Bab 11 Malam Pertama

  Jam tujuh malam Cakar baru pulang ke rumah. Sejak menikah, Halwa memang tidak pernah melihat Cakar pulang tepat waktu. Tapi dia maklum, karena Cakar memang sering menghabiskan waktu di kafenya akhir-akhir ini. Atau memang demi menghindari Halwa, dia sengaja menghabiskan waktu di kafe miliknya sendiri.

   Halwa sudah memasak sejak sore tadi sepulang dari salon. Dia kembali memasak bakso seperti kemarin, tapi porsinya tidak sebanyak kemarin. Bahan-bahannya fresh dan segar, pasti akan sangat disukai Cakar.

   Tadi pagi Halwa merasakan tatapan Cakar yang tajam, saat melihat bakso itu dibekal semua olehnya. Cakar sepertinya ingin makan bakso itu. Namun, ia tahu sayuran dalam kuah bakso sudah layu dan tidak segar lagi. Cakar tidak akan menyukai sayuran yang sudah seharian lalu besoknya dihangatkan kembali, oleh karena itu Halwa berinisiatif membawa semua bakso itu menjadi bekalnya, tanpa meninggalkan sisa.

  "Kali ini Mas Cakar pasti akan makan bakso ini dengan lahap," ujarnya merasa senang. Kemudian Halwa menyusul Cakar ke kamar untuk mengajaknya makan malam.

   Tiba di kamar, Cakar terlihat baru saja menyelesaikan sholat isya, kebetulan sekali. Sepertinya ini kesempatan ia untuk mengajaknya makan.

   "Mas, mau makan malam sekarang?" Halwa bertanya sembari tangannya meraih baju seragam Cakar yang ditumpuk di ranjang, kemudian ia gantung di kastop.

   Tanpa menjawab, Cakar sudah mendahului keluar kamar. Halwa yakin, Cakar akan menuju meja makan. Halwa segera menyusul.

   "Mas, aku masak bakso. Kamu mau makan bakso atau lauk yang lain?" tanya Halwa menawarkan masakan yang sudah terhidang di meja makan.

   "Tidak perlu banyak tanya dan basa-basi, tinggal kamu siapkan saja." Cakar menjawab ketus. Halwa sejenak bingung, lalu ia harus menyajikan apa, bakso atau lauk lain?

   Halwa meraih satu mangkok untuk kuah bakso, lalu piring yang diisi nasi, di atasnya ditambah sambal cumi dan tumis bunga kol. Halwa tidak memasak sayur berkuah, sebab dia sudah membuat bakso.

   Halwa meletakkan piring yang sudah diisi nasi dan lauknya di depan Cakar. "Selamat makan, Mas," ujarnya setelah meletakkan piring itu di depan suaminya. Lagi, tidak ada jawaban. Sepertinya semua yang diucapkan Halwa, bagi Cakar tidak penting, tidak jarang responnya hanya cebikan kesal.

   Meskipun Halwa sudah merasakan sikap Cakar seperti itu, tapi dia masih belum akan menyerah. Dia harus bisa meraih hati Cakar, bagaimanapun caranya.

   Setelah makan, tanpa kata Cakar meninggalkan meja makan. Ia bergegas menuju ruang tamu yang pintunya sengaja dibuka lebar-lebar karena akan merokok. Halwa menatap sedih kepergian Cakar, dia merasa tidak dianggap sama sekali.

   "Sampai kapan sikapmu seperti itu, Mas? Kamu seperti tidak pernah menganggap aku ada." Halwa membatin, tidak jarang air mata itu tumpah begitu saja saat membereskan meja makan dan mencuci piring.

   Setelah selesai membereskan dapur dan mencuci piring, Halwa meraih cangkir dan bermaksud menyeduh kopi hitam yang biasa diminum Cakar. Namun sayang, kopi itu tidak ada, yang ada hanya kopi kemasan baru yang kemasannya ada gambar ginseng.

   Halwa bergegas menghampiri Cakar di ruang tamu. "Mas Cakar, kopi hitam yang biasa Mas Cakar seduh sudah habis, ada ju ...."

   "Kamu seduh saja kopi yang ada, tidak perlu bertanya. Aku paling kesal kalau kamu banyak tanya. Cukup mengerti saja, langsung buat yang ada," jawabnya membuat hati teriris, tapi Halwa harus kuat supaya jangan menumpahkan air mata di depan Cakar.

   "Aku takut salah, Mas, makanya aku bertanya."

   "Aku tidak suka kamu banyak omong. Apa ini merupakan bagian dari caper kamu, supaya bisa menarik simpatik aku?" respon Cakar sembari menatap Halwa tajam. Halwa menunduk, lalu bergegas menuju dapur, membuatkan kopi yang ada di rak itu.

