Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial

   Setelah Halwa keluar kamar dengan mata yang berair. Cakar segera meraih kotak yang dibungkus kertas kado. Ia segera membukanya tidak sabar.

   Saat dibuka, Cakar cukup terkejut sekaligus senang. Isi kado itu adalah sepatu olah raga. Harganya juga bukan harga yang 200 ribu ke bawah. Namun Cakar sudah bisa menebak, harga sepatu itu berkisar 600 ribu ke atas.

   Lumayan mahal ukuran Cakar, sebab ia sering membeli sepatu olah raga di koperasi kisaran harga 200 atau 300 ribu itupun sepatu yang kualitas biasa menurutnya.

   "Dari mana dia punya duit sebanyak ini, sementara aku hanya memberikan uang belanja untuk sebulan, tidak mungkin sisa sebanyak harga sepatu ini? Jangan-jangan dia belanja pakai uangnya?" duganya seraya meletakkan kembali sepatu itu di atas bufet.

   Di dalam kado itu juga ada tulisannya. "Selamat ulang tahun yang ke-28 Mas. Semoga selalu sehat, panjang umur, berlimpah rezeki dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Maaf aku tidak bisa memberi kado yang bagus buat Mas Cakar."

   Selesai membaca kertas ucapan, Cakar menaruh lagi kertas itu di atas sepatu.

   Cakar cukup senang dengan hadiah sepatu olah raga pemberian istrinya itu. Padahal sepatu olah raga di dalam rak sepatunya masih bagus dan ada beberapa.

   Lalu ia beralih pada kado-kado pemberian teman-teman letting maupun adik letting, terutama kado dari Sersan Nilam yang sudah ditandainya. Sepertinya kado dari Sersan Nilam sedikit berbeda, berat dan padat.

   Cakar membuka kado pertamanya dari Sersan Nilam, seorang KOWAD pangkat sersan dua yang saat ini dikabarkan dekat dengan Cakar. Namun setelah Sersan Nilam tahu pernikahan Cakar, hubungannya saat ini entah seperti apa. Dengar-dengar Sersan Nilam sempat shock saat mendengar Cakar menikah.

   Saat dibuka, Cakar cukup terkejut, sebab kado dari Sersan Nilam adalah sebuah jam tangan yang harganya lumayan mahal. Kira-kira harga jam itu satu juta lebih. Cakar merasa spesial, Sersan Nilam memberi kado semahal itu.

   "Pakai ya Bang, jam tangannya saat kerja. Aku mohon!" Secarik kertas di dalamnya sudah Cakar baca lalu dia simpan di atas bufet di samping kado sepatu pemberian Halwa.

  Cakar merasa tidak enak hati dengan pemberian Sersan Nilam yang semahal itu. Tapi tak ayal kado itu terasa spesial untuknya.

   Setelah itu, baru kado-kado yang lainnya mulai ia buka. Tidak salah lagi kado-kado itu isinya tepat seperti tebakannya. Sabun batang, odol, sikat gigi, kaos kaki, celana kolor. Itu sudah tidak aneh lagi.

Teman-teman satu lettingnya memang turun temurun selalu memberi kado yang dianggap sangat spesial, tidak lain barang-barang yang harganya tidak seberapa itu. Namun nilai historinya jauh lebih berkesan dibanding kado mahal lainnya, sebab kado-kado itu akan mengingatkan Cakar pada masa pendidikan bintara dulu yang cukup berat dan penuh tantangan.

   Setengah jam kemudian Halwa masuk, tepat saat Cakar selesai membuka semua kado-kado dari teman-temannya itu.

   Halwa sedikit kaget dengan keadaan lantai kamar yang berserakan kertas kado dan kotak kado yang telah dibuka. Halwa penasaran apakah kadonya juga dibuka. Saat matanya menuju bufet, ternyata kado pemberiannya sudah dibuka. Terlihat sepatunya menyembul dari dalam kotak yang sudah terbuka.

   Halwa merasa lega dan berharap semoga suaminya suka dengan kado pemberiannya.

   "Mas Cakar, apakah Mas mau makan malam sekarang?" tanyanya seraya berdiri di samping Cakar. Tadi saat keluar kamar dan setelah sempat menangis, Halwa menyiapkan bakso itu di atas meja makan dan disajikan, mungkin saja Cakar akan makan malam, walaupun malam sudah sangat larut untuk makan.

   "Ah tidak, aku masih kenyang karena tadi makan di kafe. Oh iya, terimakasih kadonya, aku suka," balasnya datar sembari berlalu menuju kamar mandi, seperti tidak ingin memberi kesempatan untuk Halwa berbicara.

   Besoknya, seperti biasa Halwa sudah melakukan rutinitas harian sebelum ia berangkat kerja. Menyiapkan baju kerja Cakar yang sudah ia setrika beberapa hari lalu. Tiap pagi, Cakar sudah tinggal memakai seragamnya yang rapi dan wangi, yang sudah Halwa siapkan di gantungan hanger.

