Bab 18 Ada yang Cemburu

   Mobil Cakar sudah tiba di sebuah gedung yang disulap menjadi tempat perhelatan resepsi pernikahan Rani dan Rian.

   "Halwa, aku mohon, jangan permalukan aku. Selama acara tolong berdekatan denganku. Asal jangan perlihatkan sikap capermu. Aku tidak mau kamu mempermalukan aku di tengah-tengah teman-temanku." Cakar memperingatkan Halwa yang baru saja akan membuka pintu mobil.

   Halwa hanya diam, dalam hati ia pun tidak terpikirkan untuk mempermalukan Cakar di acara ini.

   Keduanya kini sudah keluar dari mobil. Cakar mempersilahkan Halwa berjalan duluan di depannya. Sebelum memasuki gedung, Halwa harus mengisi buku tamu di sana.

   Sesekali Cakar meraih jemari Halwa untuk dipegangnya. Halwa berdesir, tapi buru-buru perasaan itu langsung dia tepis.

   "Bang Cakar," sapa seseorang seraya menyalami Cakar. Sepertinya itu adik lettingnya Cakar kalau dilihat dari sikapnya.

   Setelah saling bertegur sapa dengan banyak temannya, dan memperkenalkan Halwa pada teman-temannya telah usai, Cakar mencari tempat duduk untuknya dan juga Halwa.

   "Cakar, di sini," panggil Wardi yang di sampingnya sudah ada istrinya. Tian dan Ardi, yang juga didampingi Diva calon istrinya. Halwa tersenyum gembira ketika melihat ada Diva di tengah-tengah mereka.

   "Diva," sapanya seraya menghampiri dan duduk di samping Diva. Diva tersenyum gembira melihat Halwa datang bersamaan dengan Cakar. Dan yang lebih terkejutnya lagi, Diva melihat kemeja yang dikenakan Cakar rupanya senada dengan gaun hijau sage milik Halwa.

   "Apa aku bilang, kamu pandai me-mix and match pakaian yang kamu kenakan dengan pantas. Kamu begitu cantik Hal. Dan yang tidak aku duga, ternyata kamu bisa datang bersama dengan suami kamu," tutur Diva bahagia.

   "Kamu juga sangat cantik, Div. Kamu sungguh serasi dengan Kak Ardi." Halwa balas memuji Diva yang memang siang ini begitu cantik dengan gaun semata kaki warna kuning keemasan. Mereka saling memuji satu sama lain, tidak lupa saling bertegur sapa dengan istri tentara yang lain termasuk istrinya Wardi.

   Wardi juga menyapa Halwa, meskipun dulu ia pernah menyimpan rasa untuk Halwa yang tidak kesampaian, Wardi berusaha bersikap biasa. Lagipula dia kini sudah memiliki istri juga yang tidak kalah cantik dari Halwa.

   "Mas Wardi, apa kabar ibunya Mas Wardi? Sudah lama tidak kelihatan ke warung Ibu?" sapa Halwa pada Wardi, sembari tidak lupa tersenyum ramah pada istri Wardi di sampingnya yang nampak serasi dengan Wardi.

   "Bagaimana kamu bisa melihat ibuku ke warung ibu kamu Hal, orang kamunya tidak lagi tinggal di sana," protes Wardi yang dibenarkan Halwa. Sekilas Halwa tersenyum mengingat kekonyolannya.

   Untuk sejenak Halwa bisa tertawa gembira bersama teman sekaligus istri tentara dari temannya Cakar. Halwa bersyukur, bisa kenal dengan istri-istri tentara yang lain, yang pastinya jika ada acara Persit nanti, mereka akan kembali bertemu. Dan jika bertemu nanti, maka Halwa tidak perlu canggung lagi.

   "Halwa, duduk yang benar," sapa Cakar seraya menduduki salah satu kursi di samping Halwa yang masih kosong, tidak lupa jarinya menyentuh lengan Halwa. Sepertinya tadi Cakar hanya memberi kode supaya Halwa duduk yang benar, tapi sentuhan itu terasa sakit dan seperti sebuah cubitan, sehingga Halwa terlihat meringis.

   "Awhh."

   Halwa menoleh dan mengusap bekas cubitan Cakar yang ternyata membekas sehingga meninggalkan luka goresan dan bared. Pantas saja menggores, kuku jempol Cakar saja panjang.

   Cakar kebetulan menoleh saat Halwa tengah mengusap lengannya, yang terkena cubitannya tadi tanpa sengaja.

   "Kenapa?" bisik Cakar mempertanyakan.

   "Kulit lengan aku luka bared Mas," balasnya sembari memperlihatkan lengannya.

   "Ya sudah, jangan dipermainkan begitu lengannya dong. Ingat, nanti saat acara ambil foto dan menyalami pengantin atau makan, kamu jangan caper atau banyak bicara. Kalau mau bicara sepentingnya saja." Cakar kembali memperingatkan Halwa tidak bosannya.

