Bab 13 Kemarahan Cakar

Di Kantor Cakar

   "Wah, sepertinya ada yang staminanya lagi bagus nih." Ardi dan Rian menghampiri Wardi dan Tian yang sudah lebih dulu berteduh di bawah pohon kamboja. Di sana cukup nyaman, karena ada kursi santai di bawah pohonnya, kemudian ada meja di tengah-tengahnya.

   Mereka cukup ngos-ngosan karena harus lari empat keliling lapangan sepak bola. Tak ayal keringat mengucur deras di dahinya, menandakan aktifitas fisik pagi ini benar-benar menguras tenaga. Ardi dan Rian meletakkan dua botol air mineral di atas meja dan berbagi dengan kedua temannya yang sama-sama kelelahan.

   "Si Cakar sepertinya kena efek kopi ginseng pemberian kamu Tian," celetuk Wardi.

   "Kopi ginseng? Wah, kebetulan nih. Kalau masih ada, aku mintalah bro. Sebulan lagi aku nikah sama tunanganku si Rani," celoteh Rian sembari menatap Wardi.

   "Minta? Nah beli di juragan agen. Dia jual kopi ginseng yang khasiatnya joss. Menambah stamina dan vitalitas bagi pria yang baru akan memulai malam pertama," cetus Wardi mengarahkan telunjuknya pada Tian, sembari terkekeh.

   "Beneran Tian? Aku pesan. Sebulan lagi aku menikah, aku mau juga kopi ginseng seperti yang dibilang Wardi tadi." Rian menengadahkan tangannya ke arah Tian.

   "Ok. Besok aku pesankan sama adik aku. Buat yang belum menikah juga ada. Ini khusus untuk stamina dan penambah tenaga," ujar Tian dan pada akhirnya dia jualan juga. Lumayan dapat pelanggan baru untuk toko agen milik sang adik.

   "Tapi joskan?" Rian mencoba meyakinkan.

   "Jelas dong. Buktinya si Cakar masih tahan fisiknya sampai sekarang," tegas Tian.

   Sementara Cakar, masih betah mengolah fisiknya dengan olah raga fisik lainnya. Dia terlihat masih vit dan tidak lelah. Badannya benar-benar bugar. Terlebih Cakar memang salah satu tentara diantara ke-empat temannya yang paling giat berolah raga fisik untuk selalu menjaga tubuhnya tetap kekar dan sixpack.

   "Benar, sepertinya semalam telah terjadi gencatan senjata. Soalnya si Cakar, tidak biasanya begitu sumringah dan bahagia kala baru tiba di ruangan tadi. Terlebih dia saat ini memakai sepatu baru, tambah mentereng dia. Sepertinya sepatu itu pemberian bininya," tebak Tian yakin.

   "Iya kali Cakar sekarang insyaf dan mau menerima bininya gara-gara ginseng pemberian Tian," cebik Ardi belum percaya.

   "Kita doakan saja, bro. Daripada dikejar mulu sama Sersan Nilam. Si Nilam hanya memanfaatkan Cakar doang. Kalau sudah ada yang baru dan pangkatnya lebih tinggi dari Cakar, dia pasti akan tinggalkan Cakar." Rian menimpali.

   "Baguslah, biar si Nilam berhenti ngejar Cakar yang jelas-jelas sudah berbini." Wardi bersuara. Sebagai sesama anggota yang sudah menikah, dia tidak mendukung temannya selalu dikejar KOWAD yang sengaja caper. Padahal Sersan Nilam tahu, bahwa Cakar sudah menikah.

   "Baru saja dighibahin, orangnya nongol. Tuh lihat, si Cakar langsung berhenti saat si Nilam Sari muncul dan mengajaknya pergi. Gila tuh cewek," desis Wardi sama sekali tidak suka melihat Sersan Nilam mendekati Cakar terus.

Di Salon Male dan Female

   "Halwa, kamu hari ini lembur ya, soalnya di bagian pijat perempuan kurang terapis satu orang lagi. Hani kebetulan tidak masuk karena sakit," seru Rida menghampiri Halwa.

   "Siap, Mbak." Tanpa membantah, Halwa setuju dengan perintah Rida. Halwa pun segera menaiki tangga untuk menuju ruang pijat refleksi.

   Halwa tidak merasa kesulitan melayani pengunjung yang ingin dipijat, dia cukup menguasai berbagai bidang pekerjaan di salon ini.

   Jam 18.30 malam pekerjaan Halwa selesai, lumayan lelah. Tapi Halwa tidak mengeluh, sebab uang lemburnya cukup lumayan. Apalagi kalau setiap hari lembur, maka cepat kaya nantinya Halwa, pikir Halwa suatu kali.

