
34 Chapter 34 - Mundur
35 Chapter 35 - Gagal (1)
36 Chapter 36 - Gagal (2)
37 Chapter 37 - Kepercayaan
38 Chapter 38 - Perlawanan
39 Chapter 39 - Melindungi
40 Chapter 40 - Honeymoon (1)
41 Chapter 41 - Honeymoon (2)
42 Chapter 42 - Rendezvous (1)
43 Chapter 43 - Rendezvous (2)
44 Chapter 44 - Rendezvous (3)
45 Chapter 45 - Kesempatan
46 Chapter 46 - Diusir
47 Chapter 47 - Kesetiaan
48 Chapter 48 - Kabar
49 Chapter 49 - Welcoming
50 Chapter 50 - Memilih
51 Chapter 51 - Kecewa
52 Chapter 52 - Ketahuan
53 Chapter 53 - Berdebat
54 Chapter 54 - Keraguan
55 Chapter 55 - Kesadaran
56 Chapter 56 - Jatuh Cinta
57 Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58 Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59 Chapter 59 - Hagen
60 Chapter 60 - Keputusan
61 Chapter 61 - Pengakuan
62 Chapter 62 - Penyelesaian
63 Chapter 63 - 'Menembak'
64 Chapter 64 - Interogasi
65 Chapter 65 - Kencan (1)
66 Chapter 66 - Kencan (2)
67 Chapter 67 - Kembali
68 Chapter 68 - Bersatu
69 Chapter 69 - First Time
70 Chapter 70 - Memori Indah
71 Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72 EPILOG - Awal Mula
73 EPILOG - Hubungan Transaksional
74 EPILOG - Kemarahan Terpendam
75 EPILOG - Rencana Perjodohan
76 EPILOG - Pertemuan Pertama
77 EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78 EPILOG - Hati yang Ragu
79 EPILOG - Keputusan Meilany
80 EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81 Pengumuman karya baru - Maret 2025
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Chapter 1 - Sakit
2
Chapter 2 - Bunda
3
Chapter 3 - Ikhlas
4
Chapter 4 - Hilang
5
Chapter 5 - Pergi
6
Chapter 6 - Bertemu
7
Chapter 7 - Ancaman
8
Chapter 8 - Cinta
9
Chapter 9 - Aslan
10
Chapter 10 - Cemburu
11
Chapter 11 - Kenapa?
12
Chapter 12 - Rival
13
Chapter 13 - Suamiku
14
Chapter 14 - Rindu
15
Chapter 15 - Patah Hati
16
Chapter 16 - Memori
17
Chapter 17 - Putus
18
Chapter 18 - Kebenaran (1)
19
Chapter 19 - Kebenaran (2)
20
Chapter 20 - Cerai
21
Chapter 21 - Hancur
22
Chapter 22 - Gila
23
Chapter 23 - Dasi
24
Chapter 24 - Pertengkaran (1)
25
Chapter 25 - Pertengkaran (2)
26
Chapter 26 - Penolakan
27
Chapter 27 - Usaha
28
Chapter 28 - Mengulang
29
Chapter 29 - Sederhana
30
Chapter 30 - Bahagia
31
Chapter 31 - Mengabulkan
32
Chapter 32 - Momen
33
Chapter 33 - Int*m
34
Chapter 34 - Mundur
35
Chapter 35 - Gagal (1)
36
Chapter 36 - Gagal (2)
37
Chapter 37 - Kepercayaan
38
Chapter 38 - Perlawanan
39
Chapter 39 - Melindungi
40
Chapter 40 - Honeymoon (1)
41
Chapter 41 - Honeymoon (2)
42
Chapter 42 - Rendezvous (1)
43
Chapter 43 - Rendezvous (2)
44
Chapter 44 - Rendezvous (3)
45
Chapter 45 - Kesempatan
46
Chapter 46 - Diusir
47
Chapter 47 - Kesetiaan
48
Chapter 48 - Kabar
49
Chapter 49 - Welcoming
50
Chapter 50 - Memilih
51
Chapter 51 - Kecewa
52
Chapter 52 - Ketahuan
53
Chapter 53 - Berdebat
54
Chapter 54 - Keraguan
55
Chapter 55 - Kesadaran
56
Chapter 56 - Jatuh Cinta
57
Chapter 57 - Mencari Tahu (1)
58
Chapter 58 - Mencari Tahu (2)
59
Chapter 59 - Hagen
60
Chapter 60 - Keputusan
61
Chapter 61 - Pengakuan
62
Chapter 62 - Penyelesaian
63
Chapter 63 - 'Menembak'
64
Chapter 64 - Interogasi
65
Chapter 65 - Kencan (1)
66
Chapter 66 - Kencan (2)
67
Chapter 67 - Kembali
68
Chapter 68 - Bersatu
69
Chapter 69 - First Time
70
Chapter 70 - Memori Indah
71
Chapter 71 - Di Balik Kesedihan, Akan Ada Kegembiraan
72
EPILOG - Awal Mula
73
EPILOG - Hubungan Transaksional
74
EPILOG - Kemarahan Terpendam
75
EPILOG - Rencana Perjodohan
76
EPILOG - Pertemuan Pertama
77
EPILOG - Nurani vs Kebutuhan
78
EPILOG - Hati yang Ragu
79
EPILOG - Keputusan Meilany
80
EPILOG - Kebahagiaan & Cobaan
81
Pengumuman karya baru - Maret 2025

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!