Bab 10 Hijau Pangkat

Salon Male dan Female

   "Halwa, kamu lagi nggak ada pasien kan? Tolong bantu Mbak Asri keramasin pengunjung," titah Rida pegawai senior di salon itu. Pasien yang dimaksud Rida adalah pengunjung.

   "Siap, Mbak." Halwa segera menuruni tangga menuju ruang keramas rambut. Kebetulan bagian merias atau make up wajah saat ini sedang tidak ada klien, kliennya hanya dua orang saja, dan itupun sudah selesai. Jadi saat ini Halwa sedikit bersantai. Namun, jika bagian lain membutuhkan tenaganya, maka ia siap membantu. Halwa bisa ke mana saja ditugaskan kecuali pijat laki-laki.

   Tidak sulit untuk Halwa mengeramasi klien, karena ia sudah terbiasa. Kecuali kalau potong rambut, Halwa tidak diperbolehkan karena bukan bagian Halwa dan Halwa belum pandai di bidang memotong rambut.

   Tiba-tiba, beberapa tamu berseragam loreng TNI dari kesatuan suaminya, datang ke salon itu. Ada tiga orang tentara yang masuk dan ingin pijat relaksasi. Ketika Halwa melihat ke arah tentara itu, dia mendadak ingat Cakar. Ketiga tentara itu tersenyum ramah saat berinteraksi dengan pelayan salon. Lalu setelah registrasi, mereka menaiki tangga, lalu diarahkan ke ruang pijat relaksasi oleh salah satu pegawai salon itu.

   Salon untuk lelaki dan perempuan, sebetulnya ruangannya terpisah dan disekat oleh gorden bambu, hanya pintu keluar masuknya saja yang sama.

   "Mereka mengingatkan aku pada suami kamu. Ih ganteng-ganteng deh. Andai saja aku dapat satu yang loreng, alangkah senangnya hatiku," celoteh salah satu teman seprofesi Halwa dengan wajah yang senang.

   Halwa hanya tersenyum simpul, dia tidak tahu menikah dengan Cakar sang suami, sampai saat ini hubungannya masih dingin dan datar. Entah kapan status mereka akan meningkat menjadi lebih dekat. Hanya waktu yang akan menjawab.

   Jika Halwa teringat kembali dengan jam tangan yang dipakai suaminya tadi atas pemberian Sersan Nilam itu, rasanya sulit untuk menjangkau hati suaminya. Faktanya, Cakar lebih memilih memakai dan menghargai jam tangan pemberian orang lain.

   Sementara itu di kantor Cakar, saat ini Cakar dan teman-temannya sedang melakukan korpre. Membersihkan lingkungan di sekitar kesatuan. Kegiatan itu baru selesai atu jam kemudian. Cakar dan teman-temannya serta yang lain menuju kantin untuk mengisi cairan di tubuhnya yang sempat hilang akibat korpre tadi. Kebetulan ini jam istirahat. Tidak sedikit teman Cakar yang lain ada yang pulang dan istirahat di rumah. Itupun bagi yang rumahnya dekat.

   Cakar memesan kopi hitam seperti biasanya. Temannya yang lain juga begitu, ada juga yang langsung makan karena tadi pagi tidak sarapan.

   "Bang, kamu tidak makan?" Hanya kopi hitam saja?" Wardi teman satu letting bertanya sembari menyantap makan siangnya.

   "Aku tidak lapar, masih kenyang. Tadi di rumah sudah sarapan," balas Cakar terlihat muram.

   "Wah, asik pengantin baru. Sarapan ada yang nyiapin, pulang ada yang nyambut, malam ada yang kelonin. Dobel-dobel nikmatnya pengantin baru," seloroh Tian diimbuhi tawa.

   Cakar hanya tersenyum hambar, dia seperti tidak excited dengan ucapan Tian. Sikap Cakar datar saja, wajar saja sebab dia memang tidak mencintai Halwa.

   "Wah jam tangan baru nih, siapa yang kasih? Pasti kado ulang tahun dari bini barunya tuh," lanjut Tian lagi menebak.

   Cakar mencebik, tanda kado itu bukan pemberian Halwa. Cakar tidak menjawab apa-apa, dia meneguk kopinya sampai tandas.

   Tiba-tiba beberapa KOWAD masuk ke dalam kantin, termasuk Sersan Nilam. Gadis manis asal Jawa itu tersenyum bahagia saat mendapati Cakar di kantin. Dia menghampiri Cakar dan memberi kode supaya Cakar pindah meja.

   "Bang Cakar. Wahh, jam tangannya dipakai juga. Terimakasih, ya, Bang," ujarnya sembari berlalu diikuti Cakar menuju meja paling ujung. Antara mereka memang bukan rahasia umum lagi, terjalin kedekatan. Namun statusnya belum jelas.

   Tian dan Wardi kompak menatap kepergian Cakar dan Sersan Nilam yang memilih meja lain dibanding bergabung dengan mereka.

   "Jadi, jam tangannya itu pemberian dari Sersan Nilam? Aku pikir pemberian istrinya?" kejut Tian tidak menduga.