  Halwa segera keluar dari salon dan memburu angkot yang saat itu sudah hampir penuh. Beruntung, Halwa masih kebagian tempat duduk. Angkot pun tidak lama segera melaju dengan kecepatan sedang.

   Halwa tiba di rumah tepat jam 19.00 Wib. Jantung Halwa seketika berdebar, kala mobil Cakar sudah duduk manis di bawah canopy. Itu artinya sang pemilik mobil sudah pulang dan berada di dalam rumah.

   "Ya ampun, aku lupa tidak memberi tahu Mas Cakar kalau aku tadi lembur. Sialan, mana belum masak lauk untuk makan malam ini. Tapi, tenang saja, masih ada sisa lauk tadi pagi. Mas Cakar pasti masih mau memakannya." Halwa bergumam dalam hati seraya membayangkan sikap Cakar yang tidak akan peduli melihat dirinya pulang belakangan dibanding Cakar.

   "Assalamualaikum." Halwa tetap memberi salam meskipun ia yakin tidak akan dapat jawaban dari Cakar.

   "Waalaikumsalam. Dari mana saja kamu, jam tujuh malam baru kembali? Bukankah biasanya jam empat sore sudah pulang?" balas Cakar menjawab salam tidak seperti biasanya.Tangannya berkacak pinggang seraya menatap tajam ke arah Halwa kesal.

   "Maaf, Mas. Aku tadi ada lembur dadakan, jadi aku terpaksa pulang malam." Halwa menjawab dengan wajah yang selalu menunduk.

   "Bagus, ya. Kamu lembur tanpa memberi kabar aku dulu. Kamu sudah menikah, bukan? Maka kamu tahu kewajiban kamu. Ke manapun kamu pergi maka harus seijin dan sepengetahuan aku. Jika kamu tidak bilang dan ijin, maka aku ini kamu anggap apa, tong sampah?" teriaknya lantang membuat jantung Halwa berdegup kencang.

   "Ma~maafkan aku, Mas. Tadinya aku pikir, Mas Cakar tidak akan pernah mau tahu kabar tentang aku, apapun itu," jawab Halwa membuat Cakar meradang.

   "Bagus. Pintar jawab, ya, selalu pintar menjawab. Lalu kalau kamu lembur tiap hari, siapa yang menyiapkan makan di rumah?" sengornya dengan tatapan mata yang lebih menusuk dari pada tadi.

   Tubuh Halwa tiba-tiba gemetar dan mematung di sana. Dia benar-benar bingung dengan sikap suaminya yang tiba-tiba seolah-olah dirinya harus memberi kabar di mana berada. Dijawab salah tidak dijawab juga salah.

   "Bergegaslah, kenapa masih mematung?" sentaknya mengusik Halwa. Halwa berlari menaiki tangga lalu menuju kamar, di dalam kamar dia menumpahkan segala kesedihannya karena Cakar.

   Sikap Cakar membuat dia serba salah. Rasanya dia sudah tidak ada artinya lagi berada di rumah ini. Ingin rasanya Halwa kabur saja dari rumah ini.

   Halwa pikir setelah kejadian semalam, Cakar akan berubah dan bersikap lembut. Nyatanya, tidak sama sekali. Bahkan sikapnya justru semakin membuat Halwa dilanda bingung dan putus asa.

   Pintu kamar terbuka dan Cakar menyusul. Dia menghampiri Halwa yang kini menangis di atas sofa.

   "Halwa turunlah. Ada ibuku dan Ais datang kemari. Cepat seka air matamu. Aku tidak mau kamu memperlihatkan wajah bengkakmu karena menangis."

   Halwa masih terisak dan menelungkupkan wajah di sofa. Ucapan Cakar tadi di bawah sungguh menyakiti hatinya.

   "Halwa kamu dengar tidak?" sentak Cakar seraya mengangkat tubuh Halwa kasar.

   Tiba-tiba pintu kamar Cakar dibuka seseorang, Sontak Cakar dan Halwa terkejut seraya kompak menatap ke arah pintu. Siapakah yang membuka pintu?

Terpopuler

Comments

Rini Aprianti

Rini Aprianti

bagus banget cerita nya.

2024-12-03

1

Nur Hidayah

Nur Hidayah

cakar aja tuh bibirnya yg persis emak emak

2024-12-10

0

Swinarni Ryadi

Swinarni Ryadi

istri kyk pembantu

2024-11-26

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!