Bab 20 Seragam Persit Bekas

Enam bulan kemudian

"Besok ada rapat Persit di kantor. Kamu harus hadir dan jangan bekerja," berita Cakar sembari membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu.

   "Oh ya? Jam berapa, Mas?"

   "Pagi. Kita berangkat bersama ke kantor," ucap Cakar.

   "Bajunya pakai apa Mas?" tanya Halwa ragu.

   "Baju Persit dong, masa iya pakai baju biasa?" tukasnya.

   "Oh." Halwa hanya ber oh saja saat jawaban Cakar hanya sebatas begitu saja tanpa memberitahunya kalau baju Persit itu seperti apa, yang mana dan apakah bajunya sudah siap.

   Halwa tahu kalau seragam Ibu Persit itu berwarna hijau toska. Dia merasa tidak perlu bertanya lagi di mana baju Persit itu pada Cakar, pastinya Cakar sudah menyiapkan dari sebelumnya dan membelinya di koperasi.

   "Ya sudah, Mas. Aku ke atas dulu," ijin Halwa seraya meninggalkan Cakar yang sedang bersandar di ruang tamu sembari memainkan Hp nya.

   Cakar menoleh dan menatap kepergian Halwa dengan heran. Apakah Halwa tidak mau bertanya di mana baju Persit yang harus dia pakai.

   "Ya ampun, bagaimana si Halwa bisa menghadiri acara Persit besok? Bajunya saja dia belum punya. Kenapa juga aku lupa tidak membelinya di koperasi?" Cakar baru sadar bahwa Halwa belum ada baju Persit. Terlebih akhir-akhir ini ia sibuk di kantor, karena kedatangan siswa Secata yang hampir 1000 orang.

   "Aduh, bagaimana ini? Harus pinjam dulu ke mana dan ke siapa? Ibu. Pinjam ke Ibu saja. Pasti seragam Persit milik Ibu masih ada dan disimpannya." Cakar awalnya kalang kabut memikirkan seragam Persit untuk Halwa, akan tetapi ia ingat ada ibunya yang mantan ibu Persit juga.

   "Baiklah, aku akan ke rumah Ibu dan meminjam baju bekas Persitnya." Dengan tergesa Cakar bangkit dan keluar, lalu segera menyalakan motornya untuk ke rumah ibunya.

   Cakar menjalankan motornya dengan cepat. Rumah ibunya lumayan jauh dari rumah Cakar, lima belas menit kemudian Cakar baru sampai di rumah Bu Fajarani.

   "Kakak, tumben datang ke rumah?" Baru saja menghentikan motornya di depan halaman rumah kedua orang tuanya, Cakar sudah disambut sang adik. Aisyah kebetulan baru juga pulang dengan seragam Guru yang masih melekat di badannya.

   "Tumben, tumben. Kamu juga tumben, sore begini baru pulang ke rumah? Apa kamu pacaran dulu sama pacarmu si Irsan itu?" sengor Cakar balik menuding sang adik.

   Aisyah mendelik kesal dengan tudingan Cakar. "Enak saja aku pulang pacaran, aku itu baru pulang dari rumah anak didik aku untuk les privat. Bukan pacaran atau selingkuh kayak Kakak," ucap Aisyah sembari menjulurkan bibirnya ke depan, mengejek Cakar.

   "Enak saja. Kakak tidak selingkuh, kamu itu jangan menuduh tidak benar. Nanti kedengaran Bapak, bisa mati Kakak."

   "Alah, biarin tahu rasa," ledek Aisyah lagi sembari memasuki rumah, tidak lupa mengucap salam.

   "Assalamualaikum." Cakar dan Aisyah mengucap salam bersamaan.

   "Waalaikumsalam. Wah, kalian. Tumben datang samaan. Ais , kenapa pulangnya sama kakakmu, apa kalian janjian?" heran Bu Fajarani menatap kedua anaknya yang masuk ke dalam rumah secara bersamaan.

   "Tidak, Bu. Ais dan Kak Cakar hanya bertemu di depan rumah. Saat Ais baru pulang, Kak Cakar tiba-tiba muncul. Entah mau apa tuh, tumben amat. Harusnya kalau mau datang ke rumah ibu, sekalian bawa Halwa. Bukankah jam segini bini Kakak sudah pulang dari salon?" terang Aisyah sembari duduk di sofa ruang tamu.

   "Cakar baru datang Bu, dan ketemu Ais di depan. Cakar ada perlu sama Ibu," ungkap Cakar menatap Bu Fajarani.

   "Perlu apa?" Bu Fajarani menatap penasaran, tidak biasanya anak laki-laki pertamanya mengungkapkan hal yang tidak biasa. Apa yang diperlukan Cakar, apakah uang? Bukankah selama ini Cakar belum pernah mempunyai keluhan masalah uang?

   Aisyah ikut menatap ke arah Cakar sangat ingin tahu. "Sejak kapan Kakak kekurangan uang?" selidik Aisyah curiga.

   "Apa sih Ais, kamu itu terlalu kepo dan curigaan? Kakak itu datang kemari bukan mau pinjam uang," dengusnya kesal.

   "Huhh, sombong banget," balas Ais. Cakar mendelik kesal dengan sikap Aisyah.

   "Seorang Guru tapi bibirnya itu bikin kesal aku saja," ucap Cakar memperlihatkan kekesalannya jika ia sudah menyebut dirinya aku pada Aisyah atau ibunya sekalipun.