   Lalu kini sarapan pagi sudah siap di atas meja. Nasi goreng kemangi dengan taburan telor iris dan bawang goreng di atasnya sudah tersaji menggiurkan.

   Cakar sudah menuruni tangga, Halwa segera menghampiri Cakar sedikit berlari. "Mas, sarapannya jangan sampai tidak dimakan seperti bakso kemarin," ucapnya menghentikan langkah Cakar.

   "Aku memang mau ke sana dan sarapan," ucapnya ketus lalu segera bergegas ke ruang makan. Cakar duduk di kursi biasanya yang di atasnya sudah terhidang nasi goreng untuknya. Tanpa basa-basi ia langsung menyantap nasi goreng itu.

   "Itu apa yang pakai wadah plastik?" tanyanya menunjuk wadah plastik yang isinya bakso untuk dibawa bekal kerja Halwa.

   "Ini bakso kemarin, Mas. Karena Mas tidak mau memakannya, jadi daripada mubazir lebih baik aku bawa untuk bekal makan siang nanti di salon," jawabnya membuat Cakar menatap tajam.

   Cakar bukan tidak ingin makan bakso itu, tapi tadi malam keburu emosi jadi ia urungkan untuk makan.

   "Semuanya kamu bawa?" tanyanya lagi.

   "Iya, Mas. Mas Cakar tidak akan suka dengan sayurnya yang sudah layu, jadi dari pada terbuang biar aku bawa saja dan aku makan di salon saat istirahat," jawab Halwa yang langsung mendapat tatapan tidak suka dari Cakar.

   Cakar tidak suka Halwa ada saja jawabannya, tidak berpikirkah bahwa sebenarnya Cakar merasa tergiur dengan wangi bakso yang ia hirup malam dan pagi ini.

   "Dasarnya orang caper, pintar jawab tapi tidak mengerti perasaan orang lain. Sangat memuakkan," batinnya kesal.

   Halwa duduk serba salah dengan sikap dan tatapan Cakar. Halwa tahu kalau suaminya kurang suka sayuran matang disisakan sampai besok, dia pasti tidak akan memakannya, kecuali lauk lain yang tidak berkuah, masih dimakan Cakar. Oleh sebab itu, Halwa lebih baik membawanya untuk bekal, karena ia yakin kalau suaminya tidak akan mau memakannya lagi.

   Setelah selesai sarapan, Cakar berdiri lalu bergegas meninggalkan ruang makan. Halwa mengejarnya dari belakang, sekarang dia tidak berani meraih tangan Cakar, sebab sudah pasti akan ditolaknya. Halwa hanya akan mengantarnya sampai depan pintu dan menatapnya sendu.

   Cakar sudah keluar pintu, ketika tangannya mengayun, Halwa melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri suaminya tidak seperti jam tangan biasanya yang selalu ia pakai.

   Jamnya bagus dan harganya pasti lebih mahal dari yang selalu dipakainya. Halwa sedikitnya tahu harga jam, karena ia sering melihat di pasar online harga-harga jam di sana, meskipun ia jarang belanja on line maupun offline kecuali kalau perlu banget.

   Setelah kepergian suaminya, Halwa segera bergegas menuju kamar dan bersiap untuk bekerja. Di dalam kamar ia sejenak membereskan kamar yang masih belum dirapikan. Menyapu lantai dan membuang sampah yang berserakan bekas kado Cakar semalam.

   Halwa melihat sepatu pemberiannya sudah diletakkan di rak sepatu oleh Cakar, Halwa tersenyum gembira. Lalu dia menyelesaikan menyapu dan memungut sampah bekas kado lalu dimasukkan ke dalam tempat sampah.

   Halwa meraih secarik kertas yang ada tulisannya, lalu dibacanya. Ternyata kertas itu dari seseorang untuk Cakar. Tertulis jelas di sana nama pemberi kado, yaitu Sersan Nilam.

   "Jadi, jam tangan yang dipakai Mas Cakar adalah pemberian dari Sersan Nilam?" tanyanya sedih. Ternyata Cakar lebih memilih dan patuh dengan permintaan temannya.

   "Hadiah dariku saja masih lebih murah dari kado pemberian KOWAD itu," bisiknya sedih. Halwa segera bergegas dan pergi untuk bekerja meskipun hatinya dilanda kecewa.

Terpopuler

Comments

Siti Masitah

Siti Masitah

aku sumpahin cakar bercerai ama istrinya..

2024-11-23

3

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

hadewh Halwaaa...kok mau sih nikah sm org modelan Cakar ayam itu ...

2024-12-31

1

Swinarni Ryadi

Swinarni Ryadi

kyknya tentara Mt duitan ini

2024-11-26

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!