   "Mana mungkin Cakar mau pakai pemberian istrinya, dia kan tidak mencintai si Halwa. Intinya Cakar belum menerima perjodohan itu. Terlebih Cakar tidak suka dengan sikap istrinya yang dinilai caper." Wardi menjelaskan.

   "Caper? Caper gimana maksudnya?" tanya Tian penasaran.

   "Cakar tidak suka karena Halwa sering titip salam lewat teman-temannya yang kebetulan pacaran sama teman kita juga," ucap Wardi.

   "Teman kita, siapa?"

   "Ardi dan Rian. Lewat Ardi dan Rian, pacar-pacar mereka menitipkan salam Halwa untuk disampaikan pada Cakar. Oleh karena itu Cakar tidak suka dengan sikap Halwa, sebab Halwa dianggapnya mempermalukan dirinya sendiri. Bahkan Cakar menuding, Halwa seperti tidak punya harga diri. Oleh sebab itu pula pernikahan itu terjadi. Berawal dari titip salam. Itupun aku dengar dari Ardi dan Rian," tutur Wardi panjang lebar.

   "Oh ya? Parah dong," respon Tian kurang yakin.

   "Tapi, aku rasa Halwa tidak seperti itu. Justru teman-temannya Halwa yang suka berlebihan. Mereka sepertinya mendukung si Halwa bisa jadian sama Cakar, lalu mereka menyampaikan salam Halwa, padahal belum tentu si Halwa titip salam. Karena setahuku dia bukan tipe cewek agresif," terang Wardi lagi seakan sudah mengenal sifat Halwa.

   "Dari mana kamu tahu si Halwa tidak agresif?" Tian penasaran.

   "Aku ini sering antar ibuku belanja di warung sembako milik ibunya. Saat itu setahun lalu sebelum aku nikah, aku sempat naksir Halwa, tapi sayang dia tidak respon dan tidak pernah menanggapi perasaanku. Akhirnya aku justru dapat jodoh gadis lain," tutur Wardi mengenang memori setahun yang lalu.

   "Jadi, kamu pernah naksir Halwa juga? Gila. Kenapa tidak kamu saja yang nikahin Halwa daripada menikah sama Cakar yang masih belum move on dari cewek berseragam?" cibir Tian menjulurkan sedikit bibirnya ke depan.

   "Bukan jodoh, dan itu dulu sebelum aku kenal istriku sekarang. Padahal Halwa itu gadis baik, cantik pula. Dibandingin Sersan Nilam masih mending Halwa. Sersan Nilam hanya menang di seragam," ujar Wardi akhirnya keterusan bergosip.

   "Cakar nih bodoh benar. Katanya belum move on dari almarhumah Seli, tapi saat Sersan Nilam mendekat, dia tidak berusaha menolak. Padahal Sersan Nilam sebenarnya hanya hijau dengan pangkat."

   "Hijau pangkat bagaimana?" Tian belum paham.

   "Sersan Nilam mendekati Cakar hanya karena Cakar punya jabatan dan pangkat lebih tinggi dari cowok satu letting yang pernah ditolaknya. Coba kalau dia ketemu Lettu Fardhana, maka dengan mudah si Cakar dilepaskannya. Wak wak wak," pungkas Wardi diakhiri tawa.

   Tian ikut tertawa, karena cerita Wardi menurutnya sangat menggelitik. Kok bisa Sersan Nilam dihubungkan dengan Lettu Fardhana yang gagal nikah dengan artis dangdut tersohor itu?

   "Kalau Cakar tidak mencintai istrinya yang sekarang dan belum move on dari cewek berseragam, itu artinya mereka belum melakukan gencatan senjata dong?" ulik Tian kembali membahas hubungan Cakar dan Halwa. Wardi terkejut, dia pikir Tian tidak akan membahas Cakar dan Halwa lagi.

   "Dasar kepo. Jadi lanang kepo amat," ejek Wardi sambil terkekeh. "Jelas belum, sebab Cakar pernah curhat sama aku dengan hubungan pernikahannya yang hambar dan hampir tanpa interaksi," sambung Wardi.

   "Kasihan amat jadi istrinya Cakar. Coba cari cara biar Cakar bisa menyentuh istrinya. Kasihan kan, kalau Cakar tidak mau, buat aku saja yang jelas-jelas masih jomblo," celoteh Tian percaya diri.

   "Sialan. Ngaku jomblo, padahal di kampung sudah ada calon yang menunggu," cebik Wardi kesal yang mampu dibalas dengan kekehan oleh Tian.

   "Lalu cara apa supaya Cakar bisa menyentuh istrinya, dengan kata lain bisa malam pertama?" tanya Wardi menyinggung cara yang disebutkan Tian tadi.

   Tian mendekati telinga Wardi dan membisikkan sesuatu.

   "Aman tidak?" yakin Wardi.

   "Aman dan jos. Yang jelas tidak berbahaya," yakin Tian sembari mengacungkan telunjuknya.

   "Apaan yang aman dan jos itu? Jangan bilang kalau kalian lagi merencanakan kejahatan," sergah Cakar yang tiba-tiba sudah berada di meja yang masih ditempati kedua temannya itu.

Terpopuler

Comments

Ntoonreaderlover

Ntoonreaderlover

pasien apa pelanggan?

2025-01-27

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!