   "Aduh, sudah, dong. Ais, kamu pergilah ke kamarmu. Dan kamu Cakar, jangan mudah emosian sama adikmu ini, dia juga tidak serius mengataimu. Sekarang katakan apa yang kamu perlu dari ibu?" Bu Fajarani menengahi.

   Akhirnya Cakar menceritakan maksud kedatangannya, dengan Aisyah yang tetap di ruang tamu dan ingin tahu apa yang diperlukan sang kakak.

   "Apa? Kamu butuh seragam Persit bekas ibu untuk Halwa buat acara Persit besok?" kaget Bu Fajarani dengan suara yang kencang. Aisyah yang masih berdiri di ruang tamu ikut terkejut dan panik melihat sang ibu terkejut.

   "Bu, jangan keras-keras, nanti didengar Bapak. Cakar bisa mati kena omel," protes Cakar dengan suara pelan.

   "Ya ampun Kakak. Kakak baru sibuk cariin baju Persit buat Halwa di hari mepet gini, minjam pula sama Ibu?" Aisyah geleng kepala merasa kelakuan kakaknya konyol.

   "Cakar, Cakar. Kamu ini apa-apaan? Kenapa tidak kamu siapkan dari seminggu lalu? Biasanya acara Persit sudah digembar-gemborkan dari seminggu yang lalu, tapi kamu malah menyiapkan bajunya mendadak begini. Kamu seperti tidak menghargai istrimu saja," kesal Bu Fajarani membuat Cakar menunduk resah.

   "Cakar bukan tidak mempersiapkan atau tidak menghargai Halwa, Bu. Cakar akhir-akhir ini sibuk di kantor. Belum lagi kedatangan siswa yang membludak, belum lagi ulang tahun Komandan yang sebulan lagi. Ini itu kegiatan semakin numpuk. Bahkan lepas pulang kerja saja, sekarang Cakar tidak pernah lagi mengecek kafe karena saking sibuknya di kantor," urai Cakar memberikan alasan kenapa ia sampai lupa tidak mempersiapkan seragam Persit untuk Halwa.

   "Kamu tetap salah. Harusnya istri kamu sebagai istri tentara, harus jadi prioritas utama buat kamu terutama dalam hal yang berkaitan dengan urusan kantor. Bapakmu dulu saja, sangat memprioritaskan ibu, terutama dalam hal berkaitan dengan kantor. Bapakmu tidak mau ibu terlihat tidak bagus di depan teman-teman kantornya. Tapi kamu ini beda banget dengan bapakmu," omel Bu Fajarani sangat kesal dengan Cakar yang tidak memperhatikan kebutuhan Halwa.

   "Maafkan Cakar, Bu. Cakar hanya lupa saking sibuknya. Sekarang Ibu jangan marahi dulu Cakar. Kalau seragam bekas Persit Ibu masih ada, Cakar mohon berikan sama Cakar biar besok Halwa bisa pakai." Cakar minta maaf dengan raut menyesal.

   "Kamu ini, kelakuan seperti anak kecil. Kamu jangan sepelekan istrimu. Mentang-mentang dia bukan dari kalangan berseragam, lantas kamu memilah-milah kasih sayang." Bu Fajarani masih mengomel dengan tatap yang kesal.

   "Aku tidak memilah-milah kasih sayang, Bu. Hanya, aku memang belum bisa mencintai Halwa sepenuh hati aku. Lagipula, Ibu juga yang menjodohkan aku dengan dia," tukas Cakar membalas dengan sedikit rasa dongkol karena merasa disudutkan.

   "Kamu belum bisa mencintai Halwa, tapi urusan ranjang minta sama dia. Hargai dia sebelum kamu menyesal," peringat Bu Fajarani tidak suka dengan pembelaan Cakar. Bu Fajarani berdiri dan berlalu dari ruang tamu. Cakar sedikit lega, dengan begitu ibunya akan segera mencari dan memberikan seragam Persit bekasnya dulu untuknya.

   "Kakak ini, kok seperti itu sih Kak. Jangan mentang-mentang Halwa bukan ...."

   "Apa, kamu mau ikut ceramahin aku sama seperti Ibu?" potong Cakar membuat Aisyah cemberut dan berlalu seraya menghentak lantai.

   Tidak berapa lama Bu Fajarani muncul dengan kantong kresek di tangannya.

   "Nah, seragam Persitnya. Sayangnya kalau di badan Halwa sepertinya longgar, kamu perbaiki saja supaya tidak terlalu longgar di badannya," ujar Bu Fajarani menyodorkan kantong itu. Cakar segera meraihnya dengan muka sumringah.

   "Baik, Bu. Terimakasih, ya. Kalau begitu Cakar pulang dulu." Tanpa menunggu ceramah dari ibunya lagi, Cakar segera meraih kantong itu lalu berpamitan. Bu Fajarani hanya melongok dengan tingkah putranya yang dinilainya nyeleneh itu.

   "Assalamualaikum, Bu." Cakar pergi tidak lupa mengucap salam. Bu Fajarani membalas dengan tatap yang kesal.

   "Waalaikumsalam."

Terpopuler

Comments

Dinar David Nayandra

Dinar David Nayandra

tau banget dikasih baju bekas ga layak aku pernah dulu dikasih baju bekas SM mantan mertua masalahnya baju bekas itu pernah jadi kain lap 2 hr ,abis itu dicuci SM mertua ku aku trus dikasih ke aku desih banget

2024-12-08

2

Tika Nurhayatika

Tika Nurhayatika

Tar dulu ko Halwa ga punya seragam persit, bukan ny udh nikah kantor, ko rada aneh

2025-01-16

1

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

omelin terus bu, biar tau rasa 🤪

2024-12-18

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!