   Beberapa saat kemudian, Halwa kembali menuju ruang tamu dan membawa satu cangkir kopi ginseng yang sudah dibuatnya. Halwa meletakkan kopi di depan Cakar, dengan asap rokok yang ngebul di ruangan itu. Untung saja kopi itu dipakaikan penutup cangkir. Setelah meletakkan kopi, Halwa berlalu tanpa kata. Dia sudah kapok berbasa-basi karena percuma, Cakar tidak suka dia banyak basa-basi.

   Halwa meninggalkan Cakar, ia segera menaiki tangga dan membersihkan diri untuk segera tidur. Cakar sejenak menoleh kepergian Halwa, dia merasa aneh, sebab Halwa tidak mempersilahkannya minum kopi, seperti kebiasaannya.

   Setelah membersihkan diri, Halwa segera merebahkan diri. Dia tidak perlu menunggu Cakar, sebab sebagai istri dia seperti tidak dibutuhkan sama sekali di ranjang.

   Namun kantuk itu belum muncul, padahal tadi saat membersihkan muka dengan pembersih, matanya sudah mulai ngantuk.

   Tiba-tiba, pintu kamar dibuka, Cakar masuk. Lalu terdengar suara pintu itu ditutup kembali dengan terburu-buru, sehingga menimbulkan bunyi yang gaduh.

   "Brugggg."

   Halwa tidak mencoba mencari tahu atau membalikkan badan, dia terus berusaha memejamkan mata dan berharap rasa kantuk itu segera datang.

   Sepertinya Cakar kini sedang ke kamar mandi, lagi-lagi suara pintu kamar itu ditutup tergesa. Di dalam kamar mandi, Cakar gelisah. Tiba-tiba hasrat lelakinya meninggi. Sudah setahun ditinggalkan Seli sang istri, tapi baru kali ini hasratnya meninggi seakan ingin dituntaskan dalam kehangatan cinta.

   "Ada apa ini? Kenapa hasratku tiba-tiba meninggi? Aku tidak salah makan bukan? Atau jangan-jangan kopi ginseng pemberian Tian tadi mengandung zat penambah hasrat? Mana mungkin, tapi khasiatnya di sana hanya menambah stamina saja bukan penambah hasrat. Gila, benar-benar gila." Cakar bicara sendiri dan termenung. Dia merasa efek kopi ginseng itu membuat hasratnya justru meninggi dan sepertinya butuh pelampiasan.

   Cakar keluar kamar, lalu menarik tali lampu dua kali tarikan, seketika sinar lampu berubah redup, menjadi lima watt. Kini ruangan cukup diterangi sinar lampu lima watt, karena akan beranjak tidur.

   Cakar menaiki ranjang, sejenak ia menatap tubuh Halwa yang terbujur membelakanginya. Hasrat itu kian membara, bahkan ketika menatap Halwa seakan tidak bisa dibendung.

   "Halwa." Cakar berbisik seraya meraih bahu Halwa dan merangkulnya, ia tatap dalam-dalam mata Halwa dengan sendu. Halwa sontak terkejut bukan main, ia berontak saat Cakar merangkulnya.

"Mas Cakar, ada apa Mas?" kejutnya seraya menahan dada Cakar dengan telapak tangannya.

"Diam, jangan berontak. Kita nikmati malam pertama kita. Bukankah ini yang kamu inginkan, bukan?" ujarnya merebahkan tubuh Halwa yang kini sudah dalam kungkungannya. Cakar sudah tidak kuat lagi menahan hasrat itu.

"Tapi Mas, kenapa tiba-tiba, bukankah kamu tidak pernah inginkan aku?" Halwa masih bingung, meskipun hal ini memang pernah terbersit dan ia pernah mengharapkannya, tapi dengan tiba-tiba seperti ini membuatnya sangat kaget.

Semakin Halwa bertanya, Cakar semakin tidak kuasa membendungnya. Perlahan ia lemparkan sebuah ciuman yang tidak bisa Halwa hindari lagi. Namun, Halwa ikhlas. Pada akhirnya dia harus memasrahkan jiwa raganya, meskipun Cakar sudah sering menyakiti dengan sikap dinginnya.

Malam itu menjadi saksi, dua sejoli menjadi satu jiwa dalam naungan sebuah hasrat Cakar yang membara.

Halwa sangat kesakitan saat dirinya pertama kali dimasuki Cakar, ia benar-benar mendesis karena rasa sakit itu sungguh luar biasa. Sementara Cakar, antara stamina dan hasratnya saling berkejaran. Malam ini merupakan malam yang terasa indah baginya, karena sudah memetik madunya Halwa yang pertama.

Terpopuler

Comments

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

betul, lu pikir istri lu cenayang bisa baca pikiran lu, drpd udah di siapin tapi ga sesuai kemauan nanti salah lagi dasar lakik gemblung

2024-12-18

0

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

dih itu pertanyaan normal kalik, gua juga suka nanya gitu ke suami, lu aja yg sensi dasar cakar maung 😒

2024-12-18

0

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

menyebalkan bgt si cakar ayam itu

2024-12-31

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!