   Sekilas Cakar menatap rambut dan punggung Halwa, dalam hati tiba-tiba terucap kata takjub untuk Halwa.

   "Halwa benar-benar cantik."

   Acarapun dimulai. Para tamu undangan berdiri sejenak untuk menyaksikan tarian sambutan untuk kedua mempelai. Para keluarga kedua belah pihak, sejenak saling sahut dan balas pantun. Hal ini tidak lepas dari adat dan budaya yang sudah mengakar dalam perhelatan pernikahan kali ini, tidak kira adat tertentu.

   Acara dilanjutkan dengan rangkaian adat lainnya, seperti saweran lalu melempar buket bunga oleh kedua mempelai. Halwa tidak ikutan, sebab dia sudah menikah.

   "Satu, dua, tiga. Lempar," titah seorang pembawa acara memberi aba-aba pada pihak mempelai. Suara riuh tiba-tiba bergemuruh kala para tamu khususnya yang masih belum menikah, saling berebut untuk mendapatkan buket bunga pengantin.

   Buket itu didapatkan salah satu teman kuliahnya Rani yang ikut berjejal untuk mendapatkan buket itu. Suara riuh semakin terdengar sampai pembawa acara melanjutkan acara ke sesi selanjutnya.

   Kini para tamu undangan dipersilahkan berdiri dan menyalami kedua mempelai. Acara lain kian bergulir, foto bersama pengantin sudah sebagian selesai.

   Akhirnya acara yang paling dinantikan semua tamu undangan tiba. Para tamu undangan digiring menuju meja prasmanan untuk menikmati hidangan yang ada.

   Halwa dan Cakar masih berjalan pelan menuju meja prasmanan. Saat akan tiba di meja prasmanan, sepasang mata menatap tajam bahkan cemburu pada kebersamaan Halwa dan Cakar.

   Beberapa detik kemudian, Cakar sudah tidak berada di belakang Halwa. Sepasang mata tajam dan cemburu itu, dengan cekatan memberi kode pada Cakar dan mengajaknya bergabung. Cakar dengan tega mengorbankan Halwa yang sedang mengantri.

   "Ke mana Mas Cakar?" Halwa menoleh ke belakangnya. Sayang, Cakar tidak ada. Akan tetapi ekor mata Halwa melihat keberadaan Cakar di sebrangnya, tengah antri bersama teman-temannya yang lain. Di sampingnya ada seorang perempuan berambut bob sebahu, wajahnya manis dengan kulit kuning langsat tidak jauh seperti Halwa.

   "Itu suami kamu justru bareng makan bersama teman-temannya. Pacar aku juga di sana. Biarkan mereka di sana, kita di situ saja duduknya, kebetulan tidak ramai orang," bisik Diva yang mengetahui kegelisahan Halwa, sembari menunjuk salah satu sudut kursi yang masih kosong.

   Halwa pikir cuma suaminya saja yang memilih antri ambil makan di sebrang, pacar Diva juga. Untuk sementara perasaan Halwa tidak terlalu sedih karena telah diabaikan Cakar.

   Halwa sudah menghabiskan makannya tanpa sisa, itu karena ia tidak pernah ambil makanan ke dalam piring sampai menumpuk, sehingga tidak menyisakan sisa di atasnya. Tiba-tiba Cakar menghampiri dan memberikan satu cup es krim dan es cendol untuk Halwa.

   "Es krim dan es cendolnya," ujarnya seraya duduk sejenak di samping Halwa. Halwa berdesir tidak disangkanya Cakar akan kembali dan memberikan es krim dan es cendol yang tadi belum sempat ia ambil.

   "Terimakasih, Mas," ucap Halwa bahagia. Namun di ujung sebrang sana, ada sepasang mata tajam yang cemburu melihat interaksi Cakar dan Halwa.

   "Mas Cakar, ini istri barunya, ya? Wah cantik dan masih muda ya. Serasi lagi. Semoga langgeng dan panjang jodoh." Seseorang menyapa Cakar dan sesekali menoleh ke arah Halwa, dengan senang hati Halwa memberikan senyum ramah pada wanita itu dan menyalaminya.

   "Ibu Kabag, iya Bu. Ini istri saya, namanya Halwa," ucap Cakar hormat, seraya memperkenalkan Halwa.

   "Beruntung sekali kamu Mas Cakar. Semoga bisa saling setia dan yang terpenting bisa segera punya momongan," ucap wanita berusia 40 tahun itu seraya tersenyum ramah.

   Lagi-lagi kebersamaan Cakar, Halwa dan Ibu Kabag membuat seseorang dilanda cemburu. Dia Sersan Nilam yang sejak tadi mengamati kehadiran Halwa.

Